
Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang!
Begitulah hubungan diantara Luna dan Bryan. Awalnya karena tak saling mengenal, mereka saling waspada dan canggung.
Namun seiring berjalannya waktu, mereka yang terbiasa bertemu. Entah itu untuk makan siang atau makan malam, mulai akrab satu sama lain. Mereka pun selayaknya pasangan kekasih pada umumnya.
Setiap hari, jika Bryan tak sempat makan bersama Luna. Ia akan merasa ada yang kurang. Jika ia tak mendengar suara gadis itu, rasanya ada yang mengganjal.
Tanpa ia sadari, ia mulai terikat pada Luna.
Hari ini, seperti biasanya Bryan tengah mengajak Luna makan malam bersama. Tapi Luna bilang, ia bosan makan makanan hotel bintang lima. Sekali-kali ia ingin makan makanan kaki lima.
"Kamu mau makan apa?!" tanya Bryan sembari melajukan mobilnya perlahan. "Nasi goreng, mie ayam, sate atau bakso?!"
Luna terkekeh, "Aku mau bakso, mas suka bakso tidak?!" tanya Luna.
Bryan mengangguk.
"Apapun kalau tuan puteri suka, hamba juga pasti suka!" godanya.
Luna mendecih. Geli dengan kata-kata gombal Bryan. Sekarang Luna sudah terbiasa dengan tingkah konyol Bryan. Berbeda dari sebelumnya. Ia waspada pada Bryan yang belum ia kenal.
Bryan lalu membanting setir menuju ke arah warung bakso langganannya. Mobil Bryan kemudian melambat, tepat di depan sebuah warung bakso yang padat oleh pengunjung.
"Ramai banget mas!" seru Luna kaget saat melihat antrean pengunjung yang sangat banyak.
"Disini enak soalnya, makanya ramai! Kamu pasti bakal suka bakso disini!" ujar Bryan lagi. Seraya mengajak Luna untuk turun
Meski mereka menunggu lumayan lama, namun semua itu terbayar dengan lezatnya bakso yang ia makan.
Saking asyiknya makan, Luna bahkan tak menyadari bibirnya ternoda oleh kuah bakso. Dengan pelan, Bryan mengelap bibir Luna yang belepotan. Entah sejak kapan, tapi Bryan mulai memperhatikan hal-hal kecil seperti itu saat bersama dengan Luna.
Setiap kali Bryan melakukan hal itu, Luna membeku seketika. Jantungnya berdebar kencang, seolah-olah siap untuk meledak.
Luna segera memalingkan wajahnya yang terasa seperti terbakar. Dan dengan panik mengelap bibirnya sendiri.
"Sudah hilang kok!" seru Bryan sembari menyunggingkan senyumnya.
Luna kesal. Bagaimana bisa pria itu membuatnya salah tingkah hanya dengan perlakuan sepele semacam itu?! Ini benar-benar tidak adil!!
Dongkol dengan tingkah Bryan, Luna mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Menenangkan jantungnya yang berderu kencang. Netranya kemudian terkunci pada sosok seorang perempuan yang terlihat tidak asing.
Gadis itu yang ditatap olehnya, juga membalas tatapannya. Segera setelah ia mengenali Luna, gadis itu tersenyum dan melambai ke arahnya.
__ADS_1
"Luna!" pekiknya, hingga orang-orang di warung itu serentak menoleh padanya.
Ternyata memang benar, gadis itu adalah kenalan Luna. Teman sebangkunya saat SMA. Bunga Antari!!
"Hey!" sapa Luna. "Apa kabar?!"
"Aku baik!" sahut Bunga, "Kapan kamu balik dari Paris?!"
"Baru-baru ini!" sahut Luna, "Udah lama banget ya kita gak ketemu!"
"Hu-uh!! Aku kangen banget sama kamu!" ujar Bunga.
"Oh ya, kenalin ini pacar aku!" Luna mengenalkan Bryan sebagai kekasihnya. Bryan senang. Ia tersenyum cerah ke arah Bunga.
"Bryan!" ujarnya memperkenalkan dirinya.Ia menjulurkan tangan mengajak Bunga berjabat tangan.
"Bunga!" Balas Bunga. Ia menjabat tangan Bryan.
"Betewe, kamu ada acara gak besok?! Alumnus sekolah kita lagi ngadain reuni lho!"ujar Bunga, beralih pada Luna.
"Oh?! Ah... aku ada acara sih besok!" dusta Luna.
"Yah... temen-temen pasti seneng kalau kamu dateng!" ujar Bunga kecewa, "Mereka juga kangen banget sama kamu!"
Luna sebenarnya ingin datang. Hanya saja ia takut bertemu dengan Vicky disana.
Setelah kejadian tempo hari, Luna masih merasakan ketakutan jika harus pergi ke sebuah acara.
Meski kakak dan ayahnya telah menjamin bahwa pria itu tak akan muncul lagi di depannya, namun Luna masih belum bisa merasa tenang.
"Oh.. gimana kalau gini...nanti kalau acara kamu udah selesai, kamu bisa dateng! Jam berapapun ya!!" pinta Bunga dengan mata yang berbinar, "Acaranya sampek subuh kok!"
"Nanti aku share Lok tempatnya! Tempatnya terkenal,kok. Pasti kamu gampang nyarinya!" ucap Bunga kemudian.
Luna mengangguk canggung.
"Iya, nanti aku usahain, ya!" dusta Luna.
Ia tak ingin datang, namun takdir berkata lain.
Seperti kata pepatah, mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
Meski Luna berusaha menghindari reuni tersebut. Ia tanpa sengaja, datang sendiri ke tempat itu dengan kakinya.
__ADS_1
Luna tak menyadari sama sekali bahwa tempat yang dimaksud oleh Bunga adalah Brads Hotel.
Luna datang untuk menemui Bryan, guna menghabiskan waktu makan malam seperti biasa. Namun di lobi, ia bertemu dengan teman-temannya yang menggiringnya menuju ke restaurant, tempat dimana reuni diadakan.
Saat Luna muncul, teman-temannya langsung berseru. Meski hanya sesaat, namun Luna adalah gadis tercantik yang sempat muncul di sekolah itu. Sehingga ia cukup dikenal oleh anak-anak sekolahan waktu itu. Kedatangannya seketika membawa angin segar bagi teman-temannya.
"Eh! Luna! Luna!"
"Sini Luna!!"
"Ada Luna tuh!"
Seruan demi seruan yang memanggil dan menyapanya mulai bergema. Merespon dengan ramah, Luna menyunggingkan senyumnya dengan cerah.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa resah. Ia takut Vicky tiba-tiba muncul dari balik kerumunan teman-temannya. Dan mengganggunya.
Sementara itu, Bryan sendiri tengah sibuk menyiapkan kejutan untuk Luna. Ia menyulap ruangannya, menjadi tempat yang romantis. Penuh dengan lilin dan bunga-bunga. Ia ingin mengungkapkan perasaannya pada gadis itu.
Setelah beberapa bulan berlalu, kebersamaan mereka menimbulkan benih-benih cinta di hati Bryan. Bryan tak mau lagi hubungan pura-pura seperti sebelumnya. Ia menginginkan hubungan yang sesungguhnya, sebagai sepasang kekasih yang saling memiliki satu sama lain. Bukan show window yang hanya ditunjukkan di depan orang lain.
"Siap!!" gumam Bryan puas saat melihat hasil jerih payahnya dan beberapa staff yang ikut membantunya.
Saking asyiknya menyiapkan kejutan, Bryan bahkan sampai melupakan waktu janjian. Seharusnya Luna sudah datang, mengingat waktu temu sudah lewat. Namun entah kenapa gadis itu tak muncul di depannya.
'Kemana Luna?!' batin Bryan. Biasanya kalau akan terlambat atau tidak datang, Luna akan mengabarinya terlebih dahulu. Tapi kenapa tak ada pesan atau pun panggilan?!
Penasaran dengan keberadaan Luna, Bryan pun menghubungi gadis itu. Namun tak kunjung ada jawaban.
****
Luna berusaha menikmati pertemuannya dengan teman-temannya. Namun entah kenapa tiba-tiba Luna merasa tergidik. Seketika ia merasa punggungnya kedinginan. Seolah-olah ada yang tengah mengawasinya, Luna merasa amat tidak nyaman.
Bunga yang duduk di sebelahnya, menyadari sikap Luna yang terlihat aneh.
"Kamu kenapa Lun?!" tanya Bunga, "Kamu sakit?! Kok kamu kelihatan pucat?!"
"Ah.. aku ke toilet sebentar ya teman-teman!" izin Luna.
Merasa ada yang tidak beres, Luna pergi ke toilet dengan tergesa. Trauma dengan apa yang terjadi padanya di pesta pernikahan, Luna mempercepat langkahnya masuk ke dalam toilet.
Namun tepat saat pintu akan ditutupnya, seseorang ikut masuk dan mengunci pintu.
"Sepertinya kita memang ditakdirkan bersama!" ujarnya sembari menyeringai lebar.
__ADS_1