
Setelah kejadian yang menimpa Winda tempo hari, Bryan tak lagi membebankan pekerjaannya pada Winda seorang diri. Ia menepati janjinya untuk tidak melalaikan tugasnya lagi.
Melihat hal itu, Winda semakin kagum dengan Bryan. Dan semakin ingin memilikinya.
"Pak, sepertinya anda lelah!" ujar Winda seraya meletakkan sebuah susu hangat di atas meja, "Daripada minum kopi, lebih baik anda meminum susu ini!"
Sejak tadi Winda memperhatikan atasannya yang terus saja menghela nafas berat. Ia tahu kalau Bryan sangat lelah, ada banyak pekerjaan yang menumpuk menantinya. Semua hal ***** bengek urusan hotel harus melalui persetujuannya, padahal hal itu harus segera dituntaskan untuk menunjang performa hotel.
"Terimakasih" jawab Bryan singkat. Ia kembali meneliti dokumen di depannya.
"Kalau anda ingin beristirahat, saya akan mengosongkan jadwal anda sore nanti!" Winda menawarkan, "Bisa diganti besok sore, anda memiliki banyak waktu kosong besok!"
Bryan menggeleng, "Saya sengaja mengosongkan jadwal besok, saya ingin berkencan dengan Luna!"
Mendengar pengakuan Bryan, seketika kebencian menyeruak di dada Winda. Winda merasa kesal bukan kepalang. Bagaimana mungkin pria itu masih berniat berkencan, padahal dia sudah bekerja seperti kuda selama semingguan ini!!? Winda pikir, Bryan sengaja mengosongkan jadwalnya untuk beristirahat.
"Oh.. maaf pak! Saya pikir anda hendak beristirahat!" ujar Winda polos, menyembunyikan perasaannya dengan sempurna.
Bryan tersenyum, "Saya sangat merindukan Luna, jadi saya lebih memilih bertemu dengannya daripada beristirahat!"
"Wah, anda pacar yang romantis sekali rupanya!" puji Winda, "Beruntungnya Luna, memiliki anda sebagai kekasihnya!"
Mulutnya memang berlumur madu, namun hatinya berlumuran racun. Begitulah Winda, dengan cerdiknya ia mengungkapkan hal-hal baik mengenai hubungan Bryan dan Luna. Namun tindakannya sebaliknya.
Keesokan harinya, saat Bryan hendak menemui Luna untuk berkencan. Winda yang awalnya sehat sentosa, tiba-tiba kembali pingsan.
Berbeda dari sebelumnya, ketika Winda tersadar saat hampir di bawa ke rumah sakit. Kali ini ia tak kunjung sadar. Sehingga dengan terpaksa, Bryan mengabaikan janjinya dengan Luna dan mengantarkan Winda ke rumah sakit terdekat.
Padahal, Luna telah menunggunya di tempat janjian.
Hari ini, mereka berjanji untuk bertemu di sebuah restaurant mewah tak jauh dari Brads Hotel.
Luna tahu, Bryan sibuk akhir-akhir ini. Sehingga ia tak mau bertemu dengan pria itu. Namun Bryan terus merengek ingin menemuinya.
Sementara Luna sendiri tak berani melangkahkan kakinya ke Brads Hotel, karena masih trauma dengan kejadian lalu.
Luna pun memutuskan menemui Bryan di dekat Brads hotel. Guna memudahkan kekasihnya itu untuk menemuinya.
__ADS_1
Tapi ternyata, yang ditunggunya tidak muncul-muncul. Dari sepuluh menit sampai pada tiga puluh menit. Waktu demi waktu berlalu dan Bryan tak kunjung muncul. Entah apa Bryan melupakan janjinya, ataukah ia terlalu sibuk. Luna tak memahami nya sama sekali.
Merasa ada yang tidak beres, Luna pun berusaha menghubungi Bryan. Namun Bryan tak kunjung menjawab. Pesan dan teleponnya benar-benar diabaikan.
"Kemana kamu mas?!" gumam Luna cemas.
Tanpa disadari oleh Luna, seorang pria tengah memperhatikannya sejak tadi. Saat netranya menyadari kehadiran gadis itu disana, pria itu terus terpaku menatap Luna tanpa berkedip. Hingga sahabatnya yang duduk di depannya pun geram. Dan ikut-ikutan memandang ke arah tatapan temannya itu.
"CK..CK..CK..!"decak Zahir, seorang dokter mata yang juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan Arion, "Jeli juga mata lu tuh! Tau aja cewek Bening!!"
"Apaan sih!" sentak Arion. "Gue gak liat cewek! Gue lagi liat lukisan tuh di dinding!!"
Zahir geleng-geleng, "Gak usah bohong! Gue tahu kok! Cewek itu kan yang lu ajak makan siang waktu ini di kantin?!"
Arion tersentak. 'Bagaimana bocah ini bisa tahu?!'
Seolah bisa memahami pikiran Arion, Zahir menjelaskannya sembari terkekeh "Lu pasti bertanya-tanya kan, bagaimana gue bisa tahu?!"
"Beritanya udah gempar!!" sambung Zahir, "Dari perawat, dokter sampek pasien sekalian. Beritanya kemarin gempar banget. Kalau lu lagi pacaran di kantin sama cewek cantik!"
"Hah?!" Arion kaget. Selama ini dia tidak mendengar rumor apapun.
Meski Arion terkesan dingin, namun wajahnya yang tampan menjadi idola sebagian rakyat di rumah sakit. Mulai dari dokter, perawat bahkan pasien sekalipun. Namun meski segigih apapun usaha wanita-wanita tersebut, tak ada yang bisa mengajak seorang Arion Dominic Bradley untuk makan bersama.
Yaa.. kecuali dirinya, Zahir!!
Arion dan Zahir adalah sahabat sejak orok. Ibu Arion adalah teman dari ibunya Zahir, jadi mereka memang sudah dekat sejak lahir. Tak ayal mereka sering sekali bersama. Bahkan ada slogan seperti ini, dekatilah Zahir jika ingin mendekati Arion!
"Kalau sekelas itu sih, gue paham kenapa lu luluh!" ujar Zahir cekikikan.
"Ngawur lu!" bantah Arion, "Dia pacarnya Bryan tau!"
"Eh?!!" Zahir tersentak.
****
Lebih dari dua jam, Luna menunggu kedatangan Bryan. Tapi pria itu tak kunjung datang.
__ADS_1
Luna merasa bimbang, haruskah ia pulang atau menunggu lebih lama. Namun intuisinya berkata bahwa Bryan memang tak akan datang.
Di sisi lain, Arion masih memperhatikan Luna disana. Ia kagum melihat kegigihan Luna menunggu. Bahkan Zahir saja sudah menyerah menemani Bryan dan pulang setelah menghabiskan makanannya.
Tak tahan melihat Luna duduk sendirian, Arion akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri Luna.
"Kenapa kamu sendirian?!" sapa Arion.
Luna yang terbengong menatap pintu masuk pun kaget, ia mendongak menatap orang yang mengajaknya bicara.
Ia terkejut saat menyadari bahwa orang itu adalah Arion, "Eh, mas Rion?!"
"Dari tadi aku lihat kamu sendirian!" ujar Arion kemudian, dengan alami ia duduk di seberang Luna, "Sebenarnya kamu nungguin siapa?!"
"Ini.. aku lagi nungguin mas Bryan!" sahut Luna jujur, "Tapi mas Bryan gak dateng-dateng!"
"Oh ya, mas ngapain disini?!" sambung Luna.
"A-aku... makan malam!" sahut Arion gagap. Kaget karena tiba-tiba ditanya balik.
"Oh..." Luna ber-oh ria, berpikir Arion tengah makan malam dengan kekasihnya. "Makan malamnya udah selesai?!"
Arion mengangguk, "Baru aja! Dia sudah pulang!"
Luna mengangguk canggung sebagai tanggapan.
Meski telah mengetahui bahwa Arion tidak membencinya, namun Luna masih merasa canggung bila berhadapan dengan Arion.
"Apa kamu sudah menghubungi Bryan?!" tanya Arion.
"Sudah!" tegas Luna, "Tapi panggilan dan pesanku semuanya diabaikan!"
"Mungkin dia sibuk! Ini kan musim liburan, pasti sibuk banget di hotel!"
Luna mengangguk setuju. Ia juga memikirkan hal yang sama, makanya ia menolak saat Bryan mengajaknya bertemu. Namun Bryan terus memaksanya, dan sekarang malah Bryan sendiri yang mengabaikannya seperti ini. Luna merasa jengkel juga.
Tidak apa jika memang benar karena kesibukannya, Bryan membatalkan janjinya. Namun tak ada kabar dan membiarkan Luna menunggunya selama berjam-jam, sungguh tidak bertanggung jawab. Padahal pertemuan itu diatur sendiri oleh Bryan.
__ADS_1
Menyadari air muka Luna yang mendadak keruh, Arion pun berusaha untuk menghiburnya.
"Mau pergi ke taman hiburan?!" tanya Arion kemudian.