Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 25


__ADS_3

Winda menyeringai saat melihat air muka Luna yang berubah keruh. Ia tahu, temannya yang cantik itu pasti merasa sangat terkejut.


"Kamu yakin?!" tanya Luna kemudian.


Winda mengangguk. "Wanita itu sangat cantik, aku pikir itu sanak saudaranya atau kenalannya, mungkin!?"


Luna mengernyit. Jika memang benar apa yang Winda sebutkan, bahwa Bryan pergi bersama perempuan. Maka semalaman selama menghilang, Bryan mungkin bersama wanita itu.


Jika wanita itu adalah saudara atau temannya, tak mungkin Bryan tak ada kabar dan menghilang semalaman.


'Ada yang tidak beres!!' batin Luna. Firasat Luna sangat buruk. Ia yakin, Bryan menyembunyikan sesuatu!!


"Duh... maaf banget ya Lun! Aku seharusnya gak bilang ini ke kamu!" ucap Winda, pura-pura tak enak. "Gara-gara aku ngadu, kamu dan bos..."


"Gak Win...aku malah berterimakasih sama kamu!" ujar Luna kemudian.


"Aku pamit dulu ya!" sambung Luna.


Winda mengangguk lesu, masih memasang ekspresi wajah bersalah. Padahal hatinya girang luar biasa. Ia berdoa, semoga saja hubungan keduanya berakhir berantakan.


Sementara itu, Bryan yang tengah gelisah. Tak bisa berhenti memikirkan Luna.


Sedang apa Luna sekarang?! Apa dia masih bersama dengan Arion?! Apa ia sedang bersenang-senang dengan Arion?!


Meski masih bingung dengan kejadian yang terjadi antara dirinya dan Winda, namun ia lebih cemas akan kelanjutan hubungannya dengan Luna.


Walaupun masa pendekatan mereka berdua terbilang singkat, Bryan sangat mencintai Luna. Ia merasa benar-benar menyukai gadis itu hingga berniat untuk menikah.


Ia takut Luna akan membencinya setelah secara membabi buta memukul Arion. Bryan memang tidak bisa menjaga emosinya. Tinjunya selalu lebih cepat daripada logikanya.


Merasa sangat frustasi, Bryan hendak menghubungi temannya untuk pergi minum-minum. Namun sebuah panggilan mengagetkannya. Ia senang bukan kepalang karena panggilan itu berasal dari Luna.


"Hallo, Luna!!" ucapnya Riang.


"Hallo, mas! Bisa kita ketemu?!"


"Bisa, Bisa!!" sahut Bryan dengan cepat.


"Ya sudah, aku tunggu sekarang di cafe XX!!" sahut Luna singkat. Ia langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Bryan.


Bryan yang mendapatkan perlakuan yang dingin, lain dari biasanya, memahami bahwa Luna sedang marah.


Berpikir akan menjelaskan semuanya dan memperbaiki hubungannya dengan Luna. Bryan bergegas menuju ke tempat yang disebutkan oleh Luna.


****

__ADS_1


Melihat senyum ringan pria itu, hati Luna seketika bergelojak. Bukan oleh perasaan cinta, tapi oleh amarah yang membuncah. Berpikir bahwa Bryan telah menghianatinya dan balik menuduh dirinya serta Arion melakukan hal yang salah, sungguh membuat Luna merasa kesal.


"Maafkan aku, Luna!" ujar Bryan segera. Ia tak menunggu gadis itu berbicara, dengan cepat ia mencuri start dan berkata, "Aku salah paham denganmu dan Arion!!"


"Aku pikir kalian menghianatiku!! Aku sangat takut kehilangan kamu!! Aku mencintaimu Luna!" sambung Bryan.


Luna menghela nafas dalam, menelan semua perasaan yang membuncah di dadanya.


Rasanya ia ingin berteriak dan menanyakan dengan lantang, siapa wanita yang telah pergi bersama dengannya semalam. Namun Luna menahan h*sratnya, ia menghela nafas sekali lagi untuk menenangkan diri.


"Jadi sebenarnya kamu kemana semalam?!" tanya Luna. "Kenapa menghilang tak ada kabar?!"


"A-ah... i-itu..." seketika Bryan gelagapan. Ia bingung harus berkata apa. Alasan-alasan yang telah tertata rapi di benaknya, menghilang begitu saja.


"Kemana kamu?! Kenapa kamu tidak menjawab?!" ujar Luna ketus.


"A-aku terlalu banyak minum!" ujar Bryan gagap, "Aku sempat mau diantar pulang sama Winda, t-tapi di perjalanan aku ketemu sama temanku!"


"Teman?!" tanya Luna. Perkataan Winda mengenai Bryan yang pergi dengan seorang perempuan cantik, menggema di kepala Luna.


"Pria atau wanita?!" Luna mengernyit. Ia menatap tajam pada Bryan yang terlihat gelagapan.


Melihat tatapan Luna yang terlihat mengintimidasi, Bryan merasa gugup. Ia menggaruk lehernya yang tak gatal.


Saat itulah Luna melihat sekilas, dari leher Bryan yang tertutup oleh kerah kemeja menyembul noda merah kebiruan.


"I-itu..." gelagapan, Bryan berusaha menghindar. Namun terlambat, Luna sudah melihatnya.


Luna menggigit bibirnya menahan rasa sakit yang tiba-tuba menerpa, tanpa banyak bicara ia berlari menjauh dari Bryan.


****


[itu tidak seperti yang kamu pikirkan]


[Itu hanya kec*pan singkat karena kami sama-sama mabuk]


[Aku tidak tidur dengannya]


[Aku tidak ingat, aku melakukannya karena aku benar-benar mabuk]


[Aku bahkan tidak tahu apa saja yang telah terjadi]


[Ini semua bukan kehendakku]


[Aku hanya mencintaimu seorang]

__ADS_1


[Sungguh semua terjadi begitu saja, aku bahkan tak ingat apa-apa]


Setelah pertemuan terakhir mereka hari itu, Luna selalu mengabaikan Bryan. Entah itu panggilannya bahkan pesannya. Luna terus saja mengabaikannya.


Luna merasa sakit hati. Ini adalah kali pertamanya jatuh cinta lagi setelah terakhir kali berpisah dari kekasihnya, yang merupakan model asal Perancis.


Pria yang telah menjalin hubungan dengannya selama setahun itu, berselingkuh dengan model lain karena Luna sibuk bekerja.


Luna sebelumnya telah meneguhkan hati untuk tidak lagi memberikan cintanya pada siapapun. Tapi karena perhatian dan sikap manis Bryan terhadapnya, ia akhirnya kembali membuka diri.


Namun belum apa-apa, sekali lagi Luna disakiti.


Ia sedikit menyesal karena tak mendengar ucapan dari keluarganya. Ternyata memang benar, keluarga Bradley sepertinya tak berjodoh dengan keluarga mereka.


"Ha..." Luna menghela nafas berat. Rasanya dadanya sangat sesak. Seperti ada beban yang menghimpitnya dengan keras.


Luna merasa sangat lelah padahal tidak melakukan pekerjaan berat.


"Ha..." kembali lagi, Luna menghela nafas.


Adrian yang daritadi sudah memperhatikan tingkah adiknya, akhirnya tak tahan untuk bertanya.


"Kenapa kamu?!" tanya Adrian. "Akhir-akhir ini kelihatannya lesu?!"


"Huh?!" Luna terkejut, ia lupa sedang ada di ruang tengah bersama dengan Adrian. "Tidak apa kak, aku cuma agak lelah!"


Adrian terdiam, ia tidak mempercayai adiknya begitu saja. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi antara adiknya dan Bryan.


Biasanya, Bryan akan selalu mengunjungi Luna bagaimana pun keadaannya. Meski sibuk, Bryan setidaknya akan berkunjung setiap dua atau tiga hari sekali. Tapi kali ini, sudah seminggu lewat, batang hidung Bryan tak pernah kelihatan.


Sebenarnya, Bryan sangat ingin berkunjung kesana. Tapi Luna telah mengancamnya.


[Jangan berani-beraninya kamu datang, atau semuanya akan aku bongkar pada kakek Max]


Pesan singkat Luna terakhir kali, membuat Bryan tergidik. Sehingga mengurungkan niat untuk menemui Luna dan bertahan hanya dengan mengirim pesan dan panggilan.


"Kamu bertengkar dengan Bryan ya?!" tebak Adrian.


Luna tersentak. Tak menyangka kakaknya akan menebak dengan benar.


"Ti-tidak!!" dusta Luna.


Adrian menghela nafas, ia tahu adiknya tengah berbohong. Hidung Luna pasti kembang kempis setiap kali ia berbohong.


"Hidung mu kalau bohong, kembang kempis!" ujar Adrian, "Jadi jangan bohong!"

__ADS_1


Kembali lagi, pernyataan Adrian membuat Luna terkesiap. Namun Luna tak bereaksi, ia hanya diam sembari fokus menatap layar televisi.


__ADS_2