Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 29


__ADS_3

Arion menghela nafas pelan, kemudian menyunggingkan senyumnya ke arah Bryan dan Luna. Menelan semua rasa sakit hatinya yang tiba-tiba bersarang, Arion berkata "Tidak apa.."


"Yang penting hubungan kalian baik-baik saja!" sambung Arion, "Aku minta maaf karena telah membuatmu salah paham!"


Bryan tersenyum. "Sudahlah, itu sudah berlalu. Lain kali, tolong jaga jarak dari Luna!"


Memangkas jarak diantara dirinya dan Luna, Bryan kemudian memeluk Luna dengan erat, menunjukkan kepemilikannya pada gadis itu.


"Tiga Minggu lagi kami akan menikah, besok atau lusa undangan akan disebar!" sambung Bryan, "Kau jangan lupa datang!"


Mendengar ocehan Bryan, Luna merasa geram.


Ia benci saat Bryan berkata bahwa hubungan mereka baik-baik saja. Bahkan meminta Arion menjaga jarak darinya, padahal Bryan sendiri tak bisa melakukannya hingga berbuat kesalahan seperti itu.


"Benar-benar egois!!" geram Luna, ia menatap Bryan dengan penuh emosi. Kemudian berlalu begitu saja tanpa banyak bicara.


Luna mengabaikan semua orang, lalu berlari dengan cepat.


Bryan yang kaget, sempat termangu beberapa saat. Namun kemudian ia berlari mengejar Luna. Meninggalkan Arion yang kebingungan, menatap mereka dengan penuh tanda tanya.


"Ada apa?!" gumam Arion penasaran, "Kenapa Luna malah marah?!"


Namun Arion yang sudah memutuskan untuk mengikhlaskan perasaannya pada Luna, memilih untuk berbalik dan melangkah menuju arah berlawanan dari kedua sejoli itu.


Sementara itu, Luna yang tak ingin mendengar omong kosong dari Bryan lagi. Kabur dari pria itu begitu saja.


Di toko itu saja, Bryan telah membuatnya marah sehingga ia pergi begitu saja meninggalkan Bryan disana.


"Luna, tunggu!!" sentak Bryan, ia mencekal tangan Luna. Berusaha menghentikan gadis itu.


"Maafkan aku!!" ujar Bryan, ia memelas, "Aku keterlaluan!"


"Pergilah!"


"Aku akan mengantarmu pulang!" kekeuh Bryan mendekati Luna.


"Pergilah dariku!!" pekik Luna kemudian. "Aku sedang tak ingin melihatmu!!"


Mendengar teriakan Luna, Bryan kaget luar biasa. Suara Luna bergetar, gadis itu pasti menangis.


"Kau menangis?!" Bryan kembali bertanya.


"Pergi!!!!" sentak Luna marah.

__ADS_1


Meskipun Bryan tak ingin meninggalkan Luna, Ia terpaksa melakukannya. Takut Luna malah tambah murka dan semakin emosional.


Tadi ia juga salah, ia tanpa sengaja menyebut kesalahannya yang lalu hanyalah hal kecil yang dibesar-besarkan oleh Luna.


"Maaf... aku tak bermaksud begitu!" ucap Bryan menyesal. Ia frustasi karena terus diabaikan oleh Luna. Sehingga mengungkapkan hal yang salah.


Namun Luna tidak menjawab, ia menangis dalam diam lalu berjalan dengan langkah yang cepat.


****


"Lagi?!" Bryan mengernyit. Ia kaget Winda lagi-lagi meminta uang padanya.


Winda mengangguk, "Kamu bilang akan memberikan apapun yang aku mau!"


"Tapi ini keterlaluan!!" keluh Bryan, "Bagaimana bisa kau menghabiskan uang dua ratus juta hanya dalam dua hari?!!"


"Terserah aku!!" pekik Winda, "Tugasmu kan hanya harus memberiku uangnya!!"


"Aku tidak bisa memberimu uang untuk sementara waktu!" tolak Bryan. Ia tak bisa terus-terusan menggelontorkan uang yang banyak seperti ini.


Meski ia memiliki banyak uang, tapi belum tentu ia akan menghabiskannya dengan percuma.


"Tak bisa?!" Winda memekik, "Tempo hati kan kamu janji padaku!! Kenapa sekarang tiba-tiba ingkar?!"


"Kau yang keterlaluan!! Belum ada satu bulan tapi kau sudah menghabiskan hampir satu milyar!! Sebuah perusahaan besar saja tak membuang uang sebanyak itu setiap bulannya!! Kau pikir apa aku ini?!"


"Oh?! Sekarang kau marah?!" Bukannya gentar, Winda balik menantang. "Bagaimana menurutmu aku waktu itu?! Kau pikir aku tidak marah?! Kau pikir wanita macam apa aku ini?! Kesu**anku bahkan lebih penting dari uang satu milyar mu itu!!"


Winda sangat geram. Ia marah karena Bryan benar-benar mengabaikannya.


Pria itu terlalu fokus pada pernikahannya, sampai terus menerus tak memperhatikan pesan-pesan darinya.


"Jika aku tak mengingat-ingat hubungan baik denganmu sebelumnya dan juga Luna, sudah aku bongkar semua perangai b**ngs*k mu!!" garang Winda berujar, "Apa kau mau aku katakan pada Luna, bahwa kau telah men***ri ku?!"


Mendengar nama Luna disebut, Bryan merasa frustasi. Setelah kejadian di toko perhiasan tempo hari, Luna semakin dingin terhadapnya.


Jika Winda mengatakannya, hubungannya dengan Luna pasti akan berakhir selamanya. Bryan tak akan memiliki kesempatan untuk kembali bersama Luna selamanya.


Menjambak rambutnya dengan kuat, Bryan kemudian berkata. "Berapa?!"


"Lima ratus juta!" sebut Winda enteng.


"L-lima ratus?!!" Bryan terperangah, "Untuk apa uang sebanyak itu?!"

__ADS_1


"Kau tak perlu bertanya!!" ujar Winda galak, "Bukannya kita sudah sepakat?! Kau tidak mencampuri urusanku dan aku juga tak mencampuri urusanmu!!!"


Bryan tertohok. Itu adalah kata-kata yang ia lontarkan pada Winda tempo hari. Wanita itu mengembalikannya padanya.


Mengusap kasar wajahnya, Bryan kemudian meraih gawainya. Ia pun mentransfer sejumlah uang ke rekening Winda.


"Segitu dulu!" ucap Bryan. Ia mendengus kesal, "Tiga hari lagi aku kirimkan sisanya!!"


Meski tidak puas, Winda akhirnya pergi dari ruangan Bryan. Melanjutkan kembali aktifitasnya.


****


Walaupun Luna tak pernah menyebutkannya, tapi Adrian tahu bahwa telah terjadi sesuatu pada hubungan adiknya dan Bryan.


Terlihat dari betapa seringnya Luna menolak kunjungan Bryan,


'Sebenarnya ada apa?!


Adrian ingin bertanya pada adiknya, namun Luna selalu berkata bahwa tak terjadi apa-apa dan semuanya baik-baik saja.


"Ada apa Ian?!" celetuk Darian, saat melihat putranya tercenung dengan raut wajah yang ditekuk.


"Kenapa ya, kok kayaknya sikap Luna janggal banget ya pa?!" ungkap Adrian.


"Janggal gimana?!" papanya mengernyit, tak memahami maksud putranya itu.


"Itu lho pa... sepertinya Bryan dan Luna sudah tidak sehangat dulu lagi!!" ujar Adrian, "Kayak ada masalah diantara mereka berdua!"


Awalnya, Darian tak memikirkannya. Tapi ketika Adrian mengatakannya, Darian menyadarinya.


"Benar..."gumam Darian. Biasanya pria itu akan datang ke rumahnya hampir setiap hari, hanya untuk menemui putrinya yang adalah anak rumahan itu.


"Apa papa tidak merasa curiga?! Hubungan mereka terkesan buruk, tapi kenapa mereka tetap mengiyakan pernikahan yang dirancang kakek?!" Adrian tak mengerti.


Jelas-jelas Luna merasa tak nyaman, tapi kenapa masih mau melakukannya?!


"Terlihat buruk bukan berarti memang buruk!!" kata-kata bijak Darian pun keluar. "Dalam sebuah hubungan memang sering terjadi kesalah pahaman, perbedaan pendapat dan pertikaian!! Apalagi pas dekat-dekat hari pernikahan! Ada saja cobaannya!"


"Tapi pa... kayaknya ini bukan hal yang kayak gitu deh!" ujar Adrian.


Adrian mengenal adiknya dengan baik. Memang Luna itu sifatnya agak kekanak-kanakan. Tapi dia bukan orang yang suka memantik permasalahan atau menjadikan permasalahan itu sesuatu yang besar.


Pasti Bryan telah melakukan hal yang membuat Luna merasa sakit hati dan kecewa.

__ADS_1


"Kayaknya aku harus bicara deh pa, sama Luna!" putus Adrian."Firasat ku gak enak mulu dari kemarin!"


__ADS_2