Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 38


__ADS_3

"Hiks! Hiks!!" suara tangisan teredam terdengar, diiringi oleh suara langkah kaki yang perlahan menjauh kemudian menghilang.


Arion dan Luna yang sebenarnya sama-sama telah mendengarnya, seharusnya menghentikan permainan 'pura-pura' mereka.


Namun seolah tuli dan tak menyadari apa yang terjadi, mereka membiarkan diri mereka masing-masing, larut dalam permainan mereka sendiri.


Dengan berani, Arion menci um bibir Luna. Alih-alih menolak, Luna malah membalasnya.


Arion tersentak kaget. Tak menyangka Luna akan membalasnya. Namun hatinya sangat senang.


Seolah mendapatkan izin, Arion kemudian Melu mat bibir penuh Luna dengan gemas.


Suara mengecap memenuhi ruangan, tenggelam dalam gairah yang tak tertahankan. Mereka hampir masuk ke dalam tahap selanjutnya, sampai pintu mereka diketuk.


"Tuan!" panggil suara seorang pria. Itu adalah Raka "Tuan, Tuan Arion!"


Arion ingin mengabaikannya. Namun Raka yang seolah tak peka, terus saja mengetuk pintu Arion dari luar.


Frustasi, Arion akhirnya menghentikan aktifitasnya.


Menatap Luna dengan sesal di wajahnya, Arion akhirnya bangkit dari ranjang dan membuka pintu.


"Ada apa?!" tanya Arion ketus.


"I-itu tuan!" sahut Raka takut, ia tahu Arion sedang jengkel. Namun ia tak bisa diam saja, ia harus memberitahu Arion apa yang terjadi.


"Ada tuan Bryan di depan!" sambung Raka, "Tapi sepertinya tuan Bryan mabuk! Tuan Bryan ngamuk di depan!"


Mendengar nama Bryan disebut, perasaan Arion campur aduk!


"Kamu pergi dulu! Saya mau bicara pada istri saya sebentar!" ujar Arion kemudian.


Raka mengangguk, kemudian berlari ke depan menemui tuannya yang lain.


Arion masuk ke dalam kamar. Menemui Luna yang masih linglung dengan permainan mereka.


Hati Arion menderu saat melihat bekas merah kebiruan di sekitar leher Luna akibat aksinya.


"Mas.." ucap Luna kaget saat menyadari Arion duduk di sebelahnya. Wajah Luna langsung memerah. Ia pikir Arion akan melanjutkan aksinya, saat wajah pria itu mendekat ke arahnya.


Luna sudah menutup matanya. Bersiap akan apa yang terjadi selanjutnya.


Namun Arion malah berbisik di telinganya, "Ada Bryan di luar!"


"Aku akan menemuinya sebentar, kamu tunggulah disini!" ujar Arion kemudian.


Jantung Luna mencelos seketika. Barulah ia ingat pada kenyataan bahwa Arion tadi sedang berpura-pura. Ia merasa kecewa, namun memaksakan senyumnya kemudian.


"Iya mas!" sahutnya. Meski ia kaget dengan kehadiran Bryan yang tiba-tiba, namun rasa kecewanya akan kenyataan bahwa Arion hanya bersandiwara. Membuatnya jauh lebih sakit.


Sebenarnya, Arion tidak ingin meninggalkan Luna. Ia ingin melanjutkan apa yang mereka lakukan tadi. Arion merasa, Luna juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


Namun ia tak bisa mengabaikan kedatangan Bryan. Ia ingin menyingkirkan Bryan, agar tak mengganggu dirinya dan Luna lebih jauh lagi.

__ADS_1


Bertekad untuk menyuruh Bryan pergi, Arion melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Tepatnya di teras, Bryan sedang berbaring. Tak sadarkan diri dengan aroma alkohol yang menguar.


Di sebelahnya, ada Raka yang menjaganya.


"Saya mau pindahkan, tapi tuan Bryan terus menepis tangan saya, tuan!" ujar Raka kemudian.


"Bagaimana dia kesini?!" tanya Arion, saat tak ada mobil lain yang terparkir di depan.


"Diantar ojek online tuan!" sahut Raka.


Saat Raka sedang berjaga di depan. Ia melihat mobil dengan lambang ojek online yang berhenti.


Raka kemudian menghampiri mobil tersebut. Di saat itulah, Bryan turun dari mobil.


Raka yang cukup mengenal Bryan, kemudian memapahnya masuk ke dalam. Namun Bryan menolak, ia ambruk di teras dan mengamuk sambil berteriak-teriak.


Bingung harus berbuat apa, ia akhirnya memutuskan untuk memanggil Arion.


****


"Sayang..." panggil Arion serak, ia kaget karena tak menemukan Luna yang berbaring disebelahnya. Semalam setelah membawa Bryan masuk ke kamar, ia akhirnya kembali ke kamarnya. Namun Luna telah tertidur pulas.


Sehingga ia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan hal yang tertunda dan tertidur di sebelah Luna.


"Kemana Luna pagi-pagi?! Kenapa tak ada?! Apa dia sudah membuat sarapan?!" gumam Arion. Biasanya Luna terbangun di jam 4.30 pagi dan membuat sarapan. Ini masih 30 menit lebih awal.


Arion pun bangkit dari ranjang dan menuju ke dapur.


Ternyata, Luna memang sudah ada di dapur, membuat sarapan sendirian.


Luna yang sedang masak, terlihat tersentak. Ia kemudian menoleh dan melihat Arion berdiri di ambang pintu dapur.


"Mas..." ujar Luna. Meski ia tahu, Arion hanya berpura-pura dan mereka hanya sedang bersandiwara. Tapi hati Luna tak berhenti berdebar melihat Arion berjalan menuju ke arahnya.


Luna tak mengerti dengan hatinya sendiri!!! Padahal ia tahu pria itu tak benar-benar tertarik padanya, tapi ia tak bisa mengontrol dirinya yang terus saja mengharapkan Arion.


"Apa ada yang bisa kubantu?!" tanya Arion kemudian.


"Mas mau membantu?!" Luna kaget. Biasanya pria tak suka bekerja di dapur. Seperti kakaknya dan ayahnya. Sehingga Luna kaget saat Arion ingin membantunya.


"Kamu ragu?!" alih-alih menjawab, Arion melontarkan pertanyaan penuh godaan.


"Aku ahli menggunakan pisau!"


"Ah..." Luna baru ingat, suaminya kan dokter bedah. Dia ahli menggunakan pisau. "Kalau begitu mas bisa potong sayurnya!


Dengan cepat Arion memotong sayuran yang telah dicuci bersih oleh Luna. Sedangkan Luna tengah sibuk menggoreng telur. Ia ingin membuat sandwich telur untuk suaminya.


"Sayang... " ujar Arion lagi. Sepertinya pria itu telah selesai melakukan tugasnya.


Kini ia berdiri di belakang Luna. Memeluk Luna dari belakang.


Luna kaget sejenak, ia bingung kenapa Arion memeluknya seperti itu?! Apa ada yang sedang mengawasi mereka.

__ADS_1


"Mas...?!" Luna hendak bertanya. Namun suara menggelegar dari arah pintu mengagetkan mereka.


Bryan dengan mata merah dan penampilan berantakan berteriak lantang.


"ARION!!!"


Bryan semakin terbelalak kaget saat melihat noda merah kebiruan di leher Luna.


"A-apa...?! Apa yang kalian lakukan?!" Bryan syock, "Ke-kenapa leher Luna?! Kenapa?!"


"Apa yang kau lakukan pada Luna?!" Sentak Bryan marah.


"Apa maksudmu?!" Arion balik bertanya, ia menghalangi pandangan Bryan pada Luna.


"Kau!!!" Bryan marah, menerjang Arion dengan garang. "Apa yang kau lakukan pada Luna?! Kenapa dia seperti itu?!! Kau mele cehkannya hah?!"


Sembari menarik kerah Arion, Bryan berteriak lantang, "Kau!!!! Dia adalah kekasihku!! Kau!! Kau!!"


Saking marahnya, Bryan tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia terbata-bata dan terus menyebut 'kau' dengan geram.


Meskipun Bryan sempat memikirkannya sebelumnya, tentang apa yang mungkin Arion dan Luna lakukan setelah menikah. Namun ia menepiskan semuanya. Ia yakin Luna masih mencintainya, dan tak mungkin akan berpaling secepat itu.


"Luna, apa dia memaksamu?!" tanya Bryan. Air mata Bryan mengalir. Hatinya pedih.


"Tidak" sahut Luna singkat.


Mendengar jawaban Luna, hati Bryan seorang teriris sembilu. Ia tidak menyangka apa yang ia dengar.


"Bagaimana bisa kamu melakukannya dengan Arion?!" Bentak Bryan. "Dia sepupuku, Luna!!"


"Dia suamiku, mas!! Mas Arion suamiku!" sahut Luna geram.


"Jangan ganggu istriku, Bryan!" Arion menyela. Ia mencengkeram tangan Bryan yang menarik kerahnya.


"Haha... istri?! Kau bilang istri?!" Tertawa sumbang, Bryan mencibir, "Sejak kapan kalian memiliki hubungan, hah?! Apa kalian sudah berselingkuh sebelumnya?!"


"Cukup, Bryan!!" Sentak Arion. Ia benar-benar marah. "Enyahlah! Jangan ganggu bulan maduku dengan istriku!"


"Hahahaha...Bulan madu katanya!!" Bryan merasa getir, "Bulan madu dengan istriku!!? Hahahaa..."


Bryan terus tertawa, hingga seluruh ruangan dipenuhi oleh tawanya. Namun berbeda jauh dari tawa yang bahagia. Tawa Bryan adalah tawa getir yang menyedihkan.


Saat tawanya mulai sirna, rasa marah dan sakit hati yang membuncah menyerangnya. Dan Bryan pun murka.


"Bajing*n!!" umpat Bryan. Ia hendak meninju wajah Arion. Namun Arion yang sigap, malah menghindar dan balik menghantamnya.


Bryan terhuyung ke belakang, saking kerasnya tinju yang dilayangkan oleh Arion. Seketika pening menyeruak di kepalanya.


"Mas!!" Luna berteriak.


Bryan mengira, Luna khawatir padanya. Namun ternyata, Luna menggapai tangan Arion yang telah meninju Bryan dan berkata. "Mas tidak apa-apa?!" tanyanya, "Sudah mas, berhenti!"


Saat itu, ingatan Bryan melayang di hari saat dirinya memukul Arion di cafe. Saat itu, Luna juga lebih memilih membantu Arion ketimbang dirinya.

__ADS_1


"Rupanya..begitu!!" ujar Bryan dengan senyum pahit yang tersungging di bibirnya.


****


__ADS_2