
Sembari mengobrol ringan, Arion dan Luna berjalan-jalan santai menikmati indahnya suasana sore di pantai.
Namun tiba-tiba seorang gadis menerjang ke arah Arion kemudian mendekapnya dengan erat.
"Mas Arion!!!" pekik gadis itu. "Aku kangen!!"
Arion kaget, ia menatap Luna dengan linglung. Luna yang juga bingung hanya menggeleng tidak tahu.
Dengan cepat Arion melepaskan dekapan wanita itu dan memeluk Luna ke dalam dekapannya.
"Siapa ya?!" tanya Arion bingung.
Melihat sikap Arion yang mesra dengan Luna, gadis itu mengernyit bingung. Alih-alih menjawab pertanyaan Arion, gadis itu balik bertanya.
"Siapa ini mas?!" bak seorang istri yang melihat suaminya tengah memeluk wanita lain, gadis itu bertanya dengan garang, "Kenapa mas memeluknya seperti itu?!"
"Ini Luna, istri saya!" sahut Arion kemudian.
"Hah?! Apa?! Istri?!" gadis itu terkejut, "Kapan mas menikah?!"
"Siapa dia mas?!" tak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama, Luna kemudian bertanya. "Apa mas mengenalnya?!"
"Entahlah.. aku rasa tidak!" sahut Arion jujur. Ia merasa tak pernah melihat wajah gadis di depannya.
Cemberut, gadis itu merajuk.
"Mas!! Tega sekali mas berkata begitu!!" seru gadis itu, "Kita kan sudah berjanji sehidup semati, kita juga sudah menghabiskan waktu satu tahun menjadi pasangan suami istri!!"
"Hah?!" Luna dan Arion serempak kaget.
"Siapa kamu?!" sentak Arion kaget. "Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak!!"
"Mas, aku Eli!" pekiknya, "Anaknya Bik Asmi!! Mas ingat kan?!"
Barulah saat gadis itu menyebutkan nama bik Asmi dan Eli, Arion bisa mengingat segalanya.
"Oh, Eli!" ujar Arion kemudian, "Saya pikir kamu siapa!"
"Dia Eli, anak sulung Bik Asmi!" gumam Arion menjelaskan pada Luna.
"Mas ingat kan?! Syukurlah!" sahut Eli senang, "Lalu, siapa dia mas?! Kenapa mas peluk-peluk dia?!"
"Dia istri saya, namanya Luna!" sahut Arion dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Istri?! Sejak kapan mas punya istri?! Kapan mas menikah?!" tanya gadis itu bingung. Ia meraih gawai yang ia selipkan di kantung celana jeansnya. Kemudian menggulirkan jarinya dengan cepat.
Seraya menunjukkan akun media sosial Arion yang terpampang di layar ponselnya, ia berkata "Tak ada foto pernikahan! Apa mas bohong padaku?! Mas pasti bohong kan, mau kasih aku kejutan?!"
"Maaf, tapi kami benar-benar sudah menikah!" seru Arion. Ia menunjukkan cincin di jari manisnya dan Luna yang terlihat serupa.
__ADS_1
"Tidak mungkin!!!" teriak Eli sedih
"Mas Arion tega!!" Sembari memekik kencang, Eli berlari menjauh dari Arion dan Luna.
Tak memahami apa yang terjadi, Luna menatap penuh tanya pada Arion.
"Kenapa dia mas?!" tanya Luna, "Sepertinya dia syock berat tahu kita menikah?!"
"Dia memang dari kecil suka sama aku!" sahut Arion.
"Kalian pernah menikah?!" tanya Luna, mengingat kata-kata gadis itu tadi.
"Ah, tidak!!" Arion berusaha menjelaskan, "Kamu tahu permainan waktu kecil, yang menikah dan menjadi pasangan suami istri!?"
"Aku memainkannya dengan Bryan dan juga Eli! Aku menjadi ayahnya, Eli yang menjadi ibunya dan Bryan yang menjadi anaknya!" tutur Arion, "Aku bertemu dengannya hanya sekali saat masih kecil! Lalu tak pernah bertemu dengannya lagi! Aku bersumpah!"
Arion takut Luna salah paham padanya, "Kamu percaya padaku kan?!"
Melihat wajah panik Arion, Luna terkekeh pelan.
"Iya, iya! Aku percaya!" sahut Luna.
"Syukurlah!" Arion lega, "Kata-kata ambigu seperti itu hanya akan menjadi kesalah pahaman diantara pasangan suami istri!"
Luna tertawa geli mendengar Arion berbicara seperti orang tua, "Sepertinya akan sulit untukku, memiliki suami yang tampan seperti mas!"
Namun kata-kata Luna membuat jantung Arion berdesir dahsyat, 'suami yang tampan'?!
"Tidak masalah, yang terpenting kan... aku hanya mencintai istriku seorang!?"
****
Jantung Luna berdengup sangat kencang. Niat hati ingin menggoda Arion, namun malah dirinya yang kena.
Mendengar kata-kata Arion yang manis di pantai tadi, membuat Luna gelisah seharian. Apalagi malam ini, mereka harus tidur seranjang.
Luna mengingat pembicaraannya dengan Arion tadi, yang mengungkapkan alasan mengapa mereka harus tidur seranjang.
"Kalau nanti Bik Asmi memeriksa dan melihat kita tidur di tempat terpisah, pasti bik Asmi akan curiga!" ujar Arion.
"Tapi bik Asmi kan tidak mungkin masuk ke kamar kita di malam hari mas?!" sanggah Luna.
Arion menggeleng, "Bik Asmi suka memeriksa orang-orang yang tidur di malam hari! Itu karena kakek sempat kena serangan jantung tiba-tiba pas malam dulu!"
"Sampai sekarang Bik Asmi suka begitu!" sahut Arion, "Kalau dia tahu kita tidak tidur seranjang bagaimana?!"
"Kita hanya akan tidur seranjang! Tidak akan melakukan apa-apa!" Arion menyakinkan Luna, "Atau kamu berharap untuk melakukan apa-apa?!"
Luna menggelengkan kepalanya, berusaha melupakan percakapannya dengan Arion itu.
__ADS_1
Wajahnya memerah mengingat kata-kata nakal yang dilempar Arion.
'Sejak kapan mas Arion jadi nakal kayak gitu?!' batin Luna. Sebelumnya, Arion terlihat kalem, cenderung dingin dan kaku. Tapi akhir-akhir ini dia jadi sering menggoda Luna dan suka nakal. Arion seolah berubah 180°.
'Apa mungkin mas Arion punya dua kepribadian?!' batin Luna mengira-ngira.
Namun bukannya memiliki 2 kepribadian. Arion hanya berusaha menjadi seorang pria yang bisa menggetarkan hati Luna.
Mengikuti arahan Zahir, Arion berusaha menjadi 'pria yang menyenangkan'. Untuk menarik perhatian Luna.
Sehingga ia berusaha untuk menggoda Luna dan bertindak sedikit nakal. Omongannya tentang Bik Asmi yang suka memeriksa setiap kamar juga bohong belaka.
Mana ada orang yang berani masuk ke kamar majikannya di malam hari?!! Namun mengenai kakeknya yang sempat mengalami serangan jantung mendadak di villa tempo hari adalah kebenaran.
Tapi Luna yang begitu polos, menerima semua perkataan Arion begitu saja.
Meski Arion merasa sedikit bersalah karena membodohi Luna, namun hatinya senang memikirkan mereka akan tidur bersama sepanjang malam.
'Ini sebuah kemajuan!' batin Arion.
Ia yang tengah mandi, buru-buru menyelesaikan ritual mandinya. Ia ingin segera menemui Luna di kamar.
Luna yang tengah tercenung membaca buku kecil di tangannya, menarik perhatian Arion yang baru saja masuk.
"Apa itu, sayang?!" tanya Arion. Sebutan itu terlontar begitu saja secara alami. Mungkin karena terbiasa mengungkapkannya, Arion tak lagi merasa canggung.
Namun Luna yang mendengarnya, masih suka tersentak setiap kali Arion memanggilnya 'Sayang'.
"Ini novel mas!" sahut Luna.
"Novel apa?!" tanya Arion, berusaha melihat judul novel itu.
"Perselingkuhan?!" pekik Arion kaget saat melihat ada kata 'Affair' di kalimatnya.
Luna mengangguk pelan. "Aku penasaran, kenapa seseorang selingkuh! Jadi aku suka baca-baca novel kayak gini sejak lama."
"Apa kamu pernah diselingkuhi sebelumnya?!" tanya Arion kemudian.
Luna mengangguk.
"Iya...Selain mas Bryan, aku juga pernah diselingkuhi. Mantan pacarku dari Paris! Dia berselingkuh dengan partnernya di tempat kerja!" aku Luna jujur.
"Aku rasa memang aku kurang menarik, dan membosankan makanya kekasihku suka berselingkuh dariku!" sambung Luna.
"Kalau memang begitu, berarti aku juga kurang menarik dan membosankan!" sahut Arion.
"Huh?!" Luna kaget, "Kenapa mas berkata seperti itu?!"
"Karena aku juga pernah diselingkuhi sebelumnya!"
__ADS_1