
Seruan demi seruan mulai bermunculan, saat pengantin pria yang berdiri di atas panggung bukanlah orang yang sama seperti yang mereka kira.
Bukan Bryan Ethan Bradley tapi Arion Dominic Bradley, sepupu dari pengantin pria yang seharusnya hadir.
Pria tampan itu berdiri di atas panggung, menatap pada pengantin wanita yang melangkah perlahan diiringi oleh ayahnya.
Menyerahkan tangan anaknya pada Arion, Darian menahan geram di dadanya. Ia marah dengan apa yang terjadi pada putrinya.
Seakan-akan putrinya adalah bola, yang ditendang dari satu pria ke pria lainnya. Darian merasa sangat terhina.
Jika saja Luna berkata 'tidak mau', maka Darian akan menolak usulan ayahnya mentah-mentah.
Meskipun ia akan disebut sebagai anak durhaka setelahnya, ia rela.
Namun karena Luna menerimanya dan bahkan bersikeras untuk menikahi Arion, Darian tak bisa berkata apa-apa dan menuruti putrinya.
Menatap pada Arion yang tengah menggenggam tangan Luna, Darian kembali ke tempatnya dan membiarkan prosesi pemberkatan dimulai.
Setelah kedua mempelai mengungkapkan Kesepakatan Perkawinan. Sembari memercikkan air suci, Imam memberkati cincin kedua mempelai.
Arion kemudian mengambil cincin itu. Dan dengan senyum yang mengembang di bibirnya, Arion memasangkan cincin itu ke jari Luna.
Bergantian, Luna juga melakukan hal yang sama pada Arion. Ia memasangkan cincin itu ke jari manis Arion. Meski sedikit kesulitan, karena jari tangan Arion dan Bryan berbeda. Namun cincin itu berhasil masuk di jari manis Arion.
Berbeda dengan Arion yang merasa senang, Luna tak bisa memasang senyum di bibirnya. Untung saja, wajahnya tertutup kerudung. Sehingga para tamu tak bisa melihat ekspresinya dengan jelas.
Namun kelegaannya segera sirna, saat Arion membuka kerudungnya.
Melihat ekspresi kaku Luna, Arion mendengus pelan. Ia tahu, ini sulit untuk Luna. Sehingga ia berbisik pada Luna sebelum akhirnya menciumnya dengan mesra.
"Tersenyumlah..."
*****
Arion duduk terpaku, hatinya yang berdegup kencang sejak tadi siap untuk meledak. Ia terus menerus membelai bibirnya yang telah mencium Luna tadi.
Masih terasa jelas di ingatannya, manis yang menyeruak di bibirnya saat menyatu dengan bibir Luna.
Mengendalikan pikiran kotornya, Arion menatap ruangan di sekitarnya dengan gugup.
Penuh dengan bunga-bunga dan nuansa romantis khas malam pertama!! Kamar pengantin itu, seolah-olah mengungkap pada Arion bahwa ia tak sedang bermimpi sekarang!!
Ia benar-benar menikahi Kaluna Levronka, malaikat dari Paris yang telah ia cintai sejak lama.
__ADS_1
'Ini bukan mimpi! Ini memang malam pertamaku dengan Luna!' batin Arion mengingatkan dirinya.
Ia tak menyangka tiba-tiba akan menikah dengan Luna. Padahal baru kemarin ia kesulitan untuk tidur, memikirkan Luna akan menikahi sepupunya.
Tapi sekarang apa?!
Dirinyalah yang menjadi suami Luna!!!
"Ini bukan mimpi! Ini bukan mimpi!" gumam Arion pada dirinya sendiri.
Jika saja ada yang melihatnya saat ini, pasti orang-orang akan berpikir ia gila.
Berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Arion, Luna yang sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi, tengah merasa gundah.
Hanya karena keegoisannya sendiri, ia telah menyeret serta Arion ke dalam masalah yang ia buat.
Luna tak menyangka Arion mengungkapkan kesediaannya untuk menikahi dirinya.
Saat itu Luna tak berpikir panjang. Ia hanya merasa bahwa menikahi Arion adalah pilihan yang tepat.
Tanpa sempat berdiskusi dengan Arion, Luna langsung menerimanya. Dan bahkan bersikeras untuk melakukannya, saat ayahnya menolak.
Ia lupa jika Arion telah memiliki kekasih yang dicintai.
"Pasti mas Arion menerimanya karena itu titah kakek Max!" gumam Luna, "Dia pasti tak bisa menolak, dan terpaksa mengucapkan hal itu!! Kenapa aku malah bilang iya?!"
Luna benci pada kebodohannya!!
Arion pasti membencinya saat ini!!
"Aku harus menjelaskannya dengan benar!" gumam Luna pada dirinya sendiri.
Setelah memutuskan apa yang akan ia lakukan, Luna keluar dari kamar mandi dan menuju ke kamar pengantin yang telah disiapkan sebelumnya. Ia ingin berbicara dengan Arion.
Rumah yang ia tempati dengan Arion sekarang, seharusnya adalah rumah Yanga akan ia tempati bersama Bryan.
Rumah itu adalah hadiah dari kakek Max untuk pasangan yang lahir dari keluarga Bradley dan Bagaskara.
Sebelumnya, ia dan Bryan sempat membayangkan pernikahan yang bahagia dengan keluarga kecil yang harmonis. Mereka akan sangat senang menghabiskan waktu di rumah yang asri itu.
Namun alih-alih bahagia. Sekarang, ia dan Arion terjebak dalam pernikahan mendadak yang benar-benar kacau.
Masuk ke dalam kamar pengantinnya, Luna melihat Arion terduduk dengan lesu di pinggir ranjang. Pria itu menatap ubin yang ada di bawah kakinya dengan tatapan kosong yang sendu.
__ADS_1
Arion terlihat sangat tersiksa, pasti pria itu sangat sedih karena menikah dengan terpaksa. Setidaknya itu yang dipikirkan Luna saat melihat penampilan Arion.
Melihat Arion yang seperti itu, pilu menyeruak di hati Luna. Padahal Arion begitu baik padanya, tapi dirinya selalu saja merepotkan Arion dan membuatnya menderita.
"Mas.." panggil Luna. Luna telah mengenakan gaun tidur.
Meski gaun tidur itu tak terlalu terbuka, namun hati Arion langsung bergejolak saat melihatnya. Wajah Arion seketika memerah. Takut Luna menyadarinya, Arion memalingkan mukanya cepat-cepat.
Mengetahui Arion yang tak ingin menatapnya, Luna yang salah paham merasa bahwa Arion marah padanya.
Luna sebenarnya ingin meluruskan segalanya pada Arion malam ini. Namun kerena mengira Arion marah, Luna akhirnya memilih untuk diam.
Arion yang berpikir bahwa Luna masih membutuhkan waktu untuk menerimanya pun, hanya diam. Ia kemudian menarik selimut dan mengambil bantal untuk tidur di sofa.
****
"Menikahlah dengannya!!!" sentak Max, ia benar-benar murka pada cucu-cucunya. Yang satu kabur dengan pria lain di hari pernikahannya dan satunya lagi membawa wanita hamil!!!!
Tak ada yang benar diantara mereka berdua!!!
"Tidak kek!!" tolak Bryan kekeuh, "Aku tidak mau menikahinya, aku tidak mencintainya!!"
"Peduli setan dengan cinta!!" geram Max, "Kau telah menghamilinya, jadi kau harus bertanggung jawab!!"
"Belum tentu itu anakku kek!!" teriak Bryan. "Bisa saja itu anak orang lain!!"
Mendelik, Max hendak menampar pipi cucunya itu. Namun keburu, dadanya yang sakit duluan. Kepalanya seakan-akan mau pecah, saking marahnya ia.
"Kalau gadis itu tak yakin kau ayah dari anaknya, untuk apa dia nekat datang ke pernikahanmu dan mengacaukan semuanya?!" bentak Max kemudian.
"Mana ku tahu kek!!" Bryan berteriak, ia masih sangat marah pada kakeknya karena melempar Luna pada Arion. "Kakek benar-benar tak memberiku waktu!!"
"Aku sudah bilang pada kakek bahkan aku tak ingat apa yang terjadi hari itu!! Aku yakin dia menjebakku!!" sambung Bryan garang.
"Menjebakmu?! Menjebakmu bagaimana?!" Max balas berteriak.
Bryan tidak menjawab, ia hanya mendengus kesal. Percuma saja ia menjelaskannya sekarang. Kini Luna telah resmi menjadi istri Arion. Bryan benar-benar sakit hati dibuatnya.
Jika saja kakeknya mau menunggu, dan mendengarkan ceritanya. Hal ini pasti tak akan terjadi. Ia benar-benar yakin, bahwa Winda telah menjebaknya.
Wanita itu selama ini diam, tapi saat Bryan akan menikah, tiba-tiba saja ia menggila. Dan mengaku hamil!!
"Bisa saja ia tidak hamil!!" ujar Bryan, "Atau jikapun hamil, aku yakin itu bukan anakku kek!!"
__ADS_1