
Setelah mendengar cerita dari Eli, bukannya merasa lebih baik. Bryan malah merasa semakin buruk.
Cerita yang diungkapkan oleh Eli hanya menegaskan bahwa kedua orang itu melakukan hubu Ngan in tim dalam keadaan sadar! Tanpa pengaruh minuman atau apapun itu.
Jauh dari saat ia melakukan kesalahan dengan Winda, yang terjadi karena pengaruh minuman keras.
"Sial!" geram Bryan. Ia tak bisa menahan perih yang terus mengiris-iris hatinya itu.
Dengan perasaan yang hancur, Bryan melajukan mobilnya untuk kembali pulang.
Hingga malam menjelang, Bryan masih dalam perjalanan. Sampai waktu menunjukkan pukul sembilan malam, barulah Bryan mencapai rumahnya.
Namun bukannya pelukan hangat atau cinta dari keluarga yang ia dapat, ia malah disambut oleh cacian dan makian kakeknya.
"Dasar anak kurang ajar!!" sentak Max marah.
Ia benar-benar geram melihat perbuatan cucunya yang satu itu!
Hampir saja ia kehilangan darah keturunan Bradley karena ulah sembrono Bryan.
Jika saja Max tak menghentikan Winda, gadis itu pasti sudah pergi membawa serta cicitnya.
"Bukannya bertanggung jawab pada apa yang telah kau perbuat! Kau malah mengganggu Arion dan Luna!!" teriak Max, "Apa yang kau pikirkan?!"
Bryan yang sudah lelah secara fisik dan mental tidak menjawab, ia hanya menatap kosong pada kakeknya. Ia tak ingin lagi berdebat.
Meski ia berdebat sekarang, semua sudah terlambat. Luna juga telah menjadi milik Arion. Bryan sudah tak memiliki kesempatan sama sekali.
Melihat Bryan yang diam, bukannya merasa lebih tenang. Max malah semakin murka.
Ia mengepalkan tangannya untuk meredakan amarahnya. Menelan seluruh emosinya, Max berusaha mengatur nafasnya.
Setelah lebih tenang, barulah ia kembali berujar, "Menikahlah dengan Winda! Terlepas dari dia menjebakmu atau tidak, anak yang ia kandung adalah darah daging mu! Kau harus tetap bertanggung jawab!"
Bryan hanya diam, tak menolak ataupun menerima.
"Setelah orangtuamu kembali, kakek akan membicarakan hal ini!" ujar Max, "Sekarang pergilah! Obati wajahmu itu!"
Mendengar titah sang kakek, Bryan hanya patuh. Ia segera berlalu dari hadapan kakeknya tanpa mengatakan sepatah katapun.
Hatinya yang hancur membuatnya putus asa, dan pasrah menerima nasibnya.
Max tak peduli dengan tingkah aneh yang diperlihatkan cucunya, ia telah memutuskan bahwa Bryan harus bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Bagaimana pun caranya!!!
__ADS_1
Max tidak hanya berujar, ia memang melakukannya!
Saat Ethan dan Nimas pulang, Max langsung memberitahu anak dan menantunya perihal Winda.
"Dia tidak meminta pertanggung jawaban?!" Ethan terkesiap. Ia tak menyangka akan seperti itu. Ethan pikir, Winda akan menuntut pertanggung jawaban atau setidaknya uang kompensasi.
"Tak seperti yang Bryan katakan!" ucap Max, "Dia sepertinya gadis yang baik!!"
"Dia bilang dia akan membesarkan anak itu sendiri!" sambung Max, "Meski dia bukan wanita dari kalangan berada, tapi anak dalam kandungannya adalah darah keturunan Bradley. Papa tak mau darah keturunan kita, hidup terluntang Lantung di jalan!"
"Tapi pa, apa papa yakin dia hamil anak Bryan?!" tanya Nimas. Dia masih belum percaya pada perkataan gadis itu.
"Dia menyebut dengan jelas bahwa Bryan-lah yang telah merenggut kesu ciannya!" sentak Max marah, "Dia bahkan tak mau menjelaskan lebih detail dan menyuruhku untuk bertanya langsung pada Bryan!"
"Jika ia tak yakin, tak mungkin ia berkata seberani itu!!" imbuh Max.
Ethan yang mendengarnya, merasa bimbang. Kata-kata ayahnya ada benarnya juga. Namun ia mengingat perkataan anaknya. Bahwa dirinya tak mengingat apapun hari itu.
Ada banyak kemungkinan yang terjadi pada malam itu, sehingga sulit bagi Ethan untuk memutuskan siapa yang benar dalam hal ini.
"Bagaimana kalau kita nikahkan saja mereka dulu!" ujar Ethan kemudian.
Setelah mempertimbangkan matang-matang, pernikahan adalah jalan yang tepat untuk saat ini.
"Anak kita sangat berharga, bagaimana bisa kamu memaksanya menikah dengan gadis yang tak tahu bebet bibit bobotnya itu?!" geram Nimas.
"Tapi ini pilihan terbaik untuk saat ini!" ujar Ethan, "Jika kita terus menunggu, perut gadis itu akan segera membesar. Terlepas dari siapa sebenarnya ayah dari bayi itu, yang pasti Bryan telah menjadi tertuduh!"
"Jika ini sampai tersebar di media, nama hotel kita akan tercemar!" imbuh Ethan, "Terlebih, gadis itu adalah sekretaris Bryan! Ini akan menjadi kegemparan yang luar biasa!"
Mendengar ucapan suaminya, Nimas tak bisa berkata-kata! Ia merasa pilu memikirkan anak laki-lakinya harus hidup dengan wanita yang tak dicintainya.
Ethan yang memahami perasaan istrinya, kemudian mendengus pelan.
Rencananya tak sampai di situ saja, "Jika setelahnya, ternyata gadis itu berbohong dan memang terbukti telah menjebak Bryan. Saat itulah Bryan boleh menceraikannya!"
Sementara keluarga Bradley tengah menyusun rencana untuk menghadapi krisis yang disebabkan oleh Winda, Winda sendiri tengah menikmati hari santainya di sebuah hotel berbintang lima.
Ia menikmati uang yang ia hasilkan dari memeras Bryan.
Winda tak perlu lagi berhemat, sebab setelah ini ia akan menjadi nyonya muda Bradley.
Winda sangat yakin, seluruh rencana yang telah ia susun matang-matang akan berhasil.
__ADS_1
Tak mungkin pebisnis sekaliber Ethan Bradley, akan membiarkan skandal anaknya menjadi penghalang bagi bisnisnya.
Sebuah pernikahan bagi seorang pebisnis hanyalah keuntungan dan kerugian. Jika pernikahan itu memberikan keuntungan yang lebih banyak, sudah pasti Ethan akan menyetujuinya.
Begitupun dengan Max.
Kakek tua yang sangat peduli pada darah keturunan keluarganya. Tak akan pernah membiarkan keturunan Bradley hidup dengan sulit dan tanpa perlindungan. Max pasti akan merangkul cicitnya meski berasal dari gadis rendahan.
Semua itu, tak luput dari perhitungan Winda.
Ia sekarang hanya tinggal menunggu keluarga Bradley menjemputnya dan meminangnya.
"Ah~senangnya!" Winda bersenandung sembari menikmati buah anggur yang disediakan di meja.
*****
Menatap Luna dengan lekat, Arion hanya bisa menghela nafas berat.
Setelah kepergian Bryan, Luna mulai mengobati tangan Arion. Namun kemudian ia terus menghindari suaminya.
Suasana indah yang sebelumnya tercipta pun rusak. Arion memahaminya sebagai fakta bahwa Luna masih mencintai Bryan.
'Ternyata perjalananku masih panjang!' batin Arion.
Tapi jauh dari apa yang dipikirkan Arion. Sebenarnya, itu tak ada hubungannya dengan Bryan. Luna bertingkah aneh karena Arion sendiri.
Ia yang awalnya merasa berdebar-debar karena diperlakukan dengan mesra oleh Arion, seketika kecewa. Karena ternyata, kemesraan itu ditujukan untuk mengelabui Bryan.
Sebelumnya pun juga sama. Apa yang mereka lakukan di dalam kamar juga hanya sebatas pertunjukan saja. Namun Luna yang terbawa suasana malah terbawa oleh perasaannya sendiri.
'Seharusnya tidak begini!' batin Luna. 'Aku tidak boleh menyukainya! Tidak boleh!"
Luna memahami bahwa ia mulai memiliki perasaan pada Arion!!!
Ini akan menjadi hal yang bagus jika mereka benar-benar dalam hubungan pernikahan yang normal.
Tapi mereka telah sepakat untuk melakukan show window. Dan Arion sendiri telah memiliki kekasih yang sangat dicintainya!!
Menyukai Arion hanya akan menjadi luka untuk Luna!
Sehingga ia berusaha untuk menjauhi Arion. Berharap perasaannya akan segera menghilang.
'Ini hanya show window! Ini hanya Show Window!!' Luna terus melafalkannya di dalam hati. Mencoba menyadarkan dirinya bahwa Arion dan dirinya hanya sedang berpura-pura.
__ADS_1