Percayalah...Aku Masih Perawan

Percayalah...Aku Masih Perawan
Episode 46


__ADS_3

Pakde langsung lari dari ruangan dokter tanpa permisi menuju ruangan Ayah Rosa dirawat, terlihat disana semuanya sudah siap, hanya tinggal menunggu pakde.


"Stop, jangan lanjutkan"


Semua melihat ke arah pakde dengan penuh tanya.


Budhe menghampiri Pakde karena ingin tahu kenapa tiba-tiba pakde berkata seperti itu.


"Kenapa Pah?"


Pakde memberikan hasil pemeriksaan Rosa pada Budhe dan bapak Raka, Budhe membukanya, budhe begitu terkejut ketika melihat keterangan bahwa Rosa sedang hamil 7 Minggu.


Budhe menutup mulutnya, Ia berjalan ke arah Raka. Menarik tangan Raka menyuruh Raka pulang.


"Ayo kita pulang, biarkan pakdemu yang akan mengurus semua ini"


Rosa begitu terkejut dengan keputusan keluarga Raka, padahal ia baru saja membagikan persiapan akadnya di sosial media, malah rosa mengirimnya juga lewat chat pribadi ke nomer WhatsApp Dara.


"Ada apa ini sebenarnya Tante" Rosa menjalankan kursi roda nya menghampiri budhe.


Budhe begitu sesak menahan amarahnya, andai saja Rosa tidak dalam keadaan seperti ini ingin sekali budhe menampar Rosa karena berani-beraninya sudah membohongi semua keluarga Raka.


Raka juga masih berdiam diri, tangannya masih di pegang erat oleh budhe seolah-olah budhe tidak ingin dirinya tidak boleh terjerat oleh Rosa dan keluarga nya.


"Kamu jangan pura-pura tidak tahu, kamu membohongi kami semua"


Rosa semakin bingung dengan pernyataan Budhe, begitu juga dengan Pakde.


Seketika Nafas ayah Rosa tersengal-sengal, Pakde segera memanggil dokter.


Dokter menyuruh semua anggota keluarga agar keluar dari ruangan terlebih dahulu.


Rosa begitu sedih melihat kondisi ayahnya.


Di luar mereka semua masih berkumpul, menunggu di depan ruang rawat inap ayah Rosa.


"Ini semua gara-gara kalian, kalian memutuskan pernikahan ini secara sepihak, kalian jahat"


Budhe menghampiri Rosa lalu menamparnya karena ucapan Rosa sudah di luar batas, dirinya yang begitu jahat tapi malah menyalahkan orang lain.


Plak....

__ADS_1


Raka langsung memegang bahu budhe.


"Sabar budhe, ini di rumah sakit"


Rosa memegangi pipinya yang terasa panas, ujung matanya mengeluarkan air mata.


"Kami kurang apa padamu Rosa, tapi kamu menghianati kepercayaan kami, kami tidak menyangka kamu bukan wanita baik- baik, ingat... Raka adalah laki-laki baik, tapi kamu ingin menjebak Raka, coba berkaca, sebenarnya kamu yang sangat jahat pada kami" Budhe meninggikan suaranya karena tersulut emosi.


Raka dan Rosa terlihat bingung, Akhirnya budhe memberikan hasil pemeriksaan kehamilan dari dokter pada Raka.


"Lihatlah" Budhe memberikan pada Raka.


Raka mengambilnya lalu langsung melihatnya, Raka terkejut, melirik ke arah Rosa sekilas.


Raka melempar map itu di pangkuan Rosa.


Raka memijat pelipisnya, ia merasa ini lah jawaban dari doa-doa dan kegelisahannya kemarin, hatinya tidak mantap dengan Rosa, tapi karena demi kebahagiaan orang banyak Raka rela mempertaruhkan kebahagiaan nya dan kebahagiaan Dara.


Raka segera mengambil ponselnya, ia ingin sekali menelfon Dara, Raka menelfon ponsel Dara namun masih tidak aktif. Raka menghembuskan nafas dengan kasar.


Rosa membuka map yang ada di pangkuannya, lalu membacanya, Rosa langsung membuang map itu, Ia menggeleng pelan.


"Tidak mungkin" Jerit Rosa.


Raka yang melihat tangan Rosa terus memukuli perutnya sendiri segera menghentikan kekonyolan tingkah Rosa.


"Apa kamu mau melakukan dosa yang kedua kalinya hah..." Bentak Raka.


"Janin ini tidak bersalah, janin ini suci, perbuatan kalian yang haram, ingat itu" Sambung Raka.


Rosa menangis, budhe, pakde dan Pak Harjo bahkan tidak memperdulikan tangisan Rosa, mereka merasa sudah di bohongi Rosa.


"Aku tidak mau anak ini"


"Kenapa tidak mau? saat melakukan itu apa kamu berfikir akan jadi seperti apa?"


"Aku di perkosa, saat itu aku di perkosa"


Budhe akhirnya ikut bicara " Kami sudah tidak percaya lagi denganmu"


Raka jadi teringat waktu makan siang dengan Dara yang berakhir dengan pertengkaran, Waktu itu Dara menyebutkan bahwa Rosa bersama laki-laki lain.

__ADS_1


"Aku ingat waktu di cafe, Dara mengatakan bahwa kau sedang bersama dengan laki-laki, tapi aku lebih mempercayaimu dari pada Dara hingga kita berdua bertengkar, apa laki-laki itu"


Rosa merasa terpojokkan " Aku tidak tahu"


"Apa kamu bilang? tidak tahu? Apa kamu tidur dengan banyak laki-laki?"


Rosa menggeleng, "Aku ingin menggugurkan bayi ini, aku ingin menikah denganmu Raka"


"Jangan gila Ros, jangan membuat dosa untuk kedua kalinya, jangan jadi pembunuh, maaf juga aku tidak mencintaimu"


"Aku tau yang kamu cinta bukan aku, tapi orang yang kamu cintai juga sama tidak lebih baik dari aku"


Deg...


Raka teringat kehidupan Dara dan Rosa yang suka bersenang-senang di club' malam, Raka tiba-tiba berfikir apakah Dara juga sudah pernah melakukan hal yang seperti Rosa.


Budhe mendengarkan percakapan mereka berdua, budhe tahu arah pembicaraan Rosa yang sedang membicarakan Dara.


"Jangan mudah menilai orang lain dari mulut orang Raka" Budhe memperingatkan Raka.


Dokter keluar dari ruangan ayah Rosa, Dokter memberi tahu bahwa saat ini ayah Rosa tidak boleh banyak berfikir atau tertekan karena kondisinya yang belum benar-benar baik.


Kali ini hanya Pakde yang masuk, budhe, Raka dan Pak Harjo memilih untuk pulang, biarkan Pakde yang akan menjelaskan semuanya pada Ayah Rosa.


Rosa kembali ke kamarnya di bantu perawat rumah sakit, Rosa menelfon Michel akan datang ke rumah sakit membawa Samuel karena ada hal penting yang akan di bicarakan.


☘️☘️☘️


Sementara di pesantren Dara sedang membantu bagian Administrasi, Dara sudah semalaman tidak mengaktifkan ponselnya, tiba-tiba Dara ingin mengaktifkan ponselnya.


Ketika ponselnya aktif, begitu banyak notifikasi yang masuk, ada beberapa telfon dari Raka, Rizki, ayahnya juga, dan begitu banyak pesan WhatsApp masuk di ponselnya.


Dara terkejut ketika ada nama Rosa disana mengirimkan sebuah pesan, Dara langsung membukanya, Seketika air mata Dara tumpah juga. Dara merasa Dada nya begitu sesak.


"Assalamualaikum" Ucap beberapa orang mengucapkan salam.


Dara langsung menghapus air matanya lalu mematikan kembali ponselnya.


"Waalaikumsallam" Dara berjalan menuju pintu.


Ternyata ada serombongan tamu Abah yang datang ke pasantren, Dara segera mempersilahkan masuk, Salah satu dari tamu itu memperhatikan Dara yang kala itu begitu cantik di balut busana muslim warna Biru muda.

__ADS_1


__ADS_2