
"Kalian pernah bertemu di Paris?!" Bryan mengernyit. "Kalian sudah saling kenal sebelumnya?!"
"Saat aku jalan-jalan ke Paris beberapa tahun lalu, aku pernah kehilangan barang-barangku. Luna lah yang menolongku!!" sahut Arion.
Tersentak kaget, Bryan menatap Arion dengan tajam. Ia pernah mendengar sebelumnya dari pamannya, bahwa Arion hendak kabur dari studynya, hanya untuk menemui seorang wanita yang telah menolongnya di Paris.
Namun Bryan tidak pernah tahu bagaimana ceritanya. Bryan tak terlalu menganggap itu penting!! Tapi ternyata wanita yang hampir membuat Arion melepas mimpinya adalah Luna?!
Seketika asumsi demi asumsi muncul di benak Bryan.
Ia kini yakin bahwa Arion sudah berusaha merebut Luna sejak awal darinya. Atau mungkin mereka memang sudah memiliki hubungan sebelumnya?! Namun karena kakeknya memaksa Luna menikahi Bryan, sehingga Luna mendekatinya?! Atau Luna mungkin ingin membalas perbuatan kakaknya sehingga Luna melakukan ini pada Bryan?!
Semakin dipikirkan, semakin pusing kepala Bryan dibuatnya. Bahkan ia berpikir bahwa Winda juga bersekongkol dengan Arion!!
"Oh?! Benarkah?!" Sela Winda, "Bagaimana bisa kalian bertemu di Paris sebelumnya dan berakhir dengan menikah sekarang?! Seperti drama-drama romantis saja!!"
"Aku kan tinggal di Paris sebelumnya!" terang Luna, "Dan mas Arion sempat jalan-jalan ke Paris, kami bertemu saat itu!"
"Oh iya, mas jalan-jalan sendiri saat itu kan?!" tiba-tiba Luna teringat sesuatu yang ingin dia tanyakan pada Arion. Kenapa Arion menangis hari itu?!
Menggenggam lebih erat tangan istrinya, Arion menjawab. "Aku ke Paris untuk menemui pacarku yang sudah lama tidak aku temui, tapi ternyata... saat aku datang ke apartemennya. Aku melihatnya tengah bersama dengan pria lain!"
"Ah..." Luna sekarang tahu penyebab Arion menangis. Sepertinya Arion sangat menyukai wanita itu, sampai-sampai Arion menangis begitu menyedihkan saat itu.
"Jadi.. dia wanita yang mas katakan itu?!" tanya Luna kemudian. Ia ingat ucapan Arion di villa waktu itu.
Arion mengangguk!!
Itu adalah masa yang sama dengan saat dimana Luna mengetahui perselingkuhan kekasihnya. Mungkin sekitar seminggu sebelumnya, Luna memergoki kekasihnya berse lingkuh dengan partner kerjanya sesama model.
Luna kemudian memahami kenapa ia memiliki simpati pada Arion saat itu. Mungkin karena ia juga tengah merasakan hal yang sama.
Luna juga ingin menangis sekeras Arion waktu itu, namun egonya tak mengizinkannya. Melihat Arion menangis di jalanan hari itu, ia merasa lega seolah ada seseorang yang menggantikannya untuk menangis.
"Apa kalian sempat menjalin hubungan setelah itu?!" tanya Winda lagi. Ia merasa sedikit penasaran. Namun di balik itu, ia merasa lega juga. Berarti dirinya tak melakukan kesalahan. Malah ia telah membuat dua orang yang saling mencintai akhirnya bersatu!!
__ADS_1
Luna menggeleng, "Mas Arion menghilang, bagaikan di telan bumi!"
"Aku harus melanjutkan kuliah saat itu!" ujar Arion, "Saat aku kembali, kamu sudah tidak ada!"
"Aku mungkin sudah pindah ke daerah lain, mas! Aku mendapat tawaran pekerjaan di perusahaan besar!" sahut Luna, "Tunggu...mas kembali untukku?!"
"A-ah... i-iya..." Arion gelagapan. Ia kan sebelumnya pura-pura tidak ingat pada Luna. Akan aneh jika ia mengaku kembali ke Paris untuk Luna.
Luna yang menyadari ada yang ganjil dari pengakuan Arion yang sebelumnya dan sekarang, segera memicingkan mata dengan curiga.
Tersipu malu karena ketahuan berbohong, Arion kemudian berkata. "Sepertinya kita memang berjodoh, ya sayang!?" ujar Arion, seraya melempar senyum manis ke arah Luna.
Mendengar jawaban suaminya, Luna hanya mendengus pelan. Jika memang benar Arion menyukainya sebelumnya, maka...
Luna tercenung. Jika memang begitu, berarti bukannya tidak mengingat dirinya. Mungkin Arion hanya pura-pura tak mengingatnya!!
'Apa mas Arion melakukannya, karena aku dijodohkan dengan mas Bryan?!' batin Luna. Ia menatap suaminya dengan bingung, namun pria itu yang tak mengetahui isi benak Luna. Hanya bisa melempar senyum lembut. Berharap Luna tak salah paham padanya.
"Jadi kalian mengaku kalau kalian memang berselingkuh dariku?!" celetuk Bryan marah. Panas menyeruak di dadanya saat melihat kemesraan Luna dan Arion.
"Jangan samakan kami denganmu!" ujar Arion kemudian, ia sudah sangat marah melihat Bryan terus menatap Luna dengan intens.
Sejak tadi ia berusaha menahan diri karena Luna sepertinya tidak peduli. Namun bagaimanapun, rasa cemburu di hatinya tidak berkurang.
Dan sekarang kata-kata Bryan telah membuatnya ada di ambang batasnya!!
"Kami mengetahuinya baru-baru ini, saat kami berlibur tempo hari di villa! Saat itu kau datang dan mengamuk, ingat?!!" geram Arion.
Seketika bayangan Bryan melesat di hari itu, ketika ia melihat bercak-bercak merah di leher Luna.
'Apa saat itu?!' batin Bryan. Sekarang ia mengerti kenapa Luna begitu cepat melupakannya. Itu karena ia mengetahui bahwa pria yang menjadi suaminya adalah pria yang dulu ia kenal.
'Jangan bilang, Luna juga jatuh cinta pada Arion saat itu!??' dugaan lainnya pun muncul di kepala Bryan. 'Sial! Tidak mungkin!! Penampilan Arion saat itu kan sangat buruk! Tidak mungkin Luna menyukainya!'
****
__ADS_1
Sampai di kamar mereka masing-masing. Bryan langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Kepalanya mendadak pusing tujuh keliling!!
Bisa-bisanya dari sekian banyak wanita yang bisa di temui di Paris, Arion malah bertemu dengan Luna. Benar-benar menyebalkan!!
Semakin dipikirkan, semakin marah Bryan di buatnya!!
"Mas, mau aku pesankan sesuatu?!" tanya Winda. Ia duduk di sebelah suaminya yang berbaring dengan malas.
Alih-alih senang dengan perhatian istrinya, Bryan malah merasa kesal. Jangankan mendengar suaranya, melihatnya saja sudah membuat Bryan muak.
Namun yang lebih menyebalkannya lagi, ia harus bertindak baik pada Winda.
Jika memang apa yang dipikirkan Bryan benar, bukan hanya akan berhasil mengungkap kebenaran di balik Winda yang telah menjebaknya. Bahkan ia akan mendapatkan bukti bahwa Arion juga terlibat dalam hal ini.
Jika terbukti Arion adalah dalangnya, Bryan yakin Luna tak akan lagi percaya pada Arion. Hubungan keduanya pasti akan rusak.
"Mas.. apa mau aku pesankan sesuatu?!" tanya Winda lagi. Setelah pertanyaannya yang sbelumnya diabaikan.
"Tidak usah..." sahut Bryan seadanya. Ia berusaha tidak memperlihatkan kemarahannya.
"Ya sudah.. kalau begitu aku pergi sebentar ya mas!" ucap Winda.
"Kemana??" Bryan mengernyit. Baru saja istirahat, tapi Winda sudah mau pergi?!
"Tadi aku melihat toko pakaian tidak jauh dari hotel. Aku mau mampir!" ucap Winda. "Cuma lihat-lihat kok!"
Bryan heran, ia merasa bingung. Setelah melalui perjalanan panjang selama belasan jam. Bagaimana bisa Winda yang hamil itu terlihat segar bugar, sementara dirinya sendiri merasa begitu lelah!!
"Kau tidak lelah?! Istirahat saja dulu!" ucap Bryan kemudian, "Kau kan hamil muda!! Tidak boleh terlalu kecapekan!!"
"Tidak kok mas! Aku tidak capek kok!" dalih Winda, "Lagian tidak jauh kok! Toko itu kan di ujung jalan tadi!"
Bryan mendengus pelan. Ia tahu hal ini akan terjadi! Winda tak akan menyia-nyiakan waktu, dia pasti akan langsung berburu tas-tas dan pakaian bermerk.
"Terserahlah!" ujar Bryan malas.
__ADS_1