
Semalaman Bryan tak pulang, Max khawatir luar biasa. Setelah Max menyebutnya sebagai pengecut, Bryan hilang kontak.
'Apa anak itu melakukan hal gila?!' batin Max.
Ia hendak menghubungi teman-teman cucunya lagi. Namun telepon dari Arion membuatnya semakin marah.
"Apa?! Dia pergi kesana?!" sentak Max jengkel.
"Iya kek, Bryan mabuk! Apa ada masalah di rumah?!" tanya Arion dari seberang sambungan, "Tadi pagi dia mengamuk karena melihatku dan Luna. Dia hampir memukulku, tapi aku mengelak dan tanpa sengaja memukulnya! Aku minta maaf, kek!"
Mendengar kata-kata Arion, Max menghela nafas berat.
Bukannya mempertanggung jawabkan perbuatannya pada wanita yang telah ia ha Mili, anak itu malah mengganggu pasangan pengantin baru.
"Tak apa.. jangan dipikirkan! Itu bukan kesalahanmu!" sahut Max kemudian, "Lalu dimana dia sekarang?!"
"Tadi dia langsung pergi, kek!" sahut Arion, "Aku menelepon kakek karena khawatir, apa dia sudah sampai di rumah?!"
Max terdiam, "Dia belum pulang! Apa mungkin masih di jalan?!"
Bryan bukannya masih di jalan, dia memang tidak memiliki keinginan untuk pulang. Ia pergi ke pantai dan berdiam diri disana selama berjam-jam.
Bosan menatap hamparan laut berwarna biru, Bryan memutuskan untuk berjalan-jalan tanpa alas kaki. Membiarkan tekstur kasar pasir menggesek kulitnya.
Siapa tahu dengan begitu, pilu di hatinya bisa berkurang.
Ia merasa perih, sebab telah dikhianati oleh Luna dan Arion.
Pikirannya dipenuhi oleh hal-hal negatif mengenai dua sejoli itu. Semakin lama ia berjalan, semakin gundah hatinya. Perasaan hampa karena kehilangan orang yang dicinta, begitu menyiksa Bryan.
Awalnya, Bryan berpikir meski Luna sudah menikah. Bryan akan tetap memperjuangkannya, selama Luna masih mencintainya.
Namun melihat sikap Luna tadi yang jauh lebih condong pada Arion, samar-samar Bryan menyadari bahwa Luna memiliki rasa pada saudara sepupunya itu.
"Ha..." Bryan menghela nafas. Ia lelah jiwa dan raga.
Hendak kembali ke mobilnya, ia terpaku melihat sosok di depannya yang tengah menangis tersedu.
"Eli?!" gumam Bryan.
Mendengar namanya disebut, Eli menoleh. Mengusap air matanya, Eli menatap orang yang memanggilnya.
__ADS_1
Sejenak, Eli hanya terdiam. Menatap pria di depannya. Hingga ia bisa mengenali bahwa pria itu adalah Bryan.
"Mas Bryan?!" ujar Eli.
"Ngapain kamu disini?! Kenapa kamu nangis?!" tanya Bryan kemudian.
Alih-alih menjawab Bryan, Eli malah balik bertanya. "Mas kenapa?! Kok wajahnya biru?!"
Setengah bagian wajah Bryan membiru karena pukulan dari Arion tadi. Rasa sakit pun masih menjalarinya hingga kini. Namun ia tak peduli pada hal itu, perih di hatinya jauh lebih menyiksanya saat ini.
"Ceritanya panjang!" sahut Bryan seadanya, "Kamu kenapa?! Apa ada yang ganggu kamu?!"
Bryan kemudian duduk di sebelah Eli.
Eli terdiam sejenak. Ia masih merasa dadanya sesak, setelah menangis seharian.
Berniat membuktikan pada ibunya bahwa Arion dan Luna tak benar-benar menikah. Ia malah memergoki, keduanya menikmati malam yang panas.
Hatinya hancur mendengar bagaimana Arion mencum Bu wanita itu dengan mesra.
'Padahal kan itu mimpiku mas!! Bukan mimpinya!!' batin Eli meronta-ronta.
"Ini semua gara-gara mas Arion!" jawab Eli, "Eli sakit hati karena mas Arion!"
"Sakit hati kenapa?! Memang kamu diapain sama Arion?!" Bryan mulai penasaran. Apa ada hal yang terjadi antara Eli dan Arion?!
"Mas Arion.. mas Arion..." Eli hendak mengungkapkan apa yang terjadi, tapi rasa pilu kembali menyeruak di dadanya saat mengingat kejadian malam tadi. Ia berusaha berbicara, tapi Isak tangis yang malah keluar.
"Arion kenapa?!" tanya Bryan.
"Eli denger mas Arion.. mas Arion sama istrinya.. mereka bermesraan semalaman!!" tangis Eli pecah.
Saat Bryan tengah mendengarkan keluh kesah Eli. Kakek Max juga mendengarkan keluh kesah seseorang. Tepatnya keluh kesah seorang wanita yang bernama Winda.
Winda datang ke kediaman Bradley. Awalnya, Max mengira gadis itu hendak meminta pertanggung jawaban pada Bryan. Namun ternyata, wanita itu mengungkapkan hal sebaliknya.
Hingga membuat Max bertanya-tanya dan berpikir ulang. Apa benar wanita ini adalah wanita yang menjebak cucunya?! Atau hanya seorang korban yang tidak bersalah?!
"Tuan, saya tidak menginginkan apapun dari anda! Saya juga tak meminta untuk menjadi bagian dari keluarga Bradley!" ujar Winda.
Berbeda dari biasanya, Winda mengenakan pakaian yang sopan dan sederhana. Ia tak memakai satupun barang branded yang ia miliki. Aksesoris di tubuhnya hanyalah jam tua, yang dulu pernah dibelikan ibunya saat masih SMA.
__ADS_1
Winda hendak menunjukkan pada kakek tua itu, bahwa ia adalah wanita yang baik dan bersahaja.
"Saya mengungkapkan kehamilan saya pada Luna, karena saya tidak mau sahabat saya menikahi pria yang memiliki anak di luar nikah! Saya takut Luna akan tersakiti nantinya!" ujar Winda, ia menggigit bibirnya. Seolah-olah berusaha menahan tangisnya. "Itu murni karena persahabatan saya dengan Luna!"
"Saya harap anda tidak salah paham!" sambung Winda.
Max diam, menatap Winda lekat-lekat. Berusaha mencari kebohongan dari wajah wanita itu. Namun sayangnya, ia tak menemukannya.
"Tapi, Bryan bilang.. kau menjebaknya!" ungkap Max kemudian.
"Apa?! Menjebak mas Bryan?!" Winda terpekik, air mukanya langsung berubah sedih. Seakan-akan ia dihantam oleh rasa sakit hati yang kuat, Winda berkata. "Seharusnya saya yang merasa dijebak!!"
"Mas Bryan bilang hanya ingin mampir dan minum segelas air!" seru Winda, buliran bening meleleh di sudut matanya, "Tapi dia malah mamaksa saya dan mereng gut Kesu cian saya!!"
Max terkesiap, "Apa kau bilang!? Dia memaksamu?!"
Winda memalingkan muka, seolah tak mau orang tua itu melihatnya menangis. Dengan kasar, ia menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
"Jika anda tak percaya, tanyalah pada cucu anda sendiri!" ujar Winda, "Saya hanya berniat untuk mengantarnya pulang, tapi saat itu mas Bryan mengaku haus dan meminta untuk mampir ke rumah saya!"
"Saya yang begitu naif!!" sambung Winda, "Saya malah membiarkannya masuk dan mengambil kesempatan untuk men* dai saya!"
Max tersentak. Ia tak bisa herkata-kata. Ia pikir tak seperti itu! Bryan bilang, ia dijebak dan tak ingat apa-apa.
'Mungkin saja, Bryan terlalu mabuk. Sehingga ia tak mengingat apapun!' batin Max.
"Saya tidak menginginkan apa-apa!" sambung Winda, "Saya tahu mas Bryan tak menginginkan anak ini! Saya tidak memintanya untuk bertanggung jawab!"
"Saya akan membesarkan anak ini sendiri!" imbuh Winda.
Winda kemudian bangkit dari duduknya. Lalu berkata dengan lirih pada Max, "Tuan, semua yang ingin saya katakan telah saya ungkapkan! Saya pamit undur diri dulu!"
Winda melangkah pergi, ia yakin kakek tua itu akan memanggilnya kembali. Setelah merencanakan semuanya dengan rinci, tak mungkin keluarga Bradley bisa lepas dari genggamannya.
Winda optimis telah berhasil melempar umpan untuk memancing ikan yang besar. Namun tak sesuai dengan ekspektasinya, Max tak memanggilnya hingga ia keluar dari pintu depan.
Bingung, Winda berpikir keras. Ia mencoba menganalisa, apa dia telah melakukan kesalahan?!
Namun tepat di saat ia akan keluar dari kediaman Bradley, Max buru-buru memanggilnya kembali.
"Tunggu!!" pekiknya.
__ADS_1