
Aroma kopi yang menyeruak dari luar, membangunkan Arion yang tertidur pulas. Ia mengernyap berusaha untuk bangun.
Saat ia melihat ruangan asing yang bukan kamarnya, ia langsung tersenyum. Ia senang bahwa pernikahannya dengan Luna bukanlah mimpi.
"Ah! Luna istriku sekarang!" ucap Arion kemudian. Hatinya berbunga-bunga memikirkan wanita itu adalah miliknya sekarang.
Arion kemudian keluar dari kamarnya. Ia yang turun ke bawah menuju dapur, tercenung menyaksikan Luna yang tengah sibuk membuatkannya makanan.
"Mas!?" Luna kaget saat melihat Arion tengah termenung menatapnya.
"A-ah.. ngg.. itu..."
"Mas mau sarapan dulu atau mandi?!" tanya Luna kemudian.
"Ngg... aku mandi dulu deh!" gugup Arion menjawab. Ia langsung berlari menuju ke kamar untuk mandi.
Berbeda dengan Luna yang telah menyiapkan segalanya untuk tinggal disana. Arion tak menyiapkan apapun. Dia benar-benar seperti diseret ke sebuah tempat antah berantah, dan diminta untuk tinggal disana tanpa persiapan sedikitpun.
Luna yang menyadarinya, terpaksa mengambil perlengkapan Bryan yang sudah tersedia disana.
"Mas.." panggil Luna dari balik pintu.
Arion yang tengah mandi, tersipu malu mendengar suara Luna di seberang pintu.
"I-iya..." sahut Arion.
"Mas kan gak bawa baju kesini!" ujar Luna, "Apa mas mau pakai punya mas Bryan?!"
Dheg!!!
Mendengar Luna menyebut nama Bryan, hati Arion terasa sakit.
'Kenapa?! Bukannya dia sudah menjadi istriku sekarang?!' batin Arion. 'Tapi yang dia cintai kan bukan aku!'
"Mas!!" panggil Luna lagi. "Bagaimana?!"
"I-iya..." sahut Arion kemudian.
"Baju sama celananya aku tinggalkan di atas kasur ya mas!" ucap Luna. Ia kemudian meletakkan pakaian di atas ranjang. Dan meninggalkan kamar itu untuk kembali menyiapkan makanan.
Saat Arion menyelesaikan ritual mandinya, ia terpaku melihat pakaian yang terlipat rapi di atas ranjang. Hatinya berdebar-debar. Ia kemudian meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia dan Luna akan menjadi pasangan yang saling melengkapi. Meski hubungan mereka diawali dengan keterpaksaan.
__ADS_1
Arion yakin, mereka berdua akan saling mencintai satu sama lain jika terus menerus tinggal seatap.
'Ya! Pasti!' batin Arion yakin, 'Perlahan-lahan Luna pasti akan mencintaiku!'
Namun keyakinan Arion segera runtuh saat Luna mengatakan isi pikirannya di meja makan.
"Aku tahu mas terpaksa menikahiku!" ujar Luna, "Maafkan aku yang sudah egois menyeret mas dalam masalah aku dan mas Bryan!"
"Tidak, kenapa kamu bilang begitu?!" ujar Arion, "Aku melakukannya karena memang aku mau!"
"Tapi aku tahu, mas melakukannya karena perintah dari kakek kan?!" ujar Luna, "Aku benar-benar minta maaf!"
"Aku janji setelah satu tahun, kita akan bercerai dan mas tak akan terikat lagi denganku!" sambung Luna.
Arion tersentak, sendok yang digenggamnya jatuh seketika. "Bercerai?! Apa yang kamu katakan?!"
"Mas... kita sama-sama tak saling mencintai! Jadi kita tidak harus melanjutkan pernikahan ini, jika tak saling menginginkannya!" ujar Luna, "Namun kalau kita langsung berpisah sekarang, mereka akan terus menekan kita untuk bersama!"
"Butuh beberapa waktu sampai kita bisa berpisah!" sambung Luna, "Kumohon bantu aku, selama satu tahun ini berpura-puralah menjadi suamiku!"
Jleb!!!
Hati Arion perih seolah-olah dihujam sebuah pedang yang tajam. Sakit tak berdarah, harapannya akan pernikahan bahagia bersama Luna hancur seketika.
"Apa kau masih mencintai Bryan!?" tanya Arion kemudian.
Luna tercenung. Ia bingung dengan perasaannya sendiri pada Bryan. Apakah rasa sakit yang dalam ini adalah cinta?! Apakah kekecewaannya yang besar dan pedih yang coba ia tahan ini karena cinta?!
"Entahlah..." sahut Luna ambigu.
Mendengar jawaban Luna, hati Arion hancur berkeping-keping. Sebesar itu perasaan Luna pada Bryan, padahal sebegitunya Bryan telah menyakiti Luna. Namun Luna masih begitu peduli dan mencintainya.
'Kamu beruntung Bryan..' batin Arion.
Menghela nafas berat, Arion kemudian berkata.
"Baiklah! Jika itu yang kamu mau!" sahut Arion kemudian.
Mendengar ucapan Arion, senyum mengembang di bibir Luna, "Terimakasih mas! Mas benar-benar orang yang baik!"
****
__ADS_1
Menahan geram di hatinya, Bryan mengunjungi rumah pengantin yang seharusnya menjadi rumah dimana dirinya dan Luna tinggal sekarang.
Menekan bel di pintu dengan amarah yang tertahan, Bryan membayangkan apa yang kedua orang itu lakukan di malam pertama.
"Sial! Sial! Sial!!" umpatnya marah.
Namun sebanyak apapun ia memencet bel, tak ada siapapun yang datang untuk membuka pintu. Bryan semakin geram.
"Apa mereka masih tidur?!" geramnya, "Apa semalam mereka bekerja terlalu berat hingga sesiangan ini masih terlelap?!"
Semakin dipikirkan, gejolak amarah di hati Bryan semakin membuncah. Memikirkan Arion dan Luna menghabiskan malam panas yang mendebarkan semalaman, Bryan merasa seolah akan gila!!
Ia datang kesini untuk menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya dan Winda. Namun belum sempat ia melakukannya, ia sudah keburu emosi karena pikiran-pikiran negatif nya.
Jauh dari apa yang Bryan pikirkan, Arion dan Luna tidak sedang terlelap. Mereka tak membukakannya pintu, karena Arion dan Luna tak sedang ada dirumah.
Luna sedang menemani Arion pulang ke rumahnya untuk mengambil barang-barangnya.
"Jadi itu disebut apa?! Show window?!" ujar Arion, membicarakan rencana yang disebutkan oleh Luna.
"He-eh!" Luna mengangguk, "Apa mas tahu, itu seperti sebuah pertunjukkan! Mas hanya perlu berpura-pura menjadi pasangan suami istri yang harmonis denganku, di depan orang-orang! Selain itu, kita tak perlu melakukannya!"
"Mas bisa melakukan apapun semau mas, mas tidak perlu lagi berpura-pura mesra saat kita hanya berdua! Dan mas juga bisa bersama dengan orang yang mas suka!" sambung Luna, "Aku berjanji tidak akan mencampuri kehidupan pribadi, mas!"
Arion meringis. Kata-kata Luna kembali menyakitinya. 'Aku boleh bersama orang yang aku suka?! Apa itu artinya kau tak peduli aku bersama wanita manapun begitu?!'
"Aku dan mas Bryan juga begitu..." imbuh Luna.
"Apa?!" Arion mengernyit, "Kamu dan Bryan juga melakukan show window?!"
Luna mengangguk. "Awalnya kami juga hanya pasangan show window. Tapi kemudian kami saling menyukai!"
Menghela nafas panjang, Luna kemudian menceritakan rencananya dan Bryan di awal pertemuan mereka.
Mendengarkan dengan seksama, Arion yang tadinya memasang raut masam. Perlahan-lahan mengembangkan senyum simpul yang menawan.
Seolah tengah bermain roller coaster. Dalam sehari ini saja, perasaan Arion beralih dari senang menjadi sedih dan kembali bahagia dalam waktu beberapa detik saja. Hanya karena perkataan Luna.
Ia yang tadi merasa sakit hati, kini merasa senang saat mengetahui bahwa Luna dan Bryan ternyata juga pernah menjadi pasangan show window.
'Berarti aku masih ada kesempatan!' batin Arion.
__ADS_1
Jika Luna pada akhirnya bisa jatuh cinta pada Bryan, yang dulu pernah menjadi pasangan show window-nya. Maka Arion yakin, Luna juga mungkin akan jatuh cinta padanya.
'Bagaimanapun caranya, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak suka!!' batin Arion optimis.