
"MAS!!!" Luna kaget. Ia langsung bangkit dari duduknya dan meraih tubuh Arion yang tersungkur. Luna kemudian membantu Arion untuk berdiri.
Seketika, perhatian pengunjung restauran teralihkan pada mereka. Sebagian bahkan bangkit dari duduknya dan sengaja menghampiri.
"Mas, tidak apa-apa?!" tanya Luna cemas. Ia melihat bibir Arion yang berdarah. Seketika hatinya panas, Luna benar-benar marah!
Bryan yang melihat Luna malah lebih condong pada Arion, merasa kesal.
"Apa yang kamu lakukan, mas?!" sergah Luna."Kenapa mas memukul mas Arion?!"
"Heh ... kamu bertanya apa yang aku lakukan?! Kamu, Apa yang kamu lakukan dengan Arion?!" geram Bryan.
"Apa yang ku lakukan?!" Luna balik bertanya, "Seperti yang kau lihat, kami hanya makan siang bersama!!"
"Makan siang bersama?!" Bryan benar-benar emosi, "Kau makan siang dengan sepupu pacarmu?! Alih-alih dengan pacarmu?!"
Luna mendengus kesal, "Makan dengan pacar?! Bagaimana aku bisa makan dengan orang yang menghilang tak ada kabar?!"
"Seharian aku cemas, mencarimu dengan mas Arion! Tapi kau malah menuduhku seperti ini?!" sambung Luna.
Luna mendelik. Ia benar-benar murka. Rasanya sangat tidak adil, dituduh begitu saja.
Bryan yang mendengar ucapan Luna, tak percaya begitu saja. Ia sudah terlanjur emosi, kata-kata Luna bagai angin lalu. Yang tak berarti apa-apa baginya.
"Ayo mas, kita pergi!" Luna kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi, sembari mengamit lengan Arion.
"Luna!!!!" teriak Bryan dongkol. Ia menarik lengan Luna.
"Jangan sentuh aku!" pungkas Luna kemudian. Luna menepis tangan Bryan kemudian berlalu begitu saja dengan Arion.
Bryan yang dipenuhi oleh amarah, hanya bisa menatap keduanya dari belakang. Hatinya teriris melihat sikap Luna yang seperti itu.
Saat melihat gambar-gambar yang dikirim Winda padanya, Bryan merasa sangat marah.
Ia yang sedang sensitif akibat kesalahan yang telah dilakukannya di belakang Luna, berbalik dan berpikir Luna juga telah melakukan hal yang sama seperti dirinya.
Bryan benar-benar naik pitam berpikir bahwa Luna berselingkuh darinya.
Sementara ia merasa begitu bersalah oleh tindakan tidak sengaja yang ia lakukan, Luna malah bersenang-senang. Bryan merasa amat geram.
Namun ia segera menyesali perbuatannya dan menyadari kesalahannya, setelah pulang ke rumah. Saat kakeknya menyebut bahwa Arion dan Luna sudah mencarinya sejak pagi. Hati Bryan mencelos. Ia kemudian mengingat kata-kata Luna yang sempat ia abaikan tadi.
Sementara itu, Luna yang merasa bersalah tengah berusaha mengobati Arion yang bibirnya pecah serta berdarah.
"Maaf ya mas, gara-gara aku...." lirih Luna. Air matanya meleleh, ia sedih karena telah membuat pria yang sudah membantunya malah diperlakukan buruk seperti ini.
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf!" ucap Luna lagi.
"Ini bukan salahmu!" ucap Arion kemudian.
"Aku tidak tahu kenapa mas Bryan tiba-tiba begitu!" ujar Luna lagi.
Ia benar-benar tak habis pikir. Pria yang menghilang selama berjam-jam tanpa kabar sedikitpun, tiba-tiba muncul dan melayangkan tinju!! Ada apa sebenarnya?!
"Aku rasa dia cemburu!" ujar Arion kemudian. "Aku tidak berpikir panjang dan malah membuatnya salah paham!!"
"Kamu harus menjelaskannya nanti padanya!!" sambung Arion, "Jangan sampai hubungan kalian hancur berantakan!"
"Ti-tidak... ini bukan salah mas!!" ucap Luna, "Akulah yang salah. Aku yang mengajak mas makan siang tadi!"
Arion menggeleng, "Tidak... aku tahu kau melakukannya sebagai bentuk sopan santun!"
"Tapi Bryan benar, tidak lazim bertemu dan makan siang dengan sepupu kekasih sendiri!" sambung Arion, "Yang terpenting, kamu harus menjelaskannya! Jangan sampai dia mengira kamu melakukan hal yang tidak-tidak!"
"Mas, kita bukannya bertemu karena ingin makan siang! Kita bertemu karena mencari dia kan!!" ujar Luna.
"Kamu benar ... tapi orang-orang kan tidak mengetahuinya!" ucap Arion, "Bryan juga tidak!"
Jika mengikuti kata hatinya, Luna tak ingin menjelaskan apapun pada Bryan. Pria yang lebih suka mengedepankan tinju tanpa bicara, itu sangat buruk.
Namun ia tak mau membuat Arion merasa semakin bersalah dan khawatir dengan hubungannya dan Bryan. Sehingga ia hanya mengangguk mengiyakan suruhan Arion.
***
Selama berjam-jam, Bryan menghubungi Luna terus. Menghubungi lewat panggilan dan mengirim pesan, tapi Luna mengabaikannya begitu saja. Merasa resah, ia akhirnya datang ke rumah Luna. Tapi ternyata Luna tak ada di rumah. Ia masih belum pulang juga.
Bryan yang awalnya ingin meminta maaf pada Luna, berbalik kesal. Ia pikir, Luna masih bersama dengan Arion dan bersenang-senang. Bryan ingin sekali menghubungi Arion dan menegaskan kehadiran kekasihnya, tapi ia gengsi.
Akhirnya ia kembali ke rumah dengan tangan hampa.
Padahal Luna tidak sedang bersama dengan Arion. Ia bertemu dengan Winda tanpa sengaja di sebuah Mall saat hendak membeli bahan-bahan untuk membuat dessert.
Merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi, Luna ingin membuatkan Arion dessert sebagai permohonan maaf.
Saat Luna akan pulang, ia bertemu dengan Winda yang tengah berbelanja.
"Eh...?! Kamu disini win?!" sapa Luna kaget.
"Eh?! Luna!!" pekik Winda. "Kamu ngapain disini?!"
"Aku lagi beli bahan-bahan buat bikin dessert!" ujar Luna kemudian.
__ADS_1
"Oh!" Winda mengangguk mengerti.
"Kamu sudah makan belum?!" tanya Winda. Pura-pura tak tahu. Padahal dia melihat sendiri, Luna dan Arion makan tadi. "Kita makan yuk!!"
Luna menggeleng, "Aku masih kenyang. Tadi habis makan!"
"Yah...." Winda memasang wajah kecewa, "Padahal aku mau traktir kamu!! Sebagai ucapan terimakasih, karena sudah membantuku mencari kerja!!"
"Tidak usah ..." tolak Luna halus. "Tak perlu begitu!"
"Kalau begitu aku bakal merasa berhutang Budi terus!!" keluh Winda, "Bagaimana kalau secangkir kopi?!"
Tak ingin kembali menolak niat balik sahabatnya itu, Luna pun akhirnya setuju. Mereka kemudian menyambangi sebuah gerai penjual kopi di Mall.
Sembari duduk dan berbincang, mereka menikmati secangkir kopi yang hangat.
"Sepertinya kamu kurang sehat?!" celetuk Winda kemudian, "Daritadi kamu kelihatan pucat!!"
"Ha...aku cuma capek saja kok Win!!" Luna menghela nafas berat. Ia sebelumnya tak merasakan lelah, namun setelah semua ketegangannya menghilang. Rasa lelahnya pun tiba-tiba datang.
"Kamu tahu, mas Bryan tiba-tiba menghilang!" sambung Luna, "Semua orang sibuk mencarinya! Aku benar-benar cemas dengan keadaan nya!"
'Pfft!' dalam hati Winda mencibir, 'Cemas sama mas Bryan?! Atau Cemas ketahuan sama mas Bryan?!'
"Hah?!" memasang wajah kagetnya, Winda pun berkata, "Hilang bagaimana?!"
"Semalam kamu ikut acara makan-makan di hotel, tidak?!" tanya Luna kemudian.
Winda mengangguk polos, "Iya!"
"Mas Bryan sepulang dari acara itu tiba-tiba hilang kontak. Tidak ada kabar hingga siang hari tadi!" jelas Luna." Tak tahu pergi kemana!"
"Tidak mungkin!!" seru Winda, "Bos kan pergi sama wanita itu-Ups..."
Seolah-olah salah bicara, Winda menutup mulutnya rapat-rapat. Ia memasang wajah canggungnya.
Winda berniat memantik kesalah pahaman lain diantara mereka.
"Apa kamu bilang?!" Luna mengernyit.
"Itu..." ragu-ragu Winda berujar. "Tapi sebelumnya.. kamu jangan bilang ya kalau ini aku yang kasih tahu kamu!"
"Dia kan bos aku, kalau sampai aku ketahuan ngadu.. bisa-bisa aku dipecat!" sambung Winda.
Luna mengangguk, " Iya aku janji! Terus..apa yang kamu bilang tadi?!"
__ADS_1
"Semalam, si bos pergi sama perempuan cantik!!"