
"Tidak ada apa-apa kak!" sahut Luna.
Berapa kali pun Adrian bertanya pada Luna, jawabannya selalu sama. 'tidak ada apa-apa'.
Meski lidah tak bertulang dan mulut mampu berbohong, tapi mata tidak!!
"Kakak ini kakak kamu lho, Lun!!" Adrian masih kekeuh. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya. Kenapa tiba-tiba adiknya itu bersikap aneh?!
"Apa Bryan menyakitimu?!" tanya Adrian, "Dia selingkuh?!"
Dheg!!
Luna tersentak. Bagaimana kakaknya bisa menebak hal itu?!
Melihat ekspresi kentara yang diperlihatkan Luna, Adrian merasa berang.
"Ternyata benar, dia selingkuh ya?!" bangkit dari duduknya, Adrian hendak keluar dan langsung bergerak menemui Bryan. Namun Luna menghalanginya dengan cepat.
"Kak!! Tidak!! Bukan begitu!!" pekik Luna. Ia menarik tangan kakaknya yang mengepal kuat-kuat. Seolah siap memukul kapan saja.
"Alaaah! Kamu tak usah berbohong!" sergah Adrian marah, "Kakak tahu dari ekspresi kamu tadi!! Bryan selingkuh kan!!?"
"Tidak kak!" elak Luna, "Tidak begitu!! Kakak salah paham!!"
"Salah paham bagaimana?!" Adrian mengernyit, "Kalau memang Bryan selingkuh, sikap kamu yang aneh belakangan ini jadi masuk akal!!"
"Tidak kak! Bryan tidak selingkuh!!" kekeuh Luna membela Bryan. "Aku yang salah paham, kak!!"
Masih tak percaya pada ucapan sang adik, Adrian memicingkan matanya. Meneliti ekspresi adiknya itu, berusaha menemukan kepalsuan yang mungkin tersembunyi.
"Aku pikir mas Bryan selingkuh! Tapi ternyata tidak! Aku yang salah paham!!" ujar Luna kemudian.
"Bagaimana?! Kenapa kamu bisa salah paham dan berpikir dia selingkuh?!"
"I-itu.. Aku melihat mas Bryan makan dengan seorang wanita di cafe!" dusta Luna, "Aku pikir itu selingkuhannya, tapi ternyata dia teman lama mas Bryan!"
"Teman lama?!" mengernyit, Adrian kembali bertanya, "Teman lama apa yang makan di cafe cuma berdua?!"
"Bukan berdua!" Luna kembali berbohong, "Waktu itu rame-rame, tapi pada pergi ke toilet. Makanya Luna jadi salah paham!"
Semakin didengarkan, semakin mencurigakan.
Bukannya semakin percaya pada cerita adiknya, Adrian semakin yakin bahwa adiknya berbohong.
__ADS_1
Namun Adrian tak ingin membuat adiknya kesulitan lagi, sehingga ia menerima alasan Luna begitu saja.
Ia berniat mencari tahunya sendiri. 'Awas saja kalau Bryan beneran selingkuh!! Akan aku patahkan lehernya!' batin Adrian geram.
****
Undangan yang harus disebar sudah tiba. Selain undangan digital yang telah disebarkan lewat online, mereka juga harus menyebarkan undangan fisik.
Sebagian besar undangan untuk kolega, teman dan saudara yang jauh telah dikirimkan melalui jasa pengiriman.
Namun beberapa diantaranya, seperti undangan untuk teman dekat yang dimiliki oleh kedua mempelai, sama sekali belum disebarkan.
Luna menghela nafas saat melihat tumpukan undangan di mejanya.
Sebelumnya, ia sempat berpikir akan sangat menyenangkan bisa mengumumkan pernikahannya sendiri pada teman-temannya. Namun sekarang, sepertinya ia sangat enggan melakukannya.
Menatap undangan berwarna cream itu, hati Luna merasa pilu. Seolah kenyataan menghantamnya dengan keras, ia harus menerima bahwa setelah ini ia akan menjadi istri dari seorang Bryan Ethan Bradley.
"Ini hanya satu tahun! Ini hanya satu tahun!" Luna terus mendikte dirinya sendiri.
Memikirkan dan menjalaninya adalah hal yang sangat berbeda.
Luna sebelumnya percaya diri, bahwa ia bisa melakukan pernikahan show window dengan mudah. Toh, satu tahun itu bukanlah waktu yang lama. Itu hanya sekejap mata!
Apalagi setahun, semenit berada di dalam ruangan yang sama saja sudah sangat menyiksa!! Bagaimana bisa, ia bertahan selama satu tahun menjadi istrinya?!
'Apa aku memilih pilihan yang salah?!' batin Luna. Ia tercenung sesaat memikirkan keputusannya.
Namun ia tak mungkin berbalik sekarang, ia sudah berada setengah jalan!! Jika ia kembali, itu hanya membuat langkah yang telah ditempuhnya selama ini sia-sia.
"Ya, aku harus bertahan!!" gumam Luna memantapkan hatinya.
Menatap satu undangan yang bertengger paling atas, Luna kembali tercenung.
"Yah, sepertinya aku harus menemui Arawinda dulu!" gumam Luna saat melihat nama Arawinda disana.
Ia kemudian memasukkan semua undangan lainnya ke dalam tasnya.
Sementara itu, Arion yang tengah menatap undangan berwarna cream yang tergeletak di atas mejanya, seketika merasa linglung.
Ada nama gadis yang belakangan ini menjadi nama paling indah yang pernah ia dengar, bersanding dengan nama sepupunya sendiri.
"Ha..." Arion tertawa getir. Ia mengusap wajahnya kasar. Meski ia berusaha menghindarinya, berita mengenai pernikahan itu tetap datang menemuinya juga. Seolah sedang mengejeknya.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arion merasa Tuhan tak adil terhadapnya.
"Padahal aku yang bertemu denganmu pertama kali, aku juga orang yang pertama kali jatuh cinta padamu! Tapi kenapa, kenapa Bryan yang menjadi suamimu?!" tanya Arion, ia menatap undangan itu. Seolah-olah undangan itu adalah Luna.
****
Rahang Arawinda mengeras saat ia melihat kartu undangan berwarna cream yang disodorkan oleh Luna. Berusaha menahan ekspresinya agar tidak bocor, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Seraya menyunggingkan senyum termanis yang ia punya, Winda mengucapkan selamat pada Luna.
"Selamat ya Lun!" ucap Winda.
"Terimakasih!" ujar Luna kemudian. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
Melihat hal itu, Winda merasa geram!! Dia tak tahan melihat Luna mendapatkan apa yang seharusnya ia miliki.
Iri dengan kebahagiaan Luna, Winda ingin sekali melihat rasa sakit memercik di wajah Luna yang cantik itu.
"Aku senang akhirnya kamu bisa menikah dengan si bos!" celetuk Winda "Itu berarti, yang sebelumnya salah paham ya?! Syukurlah!"
Mendengar kata-kata Winda, Luna tersentak. Namun ia tak menjawab, ia hanya tersenyum sebagai balasannya.
Melihat air muka Luna yang berubah, riang memercik di hati Winda.
"Sepertinya aku salah paham waktu itu!!" Sengaja Winda mengungkitnya lebih banyak. Ia ingin memancing Luna untuk mengungkapkan kebenarannya, "Aku benar-benar minta maaf!"
Luna tercenung, jika bukan karena Winda, Luna tak akan mengetahui perbuatan Bryan padanya. Alih-alih permintaan maaf, seharusnya Luna memberi Winda hadiah karena telah membuka matanya dari pria hidung belang seperti Bryan.
"Tidak..." sahut Luna, "Kenapa kamu harus minta maaf?!"
"Aku seharusnya berterimakasih padamu!!" ujar Luna kemudian.
"Huh?!" pura-pura tidak tahu, Winda mengernyit bingung. "Apa maksud kamu?!"
Karena rasa percayanya pada Winda dan perasaan berhutang budinya yang besar, Luna tanpa curiga menceritakan tentang penghianatan Bryan pada Winda.
Berakting dengan sangat meyakinkan, Winda tak henti-hentinya memasang mimik terkejut dan simpati yang dalam untuk Luna.
"Ya ampun, aku tak menyangka Bos bisa kayak gitu!" ujar Winda, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya seolah sangat terkejut. Padahal di baliknya, ia tersenyum dengan riang. "Tapi kalau begitu, kenapa kamu tetap menikah dengannya?!"
Luna menghela nafas panjang, ia sebenarnya enggan untuk mengungkapkan kisah perjodohannya yang panjang, diantara keluarganya dan Bryan. Sehingga secara tersirat ia berkata.
"Kisah Siti Nurbaya!"
__ADS_1