Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 48


__ADS_3

Pening, kepala Bryan berdenyut nyeri. Ia bangkit dengan linglung menatap ruangannya yang dihias dengan sangat cantik bak kamar pengantin.


"Ah!" Bryan kaget. Sekelebat bayangan yang tumpang tindih antara Luna dengan gaun pengantin cantiknya dan Winda yang menjadi penggantinya, menghantam benak Bryan.


Sejenak ia merasa senang. Berpikir bahwa ia telah menikahi Luna, dan apa yang terjadi antara dirinya dan Winda hanyalah mimpi belaka.


Namun saat ia menyadari kehadiran Winda di sebelahnya, Bryan kemudian kembali pada kenyataan.


'Oh iya.. aku menikahi jal*Ng ini rupanya!' batinnya.


Dengan kepala yang masih terasa pusing dan tubuh yang kebas, Bryan turun dari ranjangnya.


Keluar dari kamar pengantinnya yang dihias begitu indah, Bryan menuju ke mobilnya. Tanpa arah dan tujuan, Bryan berkendara. Menghilangkan rasa sesak di hatinya yang tiba-tiba melanda.


Ia kembali teringat pada kenyataan yang ia telah temukan di bilik toilet.


Winda yang ia yakini suci dan polos, hanya pelak*r yang licik dan jahat.


Seharusnya ia menyadarinya sebelumnya!! Luna pasti tidak mengetahui perihal temannya itu, karena baru kembali ke Indonesia beberapa bulan belakangan ini.


'Winda pasti juga sudah menipu Luna!!' batin Bryan, 'Kurang ajar!!'


Melaju ke sembarang arah, Bryan mengabaikan laju mobilnya yang tinggi. Ia hanya ingin memacu mobilnya lebih kencang dan kencang lagi, berharap dengan begitu sesak di dadanya sirna.


Sementara Bryan dan Winda gagal menjalani malam pert*manya dan menjalani malam yang kelabu. Sepasang pengantin baru lainnya mengalami malam yang indah.


Kembali dari pesta pernikahan Bryan, kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu, menghabiskan malam bersama dengan mesra.


Meski jauh dari kata malam bergelora yang panas. Namun mereka menikmati setiap waktu yang mereka habiskan bersama.


"Apa aku boleh bertanya?!" ungkap Arion. Ia sedang duduk di ranjang memang ku istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Bertanya soal apa mas?!" alih-alih menjawab, Luna balik bertanya.


"Apa yang kamu rasakan saat melihat Bryan menikah?!" tanya Arion, ia sebenarnya ragu untuk bertanya. Tapi ia tak bisa menahan rasa penasarannya. Ia ingin tahu dengan pasti, perasaan Luna pada Bryan sekarang.


Jauh berbeda dari perasaannya saat melihat pria lain yang mengincar Luna. Perasaan yang Arion rasakan saat melihat Luna menatap ke arah Bryan, jauh lebih pedih dan menyakitkan.


Arion merasa cemburu berat. Ia takut sewaktu-waktu perasaan Luna pada sepupunya itu kembali, dan Luna akan meninggalkannya.


Meski hubungan mereka sedang baik sekarang, tapi itu tak serta merta membuat Arion merasa puas. Sebelum Luna mencintainya seutuhnya, Arion masih merasa ada yang kurang.


Mendengar pertanyaan suaminya, Luna mengulum senyumnya. Ia senang melihat Arion bertingkah seperti ini.


Bangkit dari pang kuan suaminya, Luna berbalik. Ia duduk di atas pa ha suaminya, lalu mengalungkan kedua lengannya di leher Arion.


"Mas cemburu ya?!" tanya Luna, ia berusaha menggoda Arion.


"Iya!" aku Arion jujur, "Aku sangat cemburu!"

__ADS_1


Luna tersenyum malu-malu tak menyangka Arion akan sejujur itu.


"Jadi bagaimana?! Apa yang kamu rasakan?!" tanya Arion lagi, ia memegang pinggang istrinya dan menatap Luna dengan intens. Menuntut sebuah jawaban jujur.


Luna yang diperlakukan seperti itu, merasa malu, jantungnya berdegup dengan kencang dan wajahnya terasa panas. Niatnya untuk menggoda Arion pun seketika sirna. Ia hendak bangkit, tapi Arion tak membiarkannya bergerak.


"Kamu nakal!" bisik Arion. "Setelah menggodaku, sekarang kamu berusaha kabur?!"


"Mas!!" pekik Luna. Ia memaksa untuk lepas dari cengkeraman suaminya, tapi ia tak bisa. Arion menangkapnya erat-erat.


"Jawab dulu, baru boleh pergi!" desak Arion.


"Perasaanku.. mmn...bohong kalau aku bilang aku tidak kecewa dan marah!" ujar Luna,


Dheg!!


Jantung Arion mencelos mendengar pengakuan Luna. 'Ternyata dia masih mencintai Bryan!'


"Tapi.. itu hanya perasaan yang muncul karena dia membohongiku! Bukannya aku marah karena dia menikah!" ujar Luna kemudian, "Aku sudah tidak peduli lagi dia akan bersama siapa sekarang!"


"Huh?!" Arion terperanjat kaget mendengar pengakuan Luna.


"Yang sekarang.. yang paling penting bagiku itu.. mas.. suamiku!" aku Luna malu-malu.


Wajah masam Arion langsung menghilang, tergantikan dengan senyum yang cerah.


"Apa?! Kamu bilang apa?!" tanya Arion lagi. "Coba katakan sekali lagi!"


Awalnya Luna kaget bukan kepalang. Namun sapuan lidahnya yang memabukkan, membuat Luna hanya bisa menikmatinya.


"Apa kamu menyukaiku, Luna?!" tanya Arion dengan berani di sela-sela ciu man mereka.


Dengan nafas terengah-engah, Arion menunggu jawaban Luna. Ia menatap Luna dengan mata penuh harap.


Luna yang ditatap seperti itu oleh Arion menjadi salah tingkah.


"Apa kamu menyukaiku?!" tanya Arion lagi, tak sabar menunggu jawaban istrinya.


"Iya.. aku su-suka sama mas!" ucap Luna jujur.


Senang mendengar jawaban Luna, Arion kembali melayangkan kecu pan demi kecu pan di seluruh wajah Luna.


"Aku juga menyukaimu Luna!" ujar Arion.


Pengakuan Arion seolah meledakkan hati Luna. Ia kaget, senang, dan juga malu.


Namun belum sempat ia membenahi hatinya yang kacau karena perkataan Arion, Arion kembali melancarkan Luma Tan yang dalam padanya.


****

__ADS_1


"Mas...?!" bisik Winda.


Karena tidur terlalu larut, ia akhirnya bangun kesiangan. Tepat saat matahari berdiri tegak di atas langit, Winda baru membuka matanya.


Ia meraba sisi samping ranjangnya dengan perlahan.


Tak merasakan kehadiran orang di sisinya, Winda terbelalak kaget dan menoleh.


"Kemana mas Bryan?!" gumam Winda kaget. Meski larut malam sekalipun, seharusnya Bryan kembali ke kamar kan!?! Tapi kenapa tidak ada tanda-tanda kehadiran pria itu disini?!


'Jangan bilang....?!' Winda menduga-duga bahwa suaminya itu tak pernah memasuki kamar. 'Kemana dia?!'


"Mas!!"


"Mas!!"


Winda memanggil-manggil Bryan, ia bangkit dari ranjangnya dan mencari-cari pria yang telah menjadi suaminya sejak kemarin.


Ia mencari-carinya di seluruh ruangan!!


Mengira Bryan sedang mandi, Winda mengecek kamar mandi. Tapi ia segera kecewa saat tak menemukan siapapun disana.


"Dimana mas Bryan?!" gumam Winda kesal.


Saat Winda tengah kebingungan mencari keberadaan Bryan, suara dering telepon mengalihkan perhatiannya. Itu adalah panggilan dari ibunya, Dalia.


"Hallo, Winda!" sapa Ibunya riang, "Bagaimana kemarin malam?! Apa lancar?!"


Mendengar pertanyaan ibunya, Winda tersentak kaget. Namun kemudian, dengan suara yang ceria ia menjawab.


"Bagus, Bu! Berjalan lancar!"


"Baguslah!" seru ibunya, "Ibu senang kalau semuanya bisa berjalan baik! Semoga untuk seterusnya semua berjalan dengan lebih baik!"


Sebagai seorang ibu, Dalia selalu mendoakan anak semata wayangnya itu. Meski jalan yang dilalui oleh putrinya itu salah, Dalia tetap mendukungnya. Karena ia adalah ibu dari Arawinda.


"Iya Bu! Semoga semuanya berjalan lebih baik ke depannya!" ucap Winda dari seberang sambungan.


"Kamu lagi apa ini?!" tanya Dalia penasaran.


Anaknya tengah menghabiskan waktu di kamar presidential suite di hotel bintang lima, milik suaminya, sebagai kamar pengantinnya. Dalia ingin tahu apa anaknya senang disana.


"Aku baru bangun tidur, Bu!" aku Winda jujur. Winda hanya berterus terang, tanpa berniat berbohong pada ibunya. Namun pengakuan jujurnya disalah pahami oleh ibunya.


Saat mendengar anaknya berkata 'baru bangun' dari tidurnya, seketika Dalia merasa malu.


Sepertinya anaknya itu begadang semalaman. Makanya baru bangun dari tidurnya sesiangan ini.


Pasti putrinya itu menikmati malam yang panjang dengan suaminya.

__ADS_1


'Ah dasar anak muda!' batin Dalia.


"Oh, kalau begitu istirahatlah lagi!" ujar Dalia."Jangan lupa makan yang banyak!"


__ADS_2