
Menghabiskan waktu kurang lebih empat jam-an untuk sampai di villa yang disebutkan oleh Arion. Namun semua itu pantas setelah menyaksikan keindahan pemandangan di villa tersebut.
Memang benar, kakek Max menyukai Bali. Bahkan nuansa villa itu sangat mirib dengan villa-villa yang ada di Bali.
Melihat Luna menyukainya, Arion merasa senang juga. Lelahnya setelah menyetir selama berjam-jam langsung sirna, ketika melihat senyum manis Luna.
"Kamu suka?!" tanya Arion kemudian.
Luna mengangguk senang, "Terimakasih mas, sudah mengajakku kesini!"
Masuk ke dalam villa, mereka di sambut oleh seorang wanita tua dan pria muda yang tampan. Itu adalah Bik Asmi dan putra bungsunya yang bernama Raka.
"Halo tuan Rion, apa kabar?!" seru Bik Asmi ramah. Ia menyambut Arion dengan senyum. Diantara semua keluarga Bradley, Arion adalah orang yang paling jarang datang mengunjungi villa.
Dahulu, Arion kecil pernah berlibur kesini bersama dengan Bryan. Namun kemudian, Arion tak pernah lagi kelihatan. Hanya Bryan yang kemudian sering datang.
Namun sekalinya Arion beekunjung, Arion sudah menikah dan datang bersama dengan istrinya.
"Baik bik!" sahut Arion, "Bibik apa kabar?!"
"Baik, tuan!" sahut Bik Asmi senang. "Tuan jarang sekali datang, sekalinya datang langsung bawa istri juga!"
Melirik wanita cantik bak Dewi di sebelah Arion, Bik Asmi tersenyum cerah.
"Selamat datang nyonya!" seru Bik Asmi, "Saya Bik Asmi penjaga villa disini!"
"Dan ini anak saya, Raka!" sambung Bik Asmi mengenalkan anaknya. Namun Raka tak kunjung berbicara, pemuda itu tengah tercenung menatap Luna.
"Halo Bik! Saya Luna!" balas Luna. "Salam kenal Raka!"
"Ah...i-iya nyo-nyonya!" sahut Raka terbata. Ia terpana melihat Luna yang cantik di depannya. Pipinya memerah saat Luna menyalaminya.
"Nyonya, nyonya cantik sekali seperti peri!" puji Bik Asmi tulus.
"Bibik bisa saja!" sahut Luna kemudian.
"Dia memang sangat cantik, Bik! Makanya saya sampai jatuh cinta!" ujar Arion menyela tiba-tiba.
Sejenak Luna tersentak. Ia kaget mendengar Arion mengungkapkan cinta. Ia kemudian melirik Arion dengan tatapan penuh tanya.
Namun Arion hanya tersenyum sebagai tanggapan.
"Ayo tuan, nyonya! Biar saya antar ke kamar anda berdua!" ucap Bik Asmi kemudian.
Berjalan di depan, Bik Asmi menuntun pasangan pengantin itu ke sebuah kamar. Kamar yang besar dengan pemandangan mengarah ke laut lepas. Awalnya Luna pikir, ada satu kamar lagi yang disiapkan untuk mereka. Namun ternyata tidak.
Melihat Raka meletakkan barang-barangnya dan Arion di kamar yang sama, Luna memahami bahwa mereka ditempatkan dalam satu kamar.
"Mas, kok kamarnya cuma ada satu?!" tanya Luna bingung. "Aku bilangin Bik Asmi dulu ya, buat siapin satu kamar lagi!"
__ADS_1
Luna hendak pergi menemui Bik Asmi, namun langkahnya terhenti saat tangannya dicengkeram oleh Arion.
"Kamu mau kemana?!" tanya Arion.
"Mau minta disiapin satu kamar lagi ke Bik Asmi!" ujar Luna polos.
"Jangan!" larang Arion, "Kamu mau bik Asmi curiga?!"
"Curiga?!" Luna mengernyit, "Kenapa curiga?!"
"Kita ini kan pengantin baru, kalau tidur di ruang terpisah kan aneh!" sahut Arion. "Kalau sampai Bik Asmi bilang ke kakek bagaimana?!"
Luna tercenung. Ia merasa ucapan Arion ada benarnya juga.
"Apa tadi mas bilang begitu karena hal ini?!" tanya Luna. Sekarang ia mengerti kenapa tiba-tiba Arion bersikap seperti seorang pria yang sedang jatuh cinta.
"Bilang apa maksudnya?!" tanya Arion bingung.
"Bilang kalau mas jatuh cinta padaku?!"
Arion mengangguk, "Kakek bisa saja bertanya pada Bik Asmi tentang kita. Jadi lebih baik kita tetap berpura-pura selama ada disini!"
Luna menghela nafas berat. Niatnya datang ke villa ini adalah untuk berlibur. Tapi jika harus terus berpura-pura menjadi sepasang suami istri yang saling mencintai, pasti akan sangat melelahkan.
Namun Luna tak bisa memungkiri, bahwa perkataan Arion ada benarnya. Mereka sepertinya memang harus berpura-pura menjadi pasangan suami istri yang saling mencintai untuk saat ini.
"Mas benar!" sahut Luna, "Maaf aku tidak berpikir panjang!"
Dengan alasan bik Asmi yang mengawasinya, Arion bisa terus menerus berdekatan dengan Luna.
****
"Bibir kamu blepotan!" dengan lembut Arion menyeka bibir Luna dengan jarinya. Tatapannya penuh dengan cinta, membuat jantung Luna berdengup sangat kencang.
Meski Luna tahu, Arion hanya berpura-pura. Tapi Luna tak bisa mengontrol hatinya.
"Ma-makasih mas!" ujar Luna terbata.
"Kamu mau pergi ke pantai tidak?!" tanya Arion kemudian.
"Ke pantai?!" Luna mengernyit, "Mau!"
"Kalau begitu, habisin makanan kamu ya sayang!" bisik Arion lagi. Melemparkan senyum menggoda ke arahnya.
Wajah Luna kembali memerah. Ia terus saja di buat tersipu malu oleh tingkah manis Arion.
"Mas!" bisik Luna.
"Hmn?!"
__ADS_1
"Jangan kayak gitu terus dong!" pinta Luna. Ia takut serangan jantung jika Arion terus memperlakukannya seperti itu.
"Kenapa?!" bisik Arion. "Kan kita sudah sepakat mau pura-pura terus?!"
"Iya tapi kan..."Luna tak bisa menyebutkan alasannya, bahwa hatinya berdegup kencang setiap kali Arion memperlakukannya dengan manis.
"Kamu mau kakek curiga?!"
Setiap kali Arion mengatakan alasan itu, Luna tak bisa membantah. Entah kenapa ia merasa seolah terjerat oleh Arion sekarang.
****
Mengajak Winda cek up ke salah satu dokter kandungan kenalannya, Bryan yakin bahwa sebenarnya Winda tak hamil sama sekali. Bryan percaya, Winda telah menipunya!!
Namun ternyata, Bryan salah!!! Winda dinyatakan tengah hamil.
"Bagaimana mungkin bisa hamil?!" bentak Bryan marah.
"Bagaimana bisa hamil?!" Winda murka, "Menurut mas bagaimana?! Apa mas tidak ingat berapa kali mas melaku kannya waktu itu?!"
"Tunggu, bisa saja itu bukan anakku!!" Bryan masih tidak terima. Hatinya berkata, bahwa ini semua tidak benar. "Ya.. itu pasti bukan anakku!"
Winda mendengus kesal, "Ya sudah kalau mas tidak mau mengakuinya! Tidak apa!"
"Aku tidak akan memaksa mas untuk bertanggung jawab saat mas tidak menginginkannya!" sambung Winda. "Biar anak ini aku besarkan sendiri!!"
Meninggalkan Bryan yang masih linglung di belakangnya, Winda pergi sembari menyunggingkan senyum di bibirnya.
Untung saja Winda mengetahui dokter yang merupakan kenalan Bryan itu. Dia adalah teman baik Winda semasa SMP dulu.
Demi uang seratus juta, pria itu sepakat mengelabui Bryan dan menyatakan bahwa Winda hamil.
'Syukurlah!' batin Winda.
Masalah pertama telah beres!! Ia telah mengkonfirmasi kehamilannya. Tinggal satu hal lagi, ia harus membuat Bryan menikahinya.
Tapi karena Bryan terus menolak, satu-satunya jalan hanyalah membuat kakeknya menekannya!!
Winda kemudian memikirkan sebuah rencana, yang bisa mempengaruhi keluarga Bradley. Dan membuat Bryan bertekuk lutut.
Sementara itu, Max telah menghubungi Bryan. Menanyakan hasil tes kehamilan Winda.
"Bagaimana?! Apa dia memang benar-benar hamil?!" tanya Max Dari seberang sambungan.
"I-itu..." Bryan tergagap. Ia tidak bisa mengatakan hasilnya pada sang kakek. Jika ia mengatakan yang sejujurnya. Sudah pasti, ia akan dipaksa untuk menikahi Winda.
"Ti-tidak kek.. ternyata dia tidak hamil!" dusta Bryan.
Mendengar cucunya yang menjawab dengan terbata-bata, Max mengetahui bahwa Bryan telah membohonginya.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka bahwa cucu yang sangat aku banggakan, hanyalah seorang pengecut yang tak berguna!!!" geram Max sembari memutuskan sambungan telepon.