
Di setiap mata memandang, bunga-bunga yang cantik dan indah berjejer. Menghiasi setiap sudut ruangan, pita-pita mewah berwarna putih tertata dengan rapi.
Berdiri di tengah-tengah, sebuah panggung megah yang di desain dengan mewah tegak dengan kokoh. Namun mempelai pria yang seharusnya berdiri disana, menghilang tak tau dimana rimbanya.
Seluruh tamu undangan mulai berbisik!! Sudah lewat dari waktu yang ditentukan, namun pernikahan tak kunjung dimulai juga.
"Dimana Bryan?!" tanya Nimas pada suaminya.
Ethan menggeleng bingung, ia juga tak tahu dimana anaknya itu berada. Tadi, Bryan duduk di ruang tunggu dengan santai. Namun sesaat sebelum acara dimulai, Bryan menghilang begitu saja.
Tapi bukan hanya Bryan yang menghilang, Luna yang tadinya berada di ruang tunggu pengantin wanita juga sirna bak di telan bumi.
"Apa ini rencana mereka?!" Felicia berbisik. "Bagaimana mungkin mereka menghilang bersamaan seperti ini?!"
Adrian menggeleng. Ia yakin adiknya tak seperti itu! Tak mungkin Kaluna Levronka mempermalukan keluarganya dengan cara seperti ini. Ia mengenal adiknya dengan baik.
Keyakinan Adrian bukanlah keyakinan kosong semata. Karena memang benar, adiknya tak akan pernah mempermalukan keluarganya apapun yang terjadi. Namun itu berbeda dengan Bryan.
Sepuluh menit sebelum acara dimulai, Luna mendapat pesan penting dari Winda, mengenai kebenaran tentang Bryan. Dan Bryan juga mendapat pesan yang berisikan ancaman dari Winda. Winda memaksa Bryan untuk datang, jika tak ingin semua rahasia mereka di bongkar di depan Luna.
Winda mengajak kedua pengantin itu bertemu di parkiran bawah tanah hotel, tempat dimana pernikahan mereka dilaksanakan.
Saat Luna muncul, Winda langsung mengungkapkan kebenaran yang mengejutkan dan menghancurkan hati Luna berkeping-keping.
Menggenggam secarik kertas putih di tangan kanannya, Winda berdiri dengan murung. Menatap Luna yang berjalan ke arahnya dengan sendu.
"Aku minta maaf Luna!!" ucap Winda, ia menunduk lesu. "Aku tidak ingin mengatakan hal ini.. tapi...aku hamil!!"
Luna mengernyit, "Apa maksudmu?!"
"Aku hamil...aku hamil anak mas Bryan!!" ucap Winda lantang.
Linglung, Luna seolah tak memahami apa yang disebutkan oleh sahabatnya itu.
"Kau apa?!" tanya Luna bingung. Tak mempercayai pendengarannya.
"Aku hamil.. aku hamil anak mas Bryan!!" tegas Winda. Seraya menunjuk ke arah Bryan yang baru saja muncul.
Bryan yang mendengar dengan jelas ucapan Winda, terkesiap.
Apalagi Luna, ia terhuyung beberapa langkah ke belakang saking syocknya.
"B-bagaimana kau bisa...?!" terbata-bata, Luna bertanya, "Kenapa...?!"
__ADS_1
"Benar Luna, wanita itu adalah aku..." ucap Winda, "Wanita yang bersama mas Bryan itu aku!!"
Mendengar pengakuan Winda, ia merasa dihantam oleh palu gada. Tubuhnya terasa kebas seketika.
Air mata menitik membasahi pipinya. Rasa sakit yang teramat sangat mengalir di dadanya. Jauh lebih perih dari beberapa waktu lalu, saat mengetahui Bryan telah menghianatinya.
"Bohong!!!!" sergah Bryan, "Bagaimana mungkin kamu hamil?!"
"Bagaimana mungkin hamil?!" Winda mendelik marah. Ia melempar kertas putih di tangannya ke arah Bryan.
Bryan mengambilnya dengan kasar. Saat ia melihat isinya, ia segera terpaku mengetahui itu adalah keterangan dokter yang menyebut bahwa Winda hamil.
Dari keterangan yang ada, usia kandungan Winda cocok dengan saat mereka tanpa sengaja berhu bungan.
"Apa kau sudah melihatnya mas?!" lirih Winda berteriak, "Apa usianya cocok dengan waktu kamu meni duriku mas?!"
"T-tapi ini tidak.. ini bukan berarti dia bayiku!!" elak Bryan.
"Bukan bayimu?!" dengan penuh emosi, Winda membentak, "Bagaimana bisa kau mengucapkan hal itu?! Aku tak berhu bungan dengan siapapun!! Aku hanya melakukan nya denganmu!! Bagaimana bisa kau meragukanku?!"
"Si-siapa tahu!! Aku tidak tahu, pria mana saja yang pernah kau ti duri—!!"
Plakkkk!!!
Dengan air mata yang meleleh, ia menatap ganas pada pria yang akan menjadi suaminya itu.
Bertepatan dengan itu, kedua keluarga yang tengah mencari mereka juga muncul. Setelah mengecek rekaman cctv, mereka mengetahui bahwa Luna dan Bryan pergi ke parkiran bawah tanah.
"Apa yang terjadi ini?!" Nimas yang melihat putranya ditampar kemudian histeris, "Kenapa kamu memukul Bryan, Luna?!"
****
"Nikahilah Luna, Arion!!!" bagai sebuah dekrit yang dikeluarkan dari seorang raja, ucapan Max tak bisa ditolak.
Sebuah perintah serupa pun muncul dari mulut Irwan untuk cucunya.
"Kakek mohon, menikahlah dengan Arion!"
Setelah mengetahui Winda hamil anak Bryan, kedua keluarga besar jatuh ke dalam keterpurukan.
Pernikahan sudah di depan mata, namun tiba-tiba seorang wanita muncul dan mengaku hamil anak dari mempelai pria. Bagaimana mungkin pernikahan itu tidak kacau?!
Tak ada pilihan lain. Jika mereka kembali membatalkan pernikahan seperti sebelumnya, mereka akan menanggung malu seumur hidup mereka.
__ADS_1
"Tidak!!!" sergah Bryan, "Aku akan tetap menikahi Luna!!!"
"Diam kau!!!!" bentak Max. Ia sangat marah, emosinya membuncah!
"Kau tidak pantas untuk Luna!! Berani kau bicara lagi, aku akan langsung membunuhmu sekarang juga!!!" sergah Max geram.
"Tapi kek... aku.. aku yang mencintai Luna!!" Bryan berteriak, "Bagaimana bisa kakek menyuruhnya menikah dengan Arion?!"
"Jika kau mencintainya, kenapa kau bisa menghamili wanita lainnya?!" teriak Max murka.
"Itu kesalahan kek!!" ujar Bryan, "Aku tidak sadar... aku bahkan tidak ingat!!"
Buakhgg!!!!
Tinju yang sangat kuat menghantam wajah Bryan begitu kata-katanya berakhir. Adrian yang sudah naik pitam sejak tadi, akhirnya meledak juga.
Ia hendak menghajar Bryan lagi, namun sayangnya tubuhnya dikunci oleh Arion dan Darian.
"Lepaskan aku!!" ronta Adrian, "Aku ingin membunuhnya!! Lepas!!"
"Tenang dulu bang!" Arion berusaha menenangkan Adrian yang seolah kesetanan.
"Luna tidak akan menikah denganmu!!" geram Adrian, "Sampai mati pun, aku tak akan membiarkanmu menikahi adikku!! Cam kan itu!!"
Adrian melemparkan pandangan maut pada Bryan yang tengah kesakitan, memegang hidungnya yang kini telah mengeluarkan darah.
"Kakek mohon Arion...tolong nikahi Luna!" pinta Max, ia memegang bahu cucunya dengan lembut.
Ini kali pertamanya memohon pada seseorang, dan itu bahkan ia lakukan pada cucunya yang telah ia abaikan.
Meski kakeknya tidak memohon, Arion akan dengan senang hati melakukannya. Sejak kakeknya mengungkapkan gagasan untuk menikahkannya dengan Luna, hati Arion sudah berdebar kencang.
Namun saat ia melihat ekspresi kosong Luna, hati Arion langsung mencelos.
Menatap Luna yang tercenung di sebelah ibunya, Arion pun berkata.
"Itu terserah Luna, apakah dia mau menikah denganku atau tidak?!" tanya Arion.
Luna terperanjat, menatap Arion dalam keheningan.
Bagaimana pun Luna memikirkannya, menikahi Arion adalah pilihan yang paling tepat yang bisa ia lakukan sekarang ini.
Jika mereka berdua menikah, mereka akan menyelamatkan kedua keluarga mereka dari rasa malu yang tak terhingga. Luna dan Arion adalah keturunan dari kedua keluarga, yang berarti perjodohan diantara kedua keluarga yang turun temurun sudah terlaksana. Dan tak akan terulang lagi untuk selamanya.
__ADS_1
"Aku mau menikah dengan mas Arion!" ujar Luna mantap.