
Awalnya Bryan tak berharap banyak pada Winda. Mengingat dia hanya tamatan Sekolah Menengah Atas dan hanya memiliki pengalaman sedikit di hotel bintang tiga. Namun pekerjaan gadis itu cukup baik dan perilakunya juga sopan.
Bahkan terkadang, ia memperhatikan Bryan dengan baik tanpa diminta.
"Baguslah!" gumam Bryan.
Beberapa hari lagi adalah musim liburan, hotel akan sangat sibuk untuk sementara waktu. Jika Winda bisa bekerja dengan baik, itu akan menjadi bantuan bagi Bryan kali ini.
"Liburan akan segera tiba, setelah ini akan lebih sibuk!" ucap Bryan, "Jagalah kesehatanmu!"
"Baik pak! Anda juga!" sahut Winda sopan. "Terimakasih atas perhatian anda!"
Winda hendak pergi, namun ia berbalik seolah melupakan sesuatu.
"Maaf pak, apa saya boleh bertanya?!" tanya Winda. "Ini tentang masalah pribadi, bukan masalah pekerjaan! Jika anda tidak keberatan..."
"Ya?!"
"Apa anda sering bertemu dengan Luna?!" tanya Winda ragu-ragu.
"Akhir-akhir ini saya jarang bertemu dengannya!" sahut Bryan jujur. "Karena hotel sedang sibuk mempersiapkan musim liburan kali ini. Saya jadi tidak bisa menemuinya!"
"Oh begitu... "Winda memasang wajah masam.
"Ada apa?!" tanya Bryan penasaran, "Apa ada masalah?!"
"Karena saya langsung bekerja, saya tidak mendapatkan kesempatan untuk menemui Luna. Padahal saya ingin berterima kasih padanya, karena telah membantu saya mendapatkan pekerjaan!" Ujar Winda polos.
"Saya pikir Luna akan sering berkunjung, jadi saya selalu membawa-bawa hadiah yang ingin saya berikan!" imbuh Winda, "Tapi ternyata, dia tak pernah muncul!"
"Oh itu..." Bryan hampir lupa jika Winda adalah teman satu sekolah Luna dahulu, "Ada sedikit masalah yang terjadi, makanya Luna tak bisa berkunjung kesini lagi!"
"Tak bisa berkunjung lagi?!" Winda terlihat kaget, "Apa yang terjadi pak?!"
"Itu... " lama Bryan terdiam, menimbang apakah ia perlu mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Tapi Winda adalah teman Luna, pasti Winda juga mengetahui teror yang dulu sempat dialami oleh Luna.
"Apa kamu mengenal Vicky?!" tanya Bryan kemudian.
Winda mengangguk. Vicky adalah berandalan sekolah. Meski ia bersikap bak preman, namun ada banyak wanita yang memujanya, karena wajah tampannya. Termasuk Winda.
Namun Vicky tak pernah memalingkan tatapannya dari Luna. Ia bahkan terobsesi dengan Luna hingga melakukan perbuatan aneh yang membuatnya dikeluarkan dari sekolah.
"Dia menyekap Luna di toilet lantai bawah!" ucap Bryan kemudian.
__ADS_1
"Ya Tuhan!!" pekik Winda. "Apa Luna baik-baik saja?! Pasti sulit untuknya!"
"Luna sempat mengalami trauma. Makanya sampai sekarang tidak bisa mengunjungi saya kesini! Padahal kami sering berkencan di restaurant di bawah dulu!" ucap Bryan, mengenang masa-masa indah saat bisa bertemu dengan Luna setiap hari.
"Maafkan saya pak! Saya tidak tahu dan malah bertanya!" ujar Winda sopan, "Vicky memang begitu sejak dulu! Dia pasti terobsesi pada wanita yang bersikap baik padanya!"
****
Setelah mendengar penjelasan dari cucunya dan melihat perkembangan hubungan antara Bryan dan Luna. Max berniat mengungkapkan keinginannya untuk menikahkan Luna dan Bryan.
Irwan yang mendengar kabar gembira itu langsung menyambutnya dengan senang. Namun itu berbeda jauh dengan respon anggota keluarga Bagaskara yang lainnya.
"Apa?! Tidak kek... jangan bercanda!" Adrian menolak mentah-mentah pernyataan kakeknya, "Terlalu dini untuk menikahkan mereka berdua. Belum ada setahun mereka bersama!"
Mendengar Luna dan Bryan berpacaran saja sudah membuatnya syock, kakeknya malah menyatakan akan menikahkan mereka. Tidak!! Ini tidak mungkin!!
"Benar yang Ian katakan pa!" Darian ikut buka suara, "Ini masih terlalu cepat untuk menikahkan Bryan dan Luna!"
"Ya sudah kalau menurut kalian begitu!" Irwan mengalah, "Sebagai gantinya, kita tunangkan saja mereka dulu!"
"Pa!!!" serempak Felicia, Darian dan Adrian berteriak.
"Pa, tolong pelan-pelan! Jangan gegabah!" Felicia berujar, " Tunggu dulu! Biarkan mereka saling mengenal terlebih dulu!"
"Lebih baik kita ikat mereka saat hubungan mereka sedang hangat-hangatnya!!" imbuh Irwan.
Irwan sudah tidak mau lagi menunggu. Sebelumnya saat ia mengikuti perkataan anak-anaknya, hasil yang ia dapat sangat buruk. Ia berniat melakukan dengan caranya sendiri.
Zaman dulu saat orang-orang melakukan perjodohan, mereka langsung menikah, setelah sama-sama cocok di kali pertama bertemu. Tidak ada masa-masa penjajakan atau pendekatan semacam itu. Mereka akan saling mengenal setelah sah menjadi pasangan suami istri.
"Zaman dulu tidak ada itu, masa-masa saling mengenal seperti itu!" keluh Irwan, "Biarpun begitu, pernikahan tetap berlangsung hingga akhir hayat! Tak ada yang namanya kabur-kaburan!!"
Felicia menghela nafas, ia tahu kalau sudah begini, akan sulit memenangkan perdebatan dengan mertuanya yang keras kepala itu.
"Baiklah.." sahut Felicia kemudian, "Tapi biarkan kami berbicara dengan Luna terlebih dahulu!"
Sementara itu, Luna sendiri tengah menunggu gilirannya di rumah sakit. Setelah kejadian yang menimpanya di Brads Hotel, Luna rutin mengunjungi psikiater untuk mengatasi traumanya.
"Bagus, anda sudah jauh lebih baik Dari sebelumnya!" ujar dokter muda itu. Wajahnya yang cantik tersenyum cerah menatap Luna. "Liburan yang anda jalani sangat membantu rupanya!"
"Iya dok. Saya juga senang bisa lebih nyaman saat keluar!" sahut Luna, "Saya juga mulai berani keluar sendiri tanpa ditemani oleh keluarga!"
"Benar.. anda tidak perlu takut lagi. Dia sudah tidak akan bisa menyakiti anda lagi!" ujar sang dokter.
__ADS_1
*****
Arion tersentak kaget saat menyadari sosok gadis yang berjalan di depannya. Bahkan tanpa melihat wajahnya, Arion bisa mengenali bahwa gadis itu adalah Luna.
Arion ingin menyapanya dan mengajaknya makan siang bersama, namun ia terlalu malu untuk melakukannya.
Berkali-kali ia meneguhkan hati dan berjalan mendekat ke arah Luna, namun setiap jarak diantara mereka semakin terkikis. Debaran di jantungnya yang kian cepat membuatnya mengurungkan niat.
'S*Al!!' umpatnya pada dirinya sendiri. Ia kesal, kenapa dirinya begitu pemalu.
Namun sepertinya takdir tengah membantunya, tepat saat Arion akan menyerah pada keinginannya. Luna yang melupakan sesuatu, berbalik dan tanpa sengaja menabrak Arion.
"Ah, maafkan saya!!" pekik Luna minta maaf, ia terlalu panik hingga tak melihat siapa yang telah ditabraknya.
Sembari memegang kepalanya yang terasa nyeri, karena berbenturan tadi. Ia kembali meminta maaf dengan khusyuk, "Sungguh saya minta maaf!"
"Apa kamu terluka?!" tanya Arion cemas. Ia spontan menyingkirkan tangan Luna yang memegang dahinya. Berniat memeriksa dahi Luna yang ternyata memerah.
Mendengar suara yang dikenalnya, Luna mendongak. Ia kaget karena melihat wajah Arion di depannya.
"Ah!! Maaf, saya tidak sengaja mas!" ujar Luna gugup. "Apa mas terluka?! Saya menabrak mas dengan kuat tadi!"
"Tidak apa..." sahut Arion, " Yang terluka kan kamu! Dahi kamu memerah!"
"Tidak mas, ini tidak apa-apa!" Luna menurunkan poni panjangnya untuk menutupi kemerahan di dahinya.
Arion tersenyum melihat tingkah lucu yang dilakukan oleh Luna.
Melihat Arion tersenyum, Luna kaget bukan kepalang.
'Ternyata pria ini bisa tersenyum padaku!' batin Luna. Selama ini ia pikir, Arion membencinya. Karena sering bersikap dingin padanya. Padahal dengan keluarga Bradley yang lain, ia terlihat ramah.
"Kamu ternyata bisa tersenyum, aku pikir kamu membenciku!" gumam Luna. Tanpa sadar ia mengungkapkan isi hatinya.
"Apa?!" Arion bertanya, samar-samar ia mendengar gumaman Luna.
"I-itu.. itu.. itu bukan apa-apa mas!" pekik Luna malu.
"Aku tidak pernah membencimu!" ungkap Arion kemudian.
"Apa?! Mas bilang apa?!" Luna kaget. Tak menyangka Arion akan merespon kata-katanya.
"Aku tak pernah membencimu, kenapa kau berpikir begitu?!"
__ADS_1