Percayalah...Aku Masih Perawan

Percayalah...Aku Masih Perawan
Episode 50


__ADS_3

Dara begitu senang menjalani hari-hari nya di pesantren, Dara mulai lancar membaca huruf Hijaiyahnya, pagi siang sore malam tak lelah belajar mengaji, bahkan sudah bisa menghafal ayat-ayat pendek juz 30, Dara juga banyak belajar ilmu agama lainnya, sekarang dirinya sudah mulai lembut seperti Aisyah, Terkadang benar, diri kita kadang bisa terpengaruh pada orang yang ada di sekitar kita, maka pandai-pandailah mencari teman baik.


Sudah 3 bulan di pesantren penampilan Dara juga sudah mulai berubah, kini jilbabnya sudah mulai menjulur panjang menutupi Dadanya, sesekali Rizki ke pesantren untuk melihat keadaan Dara yang pastinya keadaan Aisyah juga wanita yang dicintainya.


Sementara pertemanannya dengan Zaki berjalan dengan baik kadang Dara masih saja ketus, apalagi jika Zaki menggodanya masalah patah hati. Tapi entahlah Zaki sangat suka melihat ekspresi ketus Dara, menurutnya Dara gadis apa adanya yang menjadi dirinya sendiri. Jika tidak suka Dara akan mengatakan tidak suka.


Pagi ini Dara sudah bersiap ke kampus, Zaki sedang berjaga di gerbang menunggu santri-santrinya. Di gerbang Dara menghentikan mobilnya lalu menyapa Zaki.


"Assalamualaikum Ustad Zaki" Sapa Dara sambil tersenyum.


" Tumben manis" Ledek Ustad Zaki.


Dara mengerucutkan bibirnya " Rese"


Zaki tertawa terbahak-bahak, Zaki memang sangat suka meledek Dara terlebih bertengkar dengan Dara.


Dara segera keluar dari gerbang pesantren menuju kampus. Sesampainya di kampus Dara langsung memarkirkan mobilnya, selama 4 bulan ini Dara ke kampus hanya untuk mengikuti mata kuliah yang sedang ia ambil, selebihnya ia langsung pulang ke pesantren.


Dara keluar dari mobilnya, ia langsung berjalan ke kelasnya, Dara terkejut ketika berpapasan dengan Rosa, Dara fokus pada perut Rosa yang mulai membuncit, karena Rosa memakai rok Levis selutut dan kaos ketat yang menampakan perutnya yang sudah tidak rata lagi, Dara seketika menahan sesak di Dadanya.


Sudah 3 bulan ini, ini pertama kalinya lagi Dara bertemu dengan Rosa, dan itu membuat hatinya begitu sesak melihat Rosa sudah berbadan dua.


Selamat Raka, sebentar lagi kamu akan menjadi ayah, Batin Dara.


Dara berbelok ke arah toilet, disana ia mengeluarkan air mata yang sungguh sangat menyesakan.


" Kenapa aku sulit sekali melupakan dan merelakan Raka ya Allah, hiks... hiks 😭" Tangis Dara pecah, sudah 3 bulan lamanya Dara sekuat tenaga melupakan nyatanya saat melihat kenyataan ini, tangis Dara tumpah juga.


Selesai menangis Dara langsung pergi ke kelas, belajar seperti biasanya. Di sela-sela belajarnya ponselnya terus saja berdering, Dara melihat ada panggilan telfon dari ayahnya, bahkan sampai 5 kali, Dara akhirnya izin ke toilet pada dosennya.


Sampai di toilet Dara segera menelfon ayahnya, ayahnya juga langsung mengangkat telfon dari Dara, ayah memberi kabar jika ibu masuk rumah sakit, Dara kebingungan karena tas nya masih di dalam kelas, di kelas masih ada dosen. Ayah menyarankan Dara untuk izin saja hari ini, karena ibunya terus saja menyebut nama Dara. Dara menutup telfonnya lalu berlari ke kelas.


Dara maju kedepan meja dosen, Dara meminta izin kepada dosen untuk pulang lebih awal karena ibunya mendadak di bawa ke rumah sakit. Dosennya pun mengizinkan, Dara segera mengambil tasnya lalu berlalu menuju mobilnya.


Dara bergegas ke rumah sakit, ayahnya memberitahu alamat rumah sakit juga kamar rawat inap ibunya. Sampai di rumah sakit Dara langsung bertanya pada resepsionis rumah sakit menanyakan keberadaan kamar yang ingin ia kunjungi. Petugas memberi tahu arah ruangannya.


Dara segera berlari ke ruangan tempat ibunya di rawat, disana ternyata sudah ada ayahnya menjaga ibu sendirian.


"Assalamualaikum, Ayah ibu"


"Waalaikumsallam"


Dara langsung menghampiri ibunya, Dara begitu terkejut melihat wajah ibunya lebam-lebam, Dara seketika itu juga langsung menangis.


"Ibu...ibu kenapa ibu jadi seperti ini Bu hiks hiks 😭" Dara membelai kepala ibunya dengan penuh kasih sayang.


"Adi menganiaya ibu"


"Ya Allah laki-laki itu"

__ADS_1


"Iya tapi sekarang Adi sudah di tahan polisi"


Dara merasa lega karena Adi sudah di tahan polisi.


"Ibu, aku dari awal tidak suka dengan laki-laki itu"


"Itu balasan untuk wanita yang sudah berhianat terhadap suaminya" Celetuk ayah Dara lalu pergi keluar dari ruangan membiarkan Dara dan ibunya berdua.


"Ibu jangan dengarkan ayah"


"Ayahmu memang benar"


Dara memeluk ibunya, "Ibu harus sembuh, ibu pasti bisa memperbaiki semuanya"


Bu Nadia mengangguk " Maafkan ibu ya nak"


Dara menggeleng " Tidak Bu"


Dara mengambil buah jeruk yang ada di meja, lalu mengupasnya dan menyuapi ibunya.


Saat sedang menyuapi, terdengar seseorang mengetuk pintu lalu masuk kedalam ruangan, Dara terkejut melihat Raka yang datang menjenguk ibunya, wajar saja Raka menjenguk Bu Nadia karena Raka atasan Bu Nadia, tapi seharusnya Raka juga bisa menyuruh seseorang untuk menjenguk Bu Nadia mewakilinya.


Tapi karena ini Bu Nadia ibu dari wanita yang di cintainya jadi Raka ingin menjenguknya secara langsung.


Raka juga terkejut melihat Dara, lebih terkejut lagi melihat penampilan Dara dengan busana dan jilbab syar'i nya.


"Assalamualaikum"


Dara menghampiri Raka, ia mengatupkan kedua tangannya di dadanya.


"Terimakasih Pak Raka sudah mau menjenguk Ibu saya"


Dara mencoba menghilangkan kecanggungan di antara mereka berdua, Dara berusaha seperti tidak mengenal akrab Raka sebelumnya.


Raka hanya mengangguk lalu tersenyum, Raka meletakan buah-buahan yang ia bawa di atas meja.


Raka prihatin melihat ibu Nadia yang wajahnya lebam-lebam, mungkin di bagian tubuh lainnya juga sama. Raka mendengar kabar berita tentang Bu Nadia dari bagian administrasi di kantornya, sebelum ke rumah sakit Raka terlebih dahulu bertanya tentang kronologi yang menimpa Bu Nadia.


"Cepet sembuh ya Bu, saya akan mencoba menyewa pengacara untuk memproses suami ibu secara hukum, bahkan saya akan menjeratnya dengan pasal berlapis, karena pernah akan melecehkan anak ibu juga" Raka melirik ke arah Dara.


Bu Nadia sangat terkejut, Bu Nadia langsung menatap ke arah Dara, " Apa benar Ra?"


Dara mengangguk " Sudah ibu jangan banyak berfikir, Dara akan membantu ibu di pengadilan nanti menjadi saksi"


Bu Nadia langsung memeluk Dara " Maafkan ibu Nak, semua ini karena ibu kamu dan ayahmu jadi menderita"


Dara menggeleng " Sudah Bu, semua sudah berlalu, Ibu harus semangat sembuh, tidak boleh berfikir yang berat-berat"


"Terimakasih Pak Raka atas bantuannya" Ucap Dara sambil menunduk.

__ADS_1


Raka terus saja menatap Dara, melihat Dara yang semakin cantik.


Dara....aku rindu, Batin Raka.


15 menit sudah Raka di dalam ruangan berbincang dengan Bu Nadia, Akhirnya Raka pamit pulang karena masih banyak kerjaan kantor yang harus di kerjakan.


"Saya permisi dulu ya Bu, Ra, Assalamualaikum"


"Waalaikumsallam" Dara mengantar Raka sampai depan pintu.


Dara membukakan pintu untuk Raka, Saat Raka benar-benar sudah keluar ruangan dan hendak berjalan tiba-tiba Dara mengucapkan selamat pada Raka.


"Selamat ya Pak, sebentar lagi akan jadi ayah" Dara segera menutup pintunya, lalu memegangi Dadanya.


Raka yang di luar sana merasa kebingungan dengan ucapan Dara, namun karena pekerjaan kantor sedang menumpuk, akhirnya Raka mengabaikan perkataan Dara dan bergegas kembali ke kantor.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Readers : Sedikit banget Thor, pendek banget Thor.


Author : Ini udah 1000 kata lhoo, saya ga berani sunat menyunat, suer deh 😁😁😁 klo ga percaya hitung deh 😁😁


Readers : Kurang kerjaan amat Thor ngitungin perkata


Author : Ya udah percaya saja padaku, jangan padanya, Ciat Ciat Ciat


Jangan lupa like komen dan vote


Kalau berkenan boleh add FB ku Santy isnawan, biasanya aku bagiin cuplikan disana sebelum di up noveltoon.

__ADS_1


Salam sayang,


Santypuji


__ADS_2