
Pagi ini Dara tidak berangkat ke kampusnya, ia izin kepada temannya untuk disampaikan pada dosennya. Pagi ini sebelum berangkat bekerja juga ayah sudah menengok ibu terlebih dahulu, ayah membawa sarapan untuk Dara.
Keadaan ibu sudah lebih baik, ibu sudah mulai banyak mengobrol, Dara sangat senang dengan kehadiran kedua orangtuanya di tengah-tengah dirinya, Dara merasa mendapatkan keluarga yang utuh lagi, bahkan ayah mau membantu melangkan gugatan cerai ibu pada Adi.
Mereka bertiga sarapan bersama, Dara menyuapi ibunya, walaupl bagaimana pun Ibunya sudah bukan mahram ayahnya jadi Dara ingin menjadi pembatas untuk kedua orangtuanya saat ini.
Selesai makan, Dara mandi terlebih dahulu, setelah itu dia ingin menebus obat untuk ibunya dibagian pengambilan obat.
Ayahnya juga akan berangkat ke kantor, setelah mereka berdua keluar ruangan, ayah Dara memberikan uang ke rekening Dara via transfer.
"Ra...Ayah sudah transfer untuk membeli obat ibumu" Ayah Dara memperlihatkan ponselnya.
"Ayah...Dara juga masih mempunyai uang"
"Uangmu simpan saja itu kan untuk kebutuhan mu Ra"
"Terimakasih, semoga Allah melimpahkan keberkahan pada rejeki ayah"
"Aamiin, terimakasih sayang" Pak Leon mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang, Pak Leon teringat sudah 3 bulan ini tidak bertemu Dara. Dara semakin dewasa dan religius, hal itu membuat pak Leon begitu senang.
Dara mengantri di bagian pengambilan obat, sedangkan Pak Leon berangkat ke kantornya, saat Dara sedang duduk mengantri, Dara sekilas melihat sekeliling ruangan rumah sakit, namun begitu terkejut ketika melihat Rosa sedang memeriksa kandungan di antar oleh laki-laki lain.
"Bukankah itu laki-laki yang tidur dengan Rosa" Gumam Dara sambil menutup mulutnya karena begitu terkejut.
" Ini tidak bisa di biarkan" Dara segera mengambil ponselnya lalu memotret Dara dengan Samuel yang tengah berjalan menuju poli kandungan.
Selesai memotret Dara menunggu obat dengan perasaan gelisah, Dara merasa ini semua tidak adil, laki-laki sebaik Raka kenapa harus di hianati oleh istrinya.
Setelah menunggu lumayan lama akhirnya nama ibunya di panggil juga, Dara segera menebus obatnya, selesai menebus obat Dara kembali ke ruangan ibunya.
Dara menyuapkan obat untuk ibunya, sebelum ibunya tidur nanti karena pengaruh obat Dara berpamitan ingin keluar sebentar pada ibunya.
Dara membersihkan tubuh ibunya dengan washlap, ia begitu telaten merawat ibunya, Bu Nadia begitu terharu dengan sikap Dara padanya, padahal sebelumnya Bu Nadia kurang memberikan kasih sayang pada Dara.
"Semoga kamu mendapat kebahagiaan Ra"
"Aamiin"
__ADS_1
"Ibu jangan banyak berfikir yang berat-berat yah" Sambungnya lagi.
Selesai menggantikan baju ibunya Dara merebahkan kembali tubuh ibunya di kasur.
[Birrul walidain (berbakti kepada orang tua) merupa amalan yang agung, hukumnya fardhu ain, dan amalan ini merupakan hak orang tua atas anak-anaknya. Orang tua (apalagi jika sudah sepuh) merupakan gerbang untuk masuk ke dalam surga]
Setelah ibunya tertidur Dara segera keluar ruangan dan tidak lupa dirinya menitipkan ibunya pada suster terlebih dahulu, Dara bergegas menuju kantor Raka, entahlah kenapa hatinya tiba-tiba ingin sekali menemui Raka dan menunjukan foto-foto Rosa pada Raka.
Dara merasa tidak adil jika harus terus menyembunyikan kebusukan Rosa, Dara tidak tega jika Raka terus terhianati.
Sesampainya di kantor Raka, Dara segera menuju bagian resepsionis, Dara bingung karena belum ada janji dengan Raka, Ketika Dara sedang memikirkan bagaimana caranya bertemu Raka, tiba-tiba Dara melihat Doni sedang berjalan ke arah lift.
Dara segera mengejar Doni.
"Mas...Mas..."
Doni menengok mendengar namanya di panggil.
"Eh...siapa ya?"
"Dara" Dara menyunggingkan senyumnya.
"Eh...aku hampir saja lupa"
"Mas boleh minta tolong tidak?"
Doni menyunggingkan senyumnya,
" penampilan dan bahasamu sudah sangat berubah Ra"
" Setiap orang punya kesempatan berubah kan" Dara membalas senyuman Doni.
" Bantuan apa Ra?"
"Aku mau bertemu Raka"
Doni mengernyitkan keningnya " Kenapa tidak telfon saja sih, Dia pasti bersedia turun menjemputmu"
__ADS_1
"Ah, aku tidak bisa menjelaskan disini"
" Ya sudah ayo ikut aku"
Doni membawa Dara naik lift untuk menemui Raka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yah, kepotong magrib dah, jadi sambung lagi nanti ya, tulisan bisa di tunda, tapi sholat jangan di tunda-tunda ya say.
Kata paksu, sholat jangan di rende-rende nanti...apa hayo,.serem pokoknya.
jangan lupa like komen vote
Salam sayang,
__ADS_1
Santypuji