
"Apa maksud mas tadi?! Masa lalu apa?!" sentak Winda marah. Ia was-was memikirkan masa lalu apa yang dimaksud oleh Bryan.
Bryan tersentak kaget. Ia tak berpikir panjang, saking paniknya karena Winda membuat keributan.
Padahal seharusnya, semua hal yang Bryan ketahui masih harus dirahasiakan. Ia masih belum memastikan apakah Winda benar-benar hamil anaknya atau tidak.
Meskipun ia mengatakan pada kakeknya bahwa Winda telah menjebaknya bahkan mengenai masa lalu keluarga Winda. Bryan yakin, kakeknya tetap tak akan memperbolehkan Bryan menceraikan Winda. Itu semua hanya karena anak yang konon dikandung Winda.
Bryan yakin benar bahwa Winda hanya berbohong. Ia yakin, wanita itu tidak hamil sama sekali. Namun anehnya, dokter menyebutnya hamil.
'Pasti Winda melakukan sebuah trik!' batin Bryan.
"Mas!!!!" bentak Winda marah. Ia merasa diabaikan karena pertanyaannya tak dijawab.
"Aku hanya asal bicara!" ujar Bryan.
Mendengar kata-kata Bryan, Winda merasa sangat kesal. Ia benar-benar marah!! Dari tadi ia merasa cemas. Tapi ternyata itu hanya omong kosong suaminya semata.
"Siapa wanita itu mas?!!" sentak Winda murka. "Apa dia selingkuhanmu?! Sejak kapan kalian berhubungan!!!?"
Bryan menghela nafas berat. Ia jengkel sekali.
"Dia bukan selingkuhanku! Kami hanya teman lama yang kebetulan bertemu!" ujar Bryan lagi.
"Teman lama?!" Winda mendelik kesal, "Apa kau pikir aku bodoh, mas!"
"Teman lama macam apa yang bermesraan seperti itu!"sembur Winda, "Kalian berbisik-bisik mesra, kalau bukan memiliki hubungan spesial. Mana bisa kalian seperti itu!!"
"Kami tidak berbisik!" Geram Bryan, "Kau salah paham!!
"Mas, sekali lagi aku tahu kau berhubungan dengan wanita itu, aku akan adukan semuanya pada kakek!!" ancam Winda.
Bryan hanya mengangguk sekenanya. Malas bersitegang dengan Winda.
Lagipula, ia tidak peduli Winda berpikir dia selingkuh atau tidak. Yang penting Winda tidak tahu bahwa dirinya telah mengetahui rahasia terbesar Winda.
"Aku tidak bercanda lho mas!" tegas Winda lagi.
Bryan hanya menanggapi sekilas. Ia sanksi Winda akan melakukan ancamannya itu.
Namun berbanding terbalik dengan pikiran Bryan, Winda benar-benar mengadu kepada kakeknya.
__ADS_1
Beberapa waktu setelah hari itu, Winda yang tengah jalan-jalan menghabiskan waktu untuk berbelanja. Melihat Bryan dan Moana kembali bertemu.
Bertepat di sebuah mall besar. Bryan dan Moana yang hendak mendiskusikan rencana untuk menjebak Arion, kembali bertemu dengan Winda.
Winda yang sudah muak, tak lagi mengamuk di depan semua orang. Ia hanya mengambil beberapa gambar, Bryan dan Moana yang sedang bercengkerama dan langsung pulang ke rumah.
Menemui Max, Winda kemudian mengadukan seluruh keluh kesahnya pada Max.
"Kurang ajar anak itu!!" geram Max.
"Tunggu dulu, pa!" Ethan menenangkan ayahnya, ia merasa anaknya tidak mungkin berlaku seburuk itu. "Mungkin saja Winda hanya salah paham. Papa harus tenang! Tanyakan pelan-pelan!"
"Iya pa! Siapa tahu itu temannya Bryan kan pa!" Nimas juga membela anaknya.
"Teman apa yang semesra itu, ma!" Sela Winda. "Mas Bryan juga akhir-akhir ini mulai berubah. Kembali bersikap dingin padaku!"
"Tenang dulu, Winda!" Nimas berusaha menenangkan menantunya. "Kita tanya dulu sama Bryan, siapa tahu itu semua hanya salah paham!"
"Ah! Mana ada maling mau ngaku, ma!" sergah Winda.
Tepat saat Winda menyelesaikan kata-katanya, Bryan pulang.
"Ada apa ini?! Tumben ngumpul-ngumpul!" celetuk Bryan menyapa keluarganya.
"Duduk dulu, Bryan!" titah ayahnya.
Seraya duduk di sofa kosong diseberang kakeknya, Bryan bertanya "Ada apa ini pa?! Sepertinya serius sekali!"
"Apa benar kamu berselingkuh dari istrimu?!" tanya Max, ia menatap tajam pada cucunya.
"A-apa?!" Bryan tergagap. Ia kemudian menatap Winda nyalang. Ia yakin Winda lah yang telah mengadu. "Itu tidak benar, kek, kita hanya berteman!"
"Kalau kalian hanya berteman, kenapa kalian selalu saja bertemu!!! Dan bermesraan seperti itu?!" potong Winda. Ia muak mendengar alasan berteman dan berteman dari Bryan.
"Apa ada yang salah jika sesama teman saling bertemu?!" Bryan balik bertanya. "Kami hanya makan malam bersama! Itu saja! Kami tidak melakukan hal yang aneh-aneh!"
"Mas!! Biarpun kamu tak melakukan hal-hal aneh. Jika kamu terus bertemu dengan perempuan lain setiap waktu, itu juga salah mas!" teriak Winda, "Ingat kamu sudah menikah, mas! Aku istrimu, dan ada anakmu yang sedang aku kandung di perutku!"
"Benar kata Winda!" ucap Max, "Kau sudah menikah. Tidak baik bertemu dengan perempuan lain seperti itu!"
"Tapi kek.. aku hanya makan malam bersama.. tidak melakukan apa-apa! Kenapa itu jadi salah?!" tanya Bryan, "Apa setelah menikah, aku harus memutus semua hubungan dengan teman-temanku?!"
__ADS_1
"Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, kami hanya murni berteman!" sambung Bryan.
"Benar pa.. Sepertinya Winda hanya salah paham!" Nimas membela putranya." Bryan tidak mungkin melakukan hal seperti itu!"
"Ma.. aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Betapa mesranya dia dengan wanita itu!"
"Tidak mungkin begitu, Winda.." Belum habis kata-kata Winda, Max sudah memotongnya.
"Tidak mungkin?!!" geram Max, "Setelah apa yang ia lakukan pada Luna, kau masih percaya bahwa dia tidak mungkin melakukan hal semacam itu?!"
Nimas tersentak kaget. Ia tidak tahu mertuanya akan sangat murka dengan bantahan yang ia ucapkan.
"Setelah dia menghianati Luna dan juga kita, kau masih berpikir bahwa anak ini polos?!" sentak Max marah, "Aku hanya takut dia melakukan kesalahan yang lebih besar!!"
Bryan terkejut mendengar pengakuan kakeknya. Ia tidak menyangka selama ini kakeknya berpikir seburuk itu tentangnya.
"Kek, aku tidak seburuk itu!!" geram Bryan. "Kenapa kakek berpikir seperti itu tentangku?!"
"Lalu aku harus berpikir seperti apa?!" alih-alih menjawab pertanyaan cucunya, Max balik bertanya. "Setelah menghianati Luna dan melakukan kesalahan pada Winda. Kau bahkan tidak merasa bersalah ataupun bertaubat. Malah sekarang kau kembali membuat masalah dan bermain-main dengan wanita lain!"
"Kau benar-benar tidak berubah!!" Max menggeleng kesal. Ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.
"Kek! Kenapa kakek menuduhku sembarangan begini, hanya karena ucapan Winda!" ujar Bryan. Ia marah karena diperlakukan seperti penjahat hanya karena tuduhan kosong Winda yang sebenarnya jauh lebih jahat.
"Dia itu istrimu! Kau bertanggung jawab padanya setelah apa yang kau lakukan padanya!" bentak Max kemudian.
"KEEKKK!!!!" marah, Bryan menjerit lantang. "Aku tidak bersalah! Dia yang menjebakku!!"
"Kau!!" Mendengar kata-kata Bryan, Max tak bisa menahan amarahnya lagi. Ia hampir memukul cucunya, jika saja Ethan tak menahannya.
"Tenang pa!" pinta Ethan.
"Minta maaflah Bryan!" titah Ethan pada anaknya kemudian.
"Tidak pa!! Aku sudah tidak tahan!!" Ujar Bryan. "Akan aku katakan yang sebenarnya pada kalian!!!"
"Winda!! Menantu yang kalian sayangi! Yang kalian pikir adalah korban, adalah dalang dari semua ini!" ujar Bryan, "Dia menjebakku!!! Meletakkan obat perangs*ng dalam minumanku lalu membawaku ke kosannya!"
"Cukup Bryan!!! Hentikan omong kosongmu itu!!!" Max tak percaya pada ucapan cucunya itu. Ia berpikir itu hanya bualan semata. Sejak dulu ia mengatakan hal itu terus!!
"Kek, aku tidak membual!! Aku akan tunjukkan buktinya padamu!!!" geram Bryan.
__ADS_1