Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 23


__ADS_3

Setelah menghubungi Rizal, dan bertanya mengenai kecelakaan yang mungkin terjadi di jalan. Arion akhirnya merasa lega karena Rizal menyatakan tak terjadi kecelakaan apapun sejak kemarin malam.


Setidaknya, Arion merasa senang mengetahui fakta bahwa Bryan tak mengalami kecelakaan. Namun masalahnya, dimana Bryan berada sekarang?!


Kenapa hingga matahari sudah tinggi membumbung di angkasa, sepupunya itu tak memberi kabar?!


"Mas, ayo kita makan dulu!" ajak Luna kemudian. Sejak beberapa jam lalu ia dan Arion mencari Bryan. Sudah pasti Arion yang menyetir selama berjam-jam akan merasa capek.


Luna berinisiatif mengajak Arion beristirahat sembari makan siang.


"Boleh, kamu mau makan apa?!" tanya Arion kemudian.


"Apa aja boleh!" seru Luna, "Mas suka apa?!"


"Kalau bisa, aku ingin makan di tempat dimana kamu membeli dessert yang waktu itu!" ucap Arion.


"Dessert?!" Luna mengernyit bingung.


"Dessert yang beberapa waktu lalu kamu berikan padaku itu, rasanya sangat enak! Aku ingin memakannya lagi!" ucap Arion dengan senyum manis yang tersungging di bibir.


Luna berusaha mengingat, apa yang dimaksud oleh Arion. Wajahnya seketika merona saat mengetahui bahwa yang dimaksud oleh Arion adalah dessert yang ia buat sendiri.


"Apa maksud mas itu...dessert yang aku berikan saat mengembalikan jas-nya mas??" tanya Luna menegaskan.


Arion mengangguk, "Iya, yang itu!! Rasanya sangat enak!"


"Aku ingin memakannya lagi. Tapi aku malu untuk bertanya padamu dimana kamu membelinya!" sambung Arion malu-malu.


"Aku tidak membelinya, aku membuatnya sendiri mas!" sahut Luna sembari tersipu.


****


Setelah meyakinkan Winda, Bryan akhirnya bisa pulang dengan tenang.


Meskipun hatinya masih merasa gundah, ucapan Winda yang berjanji akan merahasiakan semuanya dari orang-orang, sedikit melegakan hati Bryan.


Namun saat ia pulang, Max dan anggota keluarga lainnya yang tengah mencemaskan Bryan, langsung menyerangnya dengan omelan.


"Kemana saja kamu?!!" Teriak Max murka.


Bryan yang baru saja masuk sampai di ruang tengah langsung kaget. Ia terbelalak saat kakeknya menerjang ke arahnya dengan marah.


"A-ada apa ini, kek?!" tanya Bryan gagap.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?! Kenapa kamu tidak memberi kabar?!" Nimas bertanya, "Semuanya cemas kamu menghilang!"


Ethan yang kalut menunggu kedatangan putranya itu, juga menghampiri Bryan dengan marah, "Sebenarnya ada dimana kamu?!"


Bryan yang diberondong oleh pertanyaan kedua orang tuanya pun, kaget! Ia bingung memikirkan alasan yang tepat untuk keluar dari situasi ini.


"I-itu..." gagap Bryan menjawab, "Aku.. aku menginap di rumah temanku!"


"Kau menginap?!" Max membelalak, "Temanmu yang mana?! Semua sudah kakek hubungi dan tak ada yang mengaku bersama denganmu!"


"I-itu.. dia .. dia.." Bryan kebingungan. Hampir semua teman yang dekat dengannya, dikenal oleh orang tuanya. Sehingga mereka akan tahu jika Bryan mengucapkan salah satu nama mereka.


"I-itu.. di tempat..Wi..Wi..Wiro!!" dusta Bryan kemudian.


"Wiro?! Siapa Wiro?!" Ethan mengernyit. Seingatnya, teman dekat anaknya tak ada yang bernama Wiro.


"Teman yang baru aku kenal, pa!!" elak Bryan.


Ethan merasa heran, biasanya jika pergi menginap, Bryan cenderung memilih teman-teman terdekatnya. Bryan jarang mau menginap di tempat teman yang baru dikenalnya.


"Apa?? Teman baru?!" Nimas curiga, "Kok tumben kamu mau menginap di tempat orang yang baru kamu kenal?!"


"Itu.. jadi kemarin..Bryan mabuk. Terus pas mau dianter sama bawahannya Bryan. Bryan malah ketemu sama Wiro. Awalnya Wiro mau ngajakin Bryan pulang, ta-tapi katanya, Bryan meracau gak mau pulang. Jadi diajakin ke kosannya Wiro!"


Meski agak janggal, namun keluarganya tak mempermasalahkan alasan yang disampaikan oleh Bryan. Mereka menerimanya begitu saja.


Sementara Max dan anggota keluarga Bradley yang lain merasa senang atas kepulangannya Bryan, Winda sendiri merasa senang setelah kepergian Bryan dari kosannya.


Ia yang tiba-tiba memiliki banyak uang di rekeningnya, segera bersiap untuk berbelanja dan makan makanan mewah.


Setelah ia putus hubungan dari atasannya yang dulu, sulit untuk Winda mencari 'ATM' baru. Meski ia memiliki kekasih lainnya, namun mereka tidak mampu memberikan Winda uang yang banyak seperti itu.


Mengingat kata-kata Bryan yang akan memenuhi semua keinginannya, Winda merasa senang bukan kepalang. Ia berencana akan memanfaatkan semuanya dengan baik.


Setelah mengganti pakaiannya dengan yang baru, dan berdandan dengan cantik. Winda segera bergegas menuju ke tempat yang paling ia inginkan.


Winda menuju ke sebuah restaurant mahal.


Sejak beberapa bulan ini, ia tak bisa lagi menyantap makanan mewah. Karena uangnya yang terbatas. Namun hari ini, ia bisa memakannya lagi.


Kedepannya, ia yakin akan terus bergelimang kemewahan seperti ini. Selama ia terus menggenggam kaki Bryan.


Namun Winda segera dikagetkan dengan kehadiran seorang gadis yang sangat ia kenal, yang tengah makan siang bersama dengan seorang pria tampan.

__ADS_1


Dari jauh ia melihat keduanya begitu mesra. Sesekali Luna tertawa dan pria itu menatap nya penuh cinta.


"Wah...wah..wah.." decak Winda. "Ternyata Luna gak beda jauh dariku!"


Berpikir bahwa Luna sedang berselingkuh, Winda segera mengeluarkan smartphonenya. Mengambil beberapa gambar candid Luna dan pria itu.


Winda kemudian mengirimkannya pada Bryan. Ia berharap dengan itu, hubungan Bryan dan Luna akan retak. Dan Bryan bisa selamanya jadi miliknya.


Terbayang di benaknya, betapa enaknya menikah dengan seorang tuan muda konglomerat.


Tapi berbeda jauh dari apa yang dipikirkan oleh Winda, Luna dan Arion tidak sedang bermesraan. Mereka hanya menikmati waktu makan siang mereka yang menyenangkan.


"Benarkah?!" tanya Luna. "Jadi mas Arion pernah begitu?!"


Arion mengangguk.


"Tidak mungkin!!" Luna tak percaya. Saat Arion berkata bahwa, ia pernah gemetar hanya karena ada seorang wanita yang mengungkapkan cinta padanya.


"Kenapa?!" tanya Arion, "Apa kamu pikir aku akan menolak mereka dengan kejam?!"


Luna terkekeh, "Sebenarnya aku pikir mas akan mengabaikannya dan pergi begitu saja!"


"Wah.. kejam!" sahut Arion, "Aku tidak sejahat itu!"


"Habis.. wajah mas mengatakan seperti itu!!" ujar Luna jujur.


Arion tertawa, "Apa wajahku terlalu menakutkan?!"


"Bukan menakutkan, tapi lebih ke mengerikan!!" goda Luna kemudian.


"Apa bedanya menakutkan dan mengerikan?!" protes Arion dengan heran.


Luna yang melihat ekspresi heran Arion yang lucu, langsung tertawa terbahak-bahak.


"Tak ada bedanya sih!!" seru Luna.


Melihat Luna tertawa, Arion tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Matanya dengan tulus menatap Luna dengan lembut.


Ingin rasanya ia menghentikan waktu. Selamanya berharap kekal dalam masa-masa itu.


Namun semua itu hanya berubah menjadi pilu, saat Bryan datang beberapa waktu kemudian.


Bryan bergegas menuju ke restaurant, dimana Luna berada. Setelah mendapat kiriman gambar dari Winda.

__ADS_1


Hatinya panas, memikirkan kedekatan Arion dan Luna.


Bryan yang masuk ke dalam restaurant, segera meledak saat melihat keduanya tengah makan dan bersenang-senang. Tanpa mengatakan apapun, Bryan langsung melayangkan tinju. Memukul Arion hingga tersungkur.


__ADS_2