Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 19


__ADS_3

Adrian dan Darian sungguh kebingungan. Bukan hanya panggilan dari Bryan, bahkan panggilan dari keluarganya pun diabaikan oleh Luna. Hingga mereka mengira sesuatu yang buruk telah terjadi pada Luna.


Namun disaat mereka hampir menghubungi pihak kepolisian, untuk mengabarkan hilangnya Luna. Luna datang dengan ditemani oleh Arion.


"Malam bang, om, Tante!" Arion memberi salam ramah.


"Oh, Rion!!?" Adrian kaget, "Kok kalian bisa barengan?!"


"Ceritanya panjang kak!" sela Luna.


"Kamu kemana sih?! Kok tidak jawab panggilan mama?!" omel Felicia, "Mama kira kamu kenapa-kenapa!! Hampir saja papa sama kakak kamu pergi ke kantor polisi!!"


"Ke kantor polisi?!" Luna mengernyit.


"Kita pikir kamu hilang!!" sahut mamanya jengkel, "Kamu sih besok-besok kasih kabar dong kalau mau kemana-mana!!"


"Aku kan sudah bilang ke kakak kalau mau pergi ke restaurant?!" elak Luna.


"Ya, tapi masalahnya Bryan tadi kesini katanya kamu gak ada di restaurant! Kan kakak jadi khawatir!!" keluh Adrian.


"Mas Bryan tadi kesini?!" tanya Luna kaget.


"Iya, dia kesini karena kamu gak ada di restaurant!!" jawab Adrian geram, "Bryan itu bener-bener!! Janji kecil sejenis makan malam saja sudah tak ditepati, bagaimana dengan janji pernikahan kelak?! Apa kamu masih yakin akan menikahi pria seperti itu?!"


Luna terdiam. Ia memang marah dengan apa yang dilakukan oleh Bryan terhadapnya. Namun hal itu, tak serta merta membuat perasaannya sirna.


"Mas apa sih?! Tak ada hubungannya itu!" ujar Luna marah.


"Apanya yang gak ada hubungannya?!" lawan Adrian, "Lebih baik jika kamu menikahi Arion!! Dia jauh lebih baik dari Bryan!!"


Mendengar kata-kata Adrian, Luna mendelik. Ia merasa tak enak pada Arion. Arion kan sudah memiliki kekasih, masak malah dijodoh-jodohkan dengan dirinya!?


Kakaknya itu benar-benar bodoh!!


Bagaimana kakaknya bisa membuat lelucon semacam itu di depan orangnya langsung?! Luna benar-benar merasa canggung. Ia kemudian memeriksa ekspresi Arion. Ia takut kalau Arion marah.


"Jangan dimasukkan ke dalam hati ya mas, kak Adrian memang begitu!" ujar Luna, "Dia memang suka bercanda!"


****


Seolah-olah Luna tengah membalas perbuatannya, panggilan dari Bryan diabaikan sepenuhnya oleh Luna. Bahkan pesannya tak ada satupun yang di balas.

__ADS_1


Bryan cemas bukan kepalang. Ia cemas dan takut Luna marah padanya. Lalu mengakhiri hubungan mereka.


Sebelumnya, Bryan sempat mengalami kekhawatiran yang sama. Namun saat itu Bryan cemas, Luna akan membatalkan kesepakatan mereka. Tapi kali ini, Bryan cemas jika hubungan mereka berakhir.


Ketimbang warisan yang menjadi ancaman kakeknya, Bryan lebih takut tak bisa memiliki Luna.


Bryan tahu bahwa kesalahan yang telah ia perbuat sangatlah besar. Bahkan Adrian saja sampai naik pitam.


Wajar jika Luna merasa marah. Mungkin permintaan maaf lewat panggilan dan pesan tidaklah cukup. Sehingga Bryan memutuskan untuk menemui Luna langsung.


Demi meluluhkan hati Luna yang membeku, Bryan akhirnya mengunjungi Luna ke rumahnya pagi-pagi sekali.


"Luna!!" panggil Bryan. Ia sudah mengetuk pintu kamar Luna berulang kali. Tapi Luna tak mau membukakan pintu.


"Luna maafkan aku!!" lirih Bryan lagi. "Aku mengaku salah karena tidak memberimu kabar!"


"Tapi semalam keadaannya kacau sekali!!" sambung Bryan, "Winda pingsan! Jadi aku bergegas pergi ke rumah sakit! Tidak ada maksudku untuk mengabaikanmu!"


Mendengar temannya pingsan, Luna yang khawatir segera membuka pintu. Ia langsung melupakan amarahnya.


"Winda pingsan?!" tanya Luna kaget.


Sebagai gantinya, ia memperlihatkan wajah sedihnya.


"Iya, dia tiba-tiba saja pingsan saat hendak pulang!!" jelas Bryan, "Karena panik, aku langsung membawanya ke rumah sakit. Tapi kamu tahu kan, kemarin benar-benar macet. Jadi kami terjebak macet selama beberapa jam. Aku juga melupakan ponselku saking paniknya!"


"Sungguh, aku tak berniat mengabaikanmu!" sambung Bryan.


Mendengar penuturan Bryan, hati Luna luluh juga. Apalagi alasan Bryan tidak menemuinya, karena Winda yang sakit. Bagaimana bisa Luna terus marah?!


"Sekarang bagaimana keadaan Winda?!" tanya Luna.


"Dia baik-baik saja!" sahut Bryan, "Tapi dia masih dirawat di rumah sakit. Penyakit maag-nya kumat!"


"Kalau begitu antarkan aku, mas! Aku ingin menjenguk Winda!" ucap Luna dengan raut wajah yang cemas.


Bryan tersenyum, akhirnya Luna membuka hatinya.


"Apa kamu sudah tidak marah sekarang?!" tanya Bryan.


Luna menghela nafas berat lalu mengangguk pelan.

__ADS_1


****


Winda terpaksa menyakiti dirinya lagi kali ini, hanya untuk menjauhkan Bryan dari Luna. Ia ingin membuat keretakan dalam hubungan keduanya, sehingga ia melakukan trik yang hampir sama tepat di hari janji temu keduanya.


Ia sudah sangat senang setelah berhasil menahan Bryan cukup lama. Winda yakin Bryan dan Luna akan mengalami kesalah pahaman yang panjang. Hingga mampu membuat mereka berpisah.


Namun Winda akhirnya menelan kecewa, saat Luna datang untuk menjenguknya bersama dengan Bryan.


"Ya ampun, Winda kamu gak apa-apa kan?!" tanya Luna, seraya membawa sekeranjang buah-buahan segar.


"Ya ampun..Luna!!" ujar Winda sembari memasang mimik terharu. "Aku gak sangka kamu bakal dateng jengukin aku kesini!!"


"Aku gak apa-apa kok!" sambung Winda, "Ini udah biasa, sakit maag-ku emang suka kambuh kalau aku telat makan!"


"Untung saja ada pak Bryan yang menolongku!" ucap Winda. Ia kemudian beralih pada Bryan yang berdiri di sebelah Luna, "Terimakasih ya pak!"


Sembari menyunggingkan senyumnya, Bryan pun berkata "Sama-sama, itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai atasan kamu!"


Winda kemudian tersenyum sebagai responnya.


"Kamu jangan terlalu memaksakan diri, Win!!" ujar Luna kemudian. "Kesehatan kamu yang paling penting! Sakit maag itu gak bisa dianggap sepele!!"


Winda tersenyum lembut, menatap Luna yang tengah mengomel.


"Terimakasih ya Lun, kamu selalu saja perhatian ke aku!" ujar Winda lagi.


"Kita kan teman!" sahut Luna kemudian.


Melihat kekasihnya yang baik hati, Bryan menatap Luna dengan bangga. Seolah-olah Luna adalah miliknya yang luar biasa.


Winda yang menyadari itu semua merasa amat jengkel.


Bukannya bertambah jauh, hubungan Bryan dan Luna malah tambah lengket. Terlihat jelas dari sikap Bryan yang terus-terusan menempel pada Luna.


"Oh iya.. maaf ya gara-gara aku, sepertinya kalian tidak jadi ketemu!" ujar Winda memasang mimik menyesal.


"Tidak apa Win.. aku dan mas Bryan kan bisa bertemu lain kali. Beda ceritanya sama kesehatan kamu!" ucap Luna, "Kamu gak usah mikir yang macem-macem dulu! Fokus sama pemulihan diri kamu aja dulu!"


"Terimakasih ya Lun!" ujar Winda sembari menyunggingkan senyum termanisnya. Padahal di dalam hatinya ia mengutuk Luna dan Bryan dengan geramnya.


Ia merasa sia-sia telah menyakiti dirinya. Percuma saja ia menderita sakit seperti kemarin jika pada akhirnya, itu hanya membuat kedua orang itu tambah menyatu.

__ADS_1


__ADS_2