Percayalah...Aku Masih Perawan

Percayalah...Aku Masih Perawan
Episode 37


__ADS_3

Hari ini jadwal Raka sidang skripsi, teman-teman Raka memberi semangat pada Raka, Raka yang sudah terjun di dunia bisnis sudah biasa presentasi di depan umum secara tidak langsung sudah siap untuk menghadapi dosen pembimbing.


Raka melihat sekeliling ruangan, tapi tidak menemukan sosok Dara, baginya Dara sudah menjadi sosok terpenting untuknya.


Raka memulai presentasi skripsinya, Dara sebenarnya tahu hari ini jadwal Raka sidang skripsi, Dara sudah melihat daftar jadwal skripsi Minggu lalu.


Dara menuju ruang sidang, Dara hanya melihat Raka lewat jendela. Dara tersenyum melihat Raka dengan gagahnya sedang presentasi. Baginya Raka adalah laki-laki yang paling tampan yang pernah dekat dengannya.


"Gue cuma bisa doain Lo dari jauh ka, semoga Lo sukses dan lulus, mendapatkan nilai yang memuaskan, gue selalu doain Lo ka" Gumam Dara di balik pintu.


Puas melihat Raka, Dara hendak pergi ke kelasnya, namun tangannya di tarik kasar oleh Rosa.


"Aw..."


Rosa langsung memegang erat tangan Dara dan membawa dara ke sebelah ruangan sidang skripsi.


"Apaan sih Ros"


"Kamu yang apa-apaan, kamu jangan mimpi bisa mendapatkan Raka"


Dara menghempaskan tangan Rosa


" Ros...seandainya Lo berubah, gue ga masalah Ros, tapi Lo, munafik"


"Kamu tidak usah ikut campur hubungan kita, dan satu lagi, jangan pernah ceritakan apapun ada Raka atau aku akan...."


"Akan apa???"


"Akan hancurin kamu Ra"


Dara tersenyum kecut " sepandai apapun kamu menyimpam kebohongan untuk mengendalikan suasana agar tetap baik-baik saja, sungguh pada akhirnya akan ketahuan juga. Tidak mungkin Allah akan berpihak pada niat jahatmu, jika kamu berniat mengelabuhi semuanya, pasti Allah akan membuka kedokmu dihadapannya nanti.


Saat ini mungkin kamu masih bisa tersenyum karena merasa terselamatkan oleh keadaan, karena bagaimanapun suatu saat nanti kebenaran yang akan menang"


Rosa tampak kesal dengan perkataan Dara, ia menghentakan kakinya lalu pergi meninggalkan Dara.


Dara langsung memegangi Dadanya " Ya Allah Engkau maha Adil, semoga Raka juga mendapat keadilan" Gumam Dara.


Dara segera keluar ruangan, ia berjalan menuju kelasnya, dikelas hanya terlihat beberapa mahasiswa, karena jam perkuliahan di lanjutkan satu jam kemudian.


Dara membuka leptopnya, ia mencicil beberapa tugas yang sudah menumpuk.


"Ra"


Dara yang sedang fokus begitu terkejut melihat Raka ada di depannya, tangannya menenteng jas hitam yang ia gunakan tadi.


"Hemmm"


"Ra...bicara, jangan seperti ini"


"Gue sibuk, mending Lo pergi dari sini"


"Aku akan tetap disini sebelum kamu mau bicara denganku"


Raka menompang kedua tangannya di dagu sambil menatap wajah cantik Dara, Dara sekilas melirik Raka lalu kembali mengacuhkannya.


Ra, kenapa aku baru sadar kalau kamu sangat cantik, apalagi saat serius seperti itu, Batin Raka.


Raka tersenyum-senyum sambil menatap Dara.

__ADS_1


"Apaan sih Lo, ngapain senyum-senyum gitu" Dara membuyarkan lamunan Raka.


"Sedang memandang ciptaanNya yang begitu indah"


"Cie...cie..." Mahasiswa yang lain mulai berdatangan melihat Raka yang sedang memandangi Dara membuat yang lain meledek mereka berdua.


Dara menutup leptopnya " Raka....sana pergi gue ada kelas nih"


"Ya sudah biarkan saja, aku juga mau ikut belajar disini"


Dara geram dengan Raka, Dara lalu meraih tangan Raka dan membawanya keluar kelas, Dara takut akan beredar gosip yang bukan-bukan nantinya.


Saat mereka sudah keluar kelas, Raka mengambil alih menggenggam pergelangan Dara lalu menarik Dara menuju tangga.


" Raka, gue ada kelas"


"Masih 45 menit lagi"


"Raka"


Raka tidak mendengarkan rengekan Dara, Raka membawa Dara ke atas gedung, gedung paling atas di area kampusnya.


Angin berhembus begitu kencang, jilab dan gamis Dara mendayu-dayu tertiup angin.


"Ngapain sih kita kesini?"


"Berduaan" Ucap Raka sambil tersenyum.


"Raka, kok Lo jadi ganjen"


"Hanya padamu"


"Ini tumpat ku kalau suntuk di kampus"


"Disini tuh bikin masuk angin" Celetuk Dara.


"Ra..."


Dara terdiam menengadah melihat pemandangan awan yang indah dan matahari yang menyilaukan. Raka mendekat di belakang Dara.


"Ra...kamu cantik, sangat cantik"


Dara tersenyum tanpa sepengetahuan Raka,


"Gue tahu"


Raka lalu mengeluarkan setangkai mawar merah yang ia simpan di kantong jasnya.


Raka berjalan menghadap di depan Dara.


"Kamu cantik, seperti mawar ini,Mawar ini sangat indah, seindah dirimu yang selalu hadir dalam bayang-bayangku"


Dara akhirnya tersenyum juga " Apaan sih Lo ka?"


"Jangan melihat kelopak yang jatuh dari mawar dengan rasa sedih, ketahuilah bahwa, seperti kehidupan, hal-hal terkadang harus memudar, sebelum bisa mekar lagi" Ucap Raka.


"Cinta itu seperti bunga mawar, indah dan harum. Tapi berhati-hati lah, karena ada duri yang siap melukaimu." Dara membalas perkataan Raka tentang bunga mawar.


"Jangan fokus pada Durinya, Pada kenyataannya duri mawar bukankah untuk melindungi dirinya"

__ADS_1


"Apakah gue harus berlindung dari luka cinta, Lo ga pernah merasakannya, jadi Lo ga pernah tahu rasanya" Dara meninggikan suaranya, matanya tiba-tiba berkaca-kaca.


" Ra...aku juga terluka, bisakah kita saling mengobati? kita sama-sama terluka" Raka memasang wajah memelas pada Dara, Hal yang paling tidak tega untuk Dara lihat.


Dara menatap Raka dengan kesedihan juga, ia juga tidak bisa jauh dari Raka.


"Dara, aku mencintaimu"


Dara masih menatap Raka,


"Ra...kamu juga mencintai ku kan?"


Dara masih terdiam.


"Ra..."


"Iya gue juga cinta Lo"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


[ Yang nyesek pasti pernah merasakan menikmati luka, sudah di sakiti tapi masih terus memaafkan,😁😁 tapi kok rasa-rasanya kaya lagi ngomongin diri sendiri yah😁😁]


Jangan lupa like komen vote yah sayang ku semua.


Salam sayang,


Santypuji

__ADS_1


__ADS_2