Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 28


__ADS_3

Semakin hari, pernikahan Bryan dan Luna semakin dekat. Setelah memesan baju pengantin, Bryan dan Luna pergi ke sebuah toko perhiasan untuk membeli cincin pengantin.


"Sayang.. kamu maunya yang mana?!" tanya Bryan exited. Ia menatap rentetan cincin emas putih dengan berbagai macam bentuk. Hatinya senang saat memikirkan bahwa akan ada sepasang cincin serupa yang akan mengikat mereka berdua.


"Terserah" ucap Luna enggan. Ia tak peduli dengan tatapan berbinar-binar Bryan padanya.


Apapun bentuknya, asal ia bisa cepat pergi. Ia sudah sangat bersyukur sekali.


Sepanjang hari, menghabiskan waktu dengan Bryan membuat Luna tidak nyaman. Ia selalu teringat dengan kejadian tempo hari, saat ia melihat noda merah kebiruan di leher Bryan.


Meski Bryan berkata bahwa itu adalah kali pertama dan terakhirnya berhubungan dengan gadis itu. Luna tak bisa menepis kekhawatirannya, bahwa sebenarnya Bryan masih bertemu dan menjalin hubungan dengan wanita itu.


Bahkan sekarang, saat Bryan mengenakan kemeja yang serupa. Luna masih ingin mengecek kerahnya, siapa tahu noda yang sama juga tertinggal disana.


"Kok begitu, ini kan akan kita pakai berdua! Pilihlah yang kamu suka!" bujuk Bryan kemudian.


Luna menggeleng, "Apa saja boleh!"


Bryan menghela nafas pelan. Tak mudah bagi Bryan untuk kembali dekat dengan Luna.


Selama ini, meski mereka tengah mempersiapkan pernikahan. Luna selalu berusaha menghindarinya. Bahkan disaat mereka harus bertemu beberapa kali untuk mencocokkan sesuatu, Luna selalu saja mengatakan bahwa itu tidak perlu.


Seperti sekarang ini, saat seharusnya mereka memilih sesuatu sesuai dengan selera mereka. Luna pasti akan menyerahkan semuanya pada Bryan.


Meski Bryan berusaha memakluminya, hatinya perih juga. Ia bermimpi untuk pernikahan yang indah, penuh cinta dengan Luna. Namun yang terjadi padanya kini adalah sebaliknya.


"Cincin itu akan melingkar di jari manis kamu, dan mengikat kita untuk selamanya!" ucap Bryan, berusaha membujuk Luna, "Bukankah lebih baik membeli yang kamu suka?! Kan kamu akan terus menggunakannya!!"


Mendengar perkataan lembut Bryan, bukannya luluh. Luna malah murka.


"Dengar Bryan, kamu jangan salah paham!" Luna berbisik, giginya yang rapi bergemeretak saking marahnya ia, "Pernikahan ini hanya sebatas show window! Itu tak akan terjadi selamanya!! Dan ingat ini, aku tak akan pernah menggunakannya selain di acara-acara resmi!"


Dheg!!


Hati Bryan remuk. Ia kembali dihadapkan pada kenyataan. Bahwa hubungan mereka telah kembali seperti semula!


Sembari menahan perih yang merasuk di dadanya, Bryan berusaha tersenyum.


"Kamu benar.." ucap Bryan kemudian. "Kalau begitu, boleh ku pilih sesuai keinginanku?!"


"Terserah" pungkas Luna singkat.

__ADS_1


Mendengar jawaban Luna, Bryan kemudian memilih cincin yang sekiranya sesuai dengan kesukaan Luna. Ia melirik Luna beberapa kali, yang duduk jauh dari tempatnya berdiri.


Luna tidak peduli meski karyawan toko tersebut terus saja berbisik-bisik membicarakannya. Luna hanya tak bisa bersikap manis seperti dulu lagi pada Bryan.


Setiap kali Luna melihat wajah Bryan, hatinya seakan remuk. Ia merasa sakit teramat sangat.


Terlebih, sikap Bryan yang sepertinya menyepelekan segalanya.


Ingin rasanya Luna kabur begitu saja, namun ia tak bisa melakukannya!! Luna sungguh merasa tersiksa.


Setelah memilih selama kurang lebih dua jam-an. Bryan akhirnya memutuskan. Sebuah cincin dengan pola sederhana dan berlian kecil di tengahnya. Bryan memilihnya karena terlihat sangat cantik. Mengingatkannya pada Luna. Yang terlihat simple, tapi begitu elegan dan terkesan mewah.


"Apa anda ingin nama anda dan pasangan anda di ukir di dalamnya?!" tanya karyawan toko dengan ramah.


"Tidak!"


"Ya!"


Luna dan Bryan mengungkap jawaban yang berbeda. Hingga karyawan wanita itu bingung. Ia memandang Bryan dan Luna secara bergantian.


"Itu tidak perlu, langsung dibungkus saja!" sahut Luna kemudian.


****


Saat ia ingin membeli aksesoris di toko perhiasan. Ia bertemu dengan Bryan dan Luna yang sedang membeli cincin kawin.


Meski Bryan dan Luna tak menyadari kehadirannya, namun Winda melihat dua sejoli itu dari sudut ruangan.


Melihat bagaimana Bryan dengan lembutnya membujuk Luna yang marah padanya, Winda merasa geram juga. Ingin rasanya ia menghambur kesana dan berkata bahwa dirinyalah wanita yang telah diti**ri Bryan. Agar keduanya saling bertengkar dan segera terpisah.


Namun ia menahan dirinya, setelah mendengar bisikan-bisikan dari karyawan toko.


"Aku tahu sekarang! Mereka itu bukannya menikah biasa! Apa itu namanya... katanya show..apa.. show itu pokoknya! Yang menikah sebentar itu!"


"Apa?! Pantas saja yang wanita sepertinya tidak nyaman sama pria itu!"


"Iya, kasihan sekali! Padahal ganteng gitu!"


Mendengar celotehan karyawan toko itu, Winda menyeringai. Ia mengerti sekarang, kenapa seorang Kaluna Levronka tetap menikahi pria yang ia tahu sudah menghianatinya.


'Pasti ada sesuatu!' batin Winda.

__ADS_1


Ia berniat untuk mencari tahu, apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Bryan dan Luna terkait dengan hubungan mereka.


Sementara itu, Arion yang juga tengah diliputi perasaan resah. Juga memilih untuk jalan-jalan.


Mudah memang mengucapkan untuk ikhlas dan melihat orang yang dicintai berbahagia. Tapi menjalaninya adalah sesuatu yang berbeda.


Berpikir Luna akan menghabiskan hidupnya dengan Bryan, sepupunya dan menjadi satu keluarga dengan dirinya. Sungguh, itu sangat menyakitkan. Bagaimana ia akan menahan, saat melihat Luna melahirkan anak-anak dari pria yang bukan dirinya?!


Memikirkan Luna memeluk bayi bersama dengan Bryan, hati Arion tersengat nyeri.


"Ukh!" Arion meringis. Meremas dadanya yang terasa sakit.


Ia berjalan-jalan di sekitar jalanan yang padat dengan toko-toko. Melangkah selangkah demi selangkah, dan menatap jejeran toko-toko yang jumlahnya tak terkira. Arion berharap, bayangan Luna menghilang setiap kali ia berjalan.


Namun Arion merasa aneh saat ia dengan jelas melihat bayangan Luna, keluar dari sebuah toko perhiasan dengan kesal.


"Luna?!" gumamnya. Arion bingung, apa Luna yang ada di depannya itu adalah ilusi ataukah kenyataan?!


Wajahnya yang cantik terlipat, matanya yang bak elang itu mengerling dengan tajam. Terlihat jelas bahwa Luna sedang menahan amarah.


Luna berjalan dengan tergesa, hingga ia tak sadar hampir saja menabrak Arion yang ada di depannya dan tengah terpana menatapnya.


"Maaf!" ucap Luna spontan. Ia kemudian menatap pria yang hampir di tubruknya.


Betapa terkejutnya ia, saat melihat pria yang menjulang tinggi di depannya adalah Arion yang ia kenal.


"H-hay.." sapa Arion gagap.


"Oh?!" Luna terkesiap, namun kemudian menyapa Arion dengan canggung, "Hay!"


"Kamu sedang apa di-" belum sempat Arion menyelesaikan kata-katanya, ia langsung mengetahui apa yang sedang Luna lakukan di toko itu.


Bryan yang berlari tergesa memanggil Luna dengan cemas, "Luna, tunggu!! Cincinya belum.."


Bryan yang hendak mengejar Luna, terkaget saat melihat kenampakan Arion disana.


Beberapa saat mereka hanya mematung, saling memandang dengan canggung.


Namun kemudian, Bryan berkata lebih dulu.


"Rion!" ujar Bryan, "Anu...maaf untuk yang terakhir kali!"

__ADS_1


Arion tersentak kaget. Tak menyangka Bryan akan meminta maaf padanya seperti itu.


"A-ada se-sedikit kesalah pahaman..." ucap Bryan terbata-bata.


__ADS_2