
"Tidak mungkin...." ucap Winda saat mendengar apa yang mungkin telah mereka lakukan bersama.
"Bagaimana bisa mas melakukan hal ini padaku?!" sentak Winda kemudian.
"Maaf, win.. aku benar-benar tidak sadar! Aku tidak tahu kenapa bisa begini!!" ujar Bryan.
Winda menangis tersedu, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menyembunyikan air mata dan bibirnya yang melengkung.
Ya!! Meski dia menangis tersedu, sebenarnya ia merasa sangat senang. Karena rencananya telah berhasil.
Setelah mencampurkan obat per*ngs*ng di minuman Bryan, ia sengaja berbohong pada teman-temannya. Ia berkata akan mengantar atasannya itu pulang, namun sebenarnya ia membawa atasannya itu ke kosannya.
Bryan sudah tidak sadarkan diri saat obat itu bekerja. Winda sengaja melemparkan dirinya pada Bryan yang telah terpengaruh obat. Dan membiarkan Bryan melepaskan h*sr*t padanya.
Setelah pertempuran yang panas selama berjam-jam, ia sengaja menyemprotkan pewarna merah darah di kasurnya. Yang membuat Bryan berpikir telah merenggut kes*c*an gadis itu.
"Win... aku.. aku minta maaf!" ucap Bryan. Ia tertunduk lesu. Ia benar-benar menyesal.
Ia juga syock karena telah melakukan hal ini dengan Winda. Bagaimana pun wanita yang ia cintai adalah Luna. Ia juga tak ingin ini terjadi!!
"Maaf, mas bilang maaf?!" geram Winda, "Lalu sekarang bagaimana?! Aku sudah tak p*raw*n lagi sekarang!!!"
"Aku menjaga diriku untuk suamiku kelak!! Tapi kau malah merenggutnya dariku!!" sembur Winda.
"Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu... aku tidak ingin melakukannya! Aku benar-benar minta maaf!!" Bryan terus memohon. "Apa yang harus aku lakukan?! Aku benar-benar merasa bersalah!"
"Kalau begitu, bertanggung jawablah mas!!" serang Winda, "Aku menjaga kes*c*anku untuk calon suamiku! Karena kau telah merenggutnya maka jadilah suamiku!"
Mendengar ucapan Winda, Bryan langsung bangkit. Ia menolak dengan keras.
"Tidak!!!" ujarnya, "Aku tidak bisa!!"
"Kenapa tidak bisa?!" pekik Winda, "Apa karena Luna?!"
"Iya!!" teriak Bryan, "Aku mencintainya. Hanya dia yang akan menjadi istriku. Bukan orang lain!!"
"Lalu aku bagaimana?!" pungkas Winda, "Kalau begitu, kembalikan kes*c*anku yang kau renggut itu!!! Sekarang!!"
__ADS_1
Bryan terbelalak, mendengar tuntutan tak masuk akal dari Winda.
"Bagaimana aku melakukannya?!"
"Aku tidak peduli!! Kembalikan itu atau kau tanggung jawab pada diriku!!" ucap Winda murka. Ia menangis tersedu.
Bryan benar-benar bingung. Ia tak pernah membayangkan akan berada di situasi seperti ini sebelumnya, bahkan di dalam mimpi sekali pun.
"Dengar... aku benar-benar salah!! Tapi aku tak bisa menikahi mu!! Aku hanya mencintai Luna seorang!!" ujar Bryan.
"Lalu bagaimana denganku mas?!" pekik Winda.
Bryan terdiam, memikirkan solusi terbaik yang bisa ia berikan.
"Mungkin aku tak bisa melakukan apa yang menjadi keinginanmu, tapi aku bisa memberimu hal lain sebagai gantinya!" ucap Bryan kemudian.
"Apa maksudmu?!" Winda mengernyit.
"Aku akan mencukupi kebutuhanmu! Apapun yang kau inginkan, akan kupenuhi semuanya! Tapi aku mohon, jangan mengatakan ini semua pada Luna. Aku sangat mencintainya! Aku ingin menikahinya" pungkas Bryan, "Tolong jadikan ini rahasia kita!!"
Sementara itu, Luna yang khawatir pada keadaan Bryan, akhirnya bertanya pada Arion. Ia pikir, mungkin Arion tahu dimana Bryan berada.
"Bryan?!Tidak..." Arion mengernyit, "Ada apa, Lun?!"
"Mas Bryan tidak bisa dihubungi sejak kemarin. Kakek Max kebingungan mencari mas Bryan!" sahut Luna.
"Apa?! Bryan hilang?!" Arion kaget, "Bagaimana bisa?!"
"Mas Bryan kemaren sempet ngabarin aku, katanya mau makan-makan sama karyawan nya. Tapi habis itu gak ada kabar lagi!" ucap Luna. "Kakek Max bilang mas Bryan gak ada di hotel, dia juga gak ada pulang ke rumah!"
Arion kaget. Bagiamana bisa Bryan tiba-tiba menghilang?! Apa ada yang menculiknya!?
"Kalau begitu nanti aku cari dia!" sahut Arion kemudian.
"Mas mau cari mas Bryan?!" tanya Luna, "Apa aku boleh ikut?!"
Saat mendengar Luna ingin ikut mencari Bryan, Arion sangat senang. Ia tidak menyangka hilangnya Bryan ternyata menjadi berkah untuknya.
__ADS_1
"Baiklah!" jawab Arion. Ia bergegas menuju ke parkiran di bawah tanah. Ia naik ke mobilnya dan langsung bergegas menuju ke rumah Luna.
****
Meski Arion tahu, perasaan yang mendera hatinya ini adalah kesalahan. Namun Arion tak bisa mengabaikannya. Apalagi saat ia melihat, Luna yang cantik tengah duduk di bangku penumpang di sampingnya.
Saat itu terlintas di benaknya bahwa ia ingin selamanya gadis itu akan menempati tempat itu di dalam mobilnya.
"Mas, apa mungkin mas Bryan menginap di rumah temannya?!" tanya Luna, mereka kini tengah mencari Bryan di jalanan yang sering dilalui Bryan saat pulang dari hotel.
Mereka berpikir mungkin saja Bryan mengalami kecelakaan di jalanan menuju pulang.
"Aku rasa tidak!!" bantah Arion, "Jika dia menginap di rumah teman, pasti ia akan memberi kabar!"
"Mungkin saja mas Bryan mabuk dan tertidur lelap!" Luna mengemukakan kemungkinan lainnya.
Namun Arion kembali menggeleng, "Temannya pasti menghubungi rumah, jika Bryan telah mabuk dan tertidur!!"
Luna terdiam lagi. Ia benar-benar cemas telah terjadi sesuatu pada kekasihnya itu.
Melihat Luna diam, Arion yang mengerti perasaan Luna, mulai mengalihkan topik pembicaraan.
"Kamu tahu..bermain di taman hiburan denganmu hari itu. Adalah hal yang paling berkesan dalam hidupku" celetuk Arion.
Luna yang mendengarnya terbelalak, "Huh?! Apa mas?!"
"Hari saat kita bermain di taman hiburan, adalah hari terindah dalam hidupku!" ulang Arion.
"Huh?! Kenapa begitu mas?!" Luna tidak paham.
"Itu karena... aku tak pernah pergi ke taman hiburan seumur hidupku!!" sahut Arion. Matanya sendu menatap ke arah Luna. Seberkas luka melintas di netra hitam pekatnya.
Luna yang menyadarinya, seketika terhenyak kaget.
"Dulu karena mamaku sakit, papa lebih sering menjaga mama ketimbang aku. Sehingga aku selalu merasa diabaikan!" ucap Arion, memulai ceritanya yang menyedihkan."Karena tak bisa pergi, aku lebih suka membaca buku sendirian. Dan aku menemukan sebuah buku bacaan mengenai taman hiburan!"
Arion pun mengungkapkan ceritanya, saat ia sangat ingin masuk ke taman hiburan. Ia sempat meminta pada ayahnya untuk diajak kesana. Tapi dengan kejamnya sang ayah malah mengabaikannya.
__ADS_1
Sejak saat itu, Arion memiliki obsesi aneh untuk pergi ke taman hiburan. Namun ia merasa malu jika melakukannya sendiri. Sehingga saat ia berhasil memasuki taman hiburan dengan Luna. Ia mencoba semua mainan yang telah ia idamkan.
"Kau tahu, aku sangat lelah memainkan semua permainan itu, tapi aku tak bisa berhenti memainkannya!" ujar Arion senang. "Itu adalah saat dimana mimpiku menjadi nyata! Jadi aku merasa itu adalah hari yang sangat berkesan!"