
Insiden malam pertama yang gagal membuat hubungan antara Winda dan Bryan menjadi panas. Winda yang tak mendapat kabar seharian penuh dari Bryan, mengadu pada Max tentang kelakuan Bryan.
Alhasil, mereka dipaksa untuk pergi bulan madu.
Awalnya dengan alasan Winda tengah hamil, Bryan menolak bulan madu yang diusulkan oleh Max. Namun sekarang ia tak bisa membantah karena Winda ingin melakukan nya.
"Kalian mau pergi ke mana?!" tanya Max kemudian. "Pilihlah mau kemana, mau di dalam negeri atau ke luar negeri! Kakek akan menyiapkan tiket dan lainnya!"
"Paris!!" pekik Bryan, "Aku mau ke Paris!!"
Berbicara terkait bulan madu, Bryan ingat Arion dan Luna juga akan pergi bulan madu ke Paris.
Bryan tidak ingin hari-harinya saja yang menderita bersama Winda. Ia juga ingin merusak bulan madu kedua pasangan itu!!!
"Paris?!!" Max mengernyit. Seolah ia memahami isi kepala cucunya, ia membantah keras!
"Tidak!! Jangan Paris!!" tolak Max, "Kau boleh pergi kemana pun selain Paris!!"
"Masih ada banyak tempat-tempat eksotik yang bisa kau kunjungi selain Paris!!" imbuh Max.
"Tapi aku ingin pergi ke Paris kek!" ucap Bryan kekeuh, "Ada banyak tempat-tempat indah dan romantis disana. Disana juga pusat mode dunia, Winda pasti akan sangat menyukainya!"
Mendengar 'pusat mode dunia', yang terbayang di benak Winda adalah deretan baju-baju mahal dan mewah, serta tas-tas branded yang langka!! Matanya langsung berbinar.
"Aku ingin pergi ke Paris kek!" seru Winda.
'Bingo!' batin Bryan. Ia sengaja menyebut Paris sebagai pusat mode. Karena tahu betul, Winda sangat menyukai barang-barang branded.
Dari apa yang selalu di beli wanita itu setelah memoroti dirinya. Bryan sadar bahwa Winda suka dengan gaya hidup hedon.
"Kenapa kakek tidak mengizinkan kami pergi ke Paris?!" tanya Bryan, "Apa karena Arion dan Luna akan bulan madu kesana?!!"
"Jangan membuat masalah!" seru Max, "Pergilah ke Paris di lain waktu! Sekarang pergilah ke tempat lain!"
"Ah~ tidak! Tidak! Aku tidak mau kek! kalau bukan ke Paris, aku tidak mau!!" Bryan bebal.
"Kami tidak akan mengganggu Luna kok kek! Janji!" ucap Winda. Peduli amat Bryan mau ganggu Luna atau tidak, yang penting ia harus mengoleksi beberapa tas mewah dulu.
Untuk mendapatkan hati Bryan bisa di lakukan kapan-kapan!!
"Kami janji tidak akan mengganggu mereka!" sambung Winda. "Tenang saja kek!"
Mendengar kata-kata Winda, Max menghela nafas berat. Ia sudah berjanji untuk membuat Winda bahagia, jika mau menikah dengan cucunya. Sehingga ia tak bisa menolak keinginan Winda sekarang.
__ADS_1
"Baiklah!" ujar Max berat hati. Walaupun Winda sudah berjanji tidak akan mengganggu Luna, namun Max cemas pada Bryan. Bagaimana pun, Max tahu bahwa Bryan masih belum bisa melupakan Luna.
Sementara itu di sisi lain, Arion juga merasa cemas. Saat mendengar kabar dari kakeknya, bahwa Bryan akan ikut bulan madu ke Paris bersama mereka.
"Sayang... " Arion merengek pada istrinya. "Apa kamu sangat ingin pergi ke Paris?!!Apa tidak mau ke tempat lain?!"
"Hmn?! Kenapa?!" tanya Luna. Ia meletakkan teh yang tadi di seruputnya.
Mereka tengah duduk-duduk santai di ruang tengah sembari mengobrol dan minum teh. Sampai Arion mendapat panggilan dari Max.
Luna bisa melihat perubahan raut wajah suaminya setelah menerima panggilan dari kakeknya. "Apa ada masalah?!"
Arion terdiam. Ia tidak mau terlihat begitu protektif pada Luna. Tapi ia benar-benar tidak suka dengan rencana bulan madu bersama seperti itu!!
Ia ingin menghabiskan bulan madu hanya berdua dengan Luna.
"Bryan dan istrinya, katanya mereka juga ingin bulan madu ke Paris!!" ujar Arion.
"Oh, begitu..." senyum simpul terlukis di bibir Luna, "Mas tidak suka ada mas Bryan ya!?"
Arion mengangguk jujur, "Aku hanya ingin menghabiskan bulan madu berdua denganmu, sayang! Aku tidak ingin ada yang mengganggu!"
"Aku juga mas!" ujar Luna, "Aku juga hanya ingin pergi berdua. Tapi aku juga merindukan Paris. Tempat dimana aku dan kamu bertemu sebelumnya!"
'Ah..." Arion segera salah tingkah. Pipinya merona saat istrinya mengatakan hal itu.
"Y-ya sudah..." ujar Arion kemudian.
Luna tersenyum tipis melihat tingkah malu-malu suaminya. Ia juga keberatan dengan kehadiran Bryan dan juga Winda, tapi ia sangat merindukan Paris. Tempat dimana mereka bertemu sebelumnya.
Luna berpikir tidak akan pernah bertemu dengan Arion lagi, setelah Arion hilang ditelan bumi saat itu.
Mereka tak saling mengenal, bahkan bertukar nama pun tidak. Sehingga Luna tak yakin akan bisa bertemu Arion lagi.
Namun takdir ternyata berkata lain, sekarang ia bahkan menjadi istri dari pria itu. Ia ingin mengingat-ingat momen mereka disana.
Awalnya Arion juga memikirkan hal yang sama. Akhirnya ia menemukan 'malaikat dari Parisnya'. Dan bahkan telah menjadi istrinya sekarang! Tentunya ia ingin menghabiskan waktu di Paris bersama malaikatnya itu. Mengenang apa yang dulu pernah terjadi diantara mereka.
Namun kehadiran Bryan membuatnya ragu.
"Tapi kamu.. jangan jauh-jauh dariku ya!" ucap Arion kemudian.
Luna terkekeh kemudian menge cup bibir suaminya dengan lembut. "Iya!"
__ADS_1
****
Berangkat bersama-sama bahkan menginap di hotel yang sama. Sungguh mereka seperti pasangan double date yang sedang berkencan berempat.
Meski Bryan dan Arion sama-sama canggung dan tak saling bicara. Namun Luna dan Winda terlihat bersahabat. Luna terutama tak memunculkan kebencian sedikitpun pada Winda, yang notabene telah merampas calon suaminya.
Hingga membuat Bryan mengernyit bingung.
'Kenapa Luna terlihat biasa saja pada Winda?!' batin Bryan. Seharusnya, meski sedikit! Luna pasti akan merasa tak nyaman pada perempuan yang menjadi istri dari mantan kekasihnya. Tapi kenapa Luna, tidak?!
'Apa yang telah diperbuat rubah itu?!' batin Bryan. Bryan yakin Winda telah mengarang sebuah cerita, sehingga Luna masih bersikap baik padanya.
Sikap Luna pada Winda, berbanding terbalik pada Bryan.
Luna memang tidak terlihat marah atau menghindar terhadapnya, namun wanita itu terlihat sangat menjaga jarak. Seolah-olah ada batasan yang tak nampak di sekitar mereka.
Sebenarnya, bukannya Luna tak merasa canggung, Luna hanya berusaha menutupinya.
Meski telah ikhlas pada masa lalu, ia masih sulit untuk bertingkah seperti tak ada apa-apa yang terjadi diantara mereka. Luna juga masih merasakan perasaan yang mengganjal di hatinya, setiap kali Winda bergelayut manja di sisinya.
Namun Luna selalu berusaha menepisnya, setiap kali ia merasa tidak nyaman. Ia melihat suaminya sebagai gantinya.
Senyum Arion yang manis dan tatapan matanya yang lembut, selalu bisa membuat Luna menjadi lebih tenang dan Rileks. Apalagi tangan mereka selalu tertaut.
"Kamu mau pergi kemana nanti, Lun?!" tanya Winda kemudian. Saat mereka memasuki hotel. Tempat dimana mereka menginap.
"Hari ini aku mau di hotel aja seharian, Win!" ucap Luna, melirik ke arah suaminya yang terus menatapnya. "Besok baru mulai jalan-jalan!"
"Aku sih mau jalan-jalan langsung! Tapi sepertinya mas Bryan masih capek! Habis nikah langsung bulan madu!!" ujar Winda tak tahu malu, "Aku mau pergi ke tempat-tempat wisata sih! Sama belanja"
Luna mengangguk sembari menyunggingkan senyum menangapi ucapan Winda.
"Kamu mau ikut, tidak?! Nanti kita belanja bareng!" ajak Winda.
Luna menggeleng, "Aku ada tempat yang mau aku tuju bareng suami aku!"
Paris sudah menjadi 'rumah' bagi Luna. Ia tak butuh keliling ke tempat-tempat wisata, karena sudah sering pergi kesana sebelumnya.
Luna bukannya merindukan tempat-tempat indah yang ada di Paris, ia lebih merindukan 'suasana' dan 'perasaan' yang ia dapatkan di Paris.
"Kemana Lun?! Apa ada tempat yang bagus?!" tanya Winda penasaran.
"Itu cuma cafe.. cafe kecil, tempat kami ketemu dulu!"
__ADS_1