
"Mas!! Dengarkan aku mas!!" Luna berhasil menemui suaminya yang pulang ke rumah.
"Itu tidak seperti yang mas kira!!" sambung Luna.
"Tidak seperti yang aku kira?!" Arion menatap Luna dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya perih sekali. Ia merasa begitu bahagia akhir-akhir ini, hingga masalah yang terjadi terasa begitu menyakitkan.
"Sekarang coba jelaskan! Kenapa kamu bertemu dengan Bryan di dalam sebuah kamar hotel?! Apa kalian tidak bisa bertemu di restaurant saja?! Kenapa harus masuk ke dalam kamar?!"
"Mas Bryan bilang, dia memiliki bukti keterlibatan mas dengan Winda!" ujar Luna terus terang, "Dia bilang, mas dan Winda bersekongkol untuk menjebaknya. Karena mas ingin menikahiku!"
"Omong kosong macam apa itu?!" Arion tak bisa berpikir dengan jernih. Ia begitu terpukul dan sakit hati, sehingga tak bisa merespon kata-kata istrinya dengan baik. Ia hanya ingin menyendiri untuk saat ini.
"Apa mas memang tidak mengenal Winda?!" tanya Luna, ingin mendengar penegasan dari suaminya. Ia berharap suaminya berkata tidak.
Namun Arion tidak menjawab, ia terpukul karena merasa Luna tidak mempercayainya. Dan menuduhnya sembarangan. Hanya karena perkataan Bryan.
Melihat Arion yang hanya diam, hati Luna tenggelam. Ia salah paham dan berpikir bahwa kesunyian Arion adalah sebuah pengakuan.
Meski Arion melakukan semua itu karena cintanya. Tapi menjebak Bryan bukanlah jalan yang benar. Hati Luna yang mengetahuinya seolah terkoyak.
Bukannya ia langsung membenci Arion karena hal itu. Hanya saja kenyataan yang mengejutkan telah membuatnya merasa sedih dan kecewa. Ia kemudian kembali ke kamarnya dengan tangis yang tertahan.
Begitupun dengan Arion. Kata-kata Luna yang seakan menuduhnya, menyakiti hati Arion.
Baik Luna dan Arion, menahan rasa sakitnya masing-masing, tak ada yang berniat untuk saling berbicara. Dan menjernihkan kesalah pahaman diantara mereka.
Mereka tenggelam akan penderitaan dan kekecewaan masing-masing. Hingga hubungan manis yang dulu tercipta diantara mereka, sirna dan berubah menjadi duka.
Setiap hari Luna berusaha melayani suaminya seperti biasa. Namun ia tak bisa menghilangkan kecanggungan dan rasa kecewanya pada suaminya. Arion juga merasakan hal yang sama, ia berusaha bersikap biasa pada istrinya. Arion ingin mempercayai istrinya dan mendikte diri bahwa semua yang terjadi antara Luna dan Bryan di dalam kamar hotel. Hanyalah sebuah kesalah pahaman.
Tapi Arion tak bisa melakukannya. Semakin dipikirkan, semakin aneh jadinya. Ia semakin menderita dan berpikir bahwa Luna hanya terpaksa bersama dengan dirinya.
Hingga sampai pada saat Bryan telah resmi bercerai dari istrinya. Sebuah keputusan yang berat, diambil oleh Arion.
Bryan datang pada Arion dan meminta Arion menceraikan Luna.
"Ceraikan Luna, Arion!!!" sentak Bryan. Ia menemui Arion di rumah sakit.
"Apa maksudmu?!!" geram Arion marah.
"Aku dan Luna saling mencintai, Arion!" ujar Bryan, "Jangan halangi dia untuk bersatu denganku!"
__ADS_1
Dheg!!
Hati Arion sakit mendengar ucapan Bryan. Bagaimana bisa seorang suami disebut sebagai penghalang cinta istrinya dan pria lain?!
"Aku tidak pernah menghalangi dia untuk apapun!" sentak Arion. "Aku mencintainya!! Aku rela melakukan apapun agar dia bahagia!!"
"Kalau begitu, kenapa kau tidak menceraikannya?!" Bryan marah. "Kau memaksanya untuk tetap bersama denganmu kan?!"
"Luna tak pernah bilang ingin bercerai dariku!!" geram Arion.
"Dia tidak bisa mengatakannya karena dia kasihan padamu!!" cibir Bryan, "Seharusnya kau sadar sendiri dan menceraikannya tanpa diminta! Setelah apa yang kau lihat di hotel tempo hari, apa kau masih tidak mengerti apa yang terjadi?!"
Dheg!!
Kembali, kata-kata Bryan yang tajam seakan menyayat hati Arion. Namun Arion tak ingin terlihat lemah di depan sepupunya itu, sehingga ia berkata, "Itu hanya salah paham! Luna sudah menjelaskannya padaku!!"
"Kau pura-pura tidak mengerti atau memang tidak mengerti beneran?!" cibir Bryan. "Luna kasihan padamu! Dia tidak ingin menyakiti hatimu, dan malah menyakiti hatinya dengan tetap bertahan denganmu!"
"Apa kau tidak memahaminya juga?!" bentak Bryan, "Jika kau benar-benar mencintai Luna. Lebih baik kau lepaskan saja dia!!"
****
'Melepaskan Luna?!' batin Arion. Ia terus bertanya pada dirinya. Apa Luna benar-benar terpaksa bertahan dengannya?! Apa Luna tidak meminta untuk berpisah, karena Luna kasihan terhadap dirinya!?
"Luna... ayo bercerai!" ujar Arion di sela-sela makan malam mereka.
Mendengar kata-kata Arion. Hati Luna mencelos. Dirinya memang kecewa setelah mengetahui perbuatan Arion yang bersekongkol dengan Winda. Tapi tak pernah sekalipun Luna ingin bercerai dari suaminya. Ia mencintai Arion!!
"Ayo kita bercerai!" ujar Arion lagi.
Sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan suaranya yang gemetar. Arion kembali mengatakan, kata-kata yang menyakitian, "Aku tidak ingin hubungan sepihak seperti ini!"
"Sepihak?!" Luna kaget. Ia berpikir bahwa Arion sudah tak mencintainya lagi. Mengingat sikap Arion yang berubah drastis. Bahkan Arion sudah tidak pernah menyebutnya dengan 'sayang' lagi.
'Ya... mungkin mas Arion sudah sangat kecewa denganku!' batin Luna. 'Mas Arion sudah tak mencintaiku lagi!'
"Baiklah jika itu yang mas inginkan!" ujar Luna, menelan getir yang menyebar di mulutnya. "Ayo kita bercerai!"
Meski dirinya yang menyebut kata perceraian pertama kali. Tapi saat melihat Luna mengiyakan ajakannya untuk bercerai. Hati Arion sakit.
Arion mengangguk sendu. "Aku akan mengemas pakaianku dan pergi dari sini!"
__ADS_1
"Tidak usah!" tolak Luna. "Biar aku yang pergi! Aku akan pergi dari sini, mas..."
Bangkit dari duduknya, Luna melangkah pergi. Berniat naik ke atas menuju ke kamarnya, ia hendak mengemas pakaiannya.
Namun saat ia melangkahkan kakinya di tangga, ia limbung.
Arion yang melihatnya, kaget luar biasa. Dan langsung meraih istrinya.
"Mas..." tangis Luna. Buliran bening meleleh di pelupuk mata Luna.
"Luna!!" pekik Arion. Ia merengkuh tubuh istrinya ke dalam dekapannya. Namun Luna tak sadarkan diri, ia pingsan.
****
"Saya tidak menyangka bisa mengucapkan hal ini sama kamu, dokter Rion!" ujar Dokter Soraya. Salah satu dokter yang berharap memiliki menantu seperti Arion. "Selamat ya! Istri kamu hamil, usia kandungannya baru dua Minggu!"
Arion kaget bukan kepalang. Hatinya senang tapi ia juga merasa sedih.
'Jika Luna hamil, dia akan lebih terikat denganku!' batin Arion.
Arion bahagia karena Luna hamil darah dagingnya. Namun juga sedih, memikirkan Luna akan menderita.
"Rion!" dokter Soraya memanggilnya lagi. "Tolong tebus obat-obatnya di apotek!"
Sembari menyerahkan resep obat, dokter Soraya kembali mengucapkan selamat. "Sekali lagi selamat ya! Saya turut berbahagia!! Dokter Dominic pasti senang mendengarnya!"
"Terimakasih dok!" sahut Rion. Ia meraih resep obat yang disodorkan oleh dokter Soraya. Kemudian menghampiri istrinya yang masih terbaring lemah di ranjang.
Dengan pikiran yang rumit, dibelainya kepala sang istri.
'Bagaimana aku menjelaskannya padamu?!' batin Arion. Ia bingung memikirkan cara untuk menjelaskan berita ini pada Luna. Ia juga cemas dengan reaksi yang akan Luna perlihatkan nanti.
Saat itulah, Luna sadar.
"Mas!!" pekik Luna saat melihat suaminya tengah membelai wajahnya. "Aku tidak mau berpisah!"
Dheg!!
Arion kaget. Ia tak menyangka hal pertama yang diucapkan oleh istrinya saat sadar adalah keinginannya untuk tidak berpisah.
"Aku sangat mencintaimu mas!" lirih Luna. Ia terisak, menggenggam tangan Arion yang membelai kulitnya. "Aku sangat mencintaimu! Semua yang terjadi di hotel itu adalah salah paham! Aku bersumpah mas!!"
__ADS_1