
"Apa?!" Winda kaget saat mendengar desas-desus diantara para staff. "Apa?! Bos kita akan menikah?!"
Firman mengangguk. Ia tak sengaja mendengar percakapan Bryan tadi di lobi.
"Ah! Kamu salah denger kali!" ucap Winda. Ia tak percaya pada perkataan Firman. Wanita waras mana yang mau menikahi pria yang telah t*dur dengan wanita lain?! Apalagi wanita itu selevel Luna!!
Mudah bagi Luna untuk mendapatkan seorang pria, untuk apa ia tetap mempertahankan pria yang telah menyakitinya???
"Tidak! Aku tak mungkin salah dengar!" Firman yakin, "Bos memang bilang begitu kok! Aku dengar-dengar dia akan menikah sekitar sebulan lagi!"
Winda mengernyit. Tubuhnya seketika meremang.
"Tidak mungkin!" gumamnya.
Firman heran. Ia tak mengerti kenapa Winda tiba-tiba bersikap seperti seorang wanita yang mendengar kekasihnya, akan menikah dengan perempuan lain.
"Kenapa tidak mungkin?!" tanya Firman.
Alih-alih menjawab, Winda berlari menuju ke ruangan bosnya itu. Tanpa mengatakan sepatah katapun pada Firman.
Firman yang bingung, hanya menatap punggung Winda yang berlari menjauh.
Tanpa mengetuk pintu atau permisi, Winda langsung menerobos masuk.
"Apa benar kamu akan menikah?!" tanya Winda.
Bryan yang kaget, sempat terpaku sejenak melihat tingkah tak sopan Winda.
"Apa ini?! Kenapa tidak sopan begini?!" ujar Bryan. Ia menatap dingin pada Winda yang berdiri di depannya.
Winda langsung gelagapan. Ia lupa bahwa hubungan mereka telah berubah. Sebelumnya, Bryan tak pernah memprotes tingkahnya yang seperti itu.
"Ma-maaf!" ujarnya kemudian.
Bryan mendengus kesal. Kemudian kembali memeriksa pekerjaannya, ia mengecek beberapa berkas di atas mejanya.
"Ng.. itu.. apa kamu benar-benar akan menikah?!" tanya Winda kemudian. Ia tak bisa mengendalikan rasa penasarannya. Sehingga langsung bertanya. Padahal ia tahu Bryan pasti enggan untuk menjawabnya.
"Tidak ada hubungannya dengan kamu, mau saya menikah atau tidak!" ujar Bryan ketus.
Seperti dugaannya, Bryan memang pelit bicara jika terkait dengan hubungannya dan Luna.
"Tidak ada hubungannya?!" Winda mengernyit, "Kalau kamu menikah, bagaimana denganku?!"
"Apa maksudmu?!" alih-alih menjawab, Bryan balik bertanya.
"Apa yang kita lakukan waktu itu, apa kau tidak merasa bersalah pada Luna?! Apa kau membohonginya?!" Winda memasang wajah memelas, "Apa kau bisa menikahinya padahal sudah menghianatinya?!"
Jleb!!!
__ADS_1
Seolah sebuah panah menancap di jantungnya, Bryan merasa tertohok dengan ucapan Winda. Seketika ia merasa kesal.
"Aku sudah bilang padamu, apapun yang terjadi padaku dan Luna..itu tak ada hubungannya denganmu!" Bryan mendengus kesal. "Aku sudah memberikan apapun yang kau mau! Tak peduli apapun yang kau lakukan, aku tak pernah ikut campur! Aku mohon kau juga begitu!"
"Tapi...!!!" Winda hendak mengatakan sesuatu, namun Bryan memotongnya.
"Ingat saja kesepakatan kita waktu itu!!!"
****
"Jadi begitu..." desah Arion.
Dominic kaget. Ia heran melihat ekspresi lesu Arion, saat mendengar kabar bahwa Bryan akan menikah dengan kekasihnya.
"Apa kau menyukai Luna?!" tanya Dominic.
Arion menunduk. Ia tak menjawab Dominic. Namun sikap Arion yang seperti itu adalah jawaban yang sesungguhnya bagi Dominic.
Ia tahu benar, jika perkataannya salah, pasti anaknya akan berteriak lantang dan membantah. Tapi ini?! Arion hanya diam.
Berarti benar, anaknya telah jatuh cinta pada calon istri sepupunya.
Sejak kecil, Arion dan Bryan menyukai hal yang sama. Entah itu barang-barang seperti keperluan pribadi, aksesoris, baju, mainan. Mereka memiliki selera yang sama.
Sebelumnya, Dominic sempat memikirkan hal itu. Ia takut jika sewaktu-waktu Arion menyukai wanita yang sama dengan Bryan.
Namun ia selalu menepisnya. Ia berkata pada dirinya bahwa itu tak mungkin terjadi. Tapi sekarang itu malah benar-benar terjadi.
Arion mendengus, ia terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab. "Dia wanita yang aku katakan, pa!"
"Malaikat dari Paris!" sambung Arion.
Mendengarnya, Dominic semakin terkejut.
Ia tahu, perasaan apa yang dimiliki oleh Arion untuk 'malaikat dari Paris' nya itu.
Setelah ia diselingkuhi oleh kekasihnya, Arion bertemu dengan gadis cantik yang tak ia ketahui namanya itu.
Arion sangat menyukai wanita itu, ia hampir terbang kembali ke Paris hanya untuk menemuinya. Namun Dominic membujuk putranya untuk fokus pada pendidikannya terlebih dulu. Dan bertemu dengan wanita itu di lain waktu.
Namun saat Arion kembali kesana, ia tak menemukan wanita itu lagi.
Awalnya Arion berpikir bahwa ia dan wanita itu tak ditakdirkan bersama, sehingga tak memiliki kesempatan untuk bertemu. Tapi ternyata, nasib mempermainkan mereka. Malaikat dari Paris nya itu, datang sebagai kekasih sepupunya sendiri.
'Malang sekali nasibmu!' batin Dominic sendu.
"Kau tahu...terkadang cinta tak perlu memiliki!" ucap Dominic, "Tingkatan tertinggi dari cinta itu adalah mengikhlaskan! Kau harus bisa bahagia saat melihatnya bahagia!"
Dheg!!
__ADS_1
Kata-kata ayahnya seolah menusuk jantung Arion. Sakit tapi tak berdarah.
Ia tahu, kebahagiaan Luna adalah Bryan. Dan bukan dirinya. Ia juga awalnya ingin ikhlas. Tapi karena akhir-akhir ini mereka menjadi lebih dekat, hatinya menjadi semakin serakah.
"Iya pa..." sahut Arion kemudian.
Sementara itu, di sisi lain. Luna yang digadang-gadang akan menikahi Bryan merasa amat sangat resah.
Entah kenapa ia merasa ada yang salah!! Firasatnya berkata, pernikahannya hanya akan menjadi petaka.
Sebelumnya, Luna tak ingin tahu tentang wanita yang dit*d*RI Bryan. Namun sekarang, tiba-tiba saja ia penasaran. Namun ia malas bertanya pada Bryan, ia tak ingin menjalin komunikasi dengan pria itu untuk beberapa waktu. Setidaknya sampai hari pernikahan mereka tiba.
Luna benar-benar ingin menjauhinya dulu!!
Luna merasa sangat penat, kepalanya dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif terkait pernikahannya.
Tanpa ia sadari, ia melaju ke tempat yang tak pernah ia bayangkan.
Itu adalah rumah sakit Bima Sakti, tempat dimana Arion bekerja.
Luna tersentak kaget, saat menyadari apa yang ia lakukan.
'Kenapa aku kesini?!' batinnya.
Ia berjanji pada dirinya sendiri, akan membuatkan dessert yang disukai oleh Arion tempo hari. Namun mengetahui penghianatan Bryan terhadapnya, membuat Luna melupakan niat awalnya.
"Ha..." Luna menghela nafas.
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benaknya, 'Apakah bibirnya masih sakit?! Apa dia sudah sembuh?! Dia sedang apa sekarang?!'
Memandang lantai atas dimana ruangan Arion berada, Luna terus saja memikirkan Arion. Wajahnya yang meringis kesakitan, terbayang-bayang di benak Luna. Ia ingin turun untuk menemui Arion. Tapi Luna segera mengurungkan niatnya.
Ia tak mau membuat masalah untuk Arion lagi. Kata-kata Arion benar, kebersamaan mereka terlihat ganjil. Dan bisa membuat kesalah pahaman.
Sejenak, Luna hanya termenung di dalam mobilnya hingga ia berniat untuk berbalik dan pergi meninggalkan pelataran rumah sakit.
Namun kemudian, netranya menangkap sosok pria yang sangat dikenalnya.
Mengenakan jubah putih khas seorang dokter, pria tampan dengan tubuh tegap itu berjalan beriringan dengan seorang wanita cantik, yang juga mengenakan setelan jas yang serupa.
Terlihat sangat serasi, mereka bercanda dan tertawa setiap kali kaki mereka melangkah.
Saat itu, Luna baru mengingat ucapan Bryan tempo hari, mengenai Arion yang telah memiliki kekasih.
"Ah... pacarnya ya!" gumam Luna.
Sekilas, hati Luna terasa perih. Entah kenapa ia merasa ada yang mengganjal. Namun ia tidak mempedulikannya. Itu mungkin hanya karena ia memikirkan pernikahannya.
'Bukan apa-apa!' batin Luna.
__ADS_1
Setidaknya Arion sudah terlihat baik-baik saja. Bahkan bisa tertawa dan bercanda!
****