Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 21


__ADS_3

Meski Luna ingin mengabaikannya, namun apa yang disampaikan oleh teman-temannya telah memantik kebingungan di hati Luna.


Apakah yang sebenernya terjadi?! Apa Winda benar-benar seorang pelakor, atau semua itu hanyalah kesalah pahaman semata?! Luna ingin sebuah kejelasan.


Memang itu tak ada hubungannya dengan dirinya, karena itu adalah kehidupan pribadi Winda. Namun jika memang benar Winda adalah seorang pelakor, kenapa Winda berbohong padanya mengenai pelecehan seksual yang dilakukan oleh atasannya?! Apa alasan yang membuat Winda mengemukakan kebohongan itu di depan Luna?!


Tak ingin terus menebak-nebak, Luna segera menghubungi Winda untuk bertemu berdua.


Ia kemudian menggiring Winda untuk bertemu di sebuah kafe tak jauh dari Brads Hotel.


"Ada apa Lun?! Tumben kamu ngajak ketemu!" sapa Winda ramah.


"Ada yang mau aku omongin sama kamu Win!" ujar Luna kemudian.


"Apa sih?! Serius amat!??" tanya Winda. Ia merasa curiga, jangan-jangan kebohongannya telah terungkap?!


Winda telah menyiapkan alasan-alasan yang akan ia ungkapkan pada Luna, jika Luna mengetahui kebohongannya. Tapi ini terlalu cepat.


Kejadian itu sudah cukup lama, sehingga sebagian besar orang telah lupa. Jadi Winda berpikir, akan sulit bagi Luna untuk mengetahuinya. Sehingga ia dengan berani berbohong.


"Aku tidak mau ikut campur dengan masalah pribadi kamu!" ujar Luna, "Tapi aku tidak mau salah paham sama kamu!"


"Apa benar rumor yang kudengar, kalau kamu ada hubungan spesial dengan atasan di hotel tempat kamu kerja dulu?!"


Meski sudah menyangkanya, Winda tetap tersentak saat kata-kata itu meluncur dari mulut Luna. Namun Winda yang licik, langsung mengubah ekspresinya dan berkata dengan lirih.


"Maaf Lun.. sebenarnya.. aku bukannya mau berbohong sama kamu! Hanya saja ceritanya tak seperti yang disebutkan di media!" ucap Winda.


"Lalu bagaimana?!" tanya Luna, "Apa yang sebenarnya terjadi?!"


"Aku... sebenarnya..." Winda mulai mengarang cerita lainnya.


Ia mengaku bahwa ia dan atasannya itu memang memiliki hubungan spesial.Tapi bukan seperti yang tertera di media, bahwa dia ingin merebut atasannya itu dari istri sah-nya. Winda mengaku hanya melakukannya karena tuntutan hutang.


Winda mengarang cerita bahwa ibunya sedang sakit, sehingga Winda terpaksa meminjam uang pada atasannya itu.


Namun karena tak sanggup membayarnya, ia terpaksa melayani atasannya itu sebagai ganti hutang-hutangnya.


Istri sah atasannya itu, salah paham dan mengira Winda memang berniat merebut suaminya. Sehingga mengungkap semua cerita bohong itu ke media.

__ADS_1


"Aku tidak berniat untuk menjadi pelakor seperti yang diberitakan di media! Itu fitnah... tak seperti itu sebenarnya" lirih Winda, "Aku terpaksa melakukannya!!"


"Itu semua karena ibuku sakit! Dia kena serangan jantung beberapa waktu lalu! Aku bingung harus meminta bantuan pada siapa. Jadi aku langsung meminjam pada atasanku!" sambung Winda.


Luna terdiam, ia menelisik raut wajah sahabatnya itu. Mencari cara untuk bisa mengetahui kesungguhan cerita yang dilontarkan Winda.


"Tapi kenapa kamu membohongiku, dan berkata bahwa dia melecehkanmu?!" tanya Luna kemudian.


"Aku malu mengatakan yang sebenarnya padamu!" Winda terisak, "Kita baru saja bertemu setelah sekian lama, jika kau tahu masa laluku yang memalukan. Apa kau akan tetap berteman dengan ku seperti ini!?"


*****


Setelah musim liburan usai, aktifitas di Brads hotel kembali seperti semula. Untuk merayakan keberhasilan Brads hotel menangani musim liburan kali ini, Bryan mengajak karyawan-karyawannya untuk makan bersama.


Mereka makan-makan di hotel dengan sangat meriah. Hanya ada beberapa be*r yang disediakan oleh Bryan. Bryan tak mau karyawannya itu mabuk. Sebab sebagian dari mereka masih bertugas.


Meski Bryan tak mengkonsumsi begitu banyak Be*er namun Bryan merasa kepalanya begitu pening. Bryan tak ingat apa yang terjadi. Tapi saat ia terbangun, ia sudah berada di kamar kosan Winda. Bersama Winda yang berbaring tel*nj*ng di sampingnya dan bercak-bercak merah terukir di sepanjang tubuhnya.


"Ya Tuhan!!" pekik Bryan. Ia bangkit dari ranjang dan menyadari bahwa ia juga tak mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya. Bahkan di tubuhnya juga ada bercak-bercak kemerahan yang sama seperti Winda.


Bryan tergidik seketika. Seolah diguyur oleh air es, tubuh Bryan meremang.


'Bagaimana ini?!' batin Bryan.


Tepat saat itu, Winda terbangun. Ia langsung terpekik saat melihat tubuh polosan Bryan di depannya.


"A-apa yang terjadi?!" tanyanya gagap.


"Tenang.. aku juga gak tahu Win!" ujar Bryan yang juga kebingungan.


"Kok mas bisa ada di kosan aku telanj*ng gitu?!" tanya Winda.


"Aku gak tahu!!" Bryan tidak ingat sama sekali. Terakhir, ia ingat tengah minum-minum dengan Firman dan karyawan lainnya. Namun kemudian, ia merasa kepalanya pening dan tak mengingat apa-apa lagi.


"Ah... aku ingat, mas bilang mau mengantarku pulang pakai taksi!" ujar Winda, "Tapi... mas malah ikut turun pas sampai di kosan aku. Kata mas, mas mau singgah untuk minum. Lalu... lalu apa...?!"


Winda terlihat berpikir keras. Ia menunduk, berusaha memutar otaknya. Namun ia langsung terpekik saat melihat bercak merah yang memenuhi tubuhnya.


"Arhhh!!!!!" teriaknya.

__ADS_1


"Kenapa aku?!" pekiknya, "Apa yang sudah mas lakukan padaku?!"


Dengan emosi yang meledak-ledak, Winda meraih selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Di saat itulah, netra Bryan menangkap bercak-bercak lengket yang di atas kasur.


Hati Bryan langsung mencelos, melihat bercak merah yang tercampur dengan noda lainnya disana.


"Jangan bilang... " Bryan menatap nanar pada Winda. "Apa kau merasa sakit?!"


Seolah baru saja menyadari bahwa dirinya merasa sakit, Winda mengangguk seraya meringis.


"Apa yang sebenarnya terjadi mas?!" tanya Winda.


Seketika Bryan bingung. Tak tahu harus menjelaskan dengan cara apa, pada Winda.


Di lain tempat, Max pun tengah kebingungan karena cucunya tak pulang ke rumah. Ia kemudian menghubungi hotel. Guna bertanya apakah cucunya menginap di hotel?!


Biasanya jika terlalu sibuk, Bryan tak pulang kerumah dan tidur di ruangannya.


Namun kemudian, staf hotel mengungkap telah memastikan bahwa Bryan tak ada di hotel.


Berpikir Bryan pergi menemui Luna, Max pun menghubungi Luna.


"Apa Bryan sekarang ada bersamamu?!" tanya Max dari ujung sambungan.


"Tidak kek, ada apa ya kek?!" tanya Luna polos.


Semalam, Bryan memang sempat mengabarkan pada Luna, bahwa ia akan mengadakan makan malam bersama karyawannya.


Bryan pun sempat berjanji akan menemui Luna setelah makan malam itu usai. Namun hingga pagi menjelang, Bryan tak kunjung muncul.


Luna mengira, makan malam itu berlangsung hingga larut. Sehingga Bryan langsung pulang ke rumahnya.


Namun sekarang, kakeknya malah bertanya pada Luna mengenai keberadaan Bryan.


"Mungkin Bryan tidur di hotel kek?!" ujar Luna kemudian.


"Tidak, kakek sudah menghubungi pihak hotel. Katanya, Bryan tidak ada di hotel!" sahut Max, "Tak biasanya dia seperti ini!"


"Kalau dia pergi kerumah teman atau apa, dia pasti berkabar ke rumah! Tapi ini, Bryan sama sekali tak ada kabar! Ponselnya juga tidak aktif!" sambung Max, "Kakek jadi khawatir padanya. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Bryan!!"

__ADS_1


__ADS_2