
Setelah acara pemberkatan di pagi hari, ada acara resepsi yang dilakukan di malam hari.
Pesta pernikahan Winda dan Bryan memang tak semeriah yang disiapkan oleh keluarga Bradley saat pernikahan Luna. Namun untuk acara yang disiapkan dalam waktu seminggu, ini adalah acara yang cukup megah.
Winda mengundang hampir seluruh teman SMA-nya, namun hanya beberapa orang yang hadir di pestanya. Bukannya tanpa alasan, namun itu semua karena skandal yang terjadi padanya sebelumnya.
Teman-temannya seketika memutuskan hubungan dengannya. Sehingga tak ada yang menemaninya di dalam ruang tunggu.
Winda mendengus kesal. Ia seperti tak memiliki teman!!!
Luna yang kebetulan hadir bersama dengan Arion, merasa bersimpati pada Winda. Sehingga ia menemui sahabatnya itu.
Meski sebelumnya, Luna sempat merasa marah dan kecewa pada Winda dan Bryan. Namun sekarang Luna menyadari bahwa Winda juga adalah korban. Winda tidak melakukannya dengan sengaja. Itu karena Bryan yang memaksanya!!
"Hai Win!!" sapa Luna saat ia memasuki ruang pengantin wanita.
Winda yang tengah tercenung masam, kaget dibuatnya. Ia tidak menyangka Luna akan mengunjunginya.
"Ha-hai!!" sapa Winda gagap. Ia merasa ledakan bersalah di hatinya membuncah saat melihat wajah Luna.
'Tidak! Tidak! Kenapa aku harus gugup!?' ucap Winda di dalam hatinya.
"Kamu sendirian?Mau aku temani?!" tanya Luna ramah.
"A-ah.. i-iya.." sahut Winda canggung.
Melihat sikap canggung Winda, Luna pun menyunggingkan senyum.
"Win.. apa kamu memikirkan yang waktu itu?!" tanya Luna, "Sudahlah.. itu hanya masa lalu!"
Winda tersentak. Hatinya berdengup dengan kencang mendengar ucapan Luna.
"Tidak perlu dipikirkan! Lagipula kamu hanya korban!" ucap Luna tulus, "Mungkin mas Bryan dan aku tidak berjodoh, mungkin jodoh mas Bryan adalah kamu!"
Mendengar ucapan tulus Luna, hati Winda yang tadinya kukuh mendadak goyah.
Winda memang iri terhadap Luna, ia selalu menginginkan barang-barang milik Luna, Winda ingin hidup seperti Luna. Makanya ia berusaha mengambil Bryan yang merupakan 'milik Luna' yang menurutnya sempurna.
Namun Winda juga masih memiliki hati nurani. Ia masih memilki secuil rasa bersalah di relung hatinya. Apalagi selama hidupnya, hanya Luna yang terus bersikap baik padanya, meski beberapa kali Winda telah berlaku buruk.
"Aku minta maaf..." gumam Winda. Tulus ia mengatakannya. Air matanya hampir luruh.
"Jangan menangis, nanti make up kamu luntur!" goda Luna.
Winda mengangguk, menelan air matanya yang hampir tumpah.
__ADS_1
Tepat di saat itulah, Winda dipanggil untuk keluar ruangan. Dan menuju ke panggung.
Luna pun mengantar sahabatnya itu dengan hati yang ikhlas.
Bohong, jika ia bilang tak ada perasaan yang tersisa darinya untuk Bryan. Namun perasaan yang ia miliki pada Bryan saat ini bukanlah cinta, melainkan rasa kecewa.
Meski ia sudah tak peduli lagi pada Bryan, namun ia tak bisa bersikap seperti sebelumnya. Luna merasa sangat canggung setiap kali melihat Bryan.
"Lihat aku, sayang..." bisik seseorang di sebelah Luna.
Saat Luna menoleh, ia melihat wajah tampan Arion di sampingnya.
"Aku cemburu kamu hanya melihat kearahnya!" bisik Arion menggoda Luna.
Meskipun kata-katanya seperti sedang bercanda. Namun Arion memang merasa amat cemburu. Ia kesal melihat Luna menatap ke arah Bryan dan Winda. Seolah-olah Luna masih memiliki perasaan pada Bryan. Padahal hubungan mereka sekarang sedang hangat-hangatnya.
"Benarkah?!" Luna balas berbisik. "Aku juga cemburu melihat mas terus dilirik oleh gadis-gadis disana!"
Luna mengerling ke arah gadis-gadis yang sejak tadi terus berbisik dan menatap Arion.
Menoleh ke arah yang diperhatikan oleh istrinya, Arion mengernyit "Siapa mereka?!"
Luna mengedikkan bahunya, ia tidak tahu siapa gadis-gadis itu. Namun ia merasa kesal karena mereka terus menatap Arion dengan mata yang berbinar-binar, "Yang pasti aku tidak suka mas diperhatikan oleh wanita lain! Aku ini benar-benar pencemburu tahu!"
Luna memang sangat pencemburu!! Ia tipe yang posesif jika ia sudah jatuh cinta.
Padahal sudah tahu ada Luna di sisi Arion, masih saja ada yang berani melirik suaminya.
"Sepertinya aku akan sangat kesulitan! Kenapa mas berpenampilan rapi dan tampan hari ini?!" sentak Luna. "Besok-besok kalau datang ke acara begini jangan pakai baju bagus, jangan dandan!"
Mendengar perkataan Luna, Arion terkekeh. Ia merengkuh pinggang istrinya kemudian memeluknya mesra.
"Baiklah.. kamu juga ya..!" bisiknya. Ia kemudian menge cup leher jenjang Luna yang terbuka.
Wajah Luna langsung memerah dibuatnya.
"Mas, malu tahu! Jangan disini!" bisik Luna.
"Tidak apa! Tidak ada yang sadar juga!" Arion balas berbisik.
Namun berbeda dari bayangan Arion yang mengira tak ada orang melihat aksinya, ada banyak orang yang kaget, kecewa dan marah saat melihat tingkah Arion yang bucin pada Luna.
Para gadis yang sejak tadi menargetkan Arion, langsung tersentak kaget dan kecewa, saat melihat pria incaran mereka bertingkah semesra itu pada wanita lain.
Begitu juga dengan beberapa pria yang sejak tadi berharap dekat dengan Luna. Mereka langsung memalingkan wajah karena tahu tak memiliki kesempatan lagi.
__ADS_1
Sedangkan satu orang yang tengah berdiri di atas panggung, sedang sangat marah memperhatikan dua orang itu dari jauh.
Sejak Luna dan Arion masuk ke dalam aula pesta, netra Bryan tak pernah lepas dari sosok Luna.
Ia melihat dari awal, bagaimana kedua orang itu saling menggoda, berbisik mesra sembari menyeringai dan akhirnya berpelukan hingga Arion menge cup leher Luna.
Semua yang terjadi diantara keduanya, terekam jelas di benak Bryan. Hingga membuat amarahnya membuncah seketika.
"Mas!" bisik Winda, "Senyum dong! Jangan kaku!"
"A-ah.. i-iya..." sahut Bryan gagap.
Sementara dua orang itu tengah bermesraan, dirinya malah harus berpura-pura bahagia. Bagaimana Bryan tak merasa menderita!!?
"Mas! Ci um aku!" bisik Bryan.
"Apa?!" Bryan kaget.
"Ci um aku!" titah Winda. "Kita akan membuat foto!"
Bryan mendengus kesal. Mungkin pura-pura baik masih bisa ia lakukan, namun kontak fisik?! Tidak!! Bryan tak merasa bisa melakukannya.
"Aduh!!" pekik Bryan tiba-tiba. Ia memegang perutnya dan meringis kesakitan.
"Mas, kamu kenapa?!" tanya Winda panik.
"Se-sepertinya perutku sakit!" keluh Bryan.
"Apa?! Bagaimana bisa?!" tanya Winda kaget.
"Ah, aku ke toilet dulu ya!" ujar Bryan sembari ngibrit kabur dari sisi pengantinnya.
****
Bersembunyi di dalam bilik toilet. Bryan bermandikan keringat memikirkan hal yang telah ia lupakan!!
Ia sekarang menikah, dan setelah pernikahan akan ada malam pertama!!
'Ah! S*Al, kenapa aku lupa!!' batin Bryan.
Bryan tak bisa terang-terangan menolak malam pertama dengan Winda. Karena ia sekarang bersandiwara telah menerima dan mencintai Winda.
Tapi ia juga tidak mau menghabiskan ma lam pertama dengan Winda.
Setelah apa yang dilakukan Winda padanya, melihat wajah Winda saja sudah menjadi siksa batin untuknya. Apalagi untuk ti dur bersama.
__ADS_1
"Aku harus apa sekarang?!" gumam Bryan kebingungan.