Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 41


__ADS_3

"Kedatangan kami kesini untuk meminang kamu, nak Winda!" ujar Ethan mengungkap maksudnya saat bertemu dengan Winda di kosannya.


"Maaf, tuan! Bukannya saya tidak menghargai maksud baik anda! Tapi saya menolak menikah dengan putra anda!" ujar Winda. Tatapannya lurus, menatap ke arah Ethan dan keluarganya. Tak ada ragu sama sekali di matanya.


Ethan yang mendengar pernyataan Winda, meringis seketika. Sepertinya ini tak akan semudah yang dibayangkan.


"Kalau kami boleh tahu, kenapa nak Winda menolak pinangan kami?!" tanya Ethan, "Apa ada yang kurang berkenan di hati nak Winda?!"


"Coba nak Winda sampaikan, kami akan berusaha memenuhinya!" sambung Ethan.


Winda menghela nafas berat, "Anda tahu sendiri tuan, putra anda tak menginginkan anak dalam kandungan saya. Dan dia juga tak mencintai saya!"


"Bagaimana bisa saya menikah dengan orang yang bahkan tak menginginkan saya?!" sambung Winda."Saya masih waras, tuan!"sambung Winda.


"Tapi nak Winda, kamu membutuhkan seorang suami dan ayah untuk anak yang kamu kandung!" bujuk Ethan, "Sangat sulit bagi seorang wanita untuk membesarkan seorang anak, sendirian!"


"Jika saya hanya akan jatuh ke dalam jurang neraka yang penuh penderitaan! Lebih baik saya tidak menikah sekalian!" ucap Winda, "Saya lebih ikhlas dihujat karena tidak memiliki suami dan hamil di luar nikah, ketimbang makan hati mendapat perlakuan kejam dari suami!"


"Nak Winda, jika kalian sudah menikah dan hidup dalam satu atap. Saya yakin Bryan akan berubah!" ujar Nimas, membantu suaminya membujuk Winda, "Apalagi jika anak kalian lahir nanti! Hati Bryan yang membeku pasti akan ikut mencair!"


"Bryan itu adalah anak yang baik. Dia memiliki rasa simpati yang tinggi!" sambung Nimas, "Dia pasti akan mencintai nak Winda pada akhirnya!"


Winda mendengus.


"Saya sudah sering mendengar alasan klise semacam itu!" Seolah tak memberi celah pada keluarga Bradley, Winda terus bertindak ketus. Ia ingin keluarga itu menghilangkan keraguan di hati mereka mengenai dirinya.


Jika ia menyambut pinangan itu dengan tangan terbuka, pasti muncul keraguan di hati kedua orangtua Bryan. Bahwa Winda memang berniat menjebak mereka.


Namun jika Winda bertindak seperti ini, ia yakin keluarga itu akan mempercayai dirinya hanyalah korban yang tak bersalah.


"Saya dan Ibu saya sudah pernah hidup di dalam neraka semacam itu! Bukan hanya ibu saya yang menderita, karena telah menikahi suami yang tidak mencintainya!" tutur Winda, "Tapi saya sebagai anaknya juga merasakan hal yang sama! Saya tidak mau, anak saya mengalami mimpi buruk seperti yang saya rasakan!"


Buliran bening lolos dari pelupuk matanya, jatuh terjun bebas menghantam punggung tangan Winda.


Hati Nimas yang lembut pun ikut pilu, seolah dihantam dengan palu. Ia sedih saat melihat air mata Winda.


'Sepertinya anak ini benar-benar anak yang baik!' batin Nimas.


Memandang istrinya dengan penuh makna, Ethan juga merasakan hal yang sama. Ia berpikir, Winda pasti hanyalah korban dari kesalahan anaknya.

__ADS_1


"Kami tidak akan berpangku tangan, nak Winda!" gumam Nimas, "Kami janjikan kebahagiaan untukmu dan anakmu kelak!"


"Bagaimana pun anak itu adalah cucu kami, dan kamu adalah ibu yang akan melahirkannya!" imbuh Ethan, "Kami tak akan pernah membiarkan kalian hidup menderita dan dihina!"


****


"Apa kamu mau berenang?!" tanya Arion, saat mereka sedang makan malam bersama.


Karena suasana canggung yang tercipta diantara mereka berdua. Arion yang sudah tidak tahan, berusaha untuk memperbaikinya dengan segala cara.


Akhirnya setelah bertanya pada sang pakar, sahabatnya. Ia mendapatkan ide untuk mengajak Luna berenang.


Ia berniat membuat senyum di bibir Luna kembali merekah.


"Boleh!" sahut Luna singkat. Luna juga merasa sumpek hanya berdiam diri di kamar dan membaca novel perselingkuhan.


"Kamu mau berenang di pantai atau di kolam renang villa ini?!" tanya Arion.


"Mas maunya dimana?!" Luna balik bertanya.


"Di pantai mungkin lebih asyik kan?!" ujar Arion menyarankan. Ia tak ada maksud lain menyarankan untuk berenang di pantai pada Luna.


Arion hanya berpikir, berenang dan berinteraksi dengan banyak orang akan lebih menyenangkan daripada hanya berdua.


Namun pikiran Arion dan Luna segera berubah keesokan harinya. Tepat di saat mereka akan berangkat ke pantai.


Luna yang mencari baju renangnya, kebingungan. Karena hanya ada satu baju renang yang ia temukan di kopernya.


Dan itu adalah baju renang yang pernah dihadiahkan oleh mantan kekasihnya dari Paris.


Baju renang model bik ini yang sangat terbuka!! Dengan atasan string triangle dan bawahan rok mini yang super se ksi. Sehingga Luna tak pernah mau menggunakannya.


'Kenapa ini ada disini?!' batin Luna. Seingatnya, Luna telah membuangnya!


Tapi kemudian ia kembali mengingat, bahwa salah satu temannya menginginkannya.


Ia berniat memberikannya pada temannya itu, ketika menghadiri Paris Fashion Week bersama. Ia pasti memasukkannya ke kopernya agar tidak lupa!!


'Apa yang harus aku lakukan?!' batin Luna. 'Tak ada baju renang lain, apa aku coba pakai dulu?!'

__ADS_1


Mencoba untuk mengenakannya dan menilainya nanti, apa pantas digunakan atau tidak. Luna berusaha menggunakan bikini super se ksi itu.


Luna yang melihat dirinya sendiri saja terpaku, bagaimana dengan orang lain?!


'Sepertinya aku tidak mungkin menggunakannya!' pikir Luna.


Ia kemudian mengobrak-abrik kopernya lagi, berusaha mencari pakaian yang bisa dijadikan alternatif pengganti.


Tergesa, Luna tak mengganti bajunya. Ia asyik menggali kopernya kembali. Berusaha menemukan baju lainnya.


Luna tak menyangka bahwa Arion yang ingin mengecek keadaan istrinya, akan masuk ke dalam kamar.


"Luna, apa kamu sudah siap?!" tanya Arion. Ia masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Ia yang tadinya menunduk, segera tersentak saat melihat penampilan Luna di depannya.


Luna yang terkejut segera menutup tubuhnya dengan panik. Namun entah seperti apa ia berusaha melakukannya, seluruh tubuhnya terekspos sempurna.


Arion termangu sesaat, ia hanya bisa menganga lebar dan menatap istrinya tanpa berkedip.


Namun saat ia sadar, ia langsung membalikkan tubuhnya.


"A-apa.. apa kamu akan menggunakan itu?!" tanya Arion gagap, sembari berusaha mengontrol detak jantungnya yang tak karuan.


"A-ah.. ti-tidak mas!" sahut Luna. Melihat Arion yang membalikkan badannya, Luna segera menyambar selimut dan menutup tubuhnya.


"Sa-saya tidak menemukan yang lainnya. Jadi saya mencoba untuk memakainya. Tapi sepertinya, ini terlalu terbuka untuk digunakan!" sambung Luna, "S-saya akan menggantinya!"


"Ah- baiklah!" sahut Arion, "Maaf tadi aku tidak sengaja!"


"Tidak apa mas, aku yang salah karena tak mengunci pintu!" sahut Luna kemudian.


"Kamu carilah pakaian yang pas! Aku akan menunggu di bawah!" ucap Arion kemudian.


Setelah mengucapkannya, Arion langsung menutup pintu dan pergi ke bawah.


Dengan suhu tubuh yang melonjak tinggi, ia turun dari anak tangga dengan gusar. Gejolak yang sempat ia rasakan malam itu, kini kembali menyeruak menyebar di tubuhnya dengan ganas.


'Sial!' batin Arion.

__ADS_1


Ia marah pada dirinya yang berpikiran ko tor tentang Luna.


'Bagaimana bisa aku memikirkan Luna dengan cara seperti ini!! Gila!' batin Arion mengumpat pada dirinya sendiri.


__ADS_2