Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 53


__ADS_3

Sementara dua pasang pengantin baru itu berbulan madu di Paris, keluarga mereka di rumah masing-masing merasa cemas.


Terutama Max yang memiliki firasat buruk pada pasangan Bryan dan Winda.


Entah kenapa, ia yakin keduanya akan membuat masalah di Paris!!


Cemas pada dua orang itu, Max menghubungi Arion untuk menanyakan kabar Bryan dan Winda.


"Mereka baik-baik saja kek!" ucap Arion. "Setahuku tidak ada masalah! Tapi mereka tidak bersama kami kek!"


Arion tidak tahu kemana Bryan pergi pagi-pagi, saat ia dan Luna mengunjungi kamar Bryan dan Winda, Bryan sudah pergi. Hanya ada Winda disana.


Ketika Luna mengajaknya pergi bersama, Winda menolak. Katanya ada tempat yang ingin dia tuju.


Sehingga Arion dan Luna bisa menghabiskan waktu berdua. Mengunjungi cafe yang sering mereka kunjungi dahulu.


"Tidak bersama kalian?!" tanya Max di seberang. Ia bingung, apa dia yang salah paham dan terlalu berpikir negatif pada Bryan, atau ada hal besar yang anak itu rencanakan.


'Semoga saja aku yang terlalu berpikiran negatif!' batin Max. Ia berdoa di dalam hatinya, semoga saja Bryan tak memikirkan rencana aneh untuk merusak pernikahan Luna dan Arion.


"Syukurlah kalau dia tidak mengganggumu!" ujar Max, "Bagaimana dengan bulan madu kalian?! Apa berjalan lancar?!"


Mendengar pertanyaan kakeknya, Arion tersipu malu. Kejadian semalam terlintas di benaknya.


"I-itu.. b-baik kek!" sahutnya gagap.


Mendengar jawaban Arion yang gagap, Max di seberang sambungan terkesiap. 'Apa ini?! Kenapa dia gagap?! Apa Arion berbohong?!! Apa ada masalah dengan Luna?!'


Max kemudian memikirkannya lagi. Luna dan Arion tak saling mengenal satu sama lain sebelumnya.


Dirinyalah yang dengan semena-mena memaksa Arion, untuk menikahi Luna begitu saja.


Wajar jika sulit bagi Luna maupun Arion untuk beradaptasi sekarang!!


Max tiba-tiba merasa bersalah. Karena ambisinya, ia memaksa Arion melakukan apa yang ia inginkan. Tanpa peduli dengan perasaan Arion.


Padahal sebelumnya, ia selalu mengabaikan Arion. Tapi Arion begitu berbakti padanya, meski ia meminta secara mendadak. Arion tetap melakukannya.


Hati Max tiba-tiba melunak. Sebelumnya, meski ia sudah menerima Arion dalam keluarganya. Hanya ada Bryan di hatinya sebagai cucu kesayangannya.


Namun sekarang, Max mulai memahaminya. Arion juga pantas untuk ia kasihi sepenuhnya.


"Ehem...!!" Max berdehem, tenggorokannya seolah tercekat menyadari kesalahannya, "Apa uang yang kakek berikan cukup?!"

__ADS_1


"Cukup kek!!" sahut Arion. "Aku dan Luna tidak terlalu banyak berbelanja!"


"Kenapa?!" tanya Max, "Kalau suka sesuatu beli saja! Kalau kau butuh uang, tinggal bilang! Kakek akan mengirimkannya!"


"Tidak kek! Tidak usah!" tolak Arion, "Yang sudah kakek berikan sebelumnya lebih dari cukup!"


"Baiklah! Jika memang begitu.." ucap Max. Ia mendengus pelan. Ia menyadari, meski anak itu menghormati dan berbakti padanya. Arion masih terlalu canggung padanya. Tak seperti Bryan yang manja dan terbiasa meminta ini itu padanya. Arion terkesan menjaga jarak. Tak pernah meminta apapun pada Max.


Maklum, selama puluhan tahun, Max mengabaikannya.


"Tapi kalau kau butuh sesuatu katakan saja pada kakek!" ujar Max kemudian.


"Iya, kek!" sahut Arion.


Sambungan kemudian terputus.


Di dalam hati Max, tiba-tiba ia memiliki dorongan untuk mengubah surat wasiatnya. Bagaimana pun Arion juga cucunya. Meski Max sempat marah pada Dominic dan juga istrinya di masa lalu, namun Arion tak bersalah akan hal itu.


Bagaimana pun Arion adalah darah daging, keturunan keluarga Bradley.


'Kenapa aku begitu keras pada mereka!' lirih Max di dalam hatinya.


Setelah tercenung beberapa saat, Max kemudian menghubungi pengacaranya.


Sementara itu, Luna juga mendapat telepon dari rumah. Dari kakaknya.


Setelah semalam dan tadi pagi, ayah dan ibunya meneleponnya. Kali ini giliran Adrian.


"Bagaimana keadaan mu?!" tanya Adrian. "Apa Arion membuat masalah?!"


"Baik kak! Mas Arion baik kok" sahut Luna, "Kakak bagaimana?!"


Mendengar suara adiknya yang terdengar ceria, hati Adrian merasa lebih lega. Ia memang lebih menyukai Arion ketimbang Bryan. Entah kenapa ia malah merasa lebih senang karena pada akhirnya Luna menikahi Arion.


"Baguslah!" sahut Adrian, "Apa kau senang disana?!"


"Iya kak! Aku sangat senang!" sahut Luna, "Aku sangat merindukan Paris!"


"Syukurlah kalau kau senang!" ujar Adrian. Ia tahu adiknya pasti sangat merindukan Paris. Sudah sangat lama, Luna tinggal disana. Paris sudah seperti rumah kedua baginya.


"Apa Bryan dan istrinya mengganggumu?!" tanya Adrian. Mengetahui dua cecunguk itu ikut bulan madu bersama Luna, Adrian merasa was-was juga.


Wanita normal manapun akan sulit untuk merasa tenang dan nyaman, jika harus berhadapan dengan mantan kekasih dan selingkuhan kekasihnya. Apalagi sekarang mereka liburan bersama.

__ADS_1


Adrian merasa cemas dengan perasan dan tekanan batin yang mungkin tengah dirasakan adiknya.


"Kalau terjadi sesuatu, langsung hubungi aku. Oke?!" ucap Adrian kemudian.


"Iya kak!" sahut Luna. Ia tersenyum mendengar ucapan kakaknya.


****


Di lain tempat, Bryan tengah sibuk mencari seseorang. Ia ingat pernah bertemu dengan wanita itu beberapa kali saat mengunjungi Arion.


Wanita yang Bryan pikir masih menjadi kekasih Arion, Moana Elora. Seorang model papan atas blasteran Indonesia-perancis.


Awalnya Bryan ikut pergi ke Paris untuk membuat Moana dan Arion bertemu. Lalu memberitahu fakta pada Luna, bahwa Arion masih memiliki kekasih yang sangat dicintai. Namun ternyata Arion dan Moana telah putus.


Sepengetahuan Bryan, Arion sangat mencintai Moana. Meski mereka telah berpisah, Bryan yakin Arion masih memiliki perasan yang tertinggal untuk Moana.


Bryan berniat mempertemukan mereka berdua bagaimanapun caranya!!


Menuju ke gedung agensi yang menaungi Moana, Bryan berusaha menemui Moana.


Namun security menghentikan Bryan.


Orang yang tidak memiliki janji, dilarang untuk masuk!!


"Ha!" Bryan merasa begitu kesal. Ingin mengumpat, tapi malas membuat keributan. Akhirnya Bryan pergi begitu saja.


Namun sepertinya, Dewi Fortuna membantunya. Tepat saat ia berbalik untuk pergi. Bryan menabrak seorang gadis yang berlari cepat ke arahnya. Dan menemukan bahwa gadis itu adalah Moana.


"Moana?!" pekik Bryan senang.


"Sepupu Arion..?!!" gumam gadis itu, mengernyit menatap Bryan.


Saat suaminya tengah menyusun rencana untuk merusak pernikahan Luna dan Arion, Winda tengah memikirkan cara untuk bisa menghabiskan uang Bryan dan menjadikannya miliknya.


'Tidak bisa membeli pakaian, tas dan aksesoris. Jadi aku harus apa!?' batin Winda kebingungan.


"Apa aku transfer saja uangnya ke rekeningku?!" gumam Winda kesal. 'Tak usah jaga image-lah! Toh image-ku sudah hancur di depan Bryan!"


Winda kemudian menyusun rencana untuk bisa menguasai smartphone Bryan nanti malam. Agar bisa dengan leluasa mengirim sejumlah uang ke rekeningnya.


Ia memesan layanan kamar, menyiapkan makan malam romantis dan memilih anggur yang kuat. Yang bisa membuat Bryan cepat mabuk dan teler hanya dengan sekali minum.


Gara-gara pergi ke luar negeri, Winda tidak bisa membawa obat-obatan yang kemarin sempat ia berikan pada Bryan. Jika dengan obat itu, ia yakin bisa membuat Bryan melupakan segalanya dalam semalam.

__ADS_1


'Tidak apa! Dengan minum banyak anggur, dia pasti teler juga!' batin Winda yakin.


__ADS_2