
Merasa kesal pada Bryan, Luna tak menolak saat diajak pergi ke taman hiburan oleh Arion.
Padahal, pantang baginya berdekatan dengan pria lain saat tengah menjalin hubungan.
Namun karena hal itu, Luna jadi mengetahui sisi lain dari seorang Arion.
Berbeda dengan sebelumnya. Arion yang bermain dengannya di taman hiburan, sangatlah berbeda. Pria itu bertingkah jauh lebih nyaman, jauh lebih bebas dan menjadi lebih terbuka.
Seolah jarak diantara mereka menghilang, tanpa kekhawatiran, Arion mengungkapkan keluh kesahnya.
"Aku tidak tahu kamu salah paham seperti itu padaku!" ujar Arion, "Aku bukannya tidak nyaman denganmu! Aku hanya agak pemalu!"
"Mas Arion?! Pemalu?!" Luna kaget. Tak merasa bahwa Arion seorang pemalu. Ia lebih cocok disebut sebagai orang yang dingin dan kaku.
"Kamu pasti tidak percaya!" Arion tersenyum, "Tapi memang begitu adanya!"
"Aku selalu merasa canggung saat bertemu dengan orang baru. Karena itu aku lebih banyak diam! Jadi orang-orang berpikir aku dingin dan kaku!" sambung Arion.
Luna memalingkan wajahnya, ia malu karena Arion mengetahui isi pikirannya. Mengenai Arion yang dingin dan kaku.
"Sekarang bagaimana menurutmu?! Apa aku masih terlihat tidak nyaman denganmu?!" tanya Arion. Wajahnya yang diterpa oleh cahaya gemerlap lampu kelap-kelip, membuatnya terlihat seperti sebuah karya seni yang sangat indah.
Sesaat Luna terdiam. Ia terpana dengan ketampanan Arion.
"Hmn?!" desak Arion karena tak kunjung mendapat jawaban dari Luna.
Melihat Arion menunggu jawabannya, Luna menggeleng dengan cepat.
"Saya rasa, saya memang salah paham sama mas!" ujar Luna kemudian. "Melihat mas meluangkan waktu untuk menghibur saya, sepertinya mas memang tak membenci saya!"
"Mana mungkin aku membencimu!" ujar Arion sendu. Ia menatap Luna dengan intens. Manik Luna membulat seketika saat Arion menatapnya.
Sekelebat, sebuah kerinduan muncul dari tatapan Arion padanya. Tubuh Luna mematung seketika saat menyadarinya. Meski tak memahaminya dengan jelas, Namun Luna merasa Arion menatapnya seperti sedang menatap wanita yang dirindukan.
"Apa sebelumnya mas mengenal saya?!" tiba-tiba saja bayangan Arion tumpang tindih dengan seseorang. Namun Luna menepisnya. Arion dan pria itu sangat berbeda.
Arion tersentak, ia membeku seketika.
"Tidak... aku rasa tidak!" sahut Arion. Ia merasa, mengungkap dirinya adalah orang yang pernah di tolong Luna di Paris, sangatlah aneh. Sehingga Arion tidak mengatakannya. Dan memilih untuk diam. Lagipula Luna sendiri telah melupakan hal itu sebelumnya.
Namun berbeda dari bayangan Arion, Luna tak pernah melupakan Arion. Pria yang telah dirinya tolong di Paris.
__ADS_1
Saat itu Luna tengah menuntut ilmu di Paris. Sembari magang di butik bibinya, Luna begitu sibuk setiap waktunya.
Di tengah kesibukannya itu, perhatian Luna tertuju pada seorang pria yang terlihat sangat sedih, dengan mata yang memerah dan penampilan yang berantakan.
Pria itu tengah menangis tersedu-sedu sendirian di tepi jalan. Seolah kehilangan segalanya, pria itu bahkan tak peduli saat orang-orang yang lalu lalang memperhatikan nya dengan aneh.
Namun saat itu Luna hanya melewatinya begitu saja.
Tapi selang beberapa waktu, saat Luna melihatnya lagi. Pria itu tengah panik mencari barang-barangnya yang hilang. Pria itu kebingungan dan tak tahu harus melakukan apa.
Luna yang hatinya terketuk, berusaha menolong pria itu tanpa disadarinya. Luna tiba-tiba ingin membantunya begitu saja, dan tak ingin mengabaikan pria itu seperti yang lainnya.
Awalnya, Luna mengira tak akan bertemu dengan pria itu lagi. Namun entah itu kebetulan atau bukan, Luna malah terus bertemu dengannya.
Karena selalu bertemu, tanpa disadari olehnya, Luna terus memperhatikan pria itu.
Meski mereka tak saling bertegur sapa, namun Luna tak bisa mengalihkan pandangannya dari pria itu.
'Oh, dia sudah tak sedih lagi!'
'Ah, ternyata dia sedikit ceroboh!'
Hal-hal kecil pada pertemuan-pertemuan singkat mereka, menjadi sesuatu yang membekas di hati Luna. Hingga ia terbiasa.
Namun tiba-tiba, suatu ketika pria itu menghilang. Luna terus menunggu dan menunggu. Tapi pria itu tak kunjung muncul. Hingga Luna pindah.
Meski begitu, Luna masih terus mengingat pria itu hingga sekarang.
Bayangan Arion yang menatapnya tadi, mengingatkan Luna akan pria itu.
Namun penampilan Arion dan pria itu sangatlah berbeda. Pria itu memiliki poni yang panjang menutupi matanya, ia selalu menggunakan kacamata, padahal itu hanyalah kacamata hiasan. Tubuhnya sangat kurus dan ia selalu menggunakan kemeja yang ketinggalan jaman.
Sedangkan Arion, ia berpenampilan rapi, wajahnya tampan dan memiliki tubuh atletis yang proporsional. Tidak mungkin Arion adalah pria itu.
****
Bryan sangat panik, ia akhirnya membawa Winda ke rumah sakit. Namun lalu lintas yang padat merayap. Membuat rumah sakit yang letaknya hanya sejengkal kuku, berubah menjadi amat sangat jauh.
Setelah berhasil sampai di rumah sakit dan mendapatkan perawatan medis, Bryan tak serta merta meninggalkan Winda. Padahal ia sangat gelisah, mengingat janjinya pada Luna.
Namun Bryan tak bisa melakukannya, karena Winda masih tak sadarkan diri. Alhasil, Bryan menunggui gadis itu selama beberapa menit dengan Firman, sampai akhirnya sadar.
__ADS_1
Setelah Winda sadar pun, untuk beberapa saat Bryan masih harus membujuk Winda yang tak mau dirawat, karena takut dengan biaya pengobatan yang mahal.
Meski pada akhirnya ia menyelesaikan semuanya, ia telah menyia-nyiakan banyak waktunya. Hingga telat sekitar tiga jam dari waktu pertemuan dengan kekasihnya.
Bryan yakin Luna pasti sudah kembali pulang kerumahnya. Tidak mungkin gadis itu menunggunya yang begitu terlambat. Tapi seolah berharap, Bryan tetap mengunjungi restaurant itu.
Namun seperti yang ia perkirakan, Luna tak ada disana. Sehingga Bryan kembali ke hotelnya.
Saat ia kembali, ia baru menyadari bahwa Luna telah menghubunginya berkali-kali. Ada puluhan pesan yang menanyakan keadaan Bryan, seolah cemas terjadi sesuatu pada Bryan.
"S*Al!!" umpat Bryan pada dirinya.
Luna pasti sangat cemas karena Bryan tak memberi kabar. Bryan bukannya sengaja, namun ia meninggalkan smartphonenya sehingga tak tahu bahwa Luna menghubunginya puluhan kali.
Dengan penuh penyesalan, Bryan menghubungi Luna. Namun Luna tak kunjung menjawabnya.
Takut Luna akan marah padanya, Bryan kemudian memutuskan untuk menemui Luna langsung di rumahnya.
****
"Apa bang?! Luna tidak ada dirumah?!" Bryan kaget saat mendengar bahwa Luna tidak ada dirumah. Padahal Luna tak ada direstaurant, seharusnya kan dia sudah pulang!
'Kemana Luna?!' batin Bryan.
"Bukannya dia pergi untuk berkencan denganmu?! Kenapa kau malah tidak tahu?!" Adrian jengkel. Adiknya tadi berpakaian rapi dan mengatakan akan menemui Bryan di sebuah restaurant, beberapa jam lalu. Tapi pria yang seharusnya berkencan dengan adiknya, malah datang kesini dan bertanya adiknya ada dimana?!
"Apa yang sebenarnya terjadi?!" tanya Adrian lagi.
"Itu... saya ada sedikit masalah di hotel, jadi saya tak sempat menemui Luna!" ujar Bryan lagi.
"Kau tak menemui Luna?! Lalu kemana adikku?!" sembur Adrian marah.
Bryan terdiam, ia juga tak tahu Luna kemana.
"Dia tidak menghubungimu?!" Adrian semakin geram.
"Sebenarnya.. s-saya lupa membawa ponsel saya, makanya.. saya tidak sadar Luna menghubungi saya!"
"Ha...." Adrian geram. Ia hampir meremas kerah baju Bryan jika saja ayahnya tak menghampirinya.
"Ada apa Adrian?!" tanya Darian.
__ADS_1