
Dara menunduk lagi, Dara sedang berfikir apakah dirinya harus mengubur cintanya, tapi Dara juga harus percaya dengan Takdir baik Allah.
"Sudah- sudah jangan bersedih, kamu masih muda lhoo Ra" Aisyah mengajak Dara ke tempat yang lebih asri lagi di area pesantren, Aisyah mengajak Dara di kebun bunga milik pesantren.
"Wah...indah sekali Teh" Dara mendekati bunga mawar yang sedang bermekaran, memetik satu lalu menciumnya.
"Hemm...wangi, segar teh"
Aisyah tersenyum " Seperti dirimu, wangi dan segar " Puji Aisyah.
"Kamu tau Ra, wanita itu ibarat bunga mawar, bunga mawar itu cantik, durinya itu untuk melindungi dirinya, wanita itu cantik, tapi juga harus bisa melindungi dirinya, yaitu dengan imannya, dengan rasa malunya"
Dara tersenyum lalu menghampiri Aisyah, mencubit dua pipi Aisyah dengan gemas " Teteh...Dara gemas sekali dengan teteh, semoga teteh selalu mendapatkan kebahagiaan"
"Aamiin"
Aisyah juga ikut mencubit kedua pipi Dara
" Kamu juga, semoga selalu bahagia dan bisa seperti bunga mawar ini"
"Ada apa ini main cubit-cubitan" Rizki datang di tengah-tengah mereka yang sedang asyik berbincang tentang bunga mawar.
"Eh A, Tidak ini sedang mengagumi keindahan bunga mawar saja"
Rizki memetiknya lalu memberikannya pada Aisyah.
"Emmm...ambil ini"
Tangan Rizki mengulurkan bunga mawar di hadapan Aisyah, Aisyah menunduk, Aisyah sangat malu karena di sebelahnya ada Dara.
"Teteh...ambil itu"
Aisyah menggeleng, Dara tahu Aisyah pemalu jika di hadapan bang Rizki.
"Ya sudah buat Dara saja yah" Ledek Dara sambil tangannya pura-pura hendak mengambil bunga mawar itu.
Aisyah lantas langsung mengambil bunga itu.
Dara tertawa " Cie...malu-malu empus" Ledek Dara.
Wajah Aisyah seketika berubah merah merona. Aisyah memutar badan menyembunyikan wajah merona nya.
"Ya Allah teh, itu malah membuat bang Rizki jadi gemas lhoo" Ucap Dara sambil memperhatikan Wajah Aisyah.
" Iya, Dia memang selalu menggemaskan"
"Sudah A, jangan di teruskan" Aisyah membalikan badannya.
Rizki menutup mukanya tidak ingin melihat wajah ayu Aisyah.
"Sudah ayo Ra, ikut teteh ke dapur, tadi Abah minta di buatkan nasi liwet"
"Ayo"
Aisyah menggandeng tangan Dara menuju dapur pesantren, Rizki di tinggal di taman sendirian. Walaupun Rizki dan Aisyah jarang bertemu tapi setiap bertemu rasa malu Aisyah membuat Rizki selalu jatuh hati.
Dara dan Aisyah masak bersama, masak nasi liwet, ikan asin, lalapan, tumis kangkung juga membuat sambal.
Dara membantu mengupas bawang dan memotong kangkung, Aisyah yang mengolah masakannya.
__ADS_1
1 jam berkutat di dapur akhirnya mereka selesai masak juga, tinggal mengulek sambel, Dara minta di ajari Aisyah mengulek sambel.
"Kenapa tidak di blender saja teh"
"Kalau di blender rasanya lain neng, sok atuh mulai nguleknya"
Dara mulai mengulek sambelnya dengan hati-hati, ini pertama kalinya Dara memegang ulekan, rasanya aneh dan canggung, budhe Raka biasa membuat sambal di blender lalu di goreng lagi, jadi mengulek ini adalah pengalaman pertama Dara.
Dara mengulek dengan penuh perjuangan, hasil akhirnya Aisyah yang menyelesaikannya.
Dara mencicipi semua masakan Aisyah dan dirinya.
"Teteh...sedap pokoknya"
"Ya sudah ayo kita hidangkan di gazebo tempat Abah makan disana dengan keluarga abah juga"
"Kemana istri abah?"
"Istri abah sudah wafat satu tahun yang lalu"
Aisyah mengambil nasi liwet dan beberapa lauk lalu meletakannya di gazebo. Dara juga membantunya menata makanannya disana.
"Teteh biasanya pulang berapa bulan sekali?"
Aisyah tersenyum " Teteh tidak pulang kemana-mana, Teteh tidak tahu orang tua teteh dimana, kata ummi istri abah dulu teteh di temukan di depan gerbang pesantren waktu bayi, jadi Abah dan umi yang akhirnya merawat teteh seperti cucu mereka sendiri, dulu aa Rizki sering kesini, waktu kecil juga sekolah di pesantren ini"
Dara seketika terdiam dan merenung, dirinya bukanlah satu-satunya yang menderita, bahkan teh Aisyah yang di telantarkan orang tua nya sejak bayi sekarang hidupnya baik-baik saja tidak menyesali ataupun meratapi takdir, malah tumbuh menjadi gadis cantik dan muslimah.
"Wah...jadi bang Rizki pernah jadi santri juga, ternyata santri rock n roll" Tawa Dara.
"Tapi tidak betah, hehe jadi hanya nyantri satu Minggu"
"Tapi aa Rizki orangnya baik Ra"
"Cie...cie di belain"
Wajah Aisyah seketika memerah lagi.
Rizki datang menghampiri Aisyah dan Dara.
"Hemm...sudah matang ya"
"Sepertinya enak"
"Enak dong, masakan perawan"
"Teteh mau panggil Abah dulu yah" Aisyah hendak beranjak pergi,namun Dara menahannya.
"Jangan teh, Dara saja, Teteh ambilkan makanan buat Aa Rizki saja" Dara sengaja menekan kata AA, Dara tersenyum lalu melirik keduanya, Dara bergegas memanggil Abah.
"Ambilkan atuh Sya....... yang" Ledek Rizki.
Dara tersenyum malu "Mau lauk apa a?"
"Lauk apa saja, kalau kamu yang masak, makanan apapun akan aa makan" Rizki mulai menunjukan jurus seribu bayangan, bayangan cinta, Ciat...Ciatπ.
Aisyah menunduk lalu tersenyum, Aisyah mengambilkan nasi liwet, sambal, lalapan,ikan asin juga tumis kangkungnya.
"Banyak sekali sya"
__ADS_1
"Biar aa kuat, kuat menghadapi godaan di luar sana" Aisyah langsung bergegas pergi mengambil air untuk cuci tangan.
Rizki langsung tertawa lirih " Arggghh indah sekali cintaaaaa"
" Cinta...cinta, urus perusahaan ayahmu dengan benar, baru bicara cinta " Kakek menepuk bahu Rizki.
Dara seketika tertawa karena melihat wajah Rizki yang terkejut.
"Apa sih bah, Rizki lagi nyanyi bah"
" Hemm...ayo makan"
"Nanti, Aisyah sedang mengambilkan Air untuk cuci tangan"
Aisyah datang membawa air untuk cuci tangan, mereka makan bersama dengan penuh kenikmatan, saat makan kata Abah di larang berbicara apalagi bergurau, kita harus mensyukuri setiap butir nasi yang kita makan agar menjadi berkah di tubuh kita.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author : Makan yang banyak gaes...biar kuat menghadapi godaan di luar sana, Ciat...Ciat
Readers :[Ga nyambung Thor]
Author : Klo lagi jatuh cinta mah, nyambung-nyambung aja,ππ
Jangan lupa like komen dan vote
Salam sayang,
Santypuji
__ADS_1