
Menghabiskan waktu bermain bersama beberapa menit di dalam air, ternyata sangat ampuh mencairkan suasana diantara mereka.
Luna yang awalnya terlihat menghindari Arion, kini sudah kembali terlihat nyaman. Ia bercanda dan tertawa sepeti sebelumnya.
Arion yang melihatnya pun merasa sangat bahagia. Ternyata triknya berhasil!!
"Jadi.. makanan apa yang paling kamu suka?!" tanya Arion.
"Makanan?!" Luna berpikir, lalu tanpa keraguan ia menjawab "Seblak!"
Arion terkekeh, "Kamu tinggal di Paris selama beberapa tahun, dan makanan kesukaanmu tetap seblak?!"
Luna merenggut, "Memang kenapa mas?! Meskipun ragaku di Paris tapi hatiku kan tetap di Indonesia!"
Arion terkekeh, ia manggut-manggut setuju. "Oke, oke! Bisa jadi!"
Namun Luna bukannya senang dengan jawaban Arion, Luna malah merasa jengkel. Karena ia merasa Arion tengah meledeknya.
"Terus mas sendiri, makanan kesukaannya apa?!" tanya Luna. Ia ingin membalas perbuatan Arion yang mengejeknya. Apapun jawaban Arion, ia akan tertawa.
Begitu pikirnya!
"Makanan apa nih?!" tanya Arion, "Makanan berat, makanan ringan atau apa?!"
"Apa saja! Apa aja makanan yang mas suka?!" desak Luna. Ia ingin mendengar jawabannya. Ia tidak sadar bahwa Arion mendekat ke arahnya.
"Mau jawaban jujur atau tidak?!" tanya Arion lagi.
"Jujurlah mas, masak jawaban bohong?!" ucap Luna. Ia masih asyik memainkan air di sekitarnya. Hingga tak sadar, Arion sudah ada di depannya.
Luna tersentak kaget saat jarak diantara mereka sangat dekat.
"Makanan kesukaanku itu, Kamu!" sahut Arion kemudian.
Tatapannya yang jail telah tergantikan, ia masih menunjukkan ekspresi nakal di wajahnya. Namun matanya penuh dengan kabut, menatap Luna dengan panas.
Seketika Luna tergidik. Perasaan aneh yang beberapa waktu lalu ia rasakan di kamar, kembali menerpanya.
"Ma-mana bisa!" elak Luna, "M-mas curang!! Aku kan bukan makanan!"
"Siapa bilang kamu bukan makanan?!" tanya Arion kemudian, seringai muncul di sudut bibirnya yang tipis.
__ADS_1
"M-makanan kan untuk dimakan!!" ujar Luna, "Sedangkan aku, mas tak bisa makan aku!!"
Tersenyum lebar, Arion mendekatkan wajahnya ke arah Luna. Sedikit menunduk ia berbisik di telinga Luna.
"Akan aku tunjukkan bagaimana aku memakannya!" bisik Arion sendu.
Nafas Arion yang menerpa telinganya, membuat Luna merinding seketika. Ia menutup matanya tanpa sadar.
Saat tangan Arion menyentuh dagunya, Luna tahu benar apa yang pria itu akan lakukan. Ia membuka bibirnya tanpa sadar, mempersilahkan Arion melakukan apa yang diinginkannya.
Dengan tak sabar, Arion mener kam bibir penuh Luna. Seolah itu adalah makanan yang sangat lezat, Arion menghi sap, menggi git dan menji latnya dengan lahap.
Tak mau kalah dengan Arion, Luna pun membalas perbuatan suaminya dengan tempo yang beriringan.
Seolah waktu terhenti saat itu, mereka asyik berpa gutan seakan di dunia ini hanya ada mereka berdua.
****
Bryan sudah mendengar dari orangtuanya, rencana pernikahan yang telah disiapkan untuknya dan Winda.
Meski begitu, tak ada hal yang ia rasakan. Ia enggan bahkan untuk sekadar menolak. Meski ia menikah atau tidak, toh Luna tetap menjadi milik Arion. Tak ada yang berubah!!
"Winda kemana ya bos?! Kok gak pernah masuk akhir-akhir ini?!" tanya Firman. Yang kebetulan sedang makan siang bersama dengan bosnya di restaurant bawah.
"Dia izin! Katanya mau pulang ke kampung nengokin ibunya!" sahut Bryan sekenanya.
"Oh!" Firman mengangguk.
"Kamu mau minum tidak?!" tanya Bryan, Ia hendak mentraktir Firman minum. Berhubung perasaannya tidak baik, ia ingin meredakannya sedikit dengan alko hol.
Namun Firman menolak dengan tegas, "Pak Bryan kan tidak bisa minum! Waktu itu saja bapak langsung tepar, padahal cuma minum dua gelas!"
"Kapan?!" tanya Bryan bingung. Ia tidak ingat pernah tepar hanya dengan minum dua gelas. Ia merasa harga dirinya terhina.
"Itu lho, yang waktu makan-makan bareng itu!" ujar Firman mengingat-ingat. "Waktu itu bapak kan pegang sebotol, tapi gak sampai habis, bapak sudah tepar! Sampai di bawa Winda pulang!"
"Saya gak sampai minum sebotol Man?" kaget Bryan bertanya. Toleransi Alko hol Bryan termasuk tinggi. Ia bisa minum berbotol-botol sebelum merasa ma buk dan tumbang. Bagaimana bisa, ia langsung tepar hanya dengan minum dua gelas.
"Kamu yakin, man?!" tanya Bryan lagi.
"Yakin seyakin-yakinnya bos!!" ucap Firman mantap. Ia benar-benar yakin. Karena ia berada di dekat Bryan saat itu. Ia melihat apa yang dimakan dan diminum Bryan.
__ADS_1
"Kan waktu itu minuman yang bapak sisakan, saya sempat minum!" sahut Firman dengan malu-malu.
"Kok aneh ya, saya biasanya tidak cepat mabuk!" gumam Bryan aneh.
"Mungkin karena kondisi tubuh bapak gak vit! Makanya jadi cepet mabuk!" Firman menduga-duga.
"Tidak mungkin!" Bantah Bryan. "Masak jomplang banget jadinya. Biasanya minumn lima, enam botol saja saya kuat man!"
Firman mengernyit bingung, "Tapi memang agak aneh sih! Bau minuman di botol yang bapak sisakan itu aja aneh!"
"Bau botolnya aneh?!" Bryan terbelalak kaget. "Aneh gimana man?!"
"Kayak bau obat gitu lho pak!" Firman mengingat-ingat bau yang ia cium di botol bekas minuman bosnya. Ia bahkan sempat meneguknya sedikit. Namun karena rasanya aneh. Firman menyingkirkannya.
"Bau obat?!" Bryan mengernyit. Seakan menemukan sebuah teka-teki, Bryan merasa ada yang tidak beres. Ada sesuatu yang terjadi, dan itu berhubungan dengan Winda.
Fakta bahwa ia melupakan segalanya malam itu, dan bagaimana ia bisa begitu saja berhu bungan dengan seorang wanita saat mabuk. Itu benar-benar aneh.
Bryan yang mabuk biasanya hanya tertidur tanpa bisa melakukan apapun. Apalagi sampai melakukan hal itu, membuka matanya saja ia tak bisa.
'Ada yang tidak beres!' batin Bryan. 'Ini pasti ulah Winda!"
"Oh iya.. ngomong-ngomong waktu itu kenapa saya pulang diantar Winda ya?!" tanya Bryan kemudian.
Firman tercenung berusaha mengingat-ingat hari itu. Sebenarnya, Firman dan beberapa temannya yang lain yang hendak membawa Bryan pulang ke kediamannya.
Namun kemudian, Winda menawarkan diri untuk mengantar Bryan.
'Tidak usah! Kalian lanjut saja! Acara kan baru mulai! Biar aku yang mengantar si bos!'
Firman mengingat perkataan Winda.
"Waktu itu, saya sama yang lain yang mau antar bapak pulang!" aku Firman, "Tapi Winda bilang, dia yang bakal Anter bapak pulang!"
"Kami cuma diminta buat papah bapak sampai taxi! Habis itu dia yang anter bapak sendiri!" sambung Firman jujur.
"Saya masih sadar atau bener-bener sudah teler, man?!" tanya Bryan lagi. Ia ingin penegasan dari Firman.
"Anda benar-benar sudah tidak sadar, pak!" sahut Firman, "Saya saja papahnya sama si Doni, yang bodinya tegap itu!"
Mendengar perkataan Firman, kepala Bryan seolah dilecut oleh sesuatu. Ia seketika tersadar!! Winda telah melakukan sesuatu padanya.
__ADS_1
Ia kini yakin bahwa dirinya memang benar-benar dijebak oleh Winda. Sebelumnya, ia hanya menduga-duga saja!!
Semua yang wanita itu katakan, mulai dari Bryan yang meminta untuk masuk ke kosannya hingga merenggut kesu ciannya! Itu semua pasti bohong.