Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 45


__ADS_3

"Apa pa?! Seminggu!?" Bryan terpekik kaget saat mendengar ayahnya mengatakan bahwa ia harus menikahi Winda dalam jangka waktu seminggu. "Bukannya kemarin papa bilangnya sebulan ya?!"


Bryan sudah memiliki rencana untuk mengungkap kebusukan Winda selama sebulanan ini.


Bryan yakin sebelum ia menikah, ia akan mengungkap kebenarannya. Namun jika waktunya dipercepat, bahkan seminggu lagi. Bagaimana ia bisa melakukannya??


"Ibunya Winda menginginkan kalian cepat menikah!"sahut Ethan, "Perut Winda akan segera membuncit jika pernikahan terus ditunda-tunda!"


Max yang ikut mendengarkan perkataan anaknya, manggut-manggut. Ia juga sependapat. Pernikahan itu harus segera dilaksanakan.


"Itu benar! Semakin lama ditunda, akan semakin kentara dia sedang hamil! Semakin cepat pernikahan akan semakin baik!" sahut Max.


Ethan mengangguk setuju, namun Nimas tidak. Ia menyimpan rasa tak suka dengan calon besannya itu. Winda bukan wanita yang ia inginkan. Namun melihat sikapnya yang cukup baik, Nimas masih bisa menerimanya.


Tapi Dalia, sudah orang rendahan, arogan pula. Sungguh membuat Nimas membencinya.


"Apa harus, kita menuruti permintaan wanita itu pa?!" tanya Nimas. "Insiden pengantin yang tertukar di pernikahan Bryan tempo hari saja masih menjadi perbincangan, apa kata orang kalau tiba-tiba Bryan mendadak menikah sekarang?!"


"Kita harus melakukan keinginannya, ma!" sahut Ethan, "Mama liat sendiri kan wanita itu keras kepala sekali!"


Nimas menghela nafas berat. Ia tahu, tapi ia benar-benar tak menyukai gagasan suaminya.


"Jika kita tak melakukannya, wanita itu mungkin akan berbuat nekat!!" ujar Ethan.


"Tapi pa, Winda itu.. dia hanya menjebakku pa!" ujar Bryan.


"Apa lagi yang kau bilang?!!" sentak Max. Ia marah karena cucunya kembali mengungkap masalah dijebak dan menjebak. Dia pikir Bryan sudah bertobat dan mau mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Sungguh kek!" sahut Bryan. "Security di hotel jadi saksinya!"


Ethan seketika merasa pening, anaknya ini ternyata tak bisa diajak bekerja sama.


Ethan sengaja mengalah pada Dalia agar tidak menimbulkan masalah. Selain menghindari kemarahan ayahnya, Ethan menikahkan Bryan dengan Winda agar nama baik hotel mereka tak tercemar.


"Dengarkan papa dulu nak!" ujar Ethan kemudian, "Menikahlah dulu dengan Winda, jika memang setelah kalian menikah, Winda terbukti menjebakmu. Maka ceraikanlah dia, papa dan yang lainnya tak akan melarang!!"


"Untuk sementara waktu, kita harus membuat mereka tenang dulu!" tambah Ethan, "Jangan sampai mereka berbuat nekad dan menghancurkan bisnis kita!"


Bryan tercenung memikirkan kata-kata ayahnya yang terasa masuk akal.


"Lagipula setelah kalian menikah, akan lebih mudah untuk mencari bukti-bukti perbuatan Winda padamu!" seru Ethan.


Bryan kemudian mengangguk setuju. Ia merasa ucapan ayahnya itu ada benarnya juga.

__ADS_1


"Mengalah bukan berarti kalah, nak!" seru Ethan sembari menepuk bahu anaknya.


Memegang kata-kata yang diucapkan oleh ayahnya, Bryan menerima pernikahan yang tak ia inginkan.


Meski ia selalu merasa tersiksa setiap kali harus bertemu dengan Winda dan pura-pura menerima wanita itu. Namun Bryan berusaha melakukannya dengan baik.


Bryan menganggap hubungannya dengan Winda adalah show window. Bedanya, jika show window biasanya dilakukan di depan orang-orang. Show window yang dilakukan Bryan, di depan Winda dan Ibunya.


Bryan bersikap sebagai pria yang baik, suami yang pengertian dan menantu yang penyayang.


Sementara Bryan dan Winda tengah sibuk menyiapkan pernikahan mereka, Luna dan Arion sedang menikmati waktu mereka sebagai pengantin baru.


Meski tanpa adanya 'malam pertama', hubungan Luna dan Arion masih tetap dipenuhi oleh gelora.


Setiap hari, Luna menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dan di siang hari, ia menyiapkan dua set makan siang. Yang satu untuk dirinya dan suaminya. Lalu yang lainnya untuk ayah mertuanya.


Arion sebelumnya tak pernah meminta makan siang bersama. Namun belakangan setelah hubungan mereka menghangat, dengan manja pria itu merengek meminta Luna untuk menemaninya makan.


"Ada sesuatu di bibir kamu!" bisik Arion. "Biar aku bersihkan!"


Luna langsung mengusapnya dengan cepat. Ia tidak membiarkan suaminya melakukannya.


Sebelumnya saat Arion melakukannya, pria itu menyingkirkan noda di bibir Luna dengan bibirnya.


Luna benar-benar malu dibuatnya!!


Arion yang mengerti perasaan istrinya itu kemudian berbisik.


"Kamu takut aku terkam, sayang?!" tanya Arion.


"Mas sih!! Kan malu kalau ada yang lihat kayak waktu itu!" ucap Luna.


"Kenapa harus malu, kita suami istri kan?" bisik Arion, "Wajar sepasang suami istri saling mes ra!"


"Tapi kan ini tempat kerja, mas!" ujar Luna.


"Ya, tapi ini kan ruanganku! Tempat khususku!" sahut Arion, "Ci um aku sekali saja, please!"


Luna memalingkan wajahnya. Malu dengan permintaan suaminya!


"Mas jangan disini, di rumah saja!" tolak Luna, ia masih kekeuh tidak mau melakukan permintaan suaminya.


"Oh begitu, maunya dirumah saja!" ucap Arion, "Ya sudah! Ayo kita pulang kerumah!"

__ADS_1


Arion langsung bangkit dari duduknya. Ia melepas jas kebesarannya lalu menarik tangan Luna, mengajaknya untuk pulang.


"Kemana mas?!" pekik Luna kaget.


"Katanya mau pulang?!" polos Arion bertanya.


"Ya, nanti mas! Gak sekarang juga. Mas kan masih kerja!" ujar Luna.


"Terus aku harus gimana?! Aku maunya sekarang!" lirih Arion.


Luna mendengus pelan. Ia tahu ini hanya akal-akalan suaminya agar dia mau menuruti permintaannya. Meski begitu, Luna tak kuasa menolaknya. Ia kemudian melayangkan sebuah kecu pan di bibir Arion.


Arion tersentak saat tiba-tiba bi bir ke nyal Luna menyen tuhnya.


"Sudah kan!?" tanya Luna malu.


Arion terkekeh. Namun alih-alih menjawab pertanyaan Luna, Arion menerjang ke arah Luna lalu melu mat bibir Luna dengan penuh gai rah.


****


Melihat cincin cantik yang melekat di tangannya, Winda merasa sangat senang. Itu adalah cincin kawin yang akan disematkan oleh Bryan nanti saat pemberkatan.


"Sepertinya ini kurang besar berliannya mas!" ucap Winda.


"Ya sudah, pilihlah yang kamu mau!" ujar Bryan menyunggingkan senyum termanis yang ia punya. Padahal di dalam hatinya ia mencibir dengan kesal.


Sepertinya, kakek dan orangtuanya salah menilai Winda. Mereka mengatakan bahwa Winda adalah gadis yang baik dan juga polos. Padahal sebenarnya tidak.


Wanita yang beberapa hari lagi akan menjadi istrinya itu sangat angkuh dan boros.


Semua barang-barang yang akan dia gunakan di pesta pernikahannya, dipilih berdasarkan harga. Gaun pengantin yang ia pilih di butik, adalah yang paling mahal. Perhiasan dan bahkan aksesoris, ia hanya menunjuk yang versi limited edition.


"Benar-benar.." gumam Bryan keceplosan.


"Ya apa mas?!" kaget, berpikir Bryan berbicara padanya, Winda pun balik bertanya. "Mas bilang apa tadi?!"


"Ah, i-itu... cincin yang kamu pakai sangat cantik!" sahut Bryan kemudian, mengalihkan kata-katanya.


"Benar kan?!" pekik Winda senang. "Mas juga sependapat kan?!"


"Ya, itu sangat bagus!" seru Bryan sekenanya.


"Kalau begitu bungkus yang ini ya mbak!" seru Winda mengkonfirmasi pada sang penjaga toko bahwa ia akan membeli cincin yang tadi dicobanya.

__ADS_1


__ADS_2