
"Kenapa Ibu tidak bilang kalau mas Arion kesini?!" pekik Eli, marah pada ibunya.
Asmi mendengus kesal. Tentu saja ia tak memberitahu putrinya itu, perihal kedatangan tuannya. Ia tahu benar bagaimana Eli menyukai Arion.
Bahkan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Eli tetap menyukai Arion. Ia mengikuti semua sosial media Arion, hanya untuk memantau keadaan terkini Arion.
Bahkan Eli pernah nekat pergi ke kota hanya agar bisa bertemu dengan Arion. Untung saja saat itu Arion ada di luar negeri, sehingga Eli kembali pulang ke rumah begitu saja.
Jika tidak, pasti akan terjadi masalah besar. Eli yang tergila-gila pada Arion mungkin akan terus menempeli Arion dan meminta untuk dinikahi.
"Kenapa juga ibu harus kasih tahu kamu!" ujar Bik Asmi, "Toh tidak ada pentingnya kamu tahu, tuan Arion datang juga bukan buat bertemu kamu!"
"Kok ibu ngomong gitu sih?!" pekik Eli, "Ibu tahu kan aku dan mas Arion sudah punya janji sehidup semati dulu!"
"Eli!!" sentak Bik Asmi, "Itu hanya permainan waktu kecil! Dia tidak benar-benar menyukai kamu!! Sadarlah Eli!!"
"Lagipula tuan Arion sekarang sudah punya istri, istrinya cantik sekali!" ujar Bik Asmi.
Mendengar ucapan ibunya, hati Eli terasa teriris. Bagaimana bisa, ibunya malah membela musuhnya di depannya!!
"Bu!! Aku yakin mas Arion tidak benar-benar menikah dengannya!! Dia cuma bercanda, dia mau ngeprank kita Bu!" Eli keras kepala.
"Di sosmed-nya tidak ada unggahan foto pernikahannya!! Biasanya kalau ada yang menikah, orang-orang akan mengunggah foto-foto mereka!"
"Tuan, Eli!! Tuan!!" bentak Bik Asmi, "Jangan bermimpi terlalu tinggi!! Ingat dia bukan orang yang sama seperti kita, dia majikan kita!!"
Eli tidak mau mendengar, ia menutup telinganya kuat-kuat. Ia tahu benar bahwa mereka tak sederajat. Namun sikap Arion waktu kecil yang sangat ramah padanya, tak bisa lepas dari benaknya. Harapan untuk bisa terus memegang tangan hangat Arion, tak bisa ia singkirkan.
"Aku akan buktikan pada ibu, bahwa mas Arion sebenarnya tidak menikah! Dia cuma pura-pura!!" pergi dari hadapan ibunya, Eli menuju ke villa. Di tengah malam saat semua orang tidur, ia berusaha mengintip kamar pasangan Arion dan Luna. Ia yakin, kedua orang itu tak tidur sekamar. Apalagi seranjang seperti pasangan suami istri pada umumnya!!
*****
"Mas Arion?!" kernyit Luna, "Mas Arion pernah diselingkuhi?! Tidak mungkin!!"
Luna tak percaya. Arion yang sangat luar biasa itu, diselingkuhi oleh seorang wanita?! Bagaimana bisa?!
Arion mengangguk, "Iya... dulu aku tak terlihat seperti ini!"
"Oh ya?!" Luna tak percaya, "Memang mas seperti apa dulu?!"
__ADS_1
Arion tersenyum tipis, "Kamu tidak akan menyangka, aku culun sekali dulu!"
Mengambil gawainya, Arion memperlihatkan fotonya pada Luna. Luna seketika terkejut! Dia mengingat pria dalam foto itu!! Itu adalah pria yang dulu pernah ia tolong di Paris.
"A-apa mas inget aku?!" tanya Luna terbata. Hatinya senang luar biasa, bisa bertemu kembali dengan pria yang sangat ingin ia temui dulu.
Arion yang mendengar pertanyaan Luna, kaget!
'Apa dia mengingatku?!' batin Arion.
"Maksud kamu?!" Alih-alih jujur, Arion malah pura-pura tidak tahu. Arion takut jika ia jujur mengaku telah mengingat Luna sejak awal. Luna akan curiga padanya. Karena Arion selama ini pura-pura tak mengenal Luna sama sekali.
"Kita pernah bertemu di Paris! Mas ingat?!" tanya Luna, "Aku menolong mas waktu itu!"
Bersorak kegirangan di dalam hatinya, Arion pura-pura tenang di luar. Dia tak mau menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya pada Luna.
"Ah!!" seolah ia baru mengingat Luna, Arion kemudian berseru, "Aku ingat! Kamu gadis baik itu, kan?!"
Luna mengangguk senang! Sebelumnya, ia pikir Arion tak lagi mengingatnya!
"Setelah itu, kita bertemu beberapa kali. Tapi sepertinya mas lupa padaku!" keluh Luna. "Aku tidak menyangka, aku pikir kita tak akan bertemu lagi!"
Pria yang sempat mencuri perhatiannya selama beberapa waktu, yang ia pikir tak akan pernah ia temui lagi. Ternyata sekarang menjadi suaminya.
"Permainan takdir memang membingungkan!" gumam Luna.
"Iya.. aku juga tidak menyangka, kita ternyata ditakdirkan bersama seperti ini!" sahut Arion, "Aku rasa kita ditakdirkan berjodoh!"
"Huh?!" tiba-tiba perasaan lama yang pernah Luna rasakan pada pria itu, menyeruak kembali. Ia masih linglung, tak menduga Arion adalah pria itu.
Di lain sisi, hati Arion tengah berbunga-bunga. Ia senang sekali mengetahui bahwa Luna juga menyadari kehadirannya.
Saat itu, ia sengaja mencari cara untuk terus berpapasan dan menemui Luna. Ia pikir, Luna tak ingat padanya. Tapi ternyata tidak!! Luna ternyata juga mengingatnya.
Di tengah-tengah luapan kebahagiaan yang dirasakan oleh Arion. Sebuah suara bisik-bisik di balik dinding terdengar. Suara 'kkkrssk' seperti ada seseorang yang sedang menguping.
Arion terkesiap. Berusaha mendengar dengan seksama. Meski samar-samar, ia bisa mendengar suara dua orang perempuan, ia yakin itu adalah suara Bik ASMI dan Eli.
'Bik Asmi?!' batin Arion, 'Apa yang dia lakukan?! Kenapa dia mengintipku dan Luna?!'
__ADS_1
'Jangan bilang.. dia memang memata-mataiku karena perintah kakek!!' Arion curiga.
Meskipun agak kaget dengan situasi yang terjadi, ide cemerlang malah tiba-tiba muncul di benaknya.
Menempelkan jari telunjuk di bibirnya, Arion menyuruh Luna untuk diam. Mematikan lampu utama, ia hanya menyisakan lampu tidur yang temaram.
"Sepertinya bik Asmi sudah mulai mengawasi kita!" bisik Arion.
"Benarkah?!" balas berbisik, Luna panik, "Apa yang harus kita lakukan mas?!"
"Apa kamu percaya padaku?!" Arion bertanya, "Aku punya ide.. tapi aku mungkin akan bertindak 'sedikit' kurang ajar!"
"Ide apa?!" tanya Luna bingung.
Tanpa peringatan, Arion menarik pinggang Luna. Memposisikan Luna tepat berada di pangkuannya. Menghadap Arion, Luna yang terkejut langsung membeku dengan wajah yang memerah.
"Apa yang mas lakukan?!" gumam Luna rendah.
"Percayalah padaku!" Arion balas bergumam, "Kita harus terlihat seperti orang yang sedang ber cinta!"
"APA?!" pekik Luna kaget.
"Sst..." Arion menempelkan telunjuknya di bibir Luna, "Hanya pura-pura!"
Luna mengangguk. Tapi ia bingung, ia tak pernah melakukan hal itu. Jadi dia tak tahu harus bagaimana!?
"Aku harus apa mas?!" bisik Luna.
Arion juga sebenarnya bingung. Namun ia mengikuti instingnya sebagai laki-laki. Ia melakukan apa yang ia inginkan.
"Maaf Luna, tapi ini harus kita lakukan! Demi kelancaran rencana kita!" bisik Arion di telinga Luna. Panas menyebar saat nafas Arion menyentuh telinganya.
Luna tersentak dengan sensasi aneh yang ia rasakan. Namun belum pulih dari keterkejutannya. Luna kembali kaget saat Arion menci umi lehernya.
"Ah!" sentak Luna kaget. Namun ia menggigit bibirnya. Berusaha menahan suaranya.
"Jangan ditahan!" bisik Arion, "Mende sahlah dengan keras agar mereka yakin kita sedang melakukannya!"
Mendengar instruksi Arion, Luna tak lagi menahan suaranya. Setiap kali Arion menji lat dan menghi sap lehernya, Luna Mende sis kuat-kuat.
__ADS_1
Melihat reaksi mengesankan Luna, Arion benar-benar pusing di buatnya. Panas menjalar di tubuhnya setiap kali ia menyen tuh Luna dengan bibirnya.
Pandangannya mulai berkabut dan ia benar-benar ingin melakukan hal yang lebih dari itu.