
Setelah kejadian di kolam renang itu, hubungan Luna dan Arion berubah hangat. Mereka bak sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.
Meski tak ada kata cinta yang terlontar dari mulut keduanya. Namun baik Luna maupun Arion sudah sama-sama tahu, bahwa ada percikan cinta diantara mereka.
Walaupun begitu, Arion masih membatasi dirinya. Ia masih belum berani melangkah lebih jauh dan melewati batasannya.
Arion berpikir, Luna masih mencintai Bryan.
Luna sendiri masih ragu, ia berpikir Arion masih memiliki kekasih lain yang juga masih di cintai.
"Aku sudah selesai mas!" ujar Luna, segera setelah mengepak barang-barangnya.
Mereka harus kembali pulang, bulan madu mereka yang menuju ke Paris telah menunggu.
Ya, awalnya mereka pikir begitu!! Namun ternyata bulan madu mereka kembali ditunda. Itu karena pernikahan Bryan yang telah dijadwalkan, ternyata dipercepat.
Setelah mengetahui kedatangan Dalia, Ethan dan Nimas mengunjungi Dalia. Guna membicarakan mengenai pernikahan anak-anak mereka.
Namun pembicaraan diantara keduanya tak berlangsung dengan baik. Dalia yang mereka pikir akan mudah untuk diajak berkompromi, malah bersikap bak batu yang keras tak bisa digerakkan.
"Saya sebenarnya tidak ingin menuntut apa-apa, tapi jika memang anda sekalian ingin menikahkan putri saya dengan putra anda! Saya ingin waktunya dipercepat!" ujar Dalia saat ditemui oleh Ethan dan Nimas.
"Ya?!" Ethan kaget, pasalnya Winda telah menyepakati bahwa pernikahan diantara dirinya dan Bryan akan dilangsungkan sekitar sebulan lagi.
"Begini jeng, Winda telah menyepakati dengan kami sebelumnya bahwa pernikahan akan diadakan sekitar sebulan lagi!" ujar Nimas. Berusaha sesopan mungkin, agar tidak menyinggung calon besannya ini.
"Begini ya, anak saya ini sangat polos. Dia apa-apa aja yang kalian bilang, pasti jawabnya juga iya!" ujar Dalia, "Mau dibilang kalian gak tanggung jawab juga dia bakalan iya aja!"
"Tapi saya berbeda!!" ujar Dalia, nadanya sedikit meninggi, "Putri saya ini lagi hamil. Semakin lama perutnya akan semakin membuncit, ditambah lagi nanti kalau ngidam. Dia pasti nanti bakal ngidam, muntah-muntah. Saya kasihan sama dia, kalau disaat kayak gitu baru melangsungkan acara pernikahan!"
Ethan dan Nimas terdiam. Mereka memahami hal itu, makanya mereka menawarkan melakukan pernikahan sekitar sebulanan. Saat itu kehamilan Winda masih masuk dalam trisemester pertama, biasanya perut masih akan terlihat rata.
Dan lagi, sulit bagi mereka untuk memajukan tanggal pernikahan. Mengingat persiapan pernikahan lumayan banyak dan skandal pernikahan Bryan yang gagal dengan Luna, masih diperbincangkan oleh keluarga besar mereka.
Jika dalam waktu cepat Bryan menikah dengan wanita lain, bagaimana orang-orang menanggapi mereka?!
"I-ini agak sulit jeng, soal—" Nimas hendak memberi alasan. Tapi Ethan menggenggam tangan istrinya, meminta istrinya untuk diam.
__ADS_1
"Jika itu yang anda inginkan, kami akan berusaha mengikutinya. Hanya saja kami tidak bisa menyiapkan pernikahan yang besar, seperti apa yang kami janjikan sebelumnya!" ujar Ethan kemudian, "Mungkin jika dalam waktu dekat, kami bisa menyiapkan pernikahan dalam skala yang kecil!"
"Oh, tidak bisa!!!" sergah Dalia, "Kalian pikir mentang-mentang saya dari desa dan saya orang rendahan, kalian bisa membodohi saya?!"
Ethan dan Nimas yang mendengar perkataan Dalia terkejut seketika. Tak menyangka wanita itu akan marah.
"Dalam tempo waktu 24 jam saja kalau memang kalian menginginkan. Pesta pernikahan bak tuan putri juga bisa disiapkan!" sentak Dalia, "Asal kalian mau merogoh kocek lebih dalam!"
"Jika kalian memang tulus menginginkan cucu di dalam perut putri saya ini, tunjukkan dong! Buktikan dengan usaha!" sambung Dalia arogan.
Melihat sikap arogan Dalia, Ethan mengernyit marah. Rahangnya mengeras menahan emosinya yang kian membuncah.
"Bu!!" Winda menyentuh tangan ibunya, lalu menggeleng pelan. Seolah meminta ibunya untuk tidak bersikap seperti itu. "Maafkan ibu saya Pak, Bu! Ibu saya begini karena terlampau mencintai saya! Ibu sangat kecewa mengetahui apa yang terjadi dengan saya!"
Mendengar perkataan Winda, Ethan mendengus pelan. Lagi-lagi, ucapan Winda menyentuh hatinya.
Kata-kata Winda masuk akal, jika itu dirinya, maka Ethan akan sangat marah saat mendapati anaknya dino dai seperti ini.
Ah! Mengingat seorang putri. Dia juga memiliki putri yang entah dimana rimbanya sekarang.
"Bagiamana pa?!" bisik Nimas kepada suaminya. Ia tidak suka sekali pada sikap Dalia yang mencoba menjadi pemimpin dalam percakapan kali ini.
Keluarga besar Bagaskara yang sempat marah saja tak searogan ini sebelumnya, saat mereka datang untuk meminang Luna.
Meremas tangan istrinya, Ethan berkata.
"Baiklah, kami akan mencobanya. Mungkin.. dalam waktu dua ming—!" Ethan belum menyelesaikan kalimatnya, namun Dalia dengan lancangnya memotong.
"Satu Minggu!!!"teriaknya, "Dalam waktu satu Minggu, siapkan pernikahan yang layak untuk anak saya. Kalau tidak, tidak usah bermimpi meminang anak saya!"
"Ibu!!!" sergah Winda. Ia terlihat sangat syock dengan ucapan yang dilontarkan oleh ibunya. "Kenapa ibu berbicara seperti itu?! Mereka kesini dengan niat yang baik! Kenapa ibu memperlakukan mereka seperti ini?!"
"Niat baik?!" Dalia mencibir, "Niat baik setelah putranya Meno daimu?!"
"Cih!! Sadarlah Winda, mereka tidak berniat baik untukmu, mereka melakukannya untuk diri mereka sendiri!" singgung Dalia.
"Jika bukan karena mereka takut reputasi mereka hancur di kemudian hari karna dirimu dan anakmu, untuk apa mereka repot-repot menjalin hubungan dengan orang rendahan seperti kita ini??!"
__ADS_1
Jleb!!!
Kata-kata Dalia mengena, menusuk hingga ke tulang Ethan. Kata-kata Dalia adalah fakta.
"Tidak begitu.. kami tidak peduli akan reputasi perusahaan! Kami hanya ingin cucu kami bisa berada diantara kami!" Ethan membela dirinya.
"Jika seperti apa yang anda katakan, Tolong penuhi apa yang saya minta!"tantang Dalia.
Menghela nafas panjang, Ethan pun mengangguki.
Melihat suaminya mengangguk setuju, Nimas mengernyit gusar.
"Pa, apa yang papa lakukan?!" tanya Nimas.
"Ibunya orang yang sulit, ma!" bisik Ethan, "Lebih baik kita ikuti saja apa yang dia mau daripada kita mempersulit diri kita sendiri!"
****
Winda dan Dalia tertawa terbahak-bahak.
Segera setelah Ethan dan Nimas pergi, mereka yang sudah geli sejak tadi langsung tertawa dengan keras.
Winda tidak menyangka bahwa ibunya juga memiliki akting yang sempurna seperti dirinya!
Ya, Winda dan ibunya hanya berakting!!
Dalia berpura-pura menjadi ibu yang galak, yang sulit untuk dibodohi sedangkan Winda menjadi gadis polos yang penurut. Dengan begitu, Winda serta Dalia bisa mempercepat pernikahan Winda dengan keluarga Bradley.
Sebelumnya, Winda tak bisa melakukannya soalnya Winda telah membuat keluarga Bradley menilai dirinya sebagai gadis yang polos dan baik hati.
Jika Winda menjadi gadis yang sangat penuntut, tentu saja itu bertentangan jauh dengan apa yang telah ia perlihatkan. Dan akan membuat keluarga itu mulai meragukannya.
Sehingga jalan yang Winda tempuh adalah menggunakan ibunya!!
Waktu pernikahan yang berjarak 1 bulan terlalu lama, dan dapat dengan mudah membuat pikiran serta hati Bryan terombang-ambing. Apalagi pria itu tidak mencintainya. Semakin lama jarak pernikahannya, semakin berisiko juga.
"Aku tidak tahu ibu begitu hebat seperti ini!" ucap Winda takjub.
__ADS_1
"Ibu juga tidak tahu sayang! Sepertinya ibu berbakat berakting!" seru Dalia senang. Ia merasa puas melihat wajah kaget orang-orang kaya itu. "Sepertinya mereka benar-benar tertipu!"
Winda mengangguk, "Sekarang akan lebih mudah Bu! Jika ibu terus melakukan apa yang aku suruh seperti ini, bisa dipastikan kehidupan kita akan berubah menjadi lebih baik secepatnya!"