Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 11


__ADS_3

Kamu benar-benar menyukai Luna kan?!" Tanya Nimas lagi. "Bukan bohongan kan?!"


Bryan mengangguk, "Serius ma! Aku jatuh cinta pada Luna!"


"Jika alasannya karena ancaman dari kakek, kau tidak usah memikirkannya! Papa akan berbicara pada kakek!" Ujar Ethan juga.


"Tidak Pa! Sungguh! Aku jatuh cinta pada Luna!" Ujar Bryan lagi. Ia ingin meyakinkan orang tuanya. Namun sepertinya agak sulit.


Wajar jika kedua orang tuanya meragukan Bryan, setelah apa yang terjadi pada kakak perempuannya. Kedua orang tuanya pasti takut hal yang sama akan terulang.


"Pa, Ma, percayalah aku benar-benar mencintainya! Aku tidak tahu bagaimana ini terjadi. Tapi yang pasti aku tidak berbohong. Aku serius dengan hal ini!" Ucap Bryan lagi. "Aku juga serius mengenai pernikahanku dengan Luna!"


"Kalau kamu memang benar-benar serius, kami tentunya senang. Akhirnya perjodohan ini terlaksana juga!" Ucap Nimas. "Luna juga gadis yang baik, keluarganya juga orang-orang elit. Dia akan menjadi mempelai terbaik!"


Bryan mengangguk menyetujui perkataan mamanya. Terlepas dari kekayaan dan status keluarga Luna. Bagi Bryan, Luna memang calon pengantin terbaik untuknya.


"Tapi aku cemas sama keluarganya, ma! Mereka sepertinya belum bisa menerima kita dengan baik setelah kejadian waktu itu!" Ungkap Bryan.


"Itu kan wajar! Apa yang dilakukan Elvina pasti sangat menyakiti hati mereka!" ujar Ethan, "Perlahan-lahan saja! Tunjukkan ketulusan mu pada mereka, papa yakin mereka akan merestui mu!"


"Mereka bukanlah orang jahat!" imbuh Nimas, "Mereka sebenarnya orang-orang baik. Hanya saja keadaan yang membuat mereka menjadi sensitif!"


"Jika papa di posisi mereka, papa juga akan sulit memaafkan perbuatan kakakmu itu!" sambung Ethan.


"Tapi itu bukan salah Elvina semata pa!!" Ujar Bryan.


"Meskipun begitu, perbuatannya yang meninggalkan pernikahan begitu saja adalah perbuatan yang tidak bertanggung jawab!" Seru Ethan, "Dia tidak menghargai Adrian dan keluarganya dan juga tidak memandang kita yang merupakan keluarganya!"


Ethan, istrinya dan anaknya fokus mengobrol satu sama lain. Hingga tidak menyadari kehadiran seseorang yang sejak tadi terus menguping.


Ialah Tasya yang sejak tadi mendengarkan dari balik dinding. Ia hendak pergi menyelinap ke kamar Bryan untuk menggodanya. Tak disangka pintu terbuka, tapi sayangnya ada ayah dan ibu Bryan disana.


Tasya hendak kembali ke kamarnya. Namun obrolan yang mereka bicarakan menggugah rasa penasaran Tasya.


Tasya merasa sangat bersyukur karena memutuskaan untuk tetap tinggal dan mendengarkan. Sehingga ia tahu informasi menarik yang membuatnya kembali bangkit.


'Pernikahan mas Bryan dan Luna ternyata hanya perjodohan. Dia diancam oleh kakeknya. Makanya ini terasa janggal!' batin Tasya.

__ADS_1


'Bagaimana mungkin hubungan mereka berubah begitu cepat. Pasti mas Bryan tertekan! Mas Bryan pasti berpura-pura menyukai Luna untuk melepaskan diri dari ancaman kakeknya!' Tasya terus berasumsi di dalam pikirannya. Dan menyimpulkan hal-hal sendiri semaunya.


****


"Aku tahu kalian dijodohkan!" Ujar Tasya tiba-tiba, "Tidak usah lagi berpura-pura!!"


"Maksudnya?!" Tanya Luna. Ia tidak memahami gadis di depannya itu. Tiba-tiba saja Tasya mengetuk pintu kamarnya dan memaksa untuk masuk. Lalu mengatakan hal-hal aneh yang tidak dimengerti Luna.


"Kau dan mas Bryan dijodohkan kan?!" Ucap Tasya. "Kalian berpura-pura karena mas Bryan diancam oleh kakeknya kan?!"


Luna mengernyit. Ia bingung darimana wanita ini mengetahui perjodohan dirinya dan Bryan?! Dan kenapa pula gadis itu menyebutkan hal itu di depannya?!


"Pergilah dari mas Bryan!" Ujar Tasya kemudian, "Ini hanya perjodohan kan?! Mas Bryan bisa melakukannya dengan siapa saja, termasuk aku!"


"Jadi apa sebenarnya maksudmu?!" Luna samar-samar memahami maksud Tasya. Namun ia ingin mendengarnya lebih jelas, langsung dari mulut gadis itu.


"Lelet juga kau ternyata!" Cibir Tasya, "Kalian pura-pura saling mencintai karena takut dengan ancaman kakek kan?! Kakek mungkin hanya membutuhkan wanita yang baik untuk mas Bryan. Tidak harus kau juga!"


"Aku juga bisa menjadi istri mas Bryan! Lagipula, kami memang sudah dekat sejak lama. Pasti kakek tidak akan keberatan!" Ujar Tasya, "Ini solusi yang bagus! Kau tidak lagi harus berpura-pura, mas Bryan juga tidak akan tersiksa menikahi gadis yang tidak dicintainya! Begitu juga dengan kakek, ia akan senang karena cucunya menikah dengan wanita yang luar biasa sepertiku!"


Melihat Luna yang merespon dengan tenang, entah kenapa Tasya merasa kesal. Ia merasa geram. Sikap Luna seolah telah menghinanya.


Seketika Tasya memiliki dorongan untuk mempermalukan wanita di depannya itu, agar tidak berani lagi muncul di hadapan keluarga Bradley.


****


Di hari terakhir liburan, Max mengadakan private party bersama dengan keluarganya. Jauh dari kesan private party yang buruk, private party yang diselenggarakan Max sangat elegan.


Tidak ada musik yang berdentum keras dan tanpa joget-joget tidak jelas.


Sebagai penggantinya, ia menjadikan pesta itu sangat mewah. Dipenuhi dengan makanan-makanan mahal dan wine kelas atas.


Setelah mendengar keinginan cucunya untuk menikahi Luna, ia sangat senang sehingga dengan mendadak mengadakan private party di sebuah villa. Sebagai rasa syukur karena akhirnya perjodohan wasiat turun temurun itu, akhirnya terlaksana.


Tanpa disadari olehnya, seseorang berusaha menyabotase pestanya tersebut.


Siapa lagi kalau bukan Tasya! Ia berniat membuat Luna mabuk dan bertingkah konyol.

__ADS_1


Ia telah mendapatkan L**, obat yang mampu membuat seseorang berhalusinasi. Ia berniat mencampurkannya ke dalam minuman Luna.


Namun setelah dipikir-pikir itu agak beresiko. Dan bisa meninggalkan saksi. sehingga ia memilih untuk menukar minuman Luna.


Tasya mengambil jenis minuman yang sama dengan Luna, mencampurkannya dengan obat. Lalu berusaha menukar keduanya.


Meski enggan, Tasya kemudian mendekati Luna dan pura-pura mengobrol dengannya.


"Kau tidak benar-benar menginginkan mas Bryan kan?!" Celetuk Tasya, sembari menggoyang-goyangkan gelas di tangannya. Ia pun melanjutkan, "Aku rasa kau tidak mau menyerah karena bermimpi untuk memilikinya!"


"Apa kau tidak punya kaca dirumah?!" Ucap Luna. Bibirnya tersenyum, namun kata-katanya menusuk bagai sembilu.


"Kau harus sering-sering menggunakannya jika punya!"sambung Luna.


*( Jadi maksudnya Luna tuh, 'Ngaca! Lu sendiri yang kek gitu malah ngomongin orang!' )


Mengerti akan maksud Luna, Tasya yang kesal menggemeretakkan giginya dengan geram. Sekuat tenaga ia menahan amarahnya. Ia tidak boleh terpancing emosi agar rencananya berhasil.


"Oh iya?! Ku kira kau yang lebih membutuhkannya!" Balas Tasya, "Kau masih belum menyingkir padahal aku sudah memperingatkan. Apa kau tidak takut ada yang mendorongmu nanti?! Itu akan terasa lebih sakit daripada turun sendiri!"


"Entahlah.. mungkin saja yang mendorong yang akan terjengkang!" Sahut Luna. Sembari menyesap minumannya sejenak.


Luna kemudian dengan pelan meletakkan gelas itu di meja


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kan?!" Ucap Luna sembari menatap tajam manik Tasya yang membola.


Tasya merasa kesal. Emosinya hampir meledak. Namun melihat gelas itu di atas meja, ia melonjak kegirangan di dalam hatinya. Dengan jantung yang berderu, Tasya bersiap untuk menukarnya.


Setelah perhatian Luna teralihkan sejenak, Tasya menukar minuman Luna dengan minuman yang ia bawa.


"Ku rasa aku tahu jawabannya! Siapapun akan kembali lagi ke asalnya, termasuk kau!" Balas Tasya.


Ia kemudian bangkit, pergi meninggalkan Luna begitu saja.


Luna mengernyit, ia tidak mengerti kenapa Tasya begitu terobsesi pada Bryan. Namun ia tidak terlalu memikirkannya. Yang terpenting adalah hati Bryan baginya.


Merasa haus, ia kemudian meraih gelas minuman di atas meja. Dan hendak meminumnya.

__ADS_1


__ADS_2