
Luna menyerah. Ia tidak menemukan pakaian yang tepat untuk menjadi pengganti pakaian renangnya.
Sebagian besar pakaiannya hanyalah dress santai, lalu yang lainnya adalah celana jeans yang terlalu berat untuk digunakan berenang.
"Bagaimana ini?!" gumam Luna. Ia tak mau membuat Arion kecewa. Tapi ia tak berdaya.
Dengan berat hati, Luna menemui Arion di bawah. Mengenakan sebuah cardigan panjang untuk menutupi tubuhnya, Luna menemui Arion.
"Maaf mas, sepertinya kita tak bisa pergi berenang di pantai!" sesal Luna, "Tak ada pakaian yang cocok untuk digunakan berenang!"
"Ah! Tidak apa..." sahut Arion kemudian.
"Apa mas marah?!" tanya Luna, saat melihat air muka Arion berubah.
"Tidak!" sahut Arion jujur. Daripada disebut marah, perasaannya kini lebih tepat disebut sebagai kecewa.
Arion kecewa karena kesempatan untuk memperbaiki hubungannya yang canggung dengan Luna menghilang.
Melihat reaksi Arion yang dingin, Luna mengira Arion benar-benar marah. Sehingga ia memberanikan diri untuk berkata.
"Kalau berenang di kolam renang mungkin tidak apa, mas!" celetuk Luna kemudian.
Arion terkesiap. "A-apa?!"
"A-aku rasa jika hanya kita berdua, tak masalah jika menggunakan pakaian ini kan?" tanya Luna. "Aku bisa berenang menggunakan ini!"
"Ah!!" Arion kaget. Sebenarnya ia senang jika memang Luna mau berenang dengannya. Namun jika Luna berenang dengan menggunakan pakaian itu, bukannya berbaikan. Mungkin hubungan mereka akan semakin canggung. Terlebih Luna terlihat tidak nyaman menggunakannya.
"Bagaimana mas?!" tanya Luna kemudian.
"Apa kamu nyaman mengenakannya?!" tanya Arion kemudian.
"Jika sudah ada di dalam air, mungkin aku tidak akan terlalu malu mas!" sahut Luna, "Jadi biarkan saya duluan yang masuk ke dalam air!"
Melihat Luna yang sepertinya tidak keberatan, Arion menyetujui untuk berenang di kolam renang.
Membiarkan Luna turun ke dalam air terlebih dahulu, Arion menunggu Luna dengan tenang sembari memikirkan cara yang tepat untuk menghilangkan kecanggungan.
"Mas!" seru Luna setelah ia berada di dalam air.
__ADS_1
Mendengar suara Luna yang memanggilnya, Arion tersadar dari lamunannya.
"Mas sini!" ajak Luna kemudian. Ia merasa lebih baik setelah merasakan sensasi sejuk air di sekitarnya.
Arion tersenyum senang! Ia kemudian membuka kaos oblong yang menutupi tubuhnya, bersiap untuk terjun ke air. Tubuh bagian atasnya polos, memperlihatkan otot-otot yang kokoh dengan bentuk yang sangat sempurna.
Luna yang tak menyangka bahwa Arion memiliki tubuh sekekar itu, hanya bisa memalingkan wajahnya yang memerah dan terasa panas.
****
Setelah bujukan demi bujukan yang dilayangkan oleh Ethan dan juga Nimas, akhirnya Winda menerima pinangan dari keluarga Bradley. Winda kini kembali ke kampung halamannya untuk menjemput ibunya.
Ya, setidaknya itu yang dipikirkan oleh keluarga Bryan.
Padahal sebenarnya ibu Winda tak tinggal di desa, wanita itu sudah datang sejak kemarin. Dan tinggal di kosan Winda. Ia bahkan mendengar anaknya dipinang oleh keluarga kaya itu dari dalam kamar.
Winda yang yakin akan membuat keluarga Bradley terjerat, telah menghubungi ibunya terlebih dahulu.
"Kau hebat sekali, Win!" seru Dalia, ibu Winda. "Bagaimana kau bisa menjerat tuan muda kaya seperti itu?!"
"Dia sebenarnya pacar temanku Bu!"
"Apa?!" Dalia kaget. "Bagaimana kalau dia marah?!! Dan balas dendam padamu?!"
Winda menggeleng, "Dia tidak mungkin marah! Dia tahunya aku hanya korban dari perbuatan bejat tunangannya. Yang akan dia benci hanya tunangannya saja!"
"Ya ampun! Luar biasa sekali kamu!!" tiba-tiba Dalia merasa bangga memiliki putri cerdas seperti Winda. "Tidak sia-sia ibu memiliki anak sepertimu!"
Winda tersenyum bangga, "Setelah ini hidup kita tak akan susah lagi Bu! Kita juga tidak akan diteror lagi sama manusia itu! Kita tak perlu lagi hidup berpindah-pindah!"
Dalia mengangguk senang.
Sudah lama ia ingin hidup bebas. Hidupnya selama bertahun-tahun sangat menderita.
Ia harus hidup berpindah-pindah, dari satu daerah ke daerah lainnya. Hanya untuk menghindari seorang baji ngan yang terus mengikutinya bagai hantu.
Meski sebagian besar kata-kata yang diungkapkan oleh Winda pada keluarga Bradley hanyalah bualan. Namun ada satu hal yang adalah kebenaran.
Itu adalah kisah mengenai dirinya yang hidup dalam pernikahan neraka.
__ADS_1
Dalia dan suaminya, Dana Wijaya adalah dua orang yang disatukan oleh kedua orangtua mereka. Sehingga tak ada cinta diantara mereka.
Dana yang seorang buruh bangunan jarang sekali pulang dan lebih suka menghabiskan waktu di tempat kerjanya. Sekalinya Dana pulang, pria itu hanya akan mengamuk dan memaki Dalia.
Meski Dalia berniat untuk menyerah, ia mempercayai kata-kata kedua orangtuanya yang menyebut bahwa kehadiran anak akan membuat Dana berubah.
Namun ternyata, kata-kata yang dipercayai oleh Dalia hanyalah bualan semata!
Bertahun-tahun berlalu hingga Winda dilahirkan, Dana yang seperti itu tidak kunjung berubah. Sifatnya yang pemarah dan tidak pedulian malah semakin menjadi-jadi.
Hingga suatu ketika, Dana mengalami kecelakaan. Tangan kanan Dana mengalami cedera dan tak bisa lagi bekerja.
Tapi bukannya bertobat, Dana malah menjadi lebih temperamental. Ia memaksa Dalia untuk bekerja bagai sapi perah. Lalu merampas uang tersebut untuk dibelikan minuman keras.
Awalnya Dalia berusaha untuk bertahan, ia berpikir mungkin ini adalah garis takdirnya. Dan berusaha untuk menerima.
Namun suatu ketika, ia menyadari bahwa menggenggam sesuatu yang hancur hanya akan melukai tangannya saja.
Entah apa yang terjadi hari itu, Winda yang masih berumur sepuluh tahun. Dipaksa untuk pergi ke warung langganan Dana, untuk membeli minuman keras. Padahal biasanya, Dana sendiri yang datang kesana.
Winda yang masih muda, kebingungan untuk kembali pulang. Ia tersesat karena jarak dari rumah mereka, menuju ke warung tersebut lumayan jauh.
Meskipun pada akhirnya berhasil kembali pulang, yang menunggu Winda setelahnya hanyalah kemarahan ayahnya.
Dana yang gelap mata karena tak bisa mendapatkan minuman tepat pada waktunya, akhirnya melampiaskan kekesalannya pada Winda.
Ia memukul Winda dengan sadis. Hingga tak sadarkan diri dan hampir mati.
Saat itu, Dalia tengah bekerja di sebuah warung makan. Ia baru pulang saat malam menjelang. Dalia yang sampai di rumah, begitu terkejut melihat keadaan putrinya. Ia berusaha menolong putrinya, namun Dana melarangnya. Dana malah menyuruh Dalia membuatkan anaknya itu kuburan.
Dalia yang naik pitam menjadi gelap mata, ia memecahkan botol minuman di dekatnya dan menghujamkan beberapa kali pada suaminya.
Berpikir bahwa suaminya telah meninggal, Dalia kabur membawa serta putrinya.
Namun naas, Dana tidak meninggal. Ia selamat berkat ditolong oleh tetangga yang mendengar suara ribut-ribut di rumahnya.
Meski Dana tidak melaporkan mereka ke pihak kepolisian, namun pria itu terus menghantuinya.
Dana terus mengunjungi Dalia dan Winda, mengancam dan memeras mereka. Hingga mereka selalu hidup berpindah-pindah.
__ADS_1
"Setelah ini kita tak akan bertemu dengannya lagi, ibu!" gumam Winda, "Aku pastikan itu!"