
"Kenapa kamu menanyakan Arion?!" tanya Bryan jengkel. Sekalinya Luna menghubunginya, gadis itu malah menanyakan tentang sepupunya. Bukan dirinya!!
"Itu.. saya hanya ingin berterimakasih padanya karena telah menolong saya kemarin!" ucap Luna.
"Tidak perlu, Tante Felicia dan yang lain juga sudah mengucapkan terimakasih pada Arion sebelumnya!" ujar Bryan dingin. Entah kenapa, ia tidak suka jika Luna membahas Arion.
Arion dan Bryan adalah sepupu, mereka memiliki umur yang tak terpaut jauh sehingga sering di banding-bandingkan.
Meski begitu, Bryan menjadi kesayangan kakeknya karena kesalahan masa lalu yang dilakukan oleh Dominic, ayah Arion. Yang menikahi seorang perempuan yang tak direstui oleh Max.
Akibatnya, Arion juga diperlakukan buruk oleh kakeknya. Namun baru-baru ini, Arion yang menjadi dokter muda berbakat, yang disegani banyak orang. Telah menarik perhatian Max. Terlebih ibu Arion, wanita yang tak disukai oleh Max telah meninggal. Sehingga Max mulai menunjukkan ketertarikan pada Arion.
Max belakangan sering membanding-bandingkan Bryan dan Arion. Max selalu berkata bahwa Bryan harus belajar dari Arion, bagaimana cara bersikap sebagai seorang pemimpin.
Meski pemalu, Arion adalah pemimpin yang baik. Saat bekerja, ia mampu menjadi orang yang sepenuhnya berbeda. Ia menjadi dingin dan berlaku sangat logis. Sifatnya yang kaku malah membuatnya menjadi orang yang tegas. Sehingga sebagian besar orang di bawahnya, segan terhadapnya.
Berbeda dengan Bryan yang lebih ramah, lebih santai dan memiliki simpati yang besar terhadap orang lain. Sifatnya yang mudah goyah itu, membuatnya susah menghadapi tekanan dari bawahannya yang lebih dominan.
Terkadang Bryan seperti pemimpin boneka yang diarahkan oleh orang lain di sekitarnya. Itu membuat Max meragukan kredibilitas cucunya itu.
Setiap kali Max menyebut Arion sebagai pembandingnya, Bryan merasa sangat kesal. Namun itu hanya ia simpan di dalam hatinya. Hubungannya dengan Arion tak pernah berubah.
Tapi sekarang Luna juga menyebutkan tentang Arion. Entah kenapa Bryan merasa murka begitu saja.
"Tapi saya rasa..." Luna hendak berkata, tapi Bryan menyelanya.
"Tidak perlu! Dia juga sibuk! Tak bisa menemuimu!" potong Bryan.
Menyadari Bryan tidak menyukai rencananya untuk bertemu dengan Arion, Luna meminta bantuan kakaknya. Adrian untuk bertemu dengan Arion.
Adrian yang setuju dengan pemikiran adiknya pun mengatur waktu agar Luna bisa bertemu dengan Arion.
Untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya, Luna menyiapkan beberapa dessert yang ia buat sendiri untuk Arion. Luna berharap, Arion menyadari ketulusannya. Namun jauh berbeda dari apa yang ia pikirkan. Arion bersikap dingin padanya.
"Selamat siang!" setelah menunggu berjam-jam akhirnya Luna bisa menemui Arion. Pria itu benar-benar sibuk. Bahkan tanpa janji temu, sulit sekali untuk melihat wajahnya.
"Selamat siang!" balas Arion.
Mengenakan jubah putihnya, Arion duduk di kursi kebesarannya. Sejenak Luna terpana melihat wajahnya. Pria itu tampan dan bersinar. Jauh dari kesan dokter tua yang botak, Arion terlihat lebih modis bak seorang model yang atletis.
__ADS_1
Sebelumnya, Luna tak sadar karena terlalu ketakutan. Namun sekarang bisa di pastikan bahwa Arion adalah pria yang sangat tampan.
Tanpa sadar, Luna menelan salivanya. Tiba-tiba saja tenggorokannya tercekat.
"I-itu ..." Luna hendak memperkenalkan dirinya sebagai Luna, orang yang telah ditolong oleh Arion sebelumnya. Namun netra gadis itu teralihkan ke tangan Arion yang diperban.
"Ya ampun.. !" seru Luna, secara refleks ia menyentuh tangan Arion yang diperban. "Apa lukanya parah?!"
Arion yang kaget, spontan menepis tangan Luna. "B-bukan apa-apa!"
Jantung pria itu berdebar kencang. Ia tak menyangka tangan mereka akan bersentuhan. Sejak melihat Luna masuk ke dalam ruangan, jantung Arion hampir meledak. Ia penasaran apa Luna akan mengingatnya.
Tapi sikap Arion yang dingin itu, membuat Luna salah paham. Ia pikir Arion tidak menyukai tingkahnya yang berlebihan.
"Maaf!" ujar Luna kemudian, "Saya Luna, orang yang mas tolong kemarin!"
"Ya.." sahut Arion singkat. Ia tak tahu harus berkata apa.
"Saya datang untuk mengucapkan terimakasih!" Luna meletakkan paper bag di atas meja Arion, "Ini bukan apa-apa, tapi kalau mas ada waktu silahkan cicipi dessert yang saya buat! Lalu.. terimakasih juga atas jas yang mas pinjamkan!"
"Ya..." sahut Arion. Melihat Luna berbicara panjang lebar di depannya, Arion merasa seperti tengah bermimpi. Lidahnya kelu padahal ia ingin mengajak Luna makan siang.
"Luna!!" Bryan berteriak. Dengan nafas yang tersengal-sengal, ia menghampiri Luna.
"Mas Bryan?! Ada apa?!" Luna kaget melihat penampilan Bryan yang kacau. Bagiamana Bryan bisa tahu dia ada disini?!
"Kok mas tahu saya ada disini?!" tanya Luna.
"Tadinya mau ngajak kamu makan siang! Tapi kamunya gak ada!" ujar Bryan, "Kata Tante Felicia, Kamu ada disini! Jadi saya jemput kamu kesini!"
"Oh gitu..." sahut Luna, "Saya menemui mas Arion sebentar, mengembalikan jas-nya!"
"Hmn!" Bryan mengangguk mengerti, "Udah selesai kan?! Ayo kita pergi! Ayo makan siang bareng!"
"Ah, kalau begitu.. apa mas Arion juga mau makan siang bersama kami?!" ajak Luna. Tak ada maksud tertentu dari ajakan Luna tersebut. Itu hanya keramah tamahan biasa.
Namun Bryan merasa sangat aneh. Sebuah perasaan asing menyebar memenuhi dadanya. Dan membuatnya merasa tak nyaman.
Sebenarnya Arion ingin ikut, tapi air muka Bryan yang keruh membuat Arion memilih untuk menelan kata-katanya.
__ADS_1
"Tidak, pergilah.." sahut Arion kemudian. Samar-samar, Arion menyadari bahwa Bryan menyukai Luna.
****
"Bagaimana menurutmu Arion?!" celetuk Bryan tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba mas bertanya begitu?!" alih-alih menjawab, Luna malah balik bertanya.
"Penasaran saja!" sahut Bryan sekenanya, "Dia tampan kan?!"
Luna mengangguk. Meski sifatnya dingin, tapi tak bisa dipungkiri bahwa Arion adalah pria yang tampan. Dia termasuk pria paling tampan yang pernah ditemui Luna, selain beberapa model kenamaan Paris yang pernah ia temui sebelumnya.
"Lebih tampan mana, dia atau aku?!" tanya Brian.
"Huh?!" Luna kaget. "Kenapa pertanyaannya mengarah kesitu?! Tampan itu kan relatif!!"
Luna tak bisa mengatakan dengan jujur, ia takut menyinggung Bryan jika ia berterus terang.
"Ya, jawab saja lah! Menurutmu bagaimana?!" desak Bryan lagi. Meski tanpa ia tanyakan pun, Bryan tahu bahwa jawabannya adalah Arion. Sejak dulu juga wanita-wanita selalu berkerumun di sekitar Arion.
Meskipun Bryan bukan pria yang jelek, namun jika disandingkan, memang Arion lebih tampan.
Biasanya, Bryan tak ambil pusing akan hal itu. Namun entah kenapa, hari ini ia merasa geram. Ia ingin mendengar dari Luna, siapa yang lebih menarik perhatiannya.
"Daripada pria yang tampan, saya lebih suka pria yang bisa membuat saya nyaman!" jawab Luna lugas, "Mas Arion orangnya dingin. Berbeda sekali dengan mas Bryan yang baik dan hangat!!"
Mendengar pengakuan Luna itu, Bryan merasa senang. Bibirnya melengkung seketika.
"Benarkah?!" tanya Bryan.
"Benar!" sahut Luna meyakinkan.
"Memang sifat Arion agak dingin, tapi dia bukan orang yang jahat!" ujar Bryan kemudian, "Ia seperti itu pada wanita, karena ia berusaha menjaga jarak!"
"Menjaga jarak?!" Luna mengernyit.
"Iya, dia menjaga jarak dari wanita lain, sebab dia sudah punya kekasih!" jawab Bryan.
"Oh, mas Arion sudah punya pacar toh!"
__ADS_1
"Pacarnya kalau tidak salah, adalah model blasteran yang cukup dikenal di Paris!" jelas Bryan.