Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 20


__ADS_3

"Karena kemarin kita gak sempet kencan, bagaimana kalau kita kencan hari ini!?" Ajak Bryan.


Luna menggeleng. Meski ia sudah tidak marah, tapi ia enggan pergi jalan-jalan hari ini.


Ia sangat lelah karena semalaman bermain di taman hiburan dengan Arion. Pria itu mengajaknya mengelilingi taman hiburan dan mencoba setiap jenis permainan yang ada.


Padahal biasanya Luna tidak akan mau naik permainan yang memacu adrenalin. Tapi anehnya saat bersama dengan Arion, Luna tak merasa takut sama sekali.


"Kamu pasti bosen pergi ke restaurant dan bioskop kan?!" ujar Bryan, "Bagaimana kalau kita pergi ke taman hiburan?!!"


"Huh?!" Luna terkaget. Ia heran bagaimana Bryan bisa tahu bahwa ia sedang memikirkan taman hiburan?!


"Kita kan belum pernah pergi ke taman hiburan, kan?!!" seru Bryan.


Luna menggeleng, "Aku sedikit lelah, mas! Aku mau pulang saja!"


Mendengar jawaban Luna yang menolak ajakan kencannya, hati Bryan seolah terjun bebas.


'Apakah Luna masih marah?!' batin Bryan.


Awalnya ia pikir Luna sudah memaafkannya, karena gadis itu sudah mau keluar dari kamarnya. Bahkan meminta untuk diantarkan ke rumah sakit olehnya.


Namun fakta bahwa Luna menolak kencan bersama dengan nya, Bryan tersadar bahwa jalannya masih panjang.


"Maaf, kamu pasti masih marah padaku!" ujar Bryan sedih. "Aku memang benar-benar tak tahu malu ya! Malah ngajakin kencan!"


Luna tak tahu kalau penolakan nya disalah pahami oleh Bryan, ia terkejut seketika.


"B-bukan gitu mas!!" ujar Luna, "Aku hanya sedang lelah. Aku gak marah sama mas!"


"Beneran?!" tanya Bryan.


"Bener, aku gak marah kok!" sahut Luna jujur. "Mas kan ngelakuin itu karena nolongin Winda yang lagi sakit!"


"Aku maklum kok!" sambung Luna.


Baginya kesehatan sahabatnya itu jauh lebih penting dari kencannya yang bisa dilakukan lain kali. Ia bersyukur Winda bekerja di bawah kekasihnya sehingga diperlakukan dengan baik. Tidak terbayangkan jika Winda masih bekerja di tempat kerjanya yang dulu.


Dengan seorang atasan yang m*sum yang selalu berusaha mel*c*hkannya. Pasti sulit bagi Winda bertahan jika ia tiba-tiba jatuh pingsan.


Luna percaya dengan apa yang Winda katakan, karena mereka adalah teman. Ia tak pernah membayangkan bahwa apa yang telah ia percayai adalah sebuah kebohongan.

__ADS_1


Seolah Tuhan tengah memperingatkan Luna, ia kemudian mendengar sebuah cerita yang berbeda dari teman lamanya.


"Eh kamu tau gak Lun kabarnya si Winda bagaimana?!" tanya Nia, salah satu teman dekatnya saat di Sekolah Menengah Atas.


"Kenapa dengan Winda?!" alih-alih menjawab, Luna balik bertanya.


"Kamu tinggal di luar negeri sih selama ini, jadi kudet kan!!" goda Santi, teman dekat Luna juga sewaktu SMA.


"Apa sih?! Aku gak tahu!" ujar Luna jujur. "Emang Winda kenapa?!"


"Winda kan sempat viral, gegara dituduh sebagai pelakor!!" sahut Santi.


"Pelakor?!" Luna kaget. "Apa maksudnya?! Kenapa ada yang memfitnah Winda seperti itu?!"


Nia menggeleng, "Itu bukan fitnah Lun!"


"Memang Winda pelakor!" sambung Nia.


Luna mengernyit, tidak percaya!


"Kamu pasti gak percaya kan?!" tukas Santi, "Aku juga kayak gitu pas denger sebelumnya!! Video pengakuan istri sah-nya kan sempet viral sebelumnya. Soalnya istri sah-nya itu seleb tok-tok!"


"Ini nih!!" Nia kemudian memperlihatkan video-video mengenai kisah perselingkuhan viral Winda dengan atasannya itu.


"Bahkan ada bukti-buktinya lho!" seru Santi kemudian, ia juga menunjukkan video-video saat istri sah selingkuhan Winda itu membeberkan bukti-bukti transferan hingga chat mesra keduanya.


"Ini viral banget waktu itu!"


"Iya, Winda sampai dikecam sama banyak orang!" ujar Nia. "Tapi luar biasanya, dia masih bertahan kerja di hotel itu!"


"Tapi bukannya pada akhir nya dia dipecat ya?!" Santi bertanya-tanya. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Winda kemudian.


"Dia dipecat karena banyak yang kasih ulasan jelek ke akun resmi hotel itu!!" sahut Nia, "Sepupuku kan kerja bareng Winda. Emang katanya perselingkuhan Winda sama atasannya itu, sudah jadi rahasia umum di hotel itu!"


Luna tersentak kaget. Ia masih belum bisa mempercayai apa yang teman-temannya katakan.


Menurut pengakuan Winda, bukankah dia dilec*hkan oleh atasannya?! Bukan selingkuh dengan atasannya!!


Apakah semua orang salah paham?!


Luna bingung menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar.

__ADS_1


Namun yang sebenarnya terjadi adalah, seperti apa yang dikatakan oleh teman-temannya.


Winda memang benar adalah seorang pelakor. Ia sengaja menggoda atasannya, untuk mendapatkan kemewahan yang selalu ia idam-idamkan.


Bosan hidup melarat, Winda selalu berusaha memanjat ke atas. Ia selalu mencari pria kaya untuk dipacarinya. Tak peduli lelaki itu sudah memiliki pacar ataupun istri, asal pria itu cukup kaya. Maka Winda akan berusaha untuk mendapatkannya.


Namun, Winda tak pernah beruntung. Ia tidak pernah bisa menikahi satupun kekasihnya yang kaya itu. Ada saja alasan yang membuatnya tidak berjodoh dengan mereka.


Winda membohongi Luna sebenarnya karena malu mengakui kenyataannya. Ia tidak menyangka Luna akan membantunya mendapatkan pekerjaan lainnya. Dan bahkan sekarang mendapatkan target baru sebagai bonusnya.


Setelah keluar dari rumah sakit, Winda semakin terang-terangan menunjukkan perhatiannya pada Bryan. Namun Bryan yang berpikir bahwa Winda hanya ingin menunjukkan rasa terimakasih padanya, tak menaruh curiga sedikitpun.


Setiap kali Winda membawakan makan siang untuknya, Bryan akan memakannya begitu saja. Bahkan saat Winda membenarkan dasinya, Bryan tidak pernah menolak. Hingga Bryan terbiasa dan menjadi semakin dekat dengan Winda.


Bryan mulai nyaman dengan Winda tanpa disadarinya. Ia pun tak segan-segan berkeluh kesah saat merasa resah pada Winda. Hubungan mereka mulai berkembang dari atasan dan bawahan menjadi sepasang teman sekarang.


"Aku gak suka, akhir-akhir ini kakek terus banding-bandingin aku sama Arion!" curhat Bryan pada Winda.


"Siapa Arion, mas!?" tanya Winda. Ia sudah tak pernah lagi menyebut Bryan sebagai 'pak'.


"Dia sepupu aku!!" sahut Bryan, "Dia seorang dokter!"


"Seorang dokter?!" Winda memasang wajah terkejut, "Kenapa mas dibanding-bandingin sama seorang dokter?!"


"Kan?!" seru Bryan, "Gak nyambung banget memang kakekku!"


"Bagaimana bisa kakek malah banding-bandingin aku yang kerja di hotel dengan dia yang kerja di rumah sakit?!" keluh Bryan lagi, "Ada-ada saja kan?!"


"Sudahlah mas, jangan dipikirkan!!" sahut Winda. "Ini, makan dulu. aku bawakan makan siang!"


Winda menyerahkan kotak makan siang cantik pada Bryan.


Bryan tersenyum cerah. Ia menyukai makan siang yang dibuat oleh Winda. Itu seperti makanan rumahan biasa, tapi rasanya jauh lebih enak daripada masakan rumahan yang disiapkan oleh pembantunya di rumah.


"Kok bisa sih, masakan kamu enak banget?!" puji Bryan senang, seraya membuka kotak bekal yang diserahkan oleh Winda.


"Ah, mas bisa aja mujinya!" Winda malu-malu, "Masakanku biasa aja mas!"


"Enggak! Sumpah enak banget!" seru Bryan.


Winda tersenyum simpul.

__ADS_1


'Tentu saja enak, itu kan makanan dari restaurant yang khusus menyajikan makanan rumahan!' batin Winda.


__ADS_2