
Menatap wajah cantik Luna yang tertidur di sampingnya, Arion tersenyum-senyum sendiri. Ia tidak menyangka, hari ini akan tiba padanya.
Jantungnya berdegup dengan kencang mengingat apa yang mereka lakukan semalam. Sepertinya istrinya akan kesulitan untuk berjalan nanti.
"Maaf, sayang... semalam aku di luar kendali!" bisik nya di telinga Luna yang terlelap.
Arion merasa sangat bersalah pada istrinya, karena bertingkah terlalu buas. Ia tahu itu adalah pertama kalinya bagi Luna. Ia juga ingin bersikap lembut pada istrinya. Tapi sensasi yang baru pertama kali ia rasakan itu, membuatnya jatuh dalam euforia. Hingga ia hilang akal, dan berlaku sangat ganas.
Luna sempat menangis menahan sakit, namun Arion terus menghen taknya dengan cepat.
Luna memang tidak marah padanya, tapi ia merasa bersalah. Ia bertekad akan melayani istrinya untuk seharian ini.
Mengecup pelan pipi Luna, Arion bangkit dari tidurnya. Menyiapkan air untuk memandikannya.
Mengukur suhu air dengan tangannya, Arion memikirkan akan mengajak Luna kemana setelah ini!?
Apa akan pergi ke cafe itu atau ke tempat lain yang mungkin lebih nyaman untuk istrinya?! Atau tinggal di hotel seharian!?
Saat Arion sibuk dengan pikirannya, ia terkaget mendengar era ngan rendah dari arah kamar. Sepertinya, Luna telah bangun dari tidurnya.
"Sayang" ujar Arion, memanggil istrinya dengan mesra.
"Mas?!" bangkit dari tidurnya, Luna meringis menahan rasa sakit di bagian ba wah tubuhnya. Luna meremasnya menggunakan tangan, berharap itu bisa meringankan sakitnya.
"Mau kemana?!" tanya Arion.
"Mau mandi, mas!" ujarnya polos. Jam segini setelah bangun dari tidurnya, Luna memang mandi. Lalu masak dan kembali mandi. Itu adalah kebiasaan baginya, dan tak bisa dirubah meski ia tak memasak sekali pun.
"Ayo mandi bareng!" ujar Arion.
"Huh?!" Luna kaget. Tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. "A-apa mas?!"
"Ayo mandi bareng, aku sudah siapkan airnya!" ujar Arion, "Kamu pasti kesulitan untuk mandi. Berdiri saja sepertinya sulit untuk kamu!"
Tak bisa menyangkal, Luna memang merasa kesakitan. Bahkan bangkit dari tempat tidur pun ia merasa nyeri.
"Ayo, aku gendong!"tawar Arion.
Luna menggeleng. Ia malu, bersikap manja hanya karena ia merasa sakit.
"Tidak, mas!" ujar Luna, "Aku bisa sendiri!"
Berusaha berdiri dengan kedua kakinya, Luna langsung merosot ke bawah dan jatuh ke lantai. Kakinya seperti tak bertulang, lemas lunglai.
Arion dengan sigap meraih tubuh istrinya dan menggendongnya.
"Mas!!" pekik Luna kaget.
"Tidak apa .. ini juga salahku!" ujar Arion, "Aku tidak bisa mengontrol diriku semalam. Sampai-sampai membuatmu seperti ini! Aku minta maaf!"
__ADS_1
Sekelebat rasa bersalah muncul di manik suaminya, membuat Luna merasa haru.
Luna kemudian menggeleng pelan.
"Tidak apa mas, aku tidak cuma sakit semalam. Tapi juga..." Luna ingin mengatakan sesuatu. Tapi tenggorokannya tercekat, ia malu untuk mengakuinya.
Terbayang di benaknya, perasaan asing yang ia rasakan semalam. Antara sakit dan senang.
"Humn... apa sayang?!" tanya Arion. Ia menggendong istrinya menuju ke kamar mandi.
"E-enak.." gumamnya perlahan.
Meski sangat pelan, Arion bisa mendengarnya dengan jelas. Ia menyunggingkan senyum tipisnya. Ia senang karena istrinya menyukainya!
****
Bryan yang baru bangun dari tidurnya, terkejut dengan tas belanja yang berjejer di kamarnya. Itu bukan hanya satu atau dua. Tapi itu lebih dari dua puluhan.
Menarik nafas panjang dan menghelanya dengan perlahan, Bryan berusaha untuk menahan emosinya yang bergejolak.
Tadi malam ia menunggu kedatangan Winda yang konon hanya melihat-lihat toko baju itu, sembari minum beberapa minuman yang tersedia di dalam kamarnya.
Bryan hendak mengajak Winda minum-minum dan mengorek informasi darinya. Tapi hingga larut malam, wanita itu tidak muncul juga.
Ia sudah mengira bahwa wanita j*l*Ng itu akan menghabiskan uang sakunya, tapi ia tidak menyangka bahwa akan separah ini jadinya.
'Wah.. rubah ini ternyata lebih boros dari yang aku kira!' batin Bryan jengkel.
Bryan mendecih kesal. 'Nyenyak sekali tidurmu, setelah membuat hidup orang lain menderita!!'
'Akan ku buat kau lebih menderita dari ini! Lihat saja!' batin Bryan.
Ia sudah meminta kedua temannya untuk mencari bukti-bukti perbuatan Winda yang menjebaknya, juga mencari tahu kelemahan Winda. Guna menekannya.
Sementara waktu, Bryan rencananya akan bersabar dan menyenangkan Winda agar wanita itu lengah.
Tapi sepertinya ia akan bangkrut jika harus melakukannya selama seminguuan ini.
Belum sehari tinggal di Paris, tapi Winda sudah menghabiskan semilyar hanya untuk berbelanja.
'Harus diakali ini!! Kalau tidak aku bisa jadi gembel!' ucap Bryan di dalam hatinya.
Bryan kemudian memanggil staf hotel. Kemudian memintanya untuk mengembalikan seluruh barang-barang yang dibeli oleh istrinya itu.
Untungnya struk belanja setiap barang yang dibelinya, disimpan di dalam kantong belanja dengan rapi. Sehingga tidak sulit bagi staf hotel untuk melakukan refund.
****
Setelah tidur hingga matahari sampai di ubun-ubun, Winda merasa sangat segar. Ia menguap dan meregangkan tubuhnya dengan hati yang gembira. Ia hendak bangkit dari ranjangnya dan mandi. Lalu membongkar seluruh belanjaannya kemarin malam.
__ADS_1
Namun ia segera terpekik kaget, saat melihat tas belanja yang ia jejerkan di lantai menghilang.
"Di mana belanjaanku?!" pekik Winda kaget. Ia bangkit dengan tergesa. Berlari ke arah barang belanjaannya , dimana kemarin ia tinggalkan. Dan mencarinya dengan panik.
Bryan yang baru saja selesai mandi, melirik tingkah konyol Winda dengan ujung matanya.
Dengan tenang, Bryan mengambil sisir yang telah ia tata rapi di meja hias. Kemudian menyisir rambutnya yang setengah basah dengan pelan. Seolah-olah apa yang terjadi pada Winda, bukanlah urusannya.
Padahal istrinya tengah berlari ke kiri dan ke kanan dengan bingungnya, mencari puluhan tas belanja dengan barang-barang mewahnya yang menghilang.
"Apa mas melihat belanjaanku, yang aku letakkan disini?!" tanya Winda menunjuk ke tempat dimana jejeran tas belanja itu berada kemarin.
Mengambil parfum musk kesukaannya, Bryan dengan santai menyemprotkannya ke arah tengkuknya kemudian berkata.
"Ya, kenapa?!" ucap Bryan santai. Ia bahkan tidak menoleh pada Winda. Bryan masih menatap pantulannya yang gagah di cermin.
"Kemana mereka?!" tanya Winda tidak sabar. Ia sekarang mendekat ke arah suaminya. Mendelik kesal. Sudah tahu dirinya mencari sejak tadi, kenapa Bryan malah diam saja dan tidak mengatakan apapun padanya?!
"Aku serahkan pada staf hotel tadi!" ujar Bryan.
"Diserahkan ke staf hotel?! Untuk apa?!" tanya Winda kaget.
"Aku refund!" sahut Bryan singkat. Masih tak menatap Winda.
"APA?!!" Winda terpekik lantang. "Kenapa kamu refund?! Aku memilihnya dengan susah payah, mas!!"
"Kamu bilang cuma mau lihat-lihat, kenapa malah pindahin tokonya segala ke sini?!" suara Bryan meninggi. Bryan berbalik dari cermin dan kini menatap Winda tajam.
"A-a... aku suka jadi aku beli, mas!" dalih Winda, "Kakek juga kasih uang kan buat dibelanjain!!"
Bryan mendengus sebal, ia mengalihkan pandangannya dari Winda yang membuatnya muak. Berusaha mengendalikan amarahnya yang meledak.
"Belanja sih boleh-boleh saja! Tapi gak sebanyak itu juga kali, Win!" ujar Bryan. Berusaha menahan kebencian dalam kata-katanya. "Kamu habisin semilyar dalam beberapa jam!"
"Lagian, kalau kamu beli barang-barang branded kayak gitu! Nanti malah kena bea cukai di Bandara!" ucap Bryan.
Winda mendelik kesal. Ia merasa sangat marah.
'Peduli amat sama bea cukai, yang bakal bayar kan kamu!!' batin Winda.
"Lalu, dimana sekarang semuanya?!" tanya Winda. Ia masih tak percaya bahwa Bryan me-refund semuanya.
"Sudah aku katakan! Aku mengembalikannya!!" tegas Bryan.
Mata Winda membelalak. Ia tidak menyangka Bryan benar-benar mengembalikannya. Capek-capek ia memilihnya dan membawanya dengan susah payah ke kamar, malah dikembalikan sekarang!
"Mas kenapa main refund aja?! Kenapa tidak tanya aku dulu?!" geram Winda kemudian.
"Kamu tidur kayak kebo! Aku bangunin, kamu malah ngorok!" dusta Bryan. "Mulai sekarang, jangan belanja barang-barang aneh segala, apalagi dalam jumlah yang banyak! Belanja saja sewajarnya!"
__ADS_1
"Kalau kamu masih ngotot buat belanja! Aku tidak akan ikut campur masalah bea cukai-nya nanti di Bandara!" ancam Bryan telak.