Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 10


__ADS_3

"Dia menyerang seorang wanita di toilet Brads Hotel!" Ujar Rizal melaporkan apa yang telah ia ketahui.


"Menyerang seorang wanita?!" Suara di seberang sambungan terdengar kaget, "Kalau saya boleh tahu, siapa nama wanita yang di serang olehnya?!"


"Putri konglomerat Bagaskara, nona Kaluna Levronka!" Sahut Rizal cepat.


Lama tidak ada jawaban, seolah-olah sambungan itu telah terputus. Namun Rizal tidak bertanya, ia dengan sabar menunggu respon orang di seberang.


"Bagaimana dengan keadaan korban?!" Suara di seberang kembali bertanya. Terdengar sedikit panik.


"Untungnya korban hanya mengalami luka ringan!" Respon Rizal.


"Ah.. syukurlah!" Sahutnya lega. "Bisakah anda menolong saya?!"


"Apa yang bisa saya bantu dok?!" Rizal bertanya. Dia sudah berjanji pada dirinya, jika orang ini meminta bantuan. Ia akan membantunya meski nyawa menjadi taruhannya.


Rizal hampir kehilangan istri yang sangat dicintainya akibat penyakit jantung koroner. Setelah menjalin hubungan selama bertahun-tahun, melewati rintangan dari orang ketiga hingga restu orang tuanya. Akhirnya ia berhasil menikahi gadis yang ia cintai.


Namun belum sempat mereguk manisnya berumah tangga, ia harus bersiap jika sewaktu-waktu istrinya berpulang. Bagaimana ia tidak putus asa?!


Ia sudah pasrah saat semua dokter angkat tangan dan tidak berkenan melakukan prosedur pembedahan.


Namun seperti keajaiban, dokter muda itu memberinya secercah harapan. Dan menyelamatkan istri yang sangat dicintainya.


Sejak saat itu, Rizal berjanji pada dirinya untuk membalas budi sang dokter. Apapun itu akan dia lakukan!


Beberapa bulan lalu, dokter tersebut memintanya untuk mengawasi seorang pria. Dengan berbekal rekaman cctv sebuah hotel, sang dokter mengatakan bahwa pria itu hampir menculik temannya. Dan meminta Rizal untuk mengawasinya.


Rizal mengawasi pria itu sebulanan penuh. Sampai ia pergi ke luar kota dan tidak pernah kelihatan lagi. Rizal pikir, pria itu telah kapok.


Namun kemarin, pria itu kembali muncul dan melakukan penyerangan yang sama pada wanita yang sama pula.


"Bisakah ia dihukum dengan berat!?" Ujar suara di seberang.


"Itu tergantung korbannya, dok!" ujar Rizal. "Kali ini bukan hanya pihak korban yang melayangkan tuntutan, pihak hotel tempat dimana kejadian terjadi pun membuat tuntutan!"


"Karena ini bukan kali pertamanya, saya rasa dia akan dijerat dengan hukuman tahanan yang cukup lama!" sambung Rizal.


"Syukurlah!" Desahnya. "Terimakasih atas bantuan anda!"


Arion menghela nafasnya lega. Sembari menutup sambungan telepon, ia menatap jas yang dikembalikan Luna padanya.


Aroma manis yang serupa dengan aroma Luna, menguar. Tiba-tiba Arion merindukannya.


Arion sangat ingin menemui Luna. Namun ia menahannya. Bagaimana pun sekarang, gadis itu telah dijodohkan dengan sepupunya. Sebisanya, ia harus melupakan semua perasaannya pada Luna.

__ADS_1


Namun sebentar lagi kakeknya akan berulang tahun. Max telah merencanakan liburan dengan seluruh keluarga ke Bali, selama semingguan. Meski belum bisa dipastikan, tapi Arion yakin Luna juga akan ikut serta.


Arion tak ingin tersiksa oleh perasaan sepihaknya disana. Namun dirinya dan ayahnya baru saja menjalin hubungan yang baik lagi dengan sang kakek, Arion tak ingin merusaknya kembali.


Apalagi ayahnya tak bisa mengikuti acara liburan itu karena ada seorang pasien penting yang tengah ditangani di rumah sakit. Alhasil, Arion harus mewakili ayahnya itu untuk hadir.


****


Sejak kejadian yang menimpanya di Brads Hotel, Luna enggan pergi ke luar. Meski ia mendengar bahwa Vicky telah menjalani hukuman di penjara, namun trauma yang dirasakannya belum sirna sepenuhnya.


Alhasil, Luna hanya tinggal dirumah selama beberapa hari belakangan. Tapi untungnya, Bryan selalu datang untuk menemaninya.


Meski Luna tak menjawab dengan jelas pernyataan cintanya. Namun kec*pan itu telah menjadi bukti bahwa Luna memiliki perasaan yang sama pada Bryan. Sehingga hubungan mereka langsung berkembang sebagai sepasang kekasih begitu saja.


Akhir-akhir ini Bryan selalu bersikap manja dan membujuk Luna untuk mengungkap hubungan mereka di depan keluarga. Dia bahkan mengajak Luna menikah sesegera mungkin.


"Kenapa sih mas?! Kamu kok buru-buru?!" tanya Luna heran. "Pelan-pelan saja mas! Kita kan belum lama saling kenal!"


Namun Bryan merajuk. Entah kenapa Bryan takut. Ia merasa Luna akan lepas dari genggamannya jika ia terus menunggu.


"Kalau begitu, kita umumkan dulu kalau kita pacaran ke yang lainnya!" pinta Bryan.


"Kenapa sih?!" Luna terkekeh, "Mas kok ngebet banget pengen published?!"


Luna mengangguk, menanggapi ucapan Bryan.


Awalnya memang mereka akan berpura-pura berpacaran. Tapi jika memang pada akhirnya mereka pacaran sungguhan, bukannya itu bagus?!


"Kita bilang pas di Bali aja ya?!" usul Bryan.


****


Setiap tahun, keluarga Bradley akan berlibur setidaknya sekali. Entah itu ke luar negeri atau liburan di beberapa pulau eksotis di Indonesia.


Dan Bali adalah salah satu tempat favorit bagi keluarga Bradley.


Entah kenapa, meski telah berkunjung puluhan kali ke Bali, selalu saja ada keinginan untuk kembali. Bahkan Max berniat membangun sebuah cabang hotelnya di Bali.


Tempat-tempat yang indah dan nyaman, juga orang-orang yang ramah. Perasaan tentram yang tidak bisa ditemukan di tempat lain, itulah pesona Bali yang mereka rasakan.


Kali ini Max datang untuk merayakan ulang tahunnya di sebuah resort mewah yang ada di Kuta, Bali. Ia juga ingin mengakrabkan diri dengan calon menantunya yang baru.


Tidak ada masalah yang berarti dengan liburan mereka di Bali pada awalnya. Semua berjalan lancar. Sampai seorang wanita muncul dan mengacaukan segalanya. Suasana yang tadinya harmonis pun, berubah canggung seketika.


"Ya ampun kek, apa kabar?!" Sapa Tasya, ia langsung berlari menghampiri Max yang sedang duduk di tengah-tengah keluarganya. Max yang melihat Tasya, awalnya sedikit kaget. Namun kemudian, ia menyambut Tasya dengan senyum.

__ADS_1


"Hallo, apa kabar Tasya?! Bagaimana kamu bisa ada disini?!" Tanya Max.


"Aku habis pemotretan dekat sini, kek! Kebetulan kru aku menginap disini!!" Ujar Tasya, "Kakek lagi liburan keluarga nih?! Kok gak ajak-ajak aku sih?!"


"Iya ini kakek agak sumpek jadi main-main sebentar ke Bali, kamu belakangan kan sibuk! Bagaimana kakek bisa ajak kamu!" Ujar Max basa-basi.


Tasya terkekeh, "Kalau kakek bilang mau liburan, aku pasti sempatin waktu lah kek! Aku seneng banget liburan bareng kalian!"


Tasya kemudian mengedarkan pandangannya ke arah anggota keluarga lainnya untuk menyapa. Namun netranya terpaku pada satu sosok di sebelah Bryan,


'Wanita itu?!' batin Tasya.


"Eh, adik temennya mas Bryan kan?!" Ujar Tasya kemudian.


"Dia pacarku!" potong Bryan kemudian.


Tasya kaget. Ia terbelalak. "Pacar?! Bukannya waktu ini kalian bilang kalian cuma kenalan?! Kenapa sekarang bisa menjadi pacar?!"


"Aku jatuh cinta padanya!" Sahut Bryan polos.


Tasya kaget bukan kepalang. Ia tidak menyangka Bryan akan mengatakan hal itu terang-terangan.


"Sejak kapan?!" Tanya Tasya lagi. Ia masih belum bisa percaya dengan apa yang di dengarnya.


Susah payah ia menjaga image, mendekati keluarga itu dan Bryan. Namun tidak sedetik pun Bryan jatuh cinta padanya.


Tapi tiba-tiba saja gadis aneh yang baru dikenalnya beberapa bulan, muncul dan menjadi pacarnya. Apa itu mungkin?!


"Hubungan kami memang belum lama. Tapi kami berencana menikah, kan sayang?!" Ucap Bryan menatap manja pada Luna.


Luna tersenyum tipis kemudian mengangguk setuju.


"APA?!!" Tasya terhenyak. "Menikah?! Bagaimana bisa?!"


Namun bukan hanya Tasya yang terkejut, seluruh orang yang ada disana pun terkejut. Arion tak terkecuali.


'Baru beberapa bulan lalu, hubungan keduanya selayaknya orang asing. Tapi kenapa sekarang sudah akan menikah!? Apa itu mungkin?!' batin Arion. Hati Arion nyeri seketika. Ia memalingkan wajahnya, berusaha menahan gejolak di hatinya.


Setelah apa yang menimpa Adrian, Arion pikir Luna akan menolak perjodohan itu. Namun ternyata takdir berkata lain.


'Apa mungkin dia jatuh cinta pada Bryan?!' batin Arion. 'Jika itu aku.. jika aku yang dijodohkan dengannya, apa dia akan jatuh cinta padaku?!'


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Arion merasa iri pada Bryan.


"Bagus!! Bagus!! Kakek senang sekali!!" seru Max, ia tertawa terbahak-bahak, "Kapan kalian siap?! Kakek akan langsung bertindak!!"

__ADS_1


__ADS_2