Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 61


__ADS_3

Menggebrak meja dengan geram, Max benar-benar murka. Ia tak menyangka wanita yang ia pikir polos, dan korban dari segala masalah adalah dalang dari segalanya.


Setelah Damien dan Tirta datang, mereka menyerahkan semua bukti-bukti yang telah mereka kumpulkan.


Bahkan pengakuan dokter yang telah bersekongkol dengan Winda pun didapat oleh Damien.


Baru kemarin Damien melaporkannya pada Bryan. Dan besok hendak menyusun rencana untuk membongkar kebusukan Winda. Namun tiba-tiba saja Bryan meminta mereka datang ke rumahnya dan membawa serta semua barang bukti yang mereka kumpulkan.


"Aku tidak menyangka!!! Hal seperti ini terjadi di dalam keluargaku!!" geram Max. Kepalanya tiba-tiba terasa pening. Ia juga merasa sesak.


"Pergi kamu dari sini!! Wanita ular!" sergah Nimas, "Kamu menuduh anakku melakukan hal-hal hina. Tapi ternyata kamu.. kamu jauh lebih hina!"


Nyalang, Winda menatap mertuanya itu. Ia hendak menyahut, tapi kata-kata Bryan membungkamnya dengan pelak.


"Jangan banyak omong lagi kamu!" ucap Bryan, "Sebelum aku berubah pikiran dan melaporkan semua kejahatan ibu kamu ke polisi!"


Winda tersentak kaget. Ia tak bisa melawan jika sudah menyangkut masalah ibunya. Hal yang paling ia cemaskan adalah ibunya!! Winda takut ibunya di penjara.


Ia selama ini berusaha menjerat orang-orang kaya, hanya agar ibunya terbebas dari kungkungan ayahnya dan hukuman penjara. Namun jika pada akhirnya, ibunya dipenjara. Semua usahanya hanya akan menjadi sia-sia.


"Jangan sekali-kali kau berusaha bermain-main denganku!" ucap Bryan, "Berani menggunakan trikmu, aku akan bongkar semua kebusukanmu!!"


"Besok kau akan mendapatkan surat dari pengadilan agama! Kita akan bercerai secepatnya!"


Ucapan yang dilontarkan oleh Bryan bukanlah sebuah omong kosong belaka. Tepat keesokan paginya, sebuah surat dari pengadilan agama sampai pada Winda.


Seolah-olah sudah menunggu sejak lama, Bryan menyiapkan semua ini untuknya.


"B-bagaimana Win?!" Dalia bertanya dengan terbata. Baru saja pulang dari bulan madu, bukannya menjadi lebih baik tapi hubungan anak dan menantunya malah berjalan lebih buruk.


Winda hanya menghela nafas pelan. Ia kemudian menatap ibunya dengan senyum sendu di wajahnya.


Dalia merengkuh tubuh putrinya erat-erat. Ia merasa pilu memikirkan nasib anaknya.


"Tidak apa Bu, ini hanya sebuah perceraian!" gumam Winda.

__ADS_1


Sejak awal, Winda sudah menduga perceraian antara dirinya dan Bryan akan terjadi suatu hari nanti. Hanya saja ia sedikit kecewa karena itu terjadi begitu cepat.


Meski sudah menduga sebelumnya, tak bisa dipungkiri di dalam hatinya ada secercah kekecewaan yang menyeruak. Karena ia sempat berharap pernikahannya dengan Bryan ini berlangsung selamanya.


Winda sempat berpikir bahwa kebersamaan mereka, akan mampu membuat Bryan mencintainya. Tapi nyatanya tidak.


"Sejak awal aku sudah menduganya!" ujar Winda. "Aku sudah mengambil lebih dari cukup untuk kebutuhan hidup kita selama beberapa bulan!"


Dalia menunduk. Hatinya terasa pedih.


Walaupun Winda sering menghadapi perpisahan dengan kekasih-kekasih sebelumnya. Tapi kali ini, itu agak berbeda. Karena kali ini adalah sebuah perceraian. Perpisahan setelah pernikahan, berbeda dengan perpisahan sebelum pernikahan.


Memang benar pernikahan antara Winda dan Bryan didasari oleh sebuah penipuan. Tapi pernikahan itu sendiri kan sah! Sah di mata hukum dan agama.


"Tidak apa Bu ..". ujar Winda. Ia tahu ibunya tengah mencemaskannya.o


Dalia yang memahami perasaan putrinya, hanya bisa merengkuh Winda dengan penuh kasih sayang. Berharap dengan begitu, hati Winda bisa sedikit terobati.


Sementara Winda menghadapi perceraiannya dengan tegar. Bryan yang menggugat Winda, merasa amat lega.


Ia hendak menemui Luna untuk mengungkap semua kebenaran di balik insiden yang telah menimpanya.


"Apa yang mau kau lakukan!!? Untuk apa kau kesana?!" sentak Max saat mendengar Bryan tengah menghubungi Damien dan Tirta. Bryan mengajak kedua sahabatnya itu menuju ke kediaman Arion dan Luna.


"Aku akan menjelaskan semua kesalah pahaman ini pada Luna kek!" ujar Bryan sumringah, "Aku juga akan mengatakan pada Luna, mengenai perceraian ku dengan Winda!"


"Untuk apa?!!" bentak Max marah. Tatapannya tajam mengarah pada Bryan.


Bryan mengernyit, ia bingung dengan sikap kakeknya.


"Aku ingin Luna tahu bahwa aku tak pernah menghianatinya!!" polos Bryan berkata, " Aku ingin dia mengetahui bahwa hal yang terjadi antara aku dan Winda bukanlah atas dasar keinginanku sendiri!"


"Untuk apa kau ingin istri dari sepupumu, mengetahui hal semacam itu?!" Max geram, "Apa yang terjadi antara kau dan Winda, juga perceraianmu, tak ada hubungannya dengan Luna!"


Jleb!!!

__ADS_1


Mendengar kenyataan dari mulut kakeknya, hati Bryan seperti diiris sembilu. Sakit sekali rasanya!!


Memang benar, hal ini mungkin tak berarti bagi Luna sekarang. Mengingat hal itu hanya masa lalu.


Setelah Luna resmi menjadi milik Arion. Kebenaran akan kesalah pahaman yang lalu, tak akan mengubah apapun.


Namun Bryan masih menyimpan harapan di dalam hatinya. Ia berharap setelah mendengar kebenarannya, perasaan Luna untuknya, kembali.


"Aku hanya ingin meluruskan kesalah pahaman diantara diriku dan Luna!" jawab Bryan, "Aku tidak ingin di cap sebagai pria penghianat olehnya!"


"Sudahlah!! Itu hanya masa lalu!" Ucap Max, "Biarlah itu berlalu! Toh Luna dan Arion sudah bahagia sekarang!! Luna juga sudah memaafkannya, bukan?! Tidak perlu menyampaikan apapun padanya!"


Bryan mengernyit. Ia hendak menyanggah kata-kata kakeknya. Tapi dia tahu, kakeknya yang keras kepala itu akan terus kukuh akan pendapatnya. Sehingga Bryan mengalah dan hanya mengangguk sekilas.


Melihat Bryan mengikuti kata-katanya, hati Max menghangat. Ia juga merasa bersalah pada cucunya itu, karena tidak mendengar ucapan Bryan sebelumnya. Dirinya malah terus berprasangka, mencap Bryan bak pelaku kejahatan.


"Kau lebih baik fokus menata masa depanmu! Jangan lagi ungkit-ungkit masa lalu" ujar Max, "Kakek yakin nanti kau akan menemukan wanita lain yang akan kau cintai melebihi Luna!"


Bryan hanya mengangguk-angguk pelan, mendengar kata-kata kakeknya. Ia tak ingin lagi membantah Meski di dalam hatinya ia terus bergumam dengan kesal.


****


Memikirkan cara untuk menjebak Arion, Moana merasa kebingungan.


Pasalnya sulit untuknya, membuat Arion mengkonsumsi obat perang sang. Mengingat, Arion selalu menjaga makannya. Terutama sekarang, saat pria itu selalu di berikan bekal oleh istrinya.


Selama beberapa hari ini, Moana meminta seseorang untuk memantau kegiatan Arion. Dan menemukan bahwa Arion tidak pernah melakukan interaksi dengan dunia luar tanpa istrinya.


Pagi-pagi sebelum berangkat kerja, Arion akan sarapan di rumahnya. Saat makan siang, Arion akan menyantap bekal yang dibawa istrinya. Saat Arion pulang dari bekerja, Arion langsung menuju ke rumahnya. Dan makan malam di rumahnya.


Arion lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumahnya bersama dengan istrinya. Jika pun Arion keluar, itu hanya untuk mengajak istrinya jalan-jalan atau makan malam di restaurant.


Arion tak pernah menghabiskan waktu sendirian. Apalagi clu bbing, sebatas nongkrong di cafe saja tidak.Tak ada celah untuk mengajak Arion sekadar makan bersama. Bagaimana bisa mencampurkan obat semacam itu ke dalam makanannya???!!


Namun berbanding terbalik dengan suaminya, Luna menghabiskan banyak waktu sendirian.

__ADS_1


Ia menjadi ibu rumah tangga yang santai. Di sela-sela waktu dirinya bebersih rumah dan menyiapkan makanan untuk suaminya. Luna menghabiskan waktu untuk memanjakan dirinya atau hanya sekedar jalan-jalan sendirian.


"Bukankah lebih mudah menjebak Luna ketimbang Arion?!" batin Moana kemudian.


__ADS_2