Perfect Show Window

Perfect Show Window
BAB 12


__ADS_3

"A-apa yang... ?!" Luna kaget saat gelas yang ada di genggamannya di rebut begitu saja oleh Arion. Dan dengan sekali teguk, pria itu meminum wine yang ada di dalamnya.


"Aku haus" sahut Arion singkat. Tanpa banyak bicara lagi, Arion langsung pergi. Ia langsung melangkahkan kakinya ke kamar.


Meski ia tidak tahu apa alasannya, Tasya menukar minuman Luna. Tapi Arion yakin, hal itu adalah sesuatu yang buruk. Sehingga tanpa pikir panjang, ia mengambil gelas itu dari Luna dan langsung meminumnya.


Arion tahu benar, Tasya bukanlah gadis biasa. Ia adalah perempuan licik yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan targetnya.


Arion sudah memperhatikan Tasya saat tiba-tiba muncul tempo hari. Arion tahu benar bahwa Tasya berusaha mendekati Bryan. Gadis itu pasti tidak suka mendengar Bryan dan Luna menjalin hubungan.


Setelah mengetahui hubungan Bryan dan Luna, Arion sudah curiga Tasya akan membuat ulah. Tapi Arion tidak menyangka Tasya akan senekat ini.


'Apa yang ada di minuman tadi?!' batin Arion. 'Apa mungkin obat tidur?! Obat per*Ng*s*Ng?! Ataukah racun?!'


Arion tidak memikirkan kemungkinan itu sebelumnya. Asalkan Luna tidak meminumnya, itu sudah cukup baginya.


Untungnya wine itu tidak dicampur racun. Sehingga Arion tidak mati dibuatnya. Hanya saja ia berhalusinasi parah. Sesuatu yang membuatnya sangat menderita.


Arion bahkan tidak ingat apa yang telah ia lakukan hingga kamarnya hancur berantakan. Untungnya tidak ada yang tahu apa yang terjadi padanya.


Tidak bisa dibayangkan jika Luna yang mengalaminya, di depan seluruh keluarga Bradley. Gadis itu pasti akan sangat dipermalukan!!


*****


Setelah kejadian buruk yang bertubi-tubi menimpanya, Luna selalu merasa bahwa kepulangannya ke Indonesia adalah bencana. Mulai dari pernikahan kakaknya yang batal, perjodohannya, Paris fashion week yang harus ia lepaskan, dan Vicky. Semua kemalangan itu datang silih berganti. Membuatnya merasa lelah dan jenuh.


Namun liburan seminggu bersama dengan keluarga Bradley yang nyaman dan menyenangkan, telah mengembalikan semangat dan vitalitasnya. Ia merasa lebih baik sekarang.


Sekembalinya dari Bali, Luna sudah kembali ceria. Ia mulai berjalan-jalan dan tidak lagi mengurung dirinya dirumah.


Ia pergi ke beberapa pusat perbelanjaan, hanya untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku karena berdiam diri di rumah. Ia juga memanjakan matanya dengan deretan baju-baju cantik yang terpajang di etalase toko.


Luna tidak berniat untuk membeli sesuatu, hanya saja ia rindu melihat hal lain selain dinding monokrom kamarnya.


Saat langkahnya semakin riang, ia dihentikan oleh suara yang memanggilnya.


"Eh, Kaluna kan?!"


Luna yang merasa namanya dipanggil pun menoleh.


Di depannya berdiri sosok yang asing namun terasa familiar. Luna menggali ke dalam ingatannya, guna mencari tahu siapakah gadis itu.


"Arawinda?!" Gumam Luna.


"Hey, apa kabar!!" Serunya riang, "Aku pikir bukan kamu lho tadi! Soalnya setahu aku, kamu lagi di Paris! Kapan kamu balik?!"

__ADS_1


"Aku balik udah beberapa bulan ini-lah!" Sahut Luna, "Kamu apa kabar?!"


"Aku baik!" Ujar Winda. "Kapan kamu balik ke Paris lagi?!"


"Aku gak bakal balik, aku menetap disini!" Sahut Luna.


"Serius?! Wah asyik donk, kita jadi bisa sering ketemu!" Balas Winda.


Arawinda Belvina Dana, ia adalah salah satu teman baik Luna semasa SMA. Meski hanya sekejap, Luna akrab dengan beberapa orang. Winda adalah salah satunya.


"Yah.. begitulah!" Sahut Luna seadanya.


"Kamu lagi ngapain nih?! Kok jalan-jalan sendiri?!" Tanya Winda lagi.


"Oh, aku lagi sumpek aja makanya ngeluyur sebentar disini!" Jawab Luna, "Kamu sendiri ngapain nih?! Lagi ada janji ya?!"


Wajah Winda yang sebelumnya cerah, berubah masam.


"Ha... Aku mau ngelamar kerja nih Lun!" Sahut Winda, "Beberapa hari lalu aku terpaksa keluar dari pekerjaan aku!"


"Kok gitu?! Ada masalah apa?!" Tanya Luna.


Winda pun menceritakan masalahnya pada Luna. Ia berkata bahwa sebelumnya, ia adalah asistant general manager di sebuah hotel bintang tiga.


Winda yang takut kembali bekerja di hotel, akhirnya terpaksa berhenti.


Namun masalah terbesarnya adalah sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan kembali saat ini. Ia hanyalah tamatan SMA, sebelumnya ia berhasil bekerja di hotel itu, karena memiliki seorang kenalan yang merupakan HRD disana.


Padahal saat ini ia sangat membutuhkan uang. Ia memiliki serangkaian hutang yang harus dibayar. Namun ia malah tidak memiliki pekerjaan. Winda bingung harus berbuat apa.


Sejak kecil, Winda telah kehilangan ayahnya. Berharap memiliki hidup yang lebih baik, Winda dan ibunya merantau ke ibukota. Namun bukannya mujur, mereka malah buntung. Barang-barang bawaan mereka di rampok di jalanan. Sehingga mereka luntang-lantung selama berbulan-bulan.


Untungnya seorang pemilik warung makan mau menampung mereka, sehingga mereka bisa bertahan dengan baik selama beberapa tahun.


Hidup Winda dan ibunya sempat berubah, saat ibunya berhasil membangun sebuah warung kecil. Dan Winda berhasil meraih beasiswa karena kepandaiannya.


Meskipun berasal dari kalangan kurang mampu, sikapnya yang supel membuat siswa lainnya yang notabene kaya, menyukai Winda. Begitupun dengan Luna.


"Bagaimana kalau kamu mencoba melamar di Brads Hotel!" Ujar Luna kemudian, "Aku dengar ada lowongan disana!"


"Brads Hotel?! Itu kan hotel bintang lima!" Gumam Winda. Ia tahu hotel itu, hotel besar yang sering diidamkan oleh rekan-rekannya di tempat kerja dahulu. Lantaran gajinya yang tinggi.


"Aku hanya tamatan SMA, mana bisa aku diterima di hotel bintang lima!" Ucap Winda pesimis.


"Ayo coba saja dulu, kebetulan aku memiliki kenalan disana!" Sahut Luna.

__ADS_1


Mendengar Luna akan membantunya, Winda sangat senang. Ia kembali optimis. Jika memiliki koneksi, apapun bisa terjadi.


Sementara Luna sedang membantu seseorang, Arion yang telah membantunya sebelumnya kini tengah membutuhkan bantuan.


"Apa anda bisa melakukannya?!" Tanya Arion. Ia menatap pria di depannya sembari menyerahkan sebuah gelas.


"Darimana anda mendapatkan informasi ini dok?!" Tanya Rizal. Ia tiba-tiba saja dihubungi oleh Arion yang meminta bantuannya.


Arion memberinya informasi bahwa model papan atas Tasya Carolina telah menggunakan obat-obatan terlarang. Ia meminta bantuan Rizal untuk menyelidikinya.


"Dia memasukkan obat ke dalam minuman saya. Setelah saya meminumnya, saya berhalusinasi parah. Saya yakin ini bukan obat-obatan biasa!" Ujar Arion.


Arion berniat membereskan Tasya yang berbahaya. Arion tidak mau mengabaikan benih yang bisa menyakiti Luna. Entah kenekatan apalagi yang bisa wanita itu lakukan pada Luna.


Luna pasti menderita karena kejadian beberapa waktu lalu di Brads Hotel. Jika terjadi sesuatu lagi padanya, pasti ia akan syock berat.


Sekuat apapun mental seseorang, jika terus dihantam dengan masalah bertubi-tubi pasti akhirnya akan down juga.


Arion tidak ingin melihat Luna tersakiti lagi.


"Dia tidak mungkin mendapatkannya begitu saja, saya yakin dia telah memilikinya sebelumnya!" Ungkap Arion.


Ia mengetahui hal itu dari mantan kekasihnya yang juga seorang model. Mantan kekasihnya itu pernah bercerita, bahwa ada 'seseorang' yang pernah mengajaknya pergi ke pesta yang dihadiri oleh orang-orang ternama.


Namun ternyata pesta itu bukankah pesta biasa, orang-orang disana menggunakan obat-obatan terlarang.


Saat itu mantan kekasih Arion tidak terlalu tertarik mengikuti hal semacam itu, sehingga ia tidak berhubungan dengan 'seseorang' itu lagi setelah insiden pesta itu.


Meski ia tidak mengetahui sosok asli 'seseorang' itu, Arion berasumsi bahwa orang yang dimaksud adalah Tasya.


Karena pada saat yang sama, mantan kekasih Arion tengah melakukan pemotretan dengan Tasya.


"Bisakah anda menyelidikinya?!" Tanya Arion kemudian.


Rizal mengangguk. Tentu saja ia bisa melakukannya. Jika informasi itu benar, itu akan menjadi awal mula untuk menemukan gembong narkoba yang bersembunyi di kalangan public figure.


"Baik, saya akan coba menyelidikinya!" Sahut Rizal.


Seketika Rizal penasaran, akhir-akhir ini Arion sering terlibat dengan kriminal. Dari seorang pria yang melakukan penyerangan dan sekarang, wanita yang menggunakan obat-obatan terlarang. Sebenarnya apa yang terjadi?!


Rizal ingin bertanya. Tapi lagi-lagi ia mengurungkan niatnya, takut menyinggung Arion.


"Terimakasih! Saya sangat menghargai bantuan anda!" Ucap Arion.


"Tidak, ini memang sudah menjadi tugas saya!" Sahut Rizal.

__ADS_1


__ADS_2