Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 15


__ADS_3

"Aku tak pernah membencimu, kenapa kau berpikir begitu?!" ujar Arion.


"Mas kan selalu jutek sama saya! Sepertinya mas juga tak pernah nyaman dekat-dekat dengan saya!" Luna mengemukakan keluh kesahnya.


Arion kaget. Ia tak pernah menyangka Luna akan merasa seperti itu padanya.


Padahal ia tidak bersikap jutek, hanya saja ia tidak tahu harus berkata apa saat berhadapan dengan Luna. Makanya ia selalu berbicara sesingkat mungkin dengan gadis itu. Dan bukannya tidak nyaman, Arion hanya terlalu gugup setiap kali mereka bertemu.


"Itu tidak seperti yang kau pikirkan!" ujar Arion.


Luna tersenyum mendengar pengakuan Arion. Ia senang karena ternyata Arion tak membencinya.


"Baguslah! Kita akan menjadi keluarga kelak! Saya bersyukur karena mas tidak membenci saya!"


Dheg!!!


Jantung Arion mencelos seketika. Ia merasa sakit meski tak berdarah.


Sesaat Arion lupa, bahwa Luna adalah kekasih dari sepupunya yang konon akan segera menikah. Ia terlalu senang melihat Luna ada di tempatnya bekerja. Hingga lupa akan faktanya.


"Ah..ngomong-ngomong kenapa kamu ada disini?!" Arion mengalihkan pembicaraan.


"Saya ada jadwal hari ini, mengunjungi dokter Lina!" sahut Luna polos.


Tentu saja Arion tahu. Ia mendengarnya dari Lina bahwa ada perempuan cantik yang menjadi pasiennya.


"Apa yang terjadi?! Kenapa kamu sampai mengunjungi psikiater?!" Arion pura-pura tidak tahu. Ia hanya tak ingin kehabisan topik pembicaraan dengan Luna.


"Ah, saya rasa mas tidak tahu!" ucap Luna, "Pria yang mas pukuli waktu itu, sempat menyekap saya di toilet beberapa waktu lalu!"


"Pria yang bernama Vicky itu?!"


Luna mengangguk, "Saya sempat tidak berani keluar rumah sendirian! Tapi untungnya saya ikut keluarga mas pergi berlibur!"


"Saya jadi merasa lebih nyaman keluar rumah setelah itu!!" imbuh Luna.


"Syukurlah..." sahut Arion kemudian.


"Oh iya, mas mau makan siang bersama?!" celetuk Luna tiba-tiba. "Sebelumnya saya mau mengajak mas makan siang, tapi keburu dijemput mas Bryan!"


"Huh?!" Arion kaget. Sebenarnya ialah yang ingin melakukannya tadi. Tapi karena terlalu malu, ia mengurungkan niatnya. Tapi ternyata, Luna yang malah mengajaknya.

__ADS_1


"Oh ... apa mas sedang sibuk?!" tanya Luna lagi.


"Ti-tidak...kamu mau makan dimana?!"


****


"Apa kau serius?!" Felicia orang pertama yang bertanya pada putrinya.


Ia berniat membujuk putrinya agar menolak pertunangan yang direncanakan oleh Max dan Irwan. Namun ternyata Luna memiliki pikiran yang berbeda.


"Aku serius, ma!" tegas Luna. Tak ada keraguan sedikitpun di matanya.


"Tolong pikirkan lagi, kau belum mengenalnya dengan baik!" Adrian ikut berbicara, "Dia memang bukan pria yang buruk tapi..."


Adrian tak bisa melanjutkan kata-katanya. Adrian masih belum bisa memastikan apakah Bryan mencintai adiknya atau tidak.


Meski selama ini, Bryan tak pernah membuat masalah dan bersikap sangat baik, namun belum tentu Bryan adalah orang yang tepat untuk adiknya.


Yang terpenting bagi Adrian adalah cinta.


Bagi Adrian, adiknya yang berharga haruslah bersama dengan pria yang sungguh-sungguh mencintai nya. Bukan dengan pria yang berusaha mencintainya.


Sama seperti dirinya dan Elvina. Awalnya Adrian berpikir, Elvina juga mencintainya. Namun ternyata Elvina hanya berusaha mencintainya. Sehingga saat usahanya gagal, wanita itu menyerah dan meninggalkannya begitu saja.


"Aku rasa mas Bryan mencintaiku kak!" Luna yakin.


"Dengar, aku juga seyakin itu sebelumnya!" ungkap Adrian, "Tapi ternyata?! Bryan juga diancam oleh kakeknya sama seperti Elvina! Siapa yang tahu sebenarnya bagaimana perasannya padamu!"


"Kau tidak akan bisa menyelami dalamnya hati seseorang!" imbuh Adrian, "Makanya terkadang waktu itu diperlukan!"


"Seiring berjalannya waktu, sifat dan hatinya yang asli akan terungkap!!" tutur Adrian, "Memang saat itu aku terlihat sangat menyedihkan, karena pernikahan ku batal. Tapi aku bersyukur karena aku belum sempat menjalani bahtera rumah tangga dengannya, jika tidak...mungkin aku akan lebih menderita!"


"Apa yang dikatakan oleh kakakmu itu benar Luna!" tutur Darian, "Kau harus memikirkannya dulu sebelum memutuskan!"


"Mama tidak mau kau menderita hanya karena sebuah perjodohan!" Felicia tiba-tiba menangis. Entah kenapa ia merasa resah dan gelisah. Instingnya berkata, perjodohan ini hanya akan mendatangkan bencana.


Ia takut putrinya akan mengalami hal yang sama seperti kakaknya, bahkan mungkin lebih buruk.


"Tenang saja ma..." ucap Luna, "Semua akan baik-baik saja!! Hal itu tak akan terjadi padaku dan mas Bryan!! Aku yakin dia mencintaiku!"


Luna yakin bahwa Bryan memang mencintainya. Untuk apa Bryan membohonginya, karena sebelumnya mereka juga sempat bersepakat untuk melakukan show window.

__ADS_1


*****


Meski Bryan tengah sibuk dengan pekerjaannya, rasa rindunya yang kuat untuk Luna tak bisa terbendung. Sehingga ia kabur dari hotel dan pergi menemui Luna.


Dengan alasan senggang, ia mengajak Luna pergi ke bioskop.


"Bukannya ini pas musim liburan ya?! Kata mas sekarang lagi sibuk-sibuknya, kok mas malah ngajak kencan sih?!" tanya Luna, ia tidak mempercayai kata-kata kekasihnya itu.


"Nggak kok!" elak Bryan, "Sudah gak sibuk lagi kok! Si Winda juga kerjanya bagus, jadi dia bisa handle semua tanpa ada aku!"


Luna mengernyit, "Beneran?!"


"Bener!" sahut Bryan. "Aku rindu banget sama kamu!"


Bryan kemudian mendaratkan kec*pan di seluruh wajah kekasihnya itu. Ia gemas karena sudah lama tak melihat paras cantik Luna.


"Hari ini kita ke bioskop aja, tidak usah pergi ke tempat lain segala!!" ujar Luna.


"Kok gitu?!" Bryan merajuk.


"Besok kan kamu harus bekerja!" Luna mengungkapkan alasannya, "Jadi tidak boleh begadang sampai larut malam!"


"Tapi aku kangen banget sama kamu, sayang!!" ungkap Bryan sembari bermanja-manja dengan Luna.


Saat Bryan bermesraan dengan Luna, Winda tengah kelabakan. Gegara atasannya yang tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan pesan.


Bryan hanya mengatakan bahwa ia akan pulang untuk mengganti bajunya yang ketumpahan kopi. Namun ternyata itu hanya alasan, karena kemudian Bryan tak kunjung datang lagi.


Setelah berjam-jam bertarung melawan kesibukan, akhirnya Winda bisa bernafas lega. Ia beristirahat sejenak sembari bermain-main dengan smartphonenya.


Namun unggahan terbaru Luna, memantik rasa amarahnya.


Luna mengunggah lima foto yang di dalamnya ada gambar dirinya dan kekasihnya, Bryan. Sepertinya mereka berdua sedang berkencan di bioskop. Dengan bahagianya, Luna dan Bryan menghabiskan waktu mereka bersama.


Terlihat jelas dalam unggahan mereka, tak ada beban sedikitpun di hati mereka.


Seketika Winda merasa marah! Ia meledak!!


Ia marah karena Bryan mengabaikan tugasnya hanya untuk berpacaran. Ia tak peduli bawahannya mengalami masa-masa sulit asal dirinya merasa senang. Winda geram.


"Senang ya kalian berdua!" gumam Winda. "Lihat aja ntar, kalian gak bakal bisa kayak gini lagi!"

__ADS_1


Dengan tekad membara di hatinya, Winda bersumpah akan membuat keduanya berpisah. Ia akan merebut Bryan dari tangan Luna bagaimanapun caranya.


__ADS_2