Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 57


__ADS_3

"Ayah Mertua lu, Dana Wijaya pernah hampir mati, dia di tusuk berkali-kali dengan pecahan botol mi ras oleh seseorang!" ucap Damien.


"Apa?! Siapa pelakunya?!" kaget, Bryan bertanya.


"Jangan bilang..." Tirta mengira pelakunya adalah Winda.


"Dalia, ibu Winda!! Istrinya sendiri!" ucap Damien.


Damien kemudian menceritakan apa yang ia temukan di kampung halaman Winda. Penduduk setempat terutama tetangga mereka. Sebagian besar merasa prihatin pada keadaan keluarga Winda itu.


Meski perbuatan Dalia bukanlah perbuatan yang baik, tapi sebagian besar memaklumi perbuatan Dalia tersebut. Mengingat semua pele cehan dan kekerasan yang dilakukan Dana terhadap istri dan anaknya. Wajar jika Dalia merasa marah dan kalap.


"Menurut informasi yang gua dengar, alasan kenapa mereka hidup berpindah-pindah karena Dana memeras mereka, mengancam akan melaporkan Dalia pada pihak berwajib jika tak memberikan uang!" ujar Damien. "Orang-orang yang gue sewa sudah menemukan Dana. Dia memiliki bukti yang dapat menjerat istrinya itu untuk masuk ke dalam penjara!"


"Gue rasa, lu bisa ancam istri lu itu dengan hal ini, Bri!"


"Ah~" Tirta mengangguk-angguk senang mendengar ucapan Damien. "Lu bisa ancam Winda, kalau dia gak mau cerai dan jujur soal dia yang jebak elu! Elu ancem dia buat bikin emaknya di penjara!"


Bryan mengangguk setuju, ia pun menerbitkan senyum cemerlangnya. Ia benar-benar senang!! Hari ini semua berjalan dengan baik.


Kesepakatan dengan Moana untuk menghancurkan hubungan Luna dan Arion. Juga penyelidikan terkait dengan Winda.


Bryan tak menyangka bahwa Winda dan ibunya menyimpan rahasia besar, yang bisa menjadi pukulan kuat untuk melepaskan Bryan dari belenggu Winda. Bryan yakin setelah ini, ia bisa lepas dari Winda dan merebut Luna kembali dari tangan Arion.


****


Setelah beberapa hari berselang, dua pasang pengantin baru itu kembali pulang.


Hubungan antara Luna dan Arion tidak berubah. Meski sempat bertemu dengan Moana dan menyadari fakta lain tentang masa lalu mereka. Luna dan Arion masih begitu saling mencintai, sehingga tak terpengaruh sedikitpun akan hal tersebut.


Mereka tetap terlihat harmonis, bahkan lebih mesra dari sebelumnya.


Setelah malam pertama mereka yang indah di Paris, malam-malam lainnya menjadi begitu bergelora untuk keduanya. Hingga berdampak pada hubungan sehari-hari mereka yang semakin manis.


"Sayang, kapan datang?!" tanya Arion di seberang sambungan. Ia merengek meminta istrinya untuk menemuinya di rumah sakit segera.

__ADS_1


Padahal baru beberapa jam yang lalu berpisah, tapi Arion sudah sangat merindukan istrinya. Jika saja ia bisa memasukkan istrinya itu ke dalam kantongnya, ia akan membawa istrinya kemana pun ia pergi.


"Sebentar, mas!" sahut Luna. Ia akan mengantarkan makan siang untuk suami dan mertuanya. "Ini mau jalan!"


"Hati-hati ya sayang!" ujar Arion. Senyum tersungging di bibir pria itu. Memikirkan istrinya yang akan datang mengunjunginya.


"Nanti langsung masuk ke dalam ya sayang! Pintunya tidak terkunci!" ucap Arion, "Mas mau cek pasien dulu!"


Ruangan Arion biasanya selalu terkunci jika ditinggalkan olehnya. Namun akhir-akhir ini, ia tak pernah melakukannya. Karena sekarang, ada istrinya yang selalu datang dan menunggu di ruangannya.


Tak ada orang yang berani masuk ke dalam ruangan Arion, kecuali Zahir dan satu perawat yang memang bertugas untuk membantunya.


Namun hari ini, saat Luna masuk ke dalam ruangan suaminya. Ia bertemu dengan seorang wanita yang sudah menunggu Arion disana.


'Moana?!' batin Luna kaget.


Wanita itu duduk di sofa, menghadap ke arah pintu. Ia menyapa Luna dengan seringai lebar.


"Sepertinya .. kau begitu ketakutan ditinggal oleh suamimu! Sampai-sampai kau menyambanginya di tempat kerja!" cibir Moana.


Luna tersentak kaget. Namun kemudian ia mendengus pelan. Duduk di depan Moana, Luna meletakkan wadah bekalnya di meja. Lalu berkata, "Sepertinya kau begitu terobsesi pada suami orang, sampai-sampai mengunjungi tempat kerjanya seperti ini!"


"Kenapa kau datang kesini?!" tanya Luna kemudian. Mengabaikan tatapan menusuk dari Moana.


"Bukan urusanmu!!" sentak Moana. "Aku kesini menemui Arion! Bukan kau!"


Luna mengangguk mengerti, kemudian tak bertanya lagi. Ia malas mengatakan sepatah katapun pada Moana. Ia yakin, suaminya juga akan mengusir Moana setelah melihatnya.


Namun berbeda dengan Luna yang mengabaikan Moana, Moana sendiri sedang memperhatikan Luna lekat-lekat di depannya.


Penampilan Luna, berbanding terbalik dengan dirinya. Mengenakan dress bermotif bunga, wanita itu terlihat sangat segar. Rambutnya yang Sepinggang digerai begitu saja, membuatnya terlihat sangat polos. Make up tipis di wajahnya menggetarkan nuansa yang elegan. Dia terlihat sangat cantik, hingga membuat Moana merasa jengkel.


'Apa seperti ini tipe kesukaan Arion?!' batin Moana. Ia melirik Luna dari atas ke bawah.


Selama bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Moana, Arion tak pernah protes akan penampilan Moana. Yang memang lebih suka menggunakan pakaian yang se ksi dan menggunakan make up yang tebal.

__ADS_1


"Sayang!!" tiba-tiba suara Arion menggema, memenuhi ruangan. Pria itu masuk dengan riang. Ia tahu istrinya sudah ada di dalam ruangan. Mengingat, tadi ia melihat ayahnya sedang memakan bekal dengan lahap.


Namun Arion segera membelalak kaget ketika menyadari kehadiran Moana.


Moana yang secara refleks berdiri karena Arion menyebut 'Sayang', segera tersadar karena melihat ekspresi Arion yang menggelap.


'Oh iya.. 'sayang' yang ia maksud bukan aku!' batin Moana. Ia melirik Luna, wanita yang sekarang disebut sebagai 'sayang' oleh Arion.


Perih tiba-tiba menyeruak di dada Moana. Sebelumnya, wanita yang disebut 'sayang' oleh Arion hanya dirinya.


"Kenapa kamu ada disini?!" tanya Arion kemudian. Alis tebal pria itu tertaut, matanya menatap tajam pada Moana yang berdiri mematung di depannya.


"Ada yang mau aku bicarakan 'berdua' denganmu!" ucap Moana. Memberi tekanan pada kata 'Berdua' seraya melirik Luna dengan ekor matanya.


Luna yang mengerti, segera bangkit berdiri. Ia hendak pergi dan memberi waktu Arion serta Moana untuk berbicara berdua.


Namun Arion segera menarik tangan istrinya. Merengkuhnya dengan mesra, Arion mengajak istrinya duduk di sofa berdampingan.


"Kamu mau kemana sayang?!" bisik Arion.


"Dia ingin berbicara berdua dengan mas!" sahut Luna polos. "Kalau denganku, bukankah jadinya bertiga?!"


"Jadi aku berniat untuk pergi!"


Arion terkekeh mendengar ucapan istrinya yang terdengar lugu, "Tidak apa.. mana bekalnya?! Aku ingin segera memakannya!!"


"Papa mengejekku tadi! Dia makan lahap sekali di ruangannya!" ujar Arion.


Senyum mengembang di bibir Luna, tanpa mempedulikan Moana sama sekali. Ia menyiapkan makan siang untuk suaminya.


"Apa itu hal yang penting?!" tanya Arion kemudian, mengalihkan pandangan pada Moana. "Aku agak sibuk. Aku akan makan siang dengan istriku dulu!"


Moana membelalak, ia murka dengan pengabaian Arion.


"Oh, begitu..." ujar Moana sembari menahan dongkol di hatinya, "Apa aku boleh ikut makan siang?! Kebetulan aku belum sempat makan siang!"

__ADS_1


Mengernyit, Arion menatap tajam ke arah Moana. Ia tidak suka momennya bersama Luna diganggu.


"Tidak apa, silahkan..." berbanding terbalik dari keinginan Arion untuk mengusir Moana. Luna malah mempersilahkan wanita itu untuk makan.


__ADS_2