
"Saya sudah menikah!" itulah yang Arion katakan ketika seorang pasien mengungkapkan cinta padanya.
Pasien itu terkilir beberapa hari lalu. Ia tak membutuhkan perawatan yang serius. Namun ia memaksa untuk tetap tinggal di rumah sakit.
Karena ayahnya adalah seorang pengusaha kaya, ia dengan leluasa tinggal di rumah sakit meski tak terlalu sakit.
Rupa-rupanya, alasan dia tinggal berlama-lama adalah Arion. Sepertinya ia kepincut saat berpapasan dengan Arion di toilet.
"Apa?!" wanita itu terkejut. Ia sudah bertanya pada beberapa perawat yang mengenal Arion.
Semuanya kompak menyebutkan bahwa Arion belum menikah dan belum punya pacar. Namun sekarang tiba-tiba saja ia sudah menikah?! Bagaimana mungkin?!
Bukan hanya wanita itu yang bertanya-tanya, seluruh orang yang mendengarnya pun ikut terkejut dan bertanya-tanya.
"Apa?!"
"Menikah?!"
"Dokter Arion menikah?!"
"Tidak mungkin!!"
Bisikan demi bisikan menggema di seantero rumah sakit. Berita pernikahan dokter Arion Dominic menggemparkan semua orang.
Apalagi undangan, rumor mengenai pernikahan saja tak pernah terdengar. Lalu tiba-tiba saja Arion mengumumkan bahwa ia telah menikah!!?
"Anda berbohong karena ingin menolak saya kan?!" tanya wanita itu dengan suara yang bergetar.
"Tidak!" sahut Arion, "Saya benar-benar sudah menikah!"
Arion menunjukkan cincin emas putih yang melingkar di jari manisnya.
Wanita itu terkejut. Menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan isak tangis yang hendak keluar.
Dengan air mata yang mulai berjatuhan, wanita itu berlari menjauhi Arion.
"Ha..." Arion menghela nafas berat.
"Lu serius bro?!" Zahir yang muncul entah darimana, mendekati temannya itu dan bertanya, "Lu sudah menikah?! Lu lagi ngeprank kan?!"
Senyum Arion mengembang, "Gak kok. Gue serius, gue udah nikah!!"
Zahir menganga!!
"Wah.. wah...lu jangan ngadi-ngadi!!"Zahir tidak percaya. Perasaan kemarin temannya itu bilang mau menghadiri pernikahan saudara sepupunya, Bryan. Kenapa tiba-tiba jadi dianya yang menikah?!
"Jangan bilang, lu gantiin saudara sepupu lu nikah?!! Ah, lu pikir ini novel!!" Zahir awalnya cuma bercanda. Namun saat Arion mengangguk dengan senyum sumringah di wajahnya. Zahir melotot tidak percaya.
"Serius lu?!" Zahir membekap mulutnya kaget.
__ADS_1
Arion mengangguk membenarkan. Ia kemudian menceritakan apa yang terjadi di hati pernikahan. Dari Bryan yang ketahuan menghamili wanita lain, hingga pernikahannya dengan Luna.
"Ribet banget keluarga lu ya!" seru Zahir kemudian. "Kasihan banget deh Luna! Pasti dia syock berat!"
"Belum sembuh dari sakit hati karena diselingkuhi calon suami, terus langsung dipaksa menikah sama orang lain!" Zahir bersimpati pada gadis itu.
Arion mengangguk, ia juga prihatin pada istrinya itu.
"Gimana dia sekarang?! Apa dia menangis seharian di kamar?!" tanya Zahir kemudian.
Setelah tadi pagi membantu Arion merapikan barang-barangnya, Luna bilang ingin istirahat dirumah. Raut wajah gadis itu memang tak seceria biasanya, tapi juga tak terlalu buruk.
Luna lebih terlihat lelah ketimbang sedih.
"Gak kok!" bantah Arion, "Dia terlihat biasa aja!"
"Bro!! Lu kan gak bisa mengukur kedalaman hati seseorang!" ujar Zahir, mulai sok-sokan jadi pujangga cinta, "Apalagi seorang wanita! Bisa saja bibirnya tersenyum padahal hatinya sedang menangis!"
"Lagian mau dikata tak cinta sekalipun, jika dikhianati di hari pernikahan, wanita mana yang bakal baik-baik saja?!" sambung Zahir, "Lu peka dikit dong! Lu naksir dia kan?!"
Arion tercenung, memikirkan kata-kata Zahir. Benar juga!! Meski tak memiliki perasaan sekali pun, jika dikhianati seperti itu, pasti ada rasa sakit hati yang tertinggal. Apalagi Luna mencintai Bryan.
"Terus gue mesti gimana?!" tanya Arion.
"Ya.. lu hibur dia lah!" sahut Zahir jengkel. Temannya ini lelet sekali kalau masalah percintaan. Makanya dia dikhianati pacarnya dan terus menjomblo.
"Gimana caranya?!" Arion balik bertanya.
Jadwal bulan madu telah tersedia. Semuanya telah diatur oleh Max untuk kedua cucunya yang menikah. Namun bulan madu mereka akan dilaksanakan sekitar seminggu lagi di Paris.
"Ma-masih seminggu lagi sih!" ujar Arion.
"Yah.. seminggu lagi?!" Zahir mencibir, "Kalau lu mau menyembuhkan hati wanita yang sedang patah, lu harus gercep alias gerak cepat. Sebelum dia sembuh sendiri!"
"Kalau lu bisa bikin dia merasa lebih baik, nilai lu di mata dia juga bakal naik! Syukur-syukur kalau ditambah bonus jatuh hati!"
*****
Mempertimbangkan usulan sahabatnya itu, Arion kemudian memulai cuti panjangnya. Bahkan sebelum jadwal bulan madunya dimulai.
"Besok aku sudah mulai cuti!" ujar Arion memulai percakapan. Saat mereka sedang makan malam di rumah.
"Huh?!" Luna kaget. "Bukannya kita bulan madunya masih seminggu lagi ya mas?!! Kok sudah cuti aja?!"
"Teman-temanku curiga, kenapa pengantin baru malah masuk kerja!? Mereka bahkan tidak percaya bahwa aku sudah menikah!" ujar Arion mengungkap alasan yang disebut Zahir padanya. "Aku takut kakek juga akan jadi curiga!"
Mendengar alasan yang diungkap Arion, Luna mengangguk-angguk setuju.
"Benar apa yang mas bilang!" sahut Luna. "Aku sama sekali tak memikirkannya!"
__ADS_1
Ia kemudian tersenyum tipis, senang karena Arion bekerja sama dengan baik. "Terimakasih karena sudah memikirkannya, mas!"
Arion tersenyum simpul. Hanya dengan satu ucapan terimakasih dari Luna, hati Arion sudah berbunga-bunga.
"Karena aku senggang, bagaimana kalau kita liburan?!" ajak Arion.
"Liburan?!" Luna kaget, "Kemana mas?!"
"Villa di tepi pantai milik kakek!" sahut Arion. "Ada banyak hal yang terjadi dalam waktu dekat ini! Bukankah lebih baik kita menenangkan pikiran dengan liburan?!"
"Kakek pasti senang, jika pasangan pengantin baru ingin menikmati waktu berdua!" sambung Arion.
Dheg!!
Mendengar kata-kata Arion, Luna tersentak kaget. Sekilas, ada desir aneh yang berhembus di hatinya. Namun Luna tak memahami apa tepatnya perasaan itu.
Menenangkan hatinya yang tiba-tiba saja kacau, Luna meneguk minuman yang ada di depannya dengan cepat.
"Bagaimana?! Apa kamu setuju?!" tanya Arion lagi.
Luna kemudian mengangguk setuju.
Seperti kata Arion. Mendengar Arion ingin pergi ke villa bersama dengan Luna, Max mengizinkannya dengan senang hati.
Meski orang yang diharapkan oleh Max menjadi suami Luna adalah Bryan, namun Arion juga tidak masalah. Toh keduanya adalah cucunya, sama-sama darah keturunan keluarga Bradley.
Ia sudah sangat bersyukur, karena Arion telah pasang badan dan menyelamatkan dirinya dan keluarganya hari itu. Dan karena Arion pula, perjodohan antar kedua keluarga bisa terlaksana.
"Baiklah! Pergi dan bersenang-senanglah!" ujar Max kemudian.
Bryan yang kebetulan sedang lewat menjadi curiga, mendengar suara kakeknya yang ceria. Ia pun bertanya.
"Siapa itu kek?!" tanya Bryan.
"Bukan urusanmu!" sahut kakeknya ketus.
"Apa itu Arion?! Apa yang dia katakan?!" Bryan memicing. Ia yakin itu Arion. Entah apa yang dia katakan, hingga kakek terlihat senang. Apa mungkin masalah bulan madu?!
"Kek, apa bulan madu itu tak bisa dibatalkan!?" tanya Bryan kemudian.
"Kenapa dibatalkan?!" kakeknya mengernyit kesal. "Mereka mau bulan madu atau tidak, itu bukan urusanmu!"
"Tapi kek.. Luna itu.. dia kekasihku! Bagaimana bisa kakek membiarkannya menghabiskan waktu dengan sepupuku?!" sentak Bryan.
Mendengar kata-kata Bryan, Max merasa kesal. Ia memang mengizinkan cucunya itu untuk menunda pertanggung jawabannya pada Winda, untuk mengorek kebenaran. Tapi bukan berarti, Bryan boleh mengganggu pernikahan Arion dan Luna.
Kedua anak muda itu sudah menikah!! Tak ada yang boleh mengganggu mereka. Apapun alasannya.
"Bryan!!!" bentak Max kesal. "Mereka sudah menikah! Luna bukan lagi kekasihmu, dia istri sepupumu!"
__ADS_1
"Urus saja urusanmu dengan wanita yang kau hamili itu!" ucap Max, "Jika terbukti janin di kandungannya itu adalah milikmu, kau harus menikahinya!!